Timika, 06 : 35 WIT
Reihan dan yang lainnya baru saja mendarat di Timika, Papua. Mereka sedang menunggu bagasi mereka. Saat ini cukup banyak juga orang -orang yang bertandang atau pulang ke kampung halaman mereka. Rata-rata yang ada di sekeliling mereka merupakan penduduk lokal. Dengan kulit gelap dan juga rambut yang keriting serta mata yang tajam. Reihan mengamati semua orang yang ada di sini satu persatu.
Setelah semua bagasi mereka diambil mereka semua berjalan menuju pintu kedatangan domestik, di sana sudah ada orang yang menunggu. Mereka semua langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di area drop off bandara. Mobil SUV ini langsung membawa mereka meninggalkan bandara.
“Berapa lama waktu kita dalam perjalanan?” tanya Anton kepada salah satu orang yang ada di kursi paling depan.
“Kurang lebih dua jam, Bos. Tapi itu baru sampai ke Tembagapura. Setelah sampai di Tembagapura kalian akan melanjutkan menggunakan trem menuju Grasberg dan akan naik mobil lagi menuju Bali Dump sekitar dua puluh menit. Baru kalian akan jalan kaki menuju Basecamp Danau-Danau sekitar dua jam.” Jelas salah satu orang yang menjemput mereka.
“Baiklah, kalau begitu sebaiknya gue tidur dulu. Nyiapin tenaga buat jalan dua jam.” Anton langsung menutup matanya dan bersiap untuk tidur.
“Sebaiknya jangan tidur. Ditakutkan tubuh kita tidak bisa beradaptasi dengan ketinggian yang berbeda. Kadar oksigen dan tekanan udara juga akan berbeda nanti.” Jelas Jo.
“Oh, gitu. Baiklah, nggak jadi tidur. Tapi ngapain ya selama dua jam di jalan. Bengong doang gitu?” tanya Anton lagi.
“Gimana kalau kita maen tebak-tebakan aja?” sela Andreas seraya sambil tersenyum penuh arti.
“Gue curiga nih. Senyum lo nggak enak banget masalahnya.” Anton langsung memandang malas Anggota tim saat ini.
“Yaelah, elo mah gitu. Selalu berprasangka jelek sama gue. Ya nggak lah, kita maen tebak-tebakan artis aja.” Jawab Andreas sambil cengengesan.
“Kan, apa gue bilang. Jelas-jelas kita di sini itu nggak tahu dan nggak peduli sama artis. Pasti lo mau ngajak tebak-tebakan artis film panas. Udahlah, gue udah bisa baca isi kepala lo.” Ujar Abigail dan hal itu langsung membuatnya kesal saat ini.
“Weish… Anda ini emang paling jago kalo membaca isi kepala orang ya. Salut gue.” Anton langsung menyenggol bahu Abigail dengan genit dan langsung membuat jijik semua orang yang ada di dalam mobil ini.
“Sudah, dari pada kalian ribut, bagaimana kalau saya bertanya tentang strategi bertahan atau cara penyerangan dalam kondisi darurat.” Sela Sam diantara tawa Anton. Mereka semua langsung diam dan menatap horor ke arah Sam.
Jelas saja mereka tidak tahu apa-apa masalah itu, berbeda dengan Sam dan juga Jo yang memang notabene adalah prajurit terbaik dari satuan mereka, sedangkan mereka adalah anak ingusan yang baru saja bergabung. Reihan langsung menghela nafasnya lemah. Ternyata dalam waktu dua jam ke depan dia akan terjebak dengan orang-orang yang berpotensi membuat moodnya jungkir balik.
Akhirnya, mereka semua diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Dan tak terasa waktu dua jam sudah mereka lewati dengan cepat. Mobil SUV itu berhenti di tempat parkiran yang telah disediakan. Keenam orang itu turun satu persatu dari dalam mobil.
“Ini PT Tambang Emas itu ya? Yang sering masuk berita karena ribut ini dan itu.” Anton yang baru keluar mobil langsung memperhatikan sekelilingnya. Dan dia mengangguk-anggukkan kepala seolah-olah dia sudah paham dengan kondisi sekitarnya.
“Sok iyes banget sih lo.” Abigail yang melewatinya langsung menabrakkan bahunya ke bahu Anton, dan nyaris membuat Anton tersungkur ke depan.
“Lo kenapa sih? Kok kayaknya sewot mulu sama gue.” Anton langsung mengejar Abigail dengan perasaan kesalnya.
“Nggak ada masalah gue sama lo, hanya saja gaya lo itu membuat kita semua males tahu nggak sih.”
“Dasar kalian aja yang sirik.”
“Dih, sirik sama spesies macam lo itu rugi tahu.” Balas Abigail sengit.
“Sudah kenapa sih. Kayak bocah aja. Malu tuh diliatin orang.” Sela Andreas yang langsung menerobos diantara mereka berdua.
“Iya, kalian itu seperti anak kecil. Lagian lo kenapa sih Gail, tumben-tumbennya bawel banget. Biasanya juga paling irit kalo ngomong.” Sela Reihan yang sudah lebih dulu sampai di tempat Sam dan Jo berhenti.
Entah mereka berdua sedang mengurus apa, mungkin masalah tiket trem atau apalah itu. Reihan hanya bisa memperhatikan saja dari tadi. Tak lama, Jo dan Sam langsung memberikan kode kepada mereka untuk mengikuti memasuki trem yang sudah ada di sana. perlahan trem itu berjalan dan meninggalkan Tembagapura menuju Grasberg.
Anton mulai memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Reihan sejak tadi memperhatikan setiap orang yang ada di dalam trem ini, langsung menghampiri Anton dan mengeluargkan kotak obat yang memang sudah dia sediakan.
“Minum ini. sebelum kepala lo lebih sakit lagi.” Reihan memberikan paracetamol kepada Anton.
Anton langsung membuka botol air minum yang memang sudah mereka bawa dari Jakarta dan menenggak butir kecil berwarna putih itu. Perlahan rasa nyeri dikepalanya berangsur membaik. Abigail dan Andreas hanya bisa tersenyum getir saat ini. Mereka berdua sebenarnya merasakan sakit kepala juga, tapi tidak sehebat Anton, jadi masih bisa ditahan. Dan sepertinya tidak terlalu bermasalah.
Akhirnya trem itu tiba di Grasberg dan mereka beristirahat sejenak di salah satu pondokan seperti warung. Empat gelas teh manis hangat dan dua gelas kopi dengan gula sedikit disediakan ibu pemilik warung. Lalu satu piring besar singkong rebus di sajikan sang ibu untuk menemani minuman hangat mereka.
“Mau kemana?” tanya si Ibu melihat orang-orang yang ada di depannya ini. Karena dia tidak pernah melihat mereka. Apalagi melihat carrier yang mereka bawa.
“Kami mau mendaki Mama.” Jawab Sam sopan.
“Oh, hati-hati ya, kalau belum pernah ke sana jalan di sana sangat berbahaya dan curam.” Ibu itu mencoba memperingatkan mereka. Sam dan Jo hanya membalas dengan senyuman mereka.
“Terima kasih mama.” Jawab Sam lagi.
Mereka langsung menghabiskan minuman dan makanan yang tadi disajikan, Reihan langsung berdiri dan memberikan satu amplop yang cukup tebal kepada ibu pemilik warung itu. Ibu itu langsung tersenyum senang dan menepuk-nepuk tangan Reihan berulang kali untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih ya Kakak. Semoga kakak selalu dilindungi Tuhan.” Doa ibu itu kepada Reihan.
“Sama-sama mama. Sebaikanya mama pulang, kasihan itu adiknya tidur di sana.” tunjuk Reihan kepada anak kecil yang sedang tertidur pulas di lantai warung itu dan hanya beralaskan tikar tipis. Ibu itu langsung tersenyum senang mendapatkan perhatian seperti itu.
Mereka langsung bergegas menuju mobil yang sudah menunggu dan langsung melanjutkan perjalanan ke Bali Dump. Mobil pun bergerak dengan kecepatan standar tidak cepat juga tidak lamban. Mengingat orang-orang yang dia bawa adalah yang tidak terbiasa dengan ketinggian seperti ini jadi sang sopir harus memperhatikan kondisi tubuh mereka saat mulai beradaptasi.
