Touch Down

1860 Words
Pagi ini Bandara Internasional Soekarno-Hatta sangat ramai. Banyak sekali orang-orang yang lalu-lalang di depan pintu keberangkatan maupun kedatangan internasional. Reihan dan rekannya yang lain sedang menunggu rombongan tour Tiongkok lainnya. Ternyata mereka tidak berangkat sendiri. Loenard mendaftarkan mereka ke dalam tour group yang berisikan para lansia yang akan berlibur ke negara tirai bambu itu. Dan yang sangat mengesankan adalah, mereka akan menjadi pengawal sekaligus orang-orang yang akan bertanggung jawab atas kesehatan dan juga keselamatan para lansia ini. Anton sudah gelisah sejak pertama kali mengetahui fakta ini. Dia tidak yakin bisa melakukan tugas ini dengan baik. Mengurus kedua orang Tuanya saja dia tidak bisa karena sering bertugas berkeliling kota serta negara. Ini justru diberikan tugas yang lebih berat lagi. Dia harus mengurus para lansia dan semua kebutuhannya. Dia sudah membayangkan betapa repotnya dia nanti. Dia pasti akan menemani mereka bolak-balik kamar kecil. Belum lagi harus menggendong mereka jika para lansia itu kelelahan, atau akan disuruh macam-macam. Karena konon katanya, manusia itu akan bersikap dan bertingkah seperti bayi kembali saat umur mereka sudah lanjut. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri, apalagi harus menghadapinya. “Lo mikiri apa? Kenapa muka lo kayak orang nahan boker gitu?” tanya Abigail saat melihat wajah Anton yang sangat tidak enak dilihat. “Bi, lo nggak khawatir apa?” Tanya Anton penasaran. “Khawatir kenapa? Apa yang harus dikhawatirkan? Khawatir bakal mati? Bukankah tugas kita selama ini emang selalu dekat bahkan manggil malaikat maut?” Tanya Abigail bingung. “Bukan itu, kalau itu gue juga tahu.” “Lah, terus apa?” “Lo kebayang nggak sih, ngurusin tuh nenek-nenek sama kakek-kakek ribetnya kayak apa? Lo sanggup? Udah siap? Bukannya kita baru tahu bakal begini pas sampe sini?” Cecar Anton. “Oh, masalah ini. Santai aja elah, ini tuh hanya penyamaran, pura-puranya. Bukan beneran, kalau beneran kapan kita bisa ngerjain tugas yang sebenernya. Bego juga nih manusia satu. Otak lo segeda apa sih?” Ejek Abigail. “Eh buseeet! Dikata ini otak ayam apa ya. Gue yakin walaupun ini cuma penyamaran atau pura-pura, whatever it is. Tapi, mereka pasti akan minta tolong sama kita nanti. Misalkan, minta di temenin ke toilet, gantiin baju, atau bahkan minta dimandiin.” “Ck! Lebay lo! Kalau minta ditemenin ke toilet ya tinggal temenin sih. Susah amat. Asalkan itu bukan toilet cewek aja. Kalau sampai minta dimandiin kayaknya nggak mungkin. ‘Kan ada petugas yang ngurusin itu. Udah nggak usah terlalu over thinking deh!” “Hehehehe… gue parno aja, Bro. Orang tua gue aja nggak gue urus, lah ini mau ngurusin nenek sama kakek orang. ‘Kan terdengar sangat lucu sekali.” “Udah… nggak Usah lebay!” Pemandu wisata pun memanggil nama peserta grup tour ini satu persatu. Dia ingin memastikan semua anggota sudah ada di bandara barulah mereka akan melakukan check-in. Koper-koper besar sudah terlihat di samping para lansia itu masing-masing. Andreas membandingkan bawaannya dengan bawaan anggota grup tour ini. Sungguh sangat jauh berbeda. Mereka hanya membawa satu tas ransel dan satu koper berukuran kabin, sedangkan mereka satu koper besar dan satu tas jinjing yang tidak bisa dikatakan kecil. Entah apa isi tas mereka itu. Andreas pun berpikir, mungkin nanti jika dia sudah berumur seperti para lansia itu, bawaannya pun akan sebanyak itu. Proses check in pun selesai, bagasi pun sudah diurus dan sekarang waktunya mereka naik ke lantai dua untuk masuk ke ruang tunggu. Masing-masing dari mereka sudah membawa ‘tanggung jawabnya’. Dan hal itu terlihat sangat menggemaskan. Dan yang paling menggelikan adalah, Anton dan Andreas mendapatkan tanggung jawab spesial. Mereka harus menemani dua orang nenek-nenek yang sangat bawel dan juga membawa banyak barang ke dalam kabin. Dalam penerbangan kali ini mereka duduk di kelas bisnis, sehingga mereka harus duduk bersama para lansia yang dititipkan kepada mereka. Setiap menit nenek-nenek itu menanyakan kapan mereka akan masuk ke dalam pesawat, dan kapan pesawat akan membawa mereka terbang tinggi menuju nirwana. Mendengar itu sontak saja yang lain tidak bisa menahan tawanya. Ada yang tersenyum bahkan tertawa nyaris terbahak. “Bang, kenapa kita spesial banget sih? Yang lain nggak ada yang dapet gini. Kenapa kita berdua bisa ya?” Tanya Andreas sambil meringis. Anton pun hanya bisa mengedikkan bahunya pasrah. *** Saat mendarat di Guangzhou mereka langsung dmenuju imigrasi untuk melakukan pengecekan. Biasanya para anggota interpol dan juga BIN itu tidak akan pernah serepot ini. Mereka harus membantu para lansia itu untuk melewati bagian imigrasi dengan ‘kekacauan’ yang terlihat manis. Banyak orang tua lain yang merasa iri. Mereka pikir para lansia itu datang bersama cucu mereka ke negara ini. Dan ‘para cucu’ itu memperlakukan nenek serta kakek mereka dengan sangat baik. Hal-hal semacam ini sudah jarang sekali ditemui. Setelah melewati bagian imigrasi, mini bus sudah menunggu mereka di depan pintu kedatangan internasional. Mereka akan dibawa menuju hotel terlebih dahulu untuk menaruh barang bawaan dan beristirahat sejenak. Nanti malam baru akan diajak berjalan-jalan di seputaran kota saja sekalian mencari makan malam. Sedangkan besok pagi barulah mereka akan melakukan tour yang sesungguhnya. Satu persatu para lansia itu dibantu untuk menaiki bus. Reihan dan Abigail membantu memasukkan semua barang bawaan mereka ke dalam bagasi mobil. Dan baru kali ini keringat mereka bercucuran hanya karena mengangkat koper-koper untuk di masukkan ke dalam bagasi mobil. “Gila ya, itu semua isinya apa? Gue sudah seperti kuli panggul hari ini.” Abigail pun menyeka keringat yang ada di dahinya. Entah sudah berapa kali dia melakukan hal itu. “Pasti banyaklah yang mereka bawa. Mereka itu sudah sepuh, Bro. Gue yakin isi koper-koper itu tuh baju hangat, diapers, dan obat-obatan. Mereka itu nggak mungkin bisa pakai baju dua pasang dalam sehari, pasti lebih. Lihat saja nanti.” “Sepertinya Anda sangat memahami hal itu, Pak.” Sindir Abigail.  Dia pun menutup pintu bagasi mobil, melakukan pengecekan sekali lagi ke sekitar mobil untuk meyakinkan tidak ada koper atau tas apapun yang tertinggal. Barulah dia mengajak Reihan untuk naik. Karena naik paling akhir, mereka pun mendapatkan previllage untuk duduk di kursi belakang di dekat pintu berdua. Mereka tidak harus duduk dengan para lansia yang sudah bisa dipastikan akan sangat heboh selama perjalanan menuju hotel. *** Para anggota interpol dan juga BIN dibuat takjub saat mereka tiba di hotel. Hotel yang dipilih para lansia ini bukan hotel sembarangan. Dan sudah bisa dipastikan mereka ini bukanlah orang-orang biasa. hotel bintang lima ini memiliki lokasi yang elegan di Baijing Fortune Plaza.  Mereka semua langsung menghitung penghasilan mereka, jika mereka harus membayar setengah sewa hotel ini bisa di pastikan gaji mereka bulan depan akan hilang setengah bahkan tiga perempatnya. Sunggung sangat mengerikan, bukan? “Gila ya nenek-nenek dan kakek-kakek ini bukan orang biasa ternyata. Mereka sultan, Bro.” Bisik Anton. “Iya, Bang. Kita nginep di sini karena dibiayai kantor seratus persenkan ya. Bukan kita yang bayar, atau kita bayar setengahnya? karena selama dinas luar negeri, ini kali pertama kita nginep di hotel semewah ini.” Tanya Andreas was-was. “Sudah, ikutin ajalah skenarionya. Gue yakin semua ini kantor yang tanggung. Saat Sudah masuk ke dalam kamar kita harus cari tahu latar belakang rombongan tour ini.” Jawab Reihan santai. Dia pun langsung berjalan mendekati pemandu tour yang sedang membagikan kunci kamar kepada para lansia itu. Reihan bertanya apakah rombongan mereka akan menginap juga di sini atau ada hotel lain yang harus mereka datangi. Pemandu tour itu langsung tersenyum ramah dan memberikan kepada Reihan empat kunci kamar. Reihan pun menerimanya dan langsung mengucapkan terima kasih. Mereka semua pun langsung mengikuti rombongan ini. Lantai tiga di pilih pemandu tour sebagai lantai di mana mereka akan menginap selama ada di sini. Satu persatu para lansia di antar ke kamar mereka masing-masing, barang bawaan mereka pun di taruh dengan benar di tempat seharusnya. Lalu masing-masing anggota interpol ini dimintai menanyakan keperluan mereka selagi menunggu jam makan malam. Pemadu tour memberikan mereka empat buah ponsel, masing-masing kamar memegang stau ponsel. Saat ponsel itu berdering mereka harus masuk dan mengecek kamar yang menelpon mereka. “Dan sekarang kita jadi operator telepon, dong.” Gerutu Andreas. Dia langsung menarik satu kunci kamar dan berjalan mencari Nomor kamar yang tertera di kartu magnetik itu. Dua teman yang lainnya pun mengikuti Andreas. Sedangkan Reihan masih sibuk membagikan kunci kamar untuk anggota yang lain dan mengatakan mereka akan melakukan rapat tiga puluh menit lagi. *** Mengunjungi Tiongkok tidak akan pernah lengkap jika tidak mengunjungi Tembok Besar China. Dan hal itulah yang mereka lakukan sekarang. Padahal para lansia ini sudah tidak akan sanggup berjalan sampai ujung. Tapi, mereka tetap ingin datang ke sini. “Gue yakin, mereka semua sudah sangaaaaat sering datang ke sini.” Ucap Andreas sambil meringis dan memicingkan matanya karena silau. “Lo bener. Gue juga yakin gitu. Tapi mau gimana lagi, Bro. Lo lupa apa, data yang kita baca semalem itu buat kita cengok dong. Dan yang lebih mengagetkan lagi kata-kata Pak Leonard, bahwa mereka yang membiayai hidup kita selama di sini dan kita harus bersikap sangat biak kepada mereka.” Jelas Anton. “Inget banget, Bang. Kan gue yang bacain data mereka, dan pake ponsel gue juga nelepon Pak Leonard.” Balas Andreas. “Ya Sudah kalau Sudah tahu. Sekarang siapkan punggung dan stamin akalian sobat. Gue yakin sebentar lagi tugas kita adalah menggendong mereka sampai puas berjalan-jalan di sini.” “Baiklah… mari kita kerja dulu.” Abigail pun berjalan mendekati pemandu tour itu dan mendengarkan dengan seksama penjelasannya diikuti oleh yang lain. *** Malam ini setelah selesai makan malam, Reihan mengajak Abigail, Andreas dan juga Anton mengunjungi salah satu club malam terbaik di kota ini. Dia harus mengecek kebenaran informasi yang baru saja dia dapatkan. Loenard mengatakan salah satu dari sindikat perdagangan manusia ada di club malam ini. Dan yang paling penting, target mereka pun ada di dalam club malam itu. Reihan meminta mereka semua berhati-hati dan lebih waspada. Dia yakin ada orang-orang BIN yang dianggap sebagai pengalihan tugas pun datang ke club malam ini. reihan meminta Abigail menghubungi lima rekan mereka yang lain untuk berjaga-jaga. Masuk ke dalam club ini tidak mudah rupanya. Hanya anggota member saja yang boleh masuk. Reihan pun teringat akses card yang diberikan oleh para lansia itu saat sedang membantu mereka mempersiapkan diri sebelum mengunjungi Tembok Besar China. “Bro, lo yakin kita bisa masuk ke sana? Sepertinya ketat sekali penjagaannya di sana.” Tanya Anton ragu.  Dia masih memperhatikan semua orang yang masuk ke dalam sana. Orang-orang yang berkunjung ke club ini bukanlah dari kalangan biasa. Sepertinya ada para petinggi publik dan lain sebagainya. Reihan pun berjalan mendekati para penjaga dan langsung menunjukkan akses card berwarna hitam metalik dan bertuliskan VIP. Petugas pun langsung mempersilahkan mereka masuk tanpa banyak bertanya. “Dapet dari mana lo kartu akses itu?” Bisik Abigail penasaran. “Dari mana lagi? Gue yakin salahs atu dari lansia itu adalah petinggi di interpol ataupun di BIN. Kita harus betul-betul memperhatikan mereka. Gue curiga ada tujuan lain mereka datang ke sini.” Jawab Reihan sambil berbisik. “Bang! Bukannya itu kakek yang lo urusin ya?” Tanya Andreas sambil menunjuk ke Arah meja bar yang saat ini tidak terlalu ramai. “Benar. Dan kita harus tetap awasi dia, dan kondisi sekitar sini. Jangan sampai lengah dan membuat keributan.” Reihan pun mulai memperhatikan gerak-gerik kakek yang dia bantu urus selama tour ini berlangsung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD