Keenam laki-laki dewasa ini berjalan dengan ritme yang sama. Mereka harus mengatur ritme pendakian mereka saat ini untuk bisa menaklukan gunung tertinggi di Asia yang saat ini meraka jelajahi. Sam berjalan paling depan lalu iikuti oleh Andreas, Abigail, Anton, Reihan dan Jo.
Masih ada dua jam lagi untuk sampai ke basecamp danau-danau yang tadi disebutkan oleh sopir yang menjemput mereka. Walaupun ini awal pendakian tapi, mereka sudah terlihat kelelahan. Apa mungkin makan siang yang mereka santap tadi terlalu banyak?
“Bro, bisa nggak kita berhenti sebentar?” Tanya Anton yang sudah terlihat kewalahan mengatur napasnya.
“Kenapa, lo?” Tanya Reihan yang ada di belakangnya. Reihan langsung berjalan di samping Anton dan memperhatikan kondisi teman satu timnya ini.
“Engap gue. Kayaknya kebanyakan makan nih.” Jawab Anton sambil memegang dadanya yang terasa sedikit sesak.
Rombongan itu pun mencari tempat yang sedikit lebih luas untuk menjadi spot berhenti mereka. Sam pun langsung memberikan air mineral kepada Anton dan memintanya duduk sambil meluruskan kakinya. Hal semacam ini sudah biasa dia lihat saat menjadi guide pendakian gunung ini.
Tubuh Anton sepertinya sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Jadi sebaiknya merek berhenti sebentar. Jika memaksakan diri akan fatal akibatnya. Walaupun target mereka adalah basecamp danau-danau masih sangat jauh di depan. Tapi, ini lebih baik dari pada mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini.
Anton pun berdiri, dia berusaha mengatur irama jantung dan juga napasnya. Beberapa kali dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan untuk mengisi setiap rongga di paru-parunya.melihat Anton yang sudah membaik, Sam dan Jo pun mengajak mereka melanjutkan perjalanan.
***
Di depan sana terlihat tenda-tenda yang sudah berdiri tegak. Sepertinya mereka sudah dekat dengan basecamp danau-danau yang mereka tuju. Saat mata mereka sudah sangat bahagia, tiba-tiba ada anak panah yang melesat ke arah Abigail. Untung saja Anton melihatnya dan langsung menarik tubuh Abigail untuk mendekat ke arahnya. Jika tidak, sudah bisa dipastikan panah itu akan mengenai bahu Abigail.
“Njiiir! Juga kaget banget. Makasih, Bro.” Ucap Abigail sambil melihat anak panah yang tertancap di tanah itu.
“Apakah itu salah satu ujian yang disiapkan oleh Pak Leonard?” Tanya Anton horor. Melihat itu dia langsung siaga. Dia tidak mau menjadi korban selanjutnya.
“Bisa jadi. Makanya di sini kita harus tetap fokus dan jangan lengah. Selelah apapun kita di sini, kita tetap harus waspada.” Jawab Jo sambil mengajak mereka untuk kembali berjalan.
Tak lama sampailah mereka di basecamp danau-danau. Andreas langsung berlari menuju kursi lipat yang sudah ada di depan tenda-tenda itu. Dia langsung mendaratkan bokongnya dan meluruskan kakinya lalu menyandarkan kepalanya. Tubuhnya benar-benar lelah saat ini. Padahal carrier yang dia bawa tidak begitu berat tapi, pundaknya sangat sakit. Seperti mengangkat beban yang sangat berat.
“Selamat datang di basecamp pertama dan juga terakhir kalian. di sini kalian akan istirahat dan juga menginap untuk melanjutkan pendakian besok.” Ucap Sam sambil memperhatikan kondisi orang-orang yang ada di hadapannya satu persatu.
“Besok kita akan melakukan pendakian tanpa henti. Target kita sebelum matahari berada di atas kepala, kita sudah harus sampai ke titik yang pertama yaitu puncak Idenberg berada di ketinggian 4673 mdpl.” Lanjut Sam.
“Buset, ini sekarang kita ada di ketinggian berapa? Seriusan bakal sampe sebelum tengah hari? Jam berapa kita mula mendaki?”” Tanya Abigail.
“Kita mulai mendaki di pukul empat lebih tiga puluh menit.” Jawab Jo.
“Anjeeer! Itu nggak kepagian Bos? Kagak dingin di jam segitu? Are you serious?” Tanya Andreas kalang kabut. Dia pikir mereka akan memulai pendakian besok setelahs arapan pagi. Ternyata saat subuh tiba.
Sam dan Jo hanya tersenyum melihat reaksi Andreas yang berlebihan. Padahal jarak yang mereka capai itu tidak lebih dari satu kilometer. Sam dan Jo sengaja mengajak mereka mendaki lebih pagi agar mereka bisa melihat matahari terbit besok, dan sampai di puncak Idenberg lebih cepat lalu melanjutkan pendakian lagi.
Reihan yang duduk di samping Andreas pun langsung memukul bahunya dengan sangat keras. Dia sangat kesal dengan rekans atu timnya ini. Sepertinya dia tidak mempelajari medan yang saat ini mereka jelajahi dengan benar.
“Lo nggak pelajari medan pendakian kali ini ya?” Tanya Reihan akhirnya.
Andreas pun hanya tersenyum getir. Dia sadarnya sepertinya reaksinya kali ini berlebihan. Andreas pun langsung menundukkan kepalanya dan sok sibuk dengan tali jaket yang terlihat lebih menarik dari pada wajah rekan-rekannya saat ini.
Seseorang memanggil mereka dari balik tenda yang paling besar di sini. Dia mengajak mereka untuk makan, dan menjelaskan sedikit tentang kegiatan mereka selama di sini. Di tenda yang paling besar ini ternyata banyak sekali makanan. ini seperti dapur umum di sini.
Keempat orang itu mendengarkan dengan seksama semua penjelasan dari orang itu. Sam pun menjelaskan jika nanti selama di perjalanan mereka melihat hal-hal yang aneh, abaikan saja tidak perlu histeris dan juga tidak perlu terlalu dipikirkan. Cukup lihat dan lupakan saja.
makanan pun sudah habis, dan mereka masuk ke dalam satu tenda besar lainnya. Yang ternyata merupakan tempat istirahat mereka. Di tenda ini ada enam ranjang yang bisa menjadi tempat tidur mereka malam ini.
“Bang, kira-kira malem ini aman nggak nih?” bisik Andreas di telinga Abigail.
“Sepertinya nggak. Kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi malam ini di sini. Tadi aja sebelum sampe ke sini ada anak panah yang nyaris kena gue. Mungkin malam ini akan ada penduduk lokal yang bakal menyerang ke sini bawa tombak sama panah yang sudah dikasih racun.” Jawab Abigail asal.
“Elu mah gitu! Gue nanya serius malah dibecandain.”
“Yang becanda siapa panjul! Gue juga serius jawabnya. Itu kan kira-kira aja. Kemungkinan terburuk, bisa jadi begitu! Makanya kita harus tetap waspada. Jangan nyantai-nyantai, ini bukan karyawisata TK by the way!” Jawab Abigail akhirnya.
“Iya deh, iya. Nyesel gue nanya!”
“Kalau nyesel nggak usah nanya lagi! Udah ahm gue capek mau tidur bentar.”
Baru saja Abigail membaringkan tubuhnya lalu memejamkan mata, tapi kepalanya langsung terasa pusing sekali. Matu tidak mau dia pun membuka matanya lagi dan perlahan mendudukkan tubuhnya. Dia langsung memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Kenapa, Bang? Lo pusing?” Tanya Andreas yang masih memperhatikan Abigail.
“Iya, gue kaget banget tiba-tiba pusing gini.”
Reihan pun menghampirinya dan langsung memberikan obat yang sudah dia siapkan. Ternyata medan ini nggak semudah yang dia bayangkan. Dia pikir mendaki Jaya Wijaya sama seperti pendakian yang lain. Tapi, nyatanya tidak seperti itu. Reihan jadi berpikir, apa iya mereka bisa melalui pelatihan ini dengan mudah?
Jika dipikir-pikir untuk sampai ke puncak Cartensz Pyramid tidak membutuhkan waktu satu bulan. Berarti mereka akan naik dan turun gunung beberapa kali selama satu bulan ke depan. Mungkin ini posko tempat mereka beristirahat dan juga makan.