Waktu tempuh yang biasanya dua puluh menit menjadi empat puluh lima menit mereka habiskan di jalan menuju Bali Dump. Sesampainya di sana, sang sopir lalu memberikan arahan kepada Jo karena dia sempat diberi tahu kalau rombongan Jo akan datang dan diminta untuk datang dulu ke posko yang sudah disiapkan.
Di posko itu sudah ada Leonard ternyata. Entah kapan pimpinan mereka itu sampai di sini, Reihan sedikit heran. Reihan perhatiakn raut wajah Leonard dengan teliti. Dia ingin memastikan kalau atasannya itu baik-baik saja.
“Kami cek dulu isi tas kalian ya.” Salah satu orang yang ada di posko itu dan dia langsung mengambil alih keenam carrier yang mereka bawa.
Satu persatu isi dari ransel mereka dikeluarkan dan dipilah apa-apa saja yang boleh dibawa. Ada beberapa barang yang dirasa tidak dibutuhkan langsung disingkirkan dan dipisahkan. Seteleh pengecekan itu selesai, barulah carrier mereka dikembalikan. Leonard beridiri dari duduknya dan memberikan satu kotak besar kepada Jo.
“Ini senjata yang akan kalian butuhkan di sana. tapi ingat, selagi bisa tidak membunuh, maka jangan membunuh. Apa pun yang kalian temui nanti, akan sedikit menyeramkan. Dan aku percayakan mereka kepada mu Jo.” Ucap Leonard sambil memegang bahu Jo kuat.
“Baik Pak. Akan saya jaga mereka baik-baik.” Jawab Jo yakin. Karena ini bukanlah kali pertama baginya untuk datang ke sini.
“Apakah Anda tidak mengalami AMS selama dalam perjalanan kemari?” tanya Reihan sambil memperhatikan atasannya yang saat ini sudah berdiri di depannya.
“Tenang saja Nak. Ini bukan kali pertama orang tua ini datang kemari. Jadi aku sudah bisa beradaptasi dengan baik.” Jawab Leonard pasti.
“Oh, baiklah kalau begitu.”
“Kau yang seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri. Karena pelatihan ini sangat sulit. Lebih sulit dari semua pelatihan yang pernah kau lakukan.”
“Ya, lihat saja nanti. Ujian pertamamu saja aku bisa melewatinya tanpa ada yang terjadi bukan?” Reihan tersenyum mengejek ke arah Leonard. Dia tahu, ayahnya sengaja memilih jalur ini untuk melihat seberapa kuat tubuh mereka untuk mendaki gunung tertinggi di Indonesia ini.
“Baguslah, kau memang tidak pernah mengecewakanku.” Ucap Leonard sambil tersenyum senang. Lalu dia beralih ke arah Anton.
“Ingat, jangan jadikan rasa amarahmu mengalahkan logika. Di sini kau akan dilatih untuk itu. Kuasai emosimu dan gunakan otakmu untuk berpikir dan menganalisa setiap sesuatu yang akan kau hadapi. Jangan sembrono dalam mengambil keputusan sebelum benar-benar kau pikirkan.”
“Baik Pak.”
“Good. Jadi kalian semua, semoga berhasil dalam pelatihan ini. Andreas, selalu laporkan kondisimu kepada Jo dan Sam.”
“Baik.” Jawab Andreas tegas.
“Semoga sukses, dan sampai jumpa di Carstensz Pyramid.” Ucap Leonard sambil tersenyum penuh arti. Reihan yang mendengar itu sedikit terkejut. Jadi nanti atasan mereka juga akan ikut mendaki seperti mereka?
“Kau ikut mendaki, Pak?” tanya Reihan tak percaya.
“Sure. Kau tahu pasti aku tidak akan pernah memberikan ujian jika aku tidak bisa menyelesaikan ujian itu bukan?” jawab Leonard tegas. Reihan hanya bisa menghela napasnya kesal saat ini.