We Did IT!

1800 Words
Sepertinya kali ini Tuhan masih berbelas kasih kepada keenam orang yang saat ini tengah was-was akan nyawa mereka masing-masing. Harimau gunung itu langsung menerkam anjing hutan yang saat ini sudah tergeletak di tanah. Lalu dia menyeretnya menuruni tebing. Mungkin di ujung tebing itu ada sarang atau tempat persembunyiannya. Saat harimau gunung itu pergi, satu persatu hewan-hewan yang sedari tadi menonton pun ikut pergi. Keenam orang yang tadi sangat takut akan hari kematian mereka sekarang sudah bisa bernapas lega. Setidaknya sang maut sudah sedikit menjauh untuk hari ini. “Gila ya. Gue pikir hari ini gue bakal die, Coooy…” ucap Anton histeris. Dia pun terduduk di tanah kering yang saat ini sedang dia pijak. “Sama, Bro. Gue juga ngira bakal mati hari ini. Gue pikir jatoh ke tebing itu udah yang paling parah, lah pas naik ke atas malah udah ditunggu sama harimau gunung. Kurang serem apa lagi coba? Orang bilang ketemu kunti serem, lah ini lebih horor dari itu.” Balas Abigail geram. Dia masih berusaha mengatur napas dan degup jantungnya yang saat ini sulit sekali dia kontrol. Sam dan Jo pun hanya bisa tersenyum mendengar keluhan dua orang itu. Ini belum seberapa jika dibandingkan dengan pengalaman yang pernah mereka alami di tanah Papua ini. Mereka pernah bertemu dengan kepala yang sudah tergantung di atas pohon besar, dan menghadapi bagaimana kejamnya suku pedalaman di tanah ini. Jika hanya sekedar harimau gunung dan jatuh ke tebing curam belum seberapa. “Sepertinya kita butuh waktu istirahat lebih lama. Untuk menenangkan diri dari kejutan tadi.” Ucap Reihan sambil menatap Sam dan juag Jo. “Boleh, waktu istirahat diperpanjang lima belas menit. Setelah itu kita lanjutkan lagi pendakian.” Jawab Sam. Mau tidak mau Reihan dan yang lain pun menganggukkan kepala tanda setuju. Mereka juga tidak mau terlalu lama berdiam di sini. Bisa saja nanti ada hewan buas lainnya yang datang ke sini. “Bang, gue boleh nanya nggak? Ini sih hanya analisa gue ya, siapa tahu gue salah. Gunung ini kan tinggi dan dingin ya, udara ekstres banget, tapi kok bisa ada hewan-hewan itu? Gue berasa di margasatwa gitu, hutan lindung maksudnya. Ini beneran dateng dari alam di sini atau sengaja di datangkan?” Tanya Andreas bingung. Sedari tadi hanya itu yang telrintas dipikirannya. Dan lagi, bisa-bisanya ada hewan-hewan itu di jalur pendakian ini. Andreas mulai berpikir jika masyarakat yang bertemu dengan hewan-hewan itu bagaimana? Apakah masih ada orang-orang yang ingin menaklukkan Jayawijaya ini? Sepertinya tidak mungkin ada yang mau. Kalau pun ada hanya segelintir orang saja. Yang Sudah menyerahkan hidup dan matinya kepada sang waktu, atau mereka benar-benar tidak perduli. “Iya juga ya. Kok gue nggak kepikiran. Wah lo emang beda, Dre. Di saat orang mikir hidup dan mati, lo Malah mikirin dari mana hewan-hewan itu datang.” Abigail pun mendekati Andreas dan menepuk bahunya. “Habis gue bingung aja gitu. Bisa-bisanya ada hal seperti ini.” Andreas pun mulai menggerutu. Saat ini tubuhnya benar-benar lemas, dia sudah tidak bisa berdiri dengan benar. Kakinya lemas karena rasa takut yang baru saja dia alami beberapa menit lalu. Reihan yang melihat itu langsung memegang tubuhnya dan membantu Andreas untuk duduk. “Kalian lupa kalau saat ini kita bukan sedang hiking untuk melepas stres. Tapi, kita di sini untuk melatih fisik dan juga mental. Jadi, jangan heran kalau hal-hal semacam ini akan terjadi. Bisa saja Pak Leonard membawa isi kebun binatang ke sini. Siapa yang tahu.” Jo pun ikut membuka suara. Dia menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. Mendengar perkataan Jo itu membuat yang lain mulai mengerti situasi saat ini. Dan mereka pun langsung menghembuskan napas lelahnya. Anton dan Andreas pun mulai bergumam sendiri. Entah kata-kata apa yang keluar dari mulut keduanya, sampai bibir mereka terlihat mengerucut, lalu membulat, kemudian melebar. *** Matahari tepat berada di atas kepala keenam orang itu. Sam dan Jo pun mengajak mereka berhanti. Di sini banyak sekali orang yang mengibarkan bendera negara mereka masing-masing dan berfoto. Reihan melihat sekelilingnya dan dia mulai paham sekarang sudah berada di mana. Sepertinya mereka sudah berada di Cartensz Pyramid. Karena di puncak ini sudah ada lapisan es. Seperti cerita-cerita orang yang sudah sering mendaki Gunung ini. Puncak Cartensz Pyramid benar-benar indah dan menakjubkan. Rasa lelah yang baru saja hadir langsung hilang begitu saja. Ada rasa haru dan juga puas pada pencapaian ini. Andreas dan Anton yang baru saja diberitahu oleh Sam kalau ini sudah ada di Cartensz Pyramid pun langsung bersorak kegirangan. mereka berdua pun berpelukan sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Semua orang yang melihat tingkah keduanya pun tertawa. “Gila…. Kita berhasil sampai ke sini, Bro!!!” Teriak Anton. “Iya, Bang. Gue nggak nyangka kalau gue bisa juga menaklukan Jayawijaya!” Andreas pun menimpali perkataan Anton. Dia berteriak tidak kalah lantang dari Anton. Mereka pun mulai mengabadiakan momen ini. Abigail mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai merekam momen ini. Lalu dia mengajak semuanya berfoto sambil mengibarkan bendera merah putih. Bendera kebanggaan setiap warga negara yang hidup di negara ini. Setelah puas dengan sesi foto dan juga merekam video, mereka langsung mencari tempat untuk duduk. Lalu membuka carrier mereka masing-masing untuk mengeluarkan makanan seadanya. Tadi pagi mereka di bawakan roti lapis dan juga kopi kalengan.  “Gila, kopi di dalem tas aja sampe dingin gini. Kagak butuh kulkas lagi kita kalo tinggal di sini.” Celetuk Anton sambil menggenggam kopinya. dia berusaha menghangatkan kopi itu dengan panas tubuhnya. “Ya kali ada yang mau tinggal di puncak gunung begini. Ada-ada aja lo!” Sela Abigail. Mereka semua pun tertawa mendengar ucapan Abigail yang sangat masuk akal itu. *** Saat matahari sudah benar-benar hilang dan pemandangan indah sudah berlalu, Keenam orang itu melanjutkan lagi perjalanan untuk menuruni gunung ini menuju basecamp danau-danau untuk beristirahat. Tepat pukul tujuh malam mereka tiba di basecamp. Makanan pun sudah siap, dan mereka semua dipersilahkan untuk makan malam. semuanya langsung berjalan menuju tenda yang seperti kantin umum untuk melihat menu makan malam ini, kecuali Reihan. Ponsel yang ada di sakunya bergetar menandakan ada yagn menghubunginya. Saat dia melihat layar yang saat ini berubah terang itu, ada nama Leonard yang tertera sebagai penelpon. “Siap, Pak!” Jawab Reihan. Leonard pun mulai mengatakan maksudnya menelepon Reihan. Dia bicara panjang lebar dan membuat tangan Reihan pun mengepal kuat. Saat sedang mendengarkan penjelasan dari Leonard, Reihan mendengar langkah kaki orang yang mendekat ke arahnya. Ternyata itu Jo, sepertinya dia pun habis dihubungi oleh atasannya. Karena di tangan kanannya terdapat ponsel. Setelah sambungan telepon itu terputus, Reihan pun menghampiri Jo. “Lo juga dapet telepon dari atasan lo?” Tanya Reihan. Jo pun mengangggukkan kepala. Dia mengatakan apa yang akan mereka lakukan besok. Malam ini mereka harus istirahat, dan besok pagi-pagi sekali mereka sudah harus turun menuju Bali Dump. Di sana sudah ada helikopter yang mengunggu. Reihan dan Jo langsung masuk ke dalam tenda, dan melihat semua orang sedang menyantap menu makan malam hari ini. Tanpa menunggu mereka selesai, Reihan langsung menyampaikan apa yang baru saja diperintahkan oleh Leonard. semua orang yang mendengarkan pun langsung terpaku di tempat duduk mereka masing-masing. *** Jakarta, Kantor Interpol Pusat Reihan duduk bersisian dengan ketiga temannya. Di ruangan ini ada sepuluh orang lagi yang selain mereka. Pintu ruangan pun terbuka Leonard dan satu orang yang mereka kenal sebagai salah satu pejabat di Badan Intelejen Nasional (BIN) memasuki ruangan. Leonard pun mulai memperkenalkan orang itu kepada semua orang yang ada di ruangan ini. Leonard mulai menjelaskan kenapa mereka semua dikumpulkan di ruangan ini bersama lima anggota dari BIN dan lima anggota interpol lainnya. Dua hari lalu Leonard menerima laporan ada sepuluh warga negara Indonesia yang dibawa ke Tiongkok. Mereka di janjikan untuk menjadi TKI tetapi sesampainya di sana mereka justru dijual untuk menjadi pekerja di tempat prostitusi. Data-data orang yang dibawa ke Tiongkok pun diberikan kepada mereka semua. Satu buah map yang berisikan sepuluh data pribadi korban penipuan itu. Mereka langsung mengepalkan tangannnya. Hal-hal seperti ini Sudah acap kali terjadi di negara tercinta. Tapi, sampai saat ini sindikat yang menjalankan aksi ini belum juga tertangkap. Leonard mulai menjelaskan tugas mereka mulai besok. Malam ini mereka sudah harus bersiap untuk melaksanakan tugas. Leonar pun mulai memperkenalkan orang-orang yang ada di dalam ruangan ini. Mereka mulai menyapa dan saling berjabat tangan. “Baiklah, karena semua sudah kenal dan tugas pun sudah dijelaskan dengan rinci, jadi Saya harap kalian bisa menyelesaikan misi ini dengan bersih. Tidak ada korban, dan tidak ada waktu yang terbuang percuma. kami pecayakan misi ini kepada kalian semua.” ucap Leonard akhirnya. Dia pun membubarkan semua orang dan memanggil Reihan serta tiga orang rekannya di tim Alpha untuk datang ke ruangannya. Di dalam ruangan ini Leonard menjelaskan lebih rinci lagi informasi orang-orang yang tadi dia jelaskan. Ternyata dua diantara wanita-wanita itu adalah anggota BIN yang sedang menjalakan misi penyamaran untuk mengungkap sindikat perdagangan manusia. Tapi, saat ini mereka kehilangan kontak dengan keduanya. sehingga mereka harus bekerja sama dengan orang-orang BIN untuk menyelesaikan misi ini. “Kalian berempat harus menyelematkan VIP terlebih dahulu. cari mereka berdua sampai ketemu. tentu tugas ini pun akan diberikan kepada lima anggota BIN yang ikut bertugas di misi kali ini. Tapi, Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik bersama mereka.” “Kenapa harus kami yang menemukan VIP? Bukankan anggota mereka sudah ada yang mengurus para VIP ini.” Tanya Reihan bingung. Seharusnya mereka hanya harus fokus kepada delapan orang lainnya. Karena dua orang itu bisa diurus oleh kelima anggota mereka yang ikut dalam misi ini. “Hal itu terjadi karena, sepertinya ketua tim dari para VIP tidak terlalu percaya kepada utusan mereka. Maka dari itu dia meminta saya untuk mengatakan ini kepada kalian berempat.” Jelas Leonard sambil tersenyum. “Berarti ada kemungkinan ada penghianat di tim ini. Apakah itu tidak teerlalu berbahaya untuk keselamatan kami?” Tanya Abigail. Dia tidak terima dengan hal ini. “Benar! Itulah tujuan saya memanggil kalian semua ke ruangan saya. Saya meminta kalian untuk selalu waspada dan jangan terlalu percaya dengan orang-orang yang diutus oleh BIN.” Jawab Leonard lagi. “Baiklah kalau begitu. kami akan waspada dan berhati-hati.” Reihan pun menyanggupi tugas ini. Karena tidak ada pilihan lain. Mereka harus menerima tugas ini dan menyelesaikannya sesuai dengan perintah atasan mereka. “Good! Jadi silahkan kalian istirahat dulu dan bersiap untuk besok. kalian akan pergi dengan pesawat komersial dan membaur dengan warga sipil. Kalian semua akan berangkat sebagai rombongan tour yang sangat antusias dengan negara Tiongkok.” Perkataan Leonard ini berhasil membuat mereka berempat mengerutkan dahi mereka. Bisa-bisanya mereka akan berangkat sebagai rombongan tour. Padahal mereka semua adalah laki-laki dan hal ini sangat-sangat mencurigakan. Loenard pun memberikan itenerary keberangkatan besok dan jadwal tour yang akan mereka ikuti selama di Tiongkok nanti. Andreas tertawa membacanya. Mereka seperti anak sekolah menengah atas yang sedang melakukan perjalanan karya wisata. Walaupun wajah mereka bisa diterima sebagai anak SMA tapi, tetap saja hal semacam ini cukup konyol jika harus mereka lakukan di sana.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD