5. Satu Kamar

1787 Words
"Aduh, Bu Rofi ini!" gerutu Emi dalam hatinya. Lagi-lagi ia dibujuk untuk mau satu kamar dengan anaknya. Bu Rofi ini tampaknya selalu mengatur agar ia bisa mendekati anaknya. Setiap saat ia selalu di bujuk masuk ke kamar anaknya. Seperti sekarang ini. "Masuk saja, Em. Adam suamimu, jangan kamu malu dan takut, Adam nggak gigit, kok," imbuhnya lagi. Emi tertawa dan Bu Rofi langsung mencubit lengannya dengan pelan. Hingga suatu ketika, ia duduk sambil memegang sayuran mentah yang siap untuk dimasak. "Em, anakku itu nggak neko-neko orangnya, selain baik dia juga penurut. Kamu deketin dia terus, Adam anak ibu sifatnya penyayang," ujarnya ketika mereka sedang di dapur. Emi menyunggingkan seulas senyum agar ibu mertuanya itu senang kalau ia setia mendengarkan ceritanya. Sekarang ini Emi tinggal sepenuhnya di rumah Iva, ia menjadi lebih banyak banyak waktu bersamanya dan Iva terlihat lebih ceria saat Emi ada disampingnya. Iva sekarang juga jarang rewel kata Bu Rofi, wanita yang kini ia sebut sebagai ibu mertuanya. Sedangkan Pak Adam, ia juga mengurus nya sama seperti ia mengurus Iva dengan baik. Mulai dari menyiapkan makan sampai mencuci baju dan segala keperluannya. Bahkan semua masih sama seperti ketika sebelum menikah. Karena ia terbiasa mengurusi pria itu selalu Iva, putrinya. Tapi, kini lebih mudah dan tak jauh lagi karena ia full time berada di rumah. "Em, Adam sukanya ayam goreng lengkuas, lho. Besok kamu bikin, ya? Kalau susah, bisa Ibu ajari!" "Iya, Bu," Emi sering melakukan yang ibu mertuanya suruh. Ia melupakan keinginannya untuk sekedar mampir ke rumah Ibunya. waktunya banyak dihabiskan di rumah Iva. Malam ini, Iva ternyata sudah tidur di kamar belakang ditemani Bu Rofi. Ia mencarinya tapi ibu mertuanya bilang kalau Iva sudah tidur cepat di kamarnya. "Sudah tidur dari tadi, kamu ke kamar aja nggak usah pikirin Iva!," Emi hendak masuk ke kamar Iva tapi Ibu mertuanya menyuruhnya masuk ke kamar Adam, anaknya. “Kalian kan sudah suami istri, sudah sah dan tidak ada lagi yang akan menggosipkan hal buruk tentang kalian lagi,” ucapnya sambil mendorong tubuh Emi. "Ehm, Bu ..." "Sudah, jangan banyak ba bi bu lagi!" "Iya, tapi Bu ..." "Em, belajar menjadi istri yang baik untuk Adam!" ucapnya seraya mendorong tubuhnya. Emi disuruhnya masuk ke dalam kamar Adam dan menikmati malam sebagai pengantin baru. "Masalah Iva biar Ibu yang urus!" Ini adalah malam kedua tidur di rumah ini, dan kemarin memang ia tidak tidur dengan Ayahnya Iva. Itu juga karena Iva rewel dan minta ditemani tidurnya. Namun, rupanya sekarang Iva benar-benar lelah. Ia tertidur saat dipangku tadi dan hingga sekarang masih terlelap. Emi berharap kalau Iva bangun dan rewel supaya minta ia menemaninya tidur. Tapi, nyatanya hingga jam sebelas malam ia masih saja tidur. “Em, tunggu apa lagi, masuk saja!”. “I-iya, Bu,” Emi tak hilang akal, ia bilang akan membuat minuman jahe s**u hangat, karena tenggorokannya agak sakit dan butuh minum yang hangat-hangat. "Mau bikin minuman? Malam begini? Yang benar saja, buat siapa?" "Bu-buat aku, Bu. Tenggorokan Emi sakit," jawabnya. “Ya, sudah. Ibu tinggal dulu ke kamar, nanti kamu masuk saja. Kamu kan sekarang istri Adam, jadi bebas keluar masuk kamar ini.” Emi mengangguk dan dia menyeduh jahe s**u dengan air yang cukup panas. Ia masih gugup hingga tangannya terciprat sedikit air yang panas itu. “Aw ... aduh ada-ada saja,” gumamnya lirih. Setelah selesai membuat minuman, ia memandangi sebentar kamar yang akan ia masuki itu. Ia hanya ingin tinggal disini karena Iva dan status resmi suami istri sebagai bagian dari syarat kehidupan agar tak mendapat fitnah dari orang sekitarnya. Ia berjalan menuju ke kamar itu, kamar dimana Ayahnya Iva berada di dalam sana. Ia masih takut berada satu kamar dengan pria itu. Selain belum ada rasa cinta, ia masih merasa aneh saat harus menjadi istri pria yang berstatus duda anak satu itu. Ia memang tak berniat sama sekali menikah dengannya. Hanya Iva alasan satu-satunya yang menjadi faktor utama ia menerima pernikahan ini. Juga omongan tetangga yang menyangka ia ada apa-apa dengan pria duda ini. Air matanya menetes, ia berdiri sambil memegangi cangkir berisi minuman hangat itu. Tak tahunya, Bu Rofi keluar lagi dan membukakan pintu untuknya. “Masuk saja, Em! Adam juga salah sih, dari tadi diam saja di dalam kamar,” gerutu Bu Rofi. Emi terpaksa masuk tapi ia melangkah dengan pelan. Hingga Bu Rofi mendorongnya supaya benar-benar masuk ke dalam. “Masuk, Em!” Lagi-lagi tubuhnya didorong Bu Rofi yang bersemangat menyuruhnya tidur dengan anaknya. “Ta-tapi, Bu ....” Belum sempat Emi melanjutkan ucapannya, Bu Rofi sudah menutup pintu kamar dan menguncinya dari luar. Emi hanya bisa pasrah dan dia pun melirik ke arah tempat tidur dimana pria itu ternyata sudah tidur lelap. Cangkir berisi jahe s**u hangat itu ia letakkan di atas meja dan dia memilih duduk di atas sofa yang ada di kamar ini. Ia meminumnya sedikit, karena tak mungkin akan dibiarkan dingin sampai pagi. Setelah habis segelas minuman yang ia bawa, akhirnya Emi menguap karena benar-benar sangat mengantuk dan akhirnya tertidur. Rasa takutnya dikalahkan oleh rasa kantuk yang menyerang.Padahal sedari tadi ia terus mengambil sikap waspada karena sama sekali belum mau disentuh pria itu. Tengah malam ia tak tahu jika seseorang telah mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di atas tempat tidur dengan alas sprei yang begitu lembut dan juga hangat. Saat kepala nya bersandar pada sebuah bantal, matanya terbuka dan melihat tubuh pria itu berada dekat dengannya. “Ma-mau apa, Pak!” serunya sedikit terhenyak dari tidurnya dan duduk sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Ia malu sekaