“Kok, kamu berhenti, sih Em? Ibu galak, ya sama kamu, apa gara-gara masalah tetangga kemarin itu, ya?” tanya Bu Rofi padanya.
Mereka duduk berdua berhadapan di ruang tamu rumah Pak Adam. Hari ini dia memang tak masuk kerja, karena ia memilih kerja di tokonya Ci Ahong.
Emi meringis karena saat ia datang untuk berpamitan malah Bu Rofi seperti enggan dengan rencananya.
“Ibu mau tanya sama kamu, kenapa berhenti. Emi, Iva itu sudah cocok sama kamu, bahkan ehm Adam juga. Makanya semalam kami datang mau melamar kamu besok,”
Emi diam saja, padahal ia sedang kerja dan pulang kesini karena sedang waktunya istirahat.
“Bu, Emi kan kesini cuma buat kerja, bukan cari jodoh. Lagipula, maaf Bu, maaf banget Emi sekarang ini sudah kerja di tokonya Ci Ahong,”
Bu Rofi merasa kaget dan ia diam sambil menatap Emi. Dari dalam rumah terlihat Iva baru keluar dari kamarnya dan ia kegirangan begitu melihat Emi.
“Mama, Mama Emi jangan pergi. Disini saja!” ucap anak itu.
Meski belum terlalu jelas ucapannya tapi kata-katanya cukup membuat Emi menjadi serba salah.
“Kamu beneran sudah kerja disana?”
Emi mengangguk dan ia pun menggendong Iva yang tengah bergelayutan di pundaknya dan minta dipangku.
“I-iya, Bu. Sudah ada tiga hari ini,”
“Tiga hari?” seru Bu Rofi kaget.
Emi mengangguk lagi, ia diam dan menunduk, siap dimarahi nantinya.Tapi nyatanya malah tidak sama sekali.
“Em, Ibu sama Adam kurang apa sama kamu, kok kamu berhenti dan sudah kerja di tempat lain.” Keluhnya agak kesal.
Bu Rofi pun mengambil Iva dan minta Iva tak memanggil Emi lagi karena ia sudah tidak mengasuhnya lagi.
Melihat Iva menangis saat di gendong Bu Rofi, Emi menjadi trenyuh. Ia menyuruh Iva untuk turun dan menggendongnya. Anak itu langsung mau dan memeluknya.
“Iva sudah dekat sama kamu, kasihan dia. Kamu mau nggak kalau kami datang melamar kamu?”
Bu Rofi terus membujuknya, bukan memarahi tapi malah berusaha terus membujuk Emi.
“Emi ehm ... nggak bisa jawab sekarang, Bu. Ini kan di luar kehendak Emi. Tadinya kan hanya berniat cari kerja saja,”
“Adam cocok melihat kamu juga dekat dengan Iva. Begitu juga dengan Ibu, kamu mau kan, jadi istrinya Adam. Dia anaknya nggak neko-neko, kok. Penurut lagi, kamu sama Iva aja sudah kaya ibu dan anak,” terang Bu Rofi.
Ia terus dibujuknya, sampai Iva tersenyum dan terus memeluknya erat.
Emi bingung, setengah jam mereka berbincang dan Emi masih belum bisa untuk pergi juga karena Iva juga mulai menahannya.
***
“Kok telat, kemana saja tadi?” tanya Ci Ahong pada Emi.
“Tadi perutnya sakit, Ci. Maaf, salah makan tadi pagi jadi mules,”
“Haduh, jangan diulang lagi, ya. Sudah sana kerja lagi, ini bawakan kesana biar nanti ditumpuk saja!”
“Ya, Ci,”
Emi bekerja dengan giat, karena ia memang suka dengan pekerjaannya. Dari pertama ia tamat sekolah dari SMP, disini adalah tempat ia pertama bekerja.
Jadi, ia banyak menguasai harga dan juga melayani pada pelanggan Ci Ahong yang sudah banyak.
Kebanyakan dari mereka malah minta nya dilayani oleh Emi yang ramah dan juga cekatan.
Sudah jam lima sore, waktunya Emi pulang dan dia berpamitan pada temannya.
Seorang temannya mencolek pinggangnya dan mengatakan ada seorang pria datang dan berdiri menunggunya di depan toko.
“Siapa sih?” tanyanya.
“Ayang mbeb, kayanya,” ucap temannya dengan bibir di monyongin.
Emi menjadi tertawa karenanya.
Ia melangkah pergi keluar dari toko itu tapi tak melihat ada seorang pria berdiri dan dia pun memilih untuk menaiki motornya pulang ke rumah.
“Em, tunggu Emi!”
Emi berhenti dan mematikan mesin motornya.Ia melihat dengan jelas ternyata Vino yang memanggilnya.
“Mau apa lagi, sih, bukannya kita sudah putus, ya?”
“Em, bisa aku pinjam uang sama kamu?”
Emi melotot pada pria itu dan akan mencibirnya tapi ia menahannya agar tidak menertawai atau mengejeknya.
“Nggak salah dengar aku, Vin?” ujar Emi.
Vino terlihat diam dan ia pun meminta Emi untuk turun dari motornya.
“Aku ada kebutuhan mendesak, bisa tolongin aku nggak, Em. Butuh lima ratus ribu untuk ...”
Emi sangat kaget mendengarnya, ia tak salah dengar tapi juga tak mau mendengarnya.
“Aku nggak ada sama sekali uang segitu, maaf,” ucap Emi dengan cepat.
“Tapi, kamu kan kerja. Bahkan kamu kerja jadi baby sitter kesayangan sekaligus ...”
Mata Emi melotot, ia tahu arah pembicaraan mantan kekasihnya itu. Dengan cepat ia pun minta Vino untuk menyingkir karena ia akan pulang.
“Maaf, beribu maaf. Tapi aku nggak ada uang sama sekali. Dan kalaupun ada juga sudah dipakai untuk kebutuhan rumah. Aku kerja juga cuma jadi baby sitter aja, kok. Nggak ada yang lain, permisi, aku mau pulang dulu. Bye ...”
Emi nggak habis pikir dengan pria itu, kata-katanya tadi hampir membuatnya sport jantung.
Kabar dirinya baby sitter plus-plus ternyata meresahkan dari yang ia kira dan ia hampir saja menjadi tak percaya diri.
Tapi, ketika mengingat kata-kata Vino yang minta berhutang padanya itu dan mengira ia punya uang banyak hanya pancingan saja rupanya.
Sampai di rumah, ia pun duduk melamun memikirkan semuanya yang telah terjadi. Padahal ia tidak melakukan yang disangkakan oleh orang-orang.
Omongan tetangga Pak Adam ternyata masih didengar sebagian orang. Meski ia menyangkal pun tidak ada gunanya. Ibunya bilang untuk membiarkan saja gosip itu beredar.
Saat ia sedang duduk dan menghilangkan rasa lelahnya, ibunya datang mendekat.
“Gimana, Em. Bu Rofi tadi kesini lagi, menyuruh ibu minta kamu menerima perjodohan dengan anaknya.”
“Bu, Emi niatnya kerja. Nggak cari jodoh, lagi pula, Emi nggak suka karena dia itu duda, punya anak lagi,” ucap Emi.
Ibunya menghela napas, bisa apa kalau anaknya sudah bilang seperti itu. Tapi, keinginannya sebenarnya ingin supaya Emi bisa hidup nyaman mengingat pria itu meski duda tapi sudah mapan.
“Ya, sudah. Ibu terserah sama kamu saja,” ucap ibunya sambil mengusap punggungnya.
***
Hari demi hari, Emi pun mulai bekerja seperti biasa. Tapi, pagi ini tiba-tiba datang seorang anak yang memberi kabar kalau Iva sakit demam dan minta Emi untuk datang ke rumah Pak Adam. Kebetulan ibunya mendengar cerita anak yang membawa kabar itu sehingga membujuknya untuk pergi.
“Mi, kesana saja dulu. Mumpung libur kan, lagi nggak kerja.”
“Tapi, Bu ...”
“Sudah sana! Pakai motor biar cepat sampai!”
“Ya, Bu,”
Karena terus di desak ibunya, Emi akhirnya pergi kesana dan memang keadaan Iva memprihatinkan.
“Bu, badannya Iva demam tinggi ini, bawa ke rumah sakit saja!” ucap Emi.
“Iya, dari kemarin dia demam, Em,” ucap Bu Rofi dengan cemas.
Bu Rofi bergegas ke kamar dan mengambil tas yang cukup besar untuk memasukkan baju milik Iva dan perlengkapan lainnya.
“Mama ... Mama Emi ...”
Iva memanggilnya dan Emi merasa iba, ia mencium kening Iva yang terasa panas.
Iva membuka matanya dan Emi dengan cepat memberi minuman air putih pada anak itu.
“Minum yang banyak, ya. Kita ke rumah sakit. Ayah mana, sih kok nggak datang-datang, ya?” sahut Emi pada Iva yang tersenyum dan minta digendong.
Bu Rofi mendengar Emi menyebut Adam dengan sebutan Ayah, ia tersenyum meski hatinya sedang dilanda kecemasan.
Bu Rofi segera memanggil anaknya untuk membawa mereka ke rumah sakit.
“Dam, bawa Iva ke rumah sakit, sama Emi, ya. Ini tasnya isinya baju-baju Iva!” perintahnya pada anak laki-lakinya.
“Ya, Bu,” Adam terlihat cekatan dan menyuruh Emi untuk masuk ke dalam mobil.
“Bu, kami berangkat, ya?”
“Hati-hati. Emi, Ibu titip Iva ya!”
Emi mengangguk dan hendak mengambil tas berisi baju Iva tapi Ayahnya Iva sudah mengambilnya lebih dulu.
Selama dalam perjalanan, tak hentinya Iva selalu memanggilnya dengan sebutan Mama.
Emi tak mempedulikan itu, yang penting adalah demam Iva harus segera diatasi.
“Pak, Iva demamnya sudah berapa hari?”
“Baru dua hari ini, Em,” jawabnya sambil terus menyetir.
Emi mengangguk dan ia segera akan turun begitu mobilnya berhenti didepan UGD rumah sakit.
“Iva nanti nggak boleh nangis, ya. Tenang, ada Mama Emi. Kalau sakit bilang, nanti Mama Emi yang pegangin!”
Iva mengangguk tanda mengerti, beberapa perawat datang dan segera memberikan pemeriksaan pada Iva dan hasilnya memang ia harus dirawat inap.
“Pak, Iva harus dirawat katanya,” ucap Emi.
Pria itu terlihat diam dan ia menghela napasnya, tapi kemudian dia memberi jawaban pada Emi mengenai Iva.
“Baiklah. Nggak apa-apa, dirawat saja, Em,” ujarnya.
Guratan wajah sedih tergambar jelas di wajahnya. Emi tahu kalau anak sekecil Iva harus di infus sangat lah tak tega melihatnya.
Saat di suntikkan jarum di tangan anak itu pun, Iva menangis begitu keras dan memanggil nama Emi.
“Ma, sakit ... Mama ...” teriaknya.
Emi merasa tidak tega tapi ini jalan yang terbaik karena ia tak mau minum obat dan juga makan.
Demamnya juga sangat tinggi dan itu bisa membahayakan jika dibiarkan saja.
Seorang dokter memberi komentar pada teriakan Iva yang begitu keras tadi.
“Anak pintar, manggilnya Mama terus. Ayahnya nggak dipanggil? Ini nanti dikasih obat dulu, ya. Biar Iva sembuh,” ucap dokter.
Emi dan Adam dikira pasangan suami istri. Selama di kamar perawatan mereka ditanya mengenai perkembangan Emi.
Karena Emi mengetahui dengan benar kondisi kesehatannya sehari-hari, ia bisa menjawabnya dengan mudah
Selama tiga hari berturut-turut, Emi menjaga Iva dengan telaten.
Bu Rofi juga bolak balik menjaga Iva bergantian dengan Emi dan juga Adam.
Saat pulang ke rumah sakit, Emi yang kurang enak badan juga harus ikut menjemputnya. Dikarenakan Iva masih menangis dan memanggilnya terus.
“Em, maafin Ibu. Tapi, Iva cocok sama kamu, tolong pikirkan baik-baik, Ibu akan melamar kamu menjadi menantu Ibu, istrinya Adam dan juga mamanya Iva,” ucap Bu Rofi.
Emi diam saja, sambil menyuapi Iva yang hanya mau makan dengannya saja. Sudah seminggu ini juga, dia berada di rumah Iva. Emi mengurus Iva setelah sakit, karena rewel terus dan minta ia yang menemani.
Ia terpaksa keluar dari toko Ci Ahong juga jadinya. Bu Rofi selalu membujuknya, begitu juga dengan Ibunya.
Namun, selama itu juga Emi menjadi kesal dibuatnya. Ia masih belum lupa bagaimana seorang pria bisa berselingkuh dengan wanita lain saat dirinya tak bersamanya.
Di rumah, Ibunya juga masih membujuknya.
“Iva kayanya memang nggak mau jauh dari kamu, Em. Bu Rofi juga bilang seperti itu,”
Telinga Emi menjadi panas karena setiap hari di cekoki dengan kata-kata bujukan supaya menerima lamaran mereka.
Sampai tengah malam, Iva katanya menangis dan Pak Adam datang mengetuk pintu rumahnya.
“Ada apa, Pak?”
“Iva nangis Em, nyariin kamu,” ucapnya sambil mengusap wajahnya yang basah kena air hujan.
Memang kondisi malam itu sedang hujan, hingga ibunya membujuknya untuk ikut bersama pria itu ke rumahnya.
“Ikut saja, Em nggak apa-apa,” ucap ibunya.
Emi menggeleng, mereka duduk berdua di kamar Emi dan ibunya terus membujuknya untuk ikut Adam pergi ke rumahnya.
Emi mengeluh karena ia cape, dan ibunya hanya menghela napas dan minta Emi sabar.
“Kasihan Iva, dia masih kecil dan butuh kasih sayang. Itupun cocoknya sama kamu, Em,”
Hingga beberapa hari Iva selalu minta ditemani Emi, sampai terjadi suatu kesepakatan antara Bu Rofi dan ibunya kalau Emi akan dilamar secepatnya agar menghindari gosip yang tidak baik tentang Emi dan Adam.
Akhirnya, Emi pun memutuskan akan menerima lamaran itu dan dia setuju untuk menikah dengan anaknya Bu Rofi.
Karena hampir setiap hari, Iva selalu mencarinya saat tengah malam. Emi juga menjadi bahan omongan tetangga yang mengira Iva hanya sebagai alasan saja agar bisa bertemu dengan Ayahnya Iva.
***
Hari ini, tepat di hari Jumat, keluarga besar Bu Rofi datang ke rumah dan melamar Emi. Terlihat Iva benar-benar sangat senang dan selalu memanggilnya Mama Emi.
Emi hanya tersenyum tipis meski ia masih terpaksa menerima lamaran ini. Ia lakukan semuanya hanya demi Iva saja dan tidak menganggap lamaran ini sebagai bentuk acara yang sakral baginya
Setelah acara lamaran, berlanjut ke acara pernikahan, karena Bu Rofi yang minta dan ingi dipercepat supaya Iva tak selalu rewel jika tengah malam.
“Em, nanti kamu tidur sama Adam dulu, ya!” kata Bu Rofi begitu acara pernikahan selesai.
“Tapi, Bu. Iva nanti nyariin, Emi mending tidur sama Iva saja.” Ucap Emi.
Ia belum bisa menerima Adam sebagai suaminya. Masih jauh dari perasaannya untuk bisa menerima dan membuka hati pada pria itu
Lagi pula, alasan ia mau menerima pernikahan ini hanyalah karena Iva saja.
Semua yang ia lakukan di rumah ini juga hanya demi Iva dan tak bisa ia beralih atau berusaha memberi hati pada Ayahnya Iva. Masih sulit ia menerima kenyataan kalau ia istri seorang duda, duda beranak satu lagi.
Bu Rofi masih terus berusaha agar Emi mau dibujuknya.
"Masuk ke kamarmu, Emi!"
"Tapi, Bu ..."