Tepat pukul empat tiga puluh subuh keenam orang yang saat ini tengah menjalankan misi mendaki Gunung Jaya Wijaya keluar dari tenda mereka. Mereka semua sudah siap dengan carrier masing-masing. Tidak banyak yang mereka bawa, hanya perlengkapan berkemah dan makanan dan minuman secukupnya yang dibagi ke masing-masing carrier yang mereka bawa.
Setelah menyantap sarapan pagi seadanya dan juga satu gelas kopi hangat, Sam dan Jo pun mulai memimpin pendakian kali ini. Keempat orang yang mereka pandu masih terlihat mengantuk. Apalagi wajah Andreas yang benar-benar sulit untuk membuka matanya. Sampai-sampai Jo memasangkan tali di tangannya dan dia ikatkan ke tangannya sendiri. Hal itu dia lakukan untuk berjaga-jaga siapa tahu Andreas nanti akan jatuh kejurang saat dia benar-benar mengantuk.
Satu jam mereka berjalan menuju puncak Idenberg sesuai rencana, dan pemandangan yang sangat indah pun mulai menghiasai langit pagi ini. Cahaya oranye mulai malu-malu muncul, dan hawa dingin yang mereka rasakan sedari tadi perlahan sedikit menghangat. Bukan hanya kulit mereka saja yang menghangat, tetapi hati mereka ikut menghangat.
Hal semacam ini tidak pernah mereka temui di ibu kota. Biasanya kepulan asap kendaraan bermotor yang mereka temui di jam seperti ini. Tapi, di sini hal itu tidak terlihat. Sepanjang mata memandang, hanya hamparan awan putih dan langit cerah bebas polusi yang tersaji. Belum lagi hijaunya hutan yang terlihat menakutkan namun juga membuat mata siapapun yang memandang menjadi tentram.
“Andai di Jakarta gue bisa melihat momen indah seperti ini.” Gumam Abigail.
Dia pun mengeluarkan ponselnya dan mulai mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa foto dan mulai merekam pemandangan alam yang sangat indah ini. dia mengerti sekarang, kenapa Sam dan Jo mengajak mereka mendaki sepagi ini. Pasti mereka ingin memperlihatkan pemandangan indah ini sekaligus mempercepat waktu tiba di puncak Idenberg.
“Bisa nggak ya, keindahan ini kita bawa ke ibu kota tercinta?” Tanya Anton sambil menatap jauh ke depan.
“Andai bisa, gue berani bayar berapa pun.” Sela Andreas.
“Cih, sok banyak duit, padahal tempat tinggal aja masih numpang sama gue!” celetuk Reihan sinis.
“Yaelah, Bang. Yang itu nggak usah lo sebut-sebut juga semua orang tahu. ‘Kan ini tuh berandai-andai kali. Lagian mana mungkin bisa dibawa juga. Ngeselin banget sih lo!” Jawab Andreas keki.
Dia sangat tidak menyukai sikap kaku dan juga kata-kata sarkas yang sering keluar dari mulut Reihan. Tapi, Andreas pun tidak bisa membenci Reihan. Karena teman satu timnya ini sudah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Saat pertama kali dia bergabung di interpol dan tidak memiliki tempat tinggal, dengan santainya Reihan menawarkan untuk ikut tinggal di apartemen yang dia tempati.
Dan betapa terkejutnya dia saat tahu jika Reihan adalah anak orang yang sangat kaya. Apartemen yang dia miliki pun bertipe kondomium yang terletak di lantai paling atas tower. Sangat luas dan juga sangat nyaman. Di balkon belakang apartemennya terdapat taman yang sangat asri. Pohon hijau dan rumput gajah mini menghiasi balkon belakang apartemennya.
Hidup Andreas sangat nyaman saat bersama dengan Reihan. Dan tidak hanya Andreas yang Reihan tampung, Anton juga Abigail dia tampung untuk tinggal bersama saat mereka dipertemukan dalam satu tim elit yang dibentuk oleh Leonard. Alasan Reihan menerima mereka tinggal di apartemennya adalah untuk mempersingkat waktu jika ada hal medesak yang harus mereka bahas.
Tapi, hanya Andreas yang tahu alasan sebenarnya. Reihan hanya kesepian di tempat tinggal mewahnya. Terbiasa hidup seorang diri dan menjadi anak satu-satunya di keluarga yang serba berkecukupan membuatnya tidak memiliki teman ataupun sahabat yang dapat dia ajak bermain bersama.
“Makanya lo jangan belagak sok berduit di depan dia. Lo tahu sendiri kalau manusia satu ini super menyebalkan, walaupun sebenernya dia baek sih.” Bisik Anton. Dia berusaha menenangkan hati Andreas.
Setelah menikmati pemandangan matahari terbit selama tiga puluh menit. Keenam orang itu pun melanjutkan pendakiannya. Tapi, baru juga beberapa langkah mereka berjalan, sebuah ranjau darat tidak sengaja terinjak oleh Abigail, dan hal itu membuat mereka semua terlempar ke tepi jurang.
Hal itu benar-benar mengejutkan. Reihan melihat ke bawah dan sialnya tidak ada yang bisa dia pijak. Dia bergelantung dan mempercayakan nyawanya pasa akar pohon yang keluar dari tanah. Jika akar pohon itu patah, sudah bisa dipastikan tulang yang menopang tubuhnya pun akan ikut patah saat dia terjun bebas ke dasar tebing.
“Haish!!! Bisa-bisanya di jalan ini ada hal semacam ini. Kalau ada warga sipil yang lewat jalur ini gimana? Bisa mati semua orang yang mendaki!” Maki Abigail kesal.
“Jalur ini sudah disetrilkan dari mereka. Makanya dipasang ranjau darat. Kalau tidak, mana mungkin hal semacam ini terjadi!” Sela Sam yang berusaha merayap ke atas. Dia memanfaatkan apapun yang bisa dia pegang untuk naik ke atas tebing.
Usaha Sam itu pun membuahkan hasil, dia berhasil naik dan langsung mengeluarkan tali dari dalam ranselnya untuk membantu rekan-rekan satu timnya saat ini. Belum selesai mereka semua dievakuasi, dua ekor anjing hutan pun mulai menyerang mereka. nyaris saja Anton digigit.
Lolongan mereka pun memancing beberapa hewan hutan keluar dari sarangnya. Dan itu membuat mereka berenam kesulitan. Satu persatu dari anjing hutan itu mulai maju dan berusaha mengigit tangan dan kaki Reihan. Jo dan yang lain pun mencari cara untuk mengusir anjing-anjing ini pergi.
Sebenarnya bisa saja mereka mengeluarkan senjata api yang menjadi alat pelindung diri mereka, atau menikamkan Pisau komando yang tergantung di pinggang mereka masing-masing untuk mengusir anjing hutan ini. Tapi, mereka ingat perkataan Leonard, jika bisa tidak membunuh maka jangan bunuh. Bertahan dengan semua kemampuan dan pikirkan jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang dihadapin.
“Gue boleh nggak sih lempar nih pisau ke badan anjing itu. Jadi kelar urusan kita?” Tanya Andreas yang mulai stres saat melihat Reihan hampir tergigit oleh anjing itu.
“Jangan bunuh jika bisa tidak membunuh!” Ucap Sam tegas.
Sam pun menarik patahan kayu besar yang tergeletak di pinggir tebing lalu melemparkannya ke arah anjing itu. Sialnya bukan hanya menakuti anjing itu, kayu itu justru menciderai kaki si anjing. Darah segar pun mulai mengintip malu-malu dari kulit yang terbuka. Seketika indera penciuman para binatang buas yang sedari tadi bersembunyi pun terusik. Yang tadinya hanya dua anjing hutan yang mendekat sekarang mulai datang seekor harimau gunung.
“Bagus! Bagus sekali Tuan, Samuel! Lo berhasil mancing hewan buas dan liar gunung ini keluar dari sarangnya. Hewan nokturnal pun mulai terusik oleh bau amis darah yang berhasil lo keluarkan.” Sindir Andreas kesal.
Reihan yang sudah berhasil terbebas dari serangan anjing hutan pun langsung berdiri dan mendekati ujung tebing untuk membantu Abigail yang masih terjebak di dinding tebing curam ini. Dengan susah payah dia menarik tali yang mereka gunakan nuntuk naik agar Abigail bisa naik ke atas.
Harimau gunung itu pun mulai waspada, dia memperhatikan satu persatu buruannya. Dan matanya langsung menatap anjing hutan yang sudah terluka parah. Jika keenam orang itu beruntung, mereka bisa selamat dengan cara memberikan anjing hutan itu sebagai santapan si harimau. Mungkin anjing hutan itu bisa menjadi menu sarapan dan juga makan siangnya bahkan sampai makan malam jika dia sedikit berhemat.
“Alihkan perhatiannya, dan giring dia untung tetap fokus pada anjing hutan yang terluka itu. Jangan sampai dia menargetkan kita sebagai mangsa.” Bisik Jo pelan.
“Gue juga tahu, Bro. Tapi, gimana caranya? Dia benar-benar fokus dan terlihat waspada saat ini.” Jawab Anton lirih. Dia benar-benar sudah hilang fokus. Pikiran Anton sudah berkelana kemana-mana saat ini