Mencari Jejak Bidadari

2503 Words
Kembali ke rumah ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan Mikail saat masih di rumah sakit. Sebelumnya dia berharap kepulangannya akan membuahkan sebuah kebahagian, keceriaan dan hasrat baru. Ternyata bayangan di benaknya itu salah, yang dirasakannya hanyalah sebuah kehampaan. Ketika menginjakkan kakinya kembali di rumah kontrakan ada kesunyian yang menyambutnya dengan mesra. Mikail dan Cacing duduk di teras kontrakan sambil menikmati hari yang mulai dirambati sore. Mikail menatap kosong satu dua orang yang lewat di depan kontrakannya, sebagai sahabat baiknya Cacing sangat memahami apa yang sedang berada di benak orang yang berada di sampingnya. “Sudahlah, Men. Enggak usah dipikirkan terus.” Pemuda berbadan kekar itu menepuk-nepuk bahu sahabat baiknya itu, dia berusaha menghibur Mikail meski dia tahu dia tidak mampu melakukannya. Pemuda berbebat perban di kepala itu menghela napas dalam, matanya sekilas melihat sosok yang duduk di sampingnya lalu kembali membuang pandangannya ke jalan. Candies datang membawa baki yang berisi dua buah cangkir kopi hitam yang lalu diletakkannya di atas meja. Gadis itu tadi diminta oleh kekasihnya untuk membuatkan kopi alakadar menemani cengkrama mereka di teras kontrakan Mikail.  “Thanks, Honey,” ujar Cacing kepada gadis itu yang dijawab oleh sebuah senyumannya. Kekasih Cacing itu pergi meninggalkan mereka untuk melanjutkan aktifitasnya membersihkan tempat tinggal Mikail. Mikail membuka sweater pink yang dikenakannya sejak dari rumah sakit tadi, lalu diletakkan di sandaran kursi kayu yang sedang di dudukinya. Sweater itu sebenarnya adalah milik Senja yang ditinggalkannya di rumah sakit. Cacing meraih kopi hitam di atas meja yang masih mengepulkan asap. Hampir saja dia meniup uap yang keluar dari kopinya jika tidak teringat perkataan Mikail, “Rasulullah melarang kita meniup air panas.” Pemuda berbadan kekar itu menyeruput kopi miliknya perlahan, tenggorokannya mulai dirambati caffeine itu. “Ngopilah dulu, Men. Siapa tahu nanti setelah ngopi akan ada petunjuk ke mana Senja pergi,” kata pemuda berbadan kekar itu seraya meletakkan cangkir miliknya kembali ke atas meja. Mikail mengangguk pelan mendengar kalimat yang diucapkan oleh sahabatnya itu, bukankah dia sering melewatkan waktu bersama kopi di saat galau dulu? Pemuda berbalut perban itu meraih cangkir kopi dan dengan perlahan dia menempelkan bibirnya ke gelas. Sebuah seruputan di cangkir memindahkan kopi itu dari tempat asalnya melalui bibir dan masuk ke tenggorokan, namun ternyata yang dirasakan indera pengecapnya itu di luar dugaannya. “Manis banget kopinya, pasti kopi hitam sachet ini diaduk,” kata Mikail bergumam lirih. Pasti Candies belum tahu selera Mikail saat meminum kopi, dia tidak suka kopi yang manis. Benak pemuda membawanya ke sebuah ingatan saat pertama kali bertamu ke rumah Senja, dia dibuatkan kopi hitam sachet oleh gadis pujaannya itu dan rasanya terlalu manis. “Sayang, kopi ini diaduk menggunakan jari kamu ya? Enggak menggunakan sendok?” kata Mikail yang disambut dengan kerutan dahi gadis karena tidak mengerti arah  pertanyaan tersebut. Mana mungkin mengaduk kopi itu dengan menggunakan jarinya, bisa melepuh tangannya karena itu adalah air panas. “Maksudnya gimana, Kak? Aku enggak mengerti.” “Kopinya kemanisan ini, Aku yakin kamu mengaduknya menggunakan jari tangan bukan sendok? Rasa manis di tangan kamu turun semua ini ke gelas kopi.” “Iiih, Kakak, gombal aja. Aku kira mengapa. Enggak suka yang manis ya, Kak?” “Suka sih sebenarnya, Aku suka yang manis, suka banget, cinta banget malah. Apalagi melihat kamu yang manis.” “Kakak! Aku serius,” kata Senja diikuti dengan cemberut dan sebuah tawa setelahnya. “Kakak juga serius cinta kamu, Mbak.” “Iya, itu aku sudah tahu, sudah lama dan lama-lama Kakak ngeselin.” “Enggak apa-apa ngeselin juga asal ngangenin.” Sebuah cubitan mendarat di pinggang Mikail, pemuda itu mengusap-usap pinggangnya yang nyeri itu sambil tertawa. Senja masih terlihat cemberut dengan gemas yang masih belum tersalurkan semua. “Aku enggak suka kopi yang manis, Mbak. Jadi kalau kopi sachet yang sudah ada gula seperti itu jangan diaduk supaya enggak terlalu manis.” Mikail menjelaskan yang disambut tertawa Senja. “Oh gitu, Kak. Lalu kalau membuat kopi yang biasa, maksudku yang terpisah antara kopi dan gulanya, Kakak enggak pakai gula ya?” “Pakai gula. Walaupun katanya ngopi itu bagusnya cuma menggunakan kopi saja enggak  dicampur dengan bahan lain, berbahaya katanya. Tapi aku kalau minum kopi enggak pakai gula jadi sakit perut malah.” “Bisa begitu, Kak? Lalu takarannya gimana untuk membuat kopi yang seperti itu, Kak? Komposisi kopi dan gulanya?” “Biasanya aku menggunakan kopi sesendok makan dengan gula seperempat sendok, Mbak,” kata pemuda itu yang dijawab Senja dengan mengangguk-angguk mengerti. Sebuah tepukan di bahu Mikail membuyarkan ingatan lalu yang tiba-tiba melintas. Dia menoleh ke arah di mana tepukan itu berasal. “Dari pada dibengongin terus yang enggak akan ada ujungnya, lebih baik kita mulai cari tahu ke mana Senja pergi, Men,” ujar pemuda berbadan kekar di sampingnya. Cacing memandang Mikail untuk meminta pendapatnya tentang apa yang baru saja disampaikan. Pemuda berbalut perban menyambutnya dengan sebuah helaan napas. “Sempat terlintas hal itu di pikiran gue sebenarnya, Bro. Tapi, gue bingung mau mulai dari mana mencarinya?” “Bagaimana jika kita mulai dari rumah Oma?” kata pemuda berbadan kekar itu memberikan ide. Sebenarnya apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu sudah ada di benaknya namun otaknya seperti tidak mau diajak kerjasama karena kerap dirambati kesedihan. “Tapi kalau dia enggak ada di sana gimana, Bro?” “Feeling gue juga begitu, Men. Kalau dia pamit pergi enggak akan semudah itu kita akan menemukannya, tapi, jangan  pesimis dulu pasti akan kita temukan jejak Senja. Ponsel dia  ada di lo 'kan? Itu artinya lo bisa melacak dia ke mana saja, bertanya ke kontak yang ada di ponsel itu, teman SMA, teman kampus atau mungkin ke Papa dan  Mamanya.” “Mengapa enggak terpikirkan di otak gue ya hal itu, Bro?” kata Mikail dengan sebuah senyum di wajahnya. Ada secercah harapan yang hadir di benak Mikail, dia akan segera menemukan kekasihnya itu. “Hmm, enggak heran sih gue. Lo udah  keburu stress saat dia pergi.” Sebuah tertawa melengkapi kalimat yang diucapkan pemuda berbadan kekar itu. “You know-lah, Bro, gimana gue mencintai Senja. Baru beberapa hari gue dan dia melanjutkan cerita yang sempat dipisahkan  oleh jarak, kini harus terpisahkan lagi,” kata pemuda berbalut perban itu dengan sebuah helaan napas. “Lo bisa anterin gue ke rumah Oma,  Bro?” “Tentu saja, itulah gunanya gue ada di samping lo, Men,” ujar pemuda berbadan kekar itu dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya. “Thanks ya, Bro.” “My pleasure, Men.”  *** Seorang perempuan berusia lanjut membukakan pintu yang baru saja diketuk oleh Mikail, usianya sudah tujuh puluh tahun namun masih terlihat sehat sekali. Senyumnya lebar saat mengenali kedua sosok yang berdiri di depan ambang pintu. Mikail meraih tangan perempuan tua itu dan menciumnya, apa yang dilakukan olehnya diikuti oleh sahabatnya, Cacing. “Apa kabar, Oma?” ujar Mikail seraya menatap perempuan yang terlihat mengulum senyum kepadanya. “Alhamdulillah, kabar Oma baik. Kabar kalian gimana?” “Kami pun sehat, Oma,” jawab Cacing mendahului Mikail yang bersiap menjawab. Perempuan tua itu mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk di kursi yang ada di beranda rumahnya yang bergaya belanda. Sebuah kenangan menyapa benak Mikail tiba-tiba karena di kursi itulah dia dan Senja sering bercengkerama sampai jauh malam. “Kepala kamu itu mengapa, Nak?” tanya perempuan tua itu sambil melihat kepala Mikail yang masih berbalut perban. “Kemarin ada kecelakaan sedikit, Oma,” kata Mikail berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya. “Semoga cepat sehat kembali ya, Nak.” “Aamiin, terima kasih, Oma.” “Tapi masih sakit enggak kepalanya?” “Sudah enggak sih, Oma. Hanya kadang-kadang saja, tapi ada yang lebih sakit lagi dari kepala saya yang diperban ini, Oma.” “Ada yang lain?” Kalimat yang diucapkan oleh Mikail tadi memantik sebuah tanya besar di benak perempuan itu. “Iya, Oma. Bagian ini yang sedang sakit,” kata Mikail sambil meletakkan tangannya di d**a kirinya. “Mengapa d**a kamu, Nak? Kamu sesak napas, asma atau jantung?” Perempuan tua itu menatap sosok pemuda di depannya khawatir. “Oma bisa saja,” kata Cacing dengan sebuah tawa. “Sebenarnya kami maksud kedatangan kami ke sini untuk mencari Senja, Oma.” Perempuan berusia senja itu mengernyitkan dahinya, dia berusaha memahami antara sakit di d**a kiri Mikail dengan mencari cucunya. “Senja ada di sini, Oma?” kata Mikail sambil menatap Ibu dari Mamanya Senja itu. “Kami mencari Senja, Oma. Dia pamit pergi kemarin, tanpa memberi tahu ke mana tujuannya. Sebenarnya walaupun enggak mungkin, saya berharap Senja ada di sini.” Perempuan tua itu memandang wajah Mikail dalam, terlihat ada kesedihan di wajah pemuda itu yang sama sekali tidak bisa dia sembunyikan. “Senja enggak ada di sini, Nak,” suara Oma terdengar seperti tercekat, seperti ada sesuatu yang menahan suaranya keluar. “Kemarin sore bakda Ashar, Senja pamit dengan Mas Dimas. Sambil menangis tersedu dia memeluk Oma erat. Entah apa yang menyebabkan tangisnya itu, dia  enggak bercerita, dia juga enggak bilang akan pergi ke mana. Tapi ada satu pesan yang dititipkan ke Oma untuk kamu, Nak.” Tiba-tiba Mikail merasakan ada secercah harapan yang akan membawakan kabar tentang Senja. Semoga saja pesan untuknya itu adalah sebuah petunjuk keberadaan kekasihnya. “Katanya begini, 'Oma, aku titip salam untuk Kak Mikail, katakan kepadanya aku sangat mencintainya. Katakan juga jika dia mencintai aku, tolong jangan cari aku. Aku melakukan semua ini demi dia', begitu katanya, Nak. Setelah itu tangisnya makin menjadi sambil memeluk Oma erat, “ kata perempuan tua itu dengan lancar. Oma-nya Senja ini ingatannya masih baik dengan kalimat panjang yang dihafalkannya. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan kalian, Nak?” Mikail menghela napas panjang, pudar sudah harapannya untuk mendapatkan petunjuk dari Oma-nya Senja. Ternyata pujaan hatinya itu benar-benar tidak ingin ditemukan. Cacing bercerita kepada Oma tanpa diminta, tentang apa yang telah terjadi antara sahabat baiknya dengan orang yang dicintainya. Mikail membiarkan saja apa yang dilakukan oleh sahabatnya karena dia tidak bisa menceritakan rasa sakitnya dengan baik karena kepergian Bidadari Tanpa Sayapnya. “Aku boleh ke kamar Senja, Oma? Siapa tahu di sana ada petunjuk ke mana dia pergi.” Oma mengangguk mengiyakan permintaan Mikail, matanya menoleh sesaat lalu kembali beralih untuk mendengarkan cerita Cacing. Pemuda berbalut perban di kepala itu mengayunkan langkahnya menuju kamar Senja yang terletak di bagian belakang rumah Oma. Dulu gadis itu pernah bercerita, katanya dia sengaja mengambil kamar paling belakang karena dekat dengan taman. Senja menanam banyak bunga di sana, mulai dari bunga asli Indonesia sampai made in luar negeri. Sekelompok bunga matahari mencuri pandangan Mikail dengan mekarnya yang indah. “Bagaimana kamu bisa pergi di saat seperti ini, Sayang. Bukankah kamu tahu menyaksikan bunga matahari merekah itu lebih indah dari pada mengingat kenangan yang manis.” Mikail menelan ludah saat mengingat potongan kenangannya bersama Senja dan Bunga Matahari. Senja selalu mengucapkan kalimat itu saat melihat bunga matahari merekah. Pemuda berbalut perban itu mendorong pintu kamar kekasihnya, cat warna pink menyambutnya di tembok. Sebuah jaket bomber berwarna hitam tergantung di samping lemari pakaiannya. Jaket itu adalah pemberiannya kepada Senja saat ulang tahun gadis itu semasa SMA, Mikail tak menyangka Senja masih menyimpan jaket itu sampai sekarang. “Terimalah jaket ini, tidak seperti aku yang ingin sekali memelukmu setiap waktu tapi terhalang oleh syariat Islam. Jaket ini bersedia memelukmu setiap waktu, saat dingin mendera dan kamu butuh kehangatan,” kenangnya kala itu. Ada sebuah foto besar dengan pigura warna hitam di tembok samping tempat tidur, foto itu adalah foto berdua Mikail dan Senja saat di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Mikail tersenyum melihat foto itu, teringat saat mereka akhirnya bisa pergi ke sana, setelah merencanakan begitu lama.  Mata pemuda itu tertuju kepada sebuah diary yang tergeletak di atas tempat tidur. Buku itu terbuka dengan sebuah pulpen terletak di atasnya, sepertinya memang dibiarkan seperti itu untuk manarik perhatian. Mikail meraih buku itu dan membacanya.   Untuk orang yang selalu di hati, Kak Mikail Bayanaka. Jika Kakak membaca pesan ini berarti aku sudah tidak ada lagi di samping Kakak, Aku sudah pergi jauh, Kak. Aku sangat mencintai Kakak. Jika Kakak juga mencintai aku tolong jangan cari aku. Aku melakukan semua ini demi Kakak, demi kita. Senja Bidadari tanpa sayapmu yang tak pernah bisa mengepak   Mikail menelan ludah setelah membacanya, menurutnya keputusan untuk pergi itu sebuah keputusan yang sama sekali tidak masuk akal. Bagaimana tidak, jika Senja mencintainya mengapa dia harus memilih meninggalkannya pergi? Mikail membolak-balikan diary itu, barangkali ada petunjuk yang bisa ditemukannya di sana, tetapi tidak ada sama sekali. Buku itu hanya berisi tentang cerita-cerita kebersamaan mereka mulai dari SMA dan bersambung beberapa hari lalu. Pemuda berbalut perban di kepala itu akhirnya memutuskan untuk kembali bergabung di teras bersama dengan sahabatnya dan Ibu dari Mamanya Senja. Cacing menatap Mikail yang baru saja kembali dari kamar Senja dengan wajah lesu. Pemuda berbadan kekar itu sudah bisa menduga hasil dari pencarian sahabatnya itu, pasti tidak ada petunjuk yang berhasil ditemukannya. “Gimana, Men?” kata Cacing, dia menunggu sahabatnya menguatkan dugaannya. Pemuda berbalut perban itu berjalan lunglai lalu duduk kembali di kursinya. “Enggak ada petunjuk sama sekali, Bro,” ujar Mikail sambil menggelengkan kepalanya. “Oma, apakah Oma sama sekali enggak tahu ke mana perginya Senja? Atau dia menyebutkan sebuah tempat secara enggak sengaja,” kata Mikail sambil mendekatkan kursinya ke perempuan tua itu. Dia tahu Senja dekat sekali dengan neneknya ini, dia selalu bercerita semua hal yang dialaminya kepada Oma-nya. “Sebelum Senja pergi dengan Mas Dimas dia hanya berpesan seperti yang sudah Oma sampaikan tadi, Nak. Tidak ada kalimat lain. Oma tahu hal ini berat sekali untuknya, dia menangis saat memeluk Oma sebelum pergi.” Mikail tertegun beberapa saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Oma, matanya kosong menatap kursi malas yang juga kosong di pojok teras. Dulu itu adalah tempatnya membenamkan diri dengan novel saat menunggu Senja bersih-bersih rumah membantu Oma. “Kalau begitu kami pamit dulu, Oma. Jika ada kabar terbaru dari Senja tolong kabari saya. Sampaikan juga kepadanya saya mencintainya lebih dari apapun.” Mikail menggamit tangan perempuan tua itu dan mencium punggung tangannya. Cacing mengikuti apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Perempuan tua itu mengusap kepala kedua pemuda itu. “Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa berkunjung kembali ke sini.” “Iya, Oma,” kata Mikail dengan sebuah anggukan melengkapi kalimatnya. “Sehat selalu ya, Oma.”  Mikail melangkah dengan gamang, Cacing menggandeng bahu sahabatnya. Merekapun keluar diantar oleh pandangan mata wanita tua itu. Setelah beberapa menit, motor mereka mulai menapaki aspal dan berbaur dengan kendaraan lain yang sore itu lumayan padat. Beberapa dari pengendara motor itu nampak baru pulang kerja, beberapa lagi nampak melaju santai membawa kendaraan roda duanya dengan mengenakan pakaian yang juga tak kalah santai. “Ke mana kita, Men?” kata Cacing. Tidak ada jawaban yang didapatkannya dari jok belakang, pemuda berbadan kekar itu mencuri pandang apa yang terjadi dengan sahabatnya dari kaca spion. “Kita ke cafe dulu aja kali ya, Bro,” ujar Mikail akhirnya dengan kalimat yang datar. “Cafe Marginalia, Men?” Cacing memastikan tujuan dari apa yang diucapkan oleh Mikail tadi. “Iya, Café Marginalia, ke mana lagi. Udah lama banget enggak ke sana kayaknya.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD