Pagi ini Emi sedang pergi ke rumah Budhenya bersama ibunya. Dengan menaiki motor peninggalan Ayahnya, Emi melajukan motornya dengan hati-hati.
Kalau tidak, Ibunya akan mengomel dan mencubit pinggangnya saat naik motor.
“Bu, sudah sampai. Emi mau pergi ke foto copian dulu, Bu,” ucap Emi.
Hari ini dia libur karena Pak Adam sekeluarga pergi ke luar kota menghadiri undangan pernikahan anggota keluarga dari Ibu Rofi.
Emi dengan cepat turun dari motornya saat ia sampai di depan foto copian.
“Mas, tolong ini di copy lima lembar saja, ya?”
“Iya, apalagi?”
“Udah, ini saja,”
Dalam hitungan tiga menit semuanya jadi, Emi membayarnya dan pergi menjemput ibunya di rumah Budhenya.
Setelah berbasa basi sebentar, Emi dan ibunya akhirnya pulang ke rumah. Emi berbaring di kamarnya setelah ibunya bilang kalau hari ini akan istirahat hingga sore hari tiba.
Tiba di rumah, ia mematikan HP nya karena akan di cas. tempat tidurnya begitu terasa nyaman saat ia baru membersihkannya tadi.
Emi pun tertidur pulas setelah beberapa menit ia berbaring dan membiarkan pintu kamarnya terbuka.
Saat sore hari ia terbangun karena mendengar Ibunya mengguncang tubuhnya dan memanggil namanya.
“Em, Emi, bangun!”
Emi menggeliat, ia membuka matanya dan bertanya pada ibunya perihal ia dibangunkan.
“Ada Bu Rofi,” ucap Ibunya.
Mata Emi langsung membuka lebar.
“Apa? Bu Rofi? Mau apa, ya Bu?”
“Nggak tahu juga, katanya langsung dari luar kota dan turun di rumah kita untuk mencarimu,”
“Aduh, ada apa, ya?”
Emi menyisir rambutnya tapi, ibunya menyuruhnya cepat keluar dan menemui Bu Rofi.
“Em, baru bangun tidur, ya?”
Agak malu ia mengangguk dan menanyakan keperluan Bu Rofi kesini.
“Iva rewel, selama di luar kota tadi juga nggak mau diam,”
“Ya Allah, kasihan dong, Bu,”
“Iya, makanya sekarang kamu ikut Ibu, ya!”
Emi merasa bingung, ia kira tidak akan disuruh kesana lagi, ini malah langsung minta ia ikut dan mengurus Iva lagi.
“Tapi, Bu ...”
“Sana Em, kasihan Iva!”
Ibunya menyuruhnya ikut dan minta Emi menuruti perintah Bu Rofi.
Emi menggaruk kepalanya, dan tersenyum pada Bu Rofi.
Wanita paruh baya itu kemudian berkata lagi dan meminta Emi untuk mau pergi sekarang bersamanya.
***
Akhirnya, kini Emi lebih sering berada di rumah Adam. Pria itu sibuk dan sering lembur dan Emi diminta untuk menginap oleh Bu Rofi.
Tapi, lama kelamaan, Bu Rofi menganggap Emi bukan lagi seperti baby sitternya Iva. Emi bahkan disuruhnya untuk mengurusi Adam juga.
Pria itu seperti bayi saja yang harus ikut diurusinya. Emi bingung lama-lama bukan kerja sebagai pengasuh Iva tapi pengasuh Ayahnya juga. Sering ia menggerutu tapi tak sampai ia tunjukkan demi mencari uang dan tambahan untuk membantu ibunya juga.
Tapi, hampir semua yang ia lakukan bukan selayaknya pengasih melainkan seperti seorang istri.
Mulai dari membuat kopi, memasak nasi goreng untuk sarapan Adam, hingga meminta pendapat pada Emi baju apa yang akan dipakai Adam kalau berangkat kerja.
Awalnya, Emi merasa itu tugas tambahan baby sitter saja, mengingat gaji yang diberikan juga bertambah tiap bulannya.
Tapi, setelah di bulan kelima ia bekerja, semuanya membuatnya pusing. Ia merasa terbebani sekarang ini.
Makanya, ketika ada lowongan kerja lagi di toko yang dulu dekat dengan indekos Vino, ia mendatangi lagi toko itu dan minta bertemu dengan Cici pemilik toko.
“Aku mau masuk sini lagi, Ci, boleh nggak?”
“Hem, boleh banget. Kapan mau masuk?’
“Besok libur, ya Ci? Itu ada tulisannya,”
“Iya, besok kakaknya Kokoh mau ada acara nikahan, libur deh barang tiga harian,”
“Oh, gitu,”
“Ya, kamu masuknya tiga hari lagi saja, ya?”
“Baik, Ci. Makasih, ya Ci,”
“Ya, sama-sama,”
Emi pulang dengan semangat, untung dia belum bilang berhenti kerja dengan Bu Rofi, karena tiga hari lagi ia baru mulai akan bekerja lagi.
Tiba di rumah ada motor Pak Adam di depan rumah. Emi melihat Iva sedang menangis.
Hati nurani Emi tergugah demi melihat Iva yang benar-benar mencarinya ternyata.
Ia sengaja tidak masuk kerja dengan alasan sakit tadi pagi.
Tapi, malah pria dan anaknya itu kesini. Iva ia segera gendong dan ajak bermain sebentar di dalam rumah.
Pak Adam dilihatnya sendirian dan duduk di ruang tamu. Ibunya ternyata pergi ke warung katanya membeli cemilan untuk Pak Adam dan juga putrinya.
***
Hari berganti hari, Emi melihat kalender. Besok ia sudah mulai akan bekerja di toko dan sore ini ia akan berpamitan untuk berhenti bekerja di sini.
Tiba-tiba, ada kabar kurang enak di dengar dari seorang tetangga di sebelah rumah Pak Adam tempat ia bekerja.
Bu Rofi yang mengatakan itu kalau kabar itu mengenai dia dan anaknya Bu Rofi yang katanya kumpul kebo.
Emi benar-benar marah dan begitu membenci tetangga sebelah rumah ini.
“Bu, kok ya tega banget nyebarin gosip seperti itu. Emi nggak terima dikatain begitu, Bu,”
Emosi Emi meledak-ledak, ia yakin ia bisa membela dirinya karena gunjingan tidak akan berhenti kalau ia belum melabrak siapa penyebar gosip murahan itu.
“Sudah, nggak usah di dengar! Biarkan saja, nanti juga hilang sendiri,”
Meski Bu Rofi bersikap seperti itu, tapi Emi tetap tidak mau untuk diam. Ia tetap akan membuat tetangga penyebar gosip itu malu karena ia benar-benar akan melabraknya,
Saat Bu Rofi tidur di kamar belakang, Emi pun mendatangi rumah tetangga yang berada persis di sebelah rumah Pak Adam.
Tok … tok … tok …
Tak ada sahutan, ia mengetuknya sekali lagi dan baru ketukan ke berapa puluh kalinya seorang wanita datang membuka pintu,
“Ya, ada apa. Eh, bukannya kamu yang …”
“Saya, yang ibu sebarin gosip katanya kumpul kebo sama Pak Adam. Begini Bu, kalau mau menyebar gosip tuh yang benar. Saya kerja di rumahnya Pak Adam dan bukan sebagai kekasih gelapnya,” ujar Emi setengah emosi.
Seorang warga melihat dan mendatangi keduanya, wanita itu langsung mengelak dan minta Emi keluar dari rumah karena ia terus-terusan dituduh tanpa beralasan.
Kejadian itu pun makin ramai dan Emi yang merasa tidak melakukan tetap tidak terima digosipkan seperti yang di bicarakan oleh orang-orang disini.
Emi melihat ke dinding ruang tamu, ada foto anak remaja bersama kedua orang tuanya. Salah satunya adalah gadis yang ia lihat bersama dengan Vino.
Ternyata wanita itu adalah orang tua dari kekasih barunya Vino. Emi dengan tegas mengatakan jika anak gadis wanita itu lah yang telah berbuat kumpul kebo dengan seorang pria di kos dekat toko Ci Ahong.
Wanita itu marah dan hampir akan memukul Emi, tapi suara teriakan Bu Rofi membuat semuanya bubar.
Rupanya semua segan terhadap Bu Rofi yang terkenal baik itu. Emi pun disuruhnya pulang dan semuanya berbisik-bisik dengan keberanian Emi tadi.
***
Karena kejadian kemarin, Emi belum sempat berpamitan pada Bu Rofi dan ternyata gajinya juga lupa diberikan hari ini. Tapi, Emi kadung janji dengan Ci Ahong dan dia memilih berangkat kerja ke toko.
Di sana, temannya semua menyambutnya dengan sukacita. Emi merasa diperhatikan sehingga ia lupa kesedihan dan juga kemarahannya karena tuduhan kumpul kebo itu.
Ia bekerja dengan penuh semangat, dan pulang sore dengan hati riang.
"Em, tadi Bu Rofi kesini, menitipkan ini,"
Emi melihat sebuah amplop yang diberikan ibunya agak tebal dan ia tak mau menerimanya.
"Buat ibu saja. Itu gaji Emi terakhir kemarin," ucap Emi.
"Lho, kok?"
Ibunya bingung dan Emi tidak mau mengatakan apapun pada ibunya, karena ia begitu lelah setelah bekerja seharian di toko Cici Ahong.
Emi membuka pintu kamarnya dan masuk kemudian menutupnya rapat-rapat.
"Mi, buka dulu pintunya. Ibu mau tanya sama kamu, Kata Bu Rofi kamu memaki tetangganya, ya?"
Di dalam kamar, Emi menghela napas dan tak menjawabnya. Ia memilih untuk tidur dan tak mandi.
Hingga malam sore berlalu, Emi baru sadar saat bangun sudah pukul tujuh malam, ia pun bangun dan keluar dari kamar untuk mandi. Ibunya tidak ada dimanapun, sepertinya semuanya pergi ke pengajian yang diadakan di mushala RT sini.
Ia mandi dan kemudian shalat isya, lalu duduk di depan meja makan untuk menyantap makan malam.
Perutnya sudah keroncongan dan minta diisi.
Tapi, baru akan menyuap satu sendok dia mendengar suara ketukan pintu dan bergerak dengan cepat untuk membukanya.
“Bu, memangnya nggak bawa kunci, ya. Aku sedang makan, tahu …”
Betapa kagetnya Emi, saat ia tahu ketika pintunya dibuka ternyata bukan ibunya yang datang. Melainkan Bu Rofi dan juga Pak Adam bersama dengan Iva.
“Emi, sedang makan, ya?” tanya Bu Rofi.
Emi menjadi sangat gugup karenanya.
“Ehm, Bu, Pak, ehm maaf. Emi kira ibu,”
Emi sangat malu melihat kedua tamunya saling berpandangan. Iva malah akhirnya memeluknya dan minta gendong.
"Silakan duduk Bu, Pak, maaf tempatnya sempit. Iva, duduk juga, ya!"
Emi berkata dengan lembut pada anak itu yang terus bergelayut manja padanya. Tapi, Iva benar-benar tidak ingin jauh darinya.
"Ibumu mana, Em?"
"Ibu sedang pergi ke pengajian, Bu, mungkin sebentar lagi pulang karena sudah dari Magrib pergi tadi," ujar Emi berbohong.
Padahal ia baru bangun tidur dan tidak tahu kemana ibunya pergi.
"Seharian ini kamu nggak ada di rumah. Tadi kesini antar gajimu, maaf kemarin Ibu lupa!" ucap Bu Rofi.
"Nggak apa-apa, Bu," Emi terlihat diam dan hanya tersenyum saja.
Ia memang agak kesal karena Bu Rofi seolah mendekatkan dia pada putranya yang duda itu. Lama-lama ia tak kerasan dan hanya bersama Iva saja ia mau beramah tamah.
Baru setelah itu ibunya datang dan bertemu dengan Bu Rofi dan juga pria itu. Emi pergi mengajak Iva untuk duduk di dalam rumah sambil menggendongnya dan membiarkan dia bermain bersama Intan.
Karena ia sedang merasakan sangat lapar dan ingin sekali menghabiskan makanan yang tengah ia akan tadi.
Ibunya sedang berbicara dengan Bu Rofi dan juga Ayahnya Iva. Meski, tadi Bu Rofi minta ia berbicara bersama, Emi menolaknya karena ia akan membawa Iva bermain di dalam, kata Emi tadi beralasan.
Emi bersikap cuek saja meski Ibunya juga mengajaknya duduk bersama mereka.
Setelah mereka pergi, Ibunya mengajaknya bicara dan minta pertimbangan darinya.
"Mi, Bu Rofi sama anaknya melamar kamu," ucap Ibunya.
"Apa, Bu?"
Emi merasa kaget dan ia hampir pingsan dibuatnya. Bu Rofi akan melamarnya?
Ia akan di lamar seorang duda yang beranak satu lagi, Emi tak bisa membayangkan jika ia akan menjadi seorang istri duda.
Ia pikir bekerja mengasuh anaknya saja sudah cukup tanpa harus dilamar segala. Bu Rofi menurutnya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
"Ya ampun, Bu!" gerutunya.
Ibunya hanya diam saja dan tak mengatakan apa-apa lagi.
"Kalau kamu nggak mau juga nanti bilang saja, tapi menurut Ibu pikirkan dulu baik-baik," ucap Ibunya.
Emi diam saja, ia tak tahu kalau akan begini jadinya. Berharap bekerja dengan baik dan bisa mendapat pengalaman tentang pengasuhan anak, itu saja yang ia harapkan dari pekerjaan ini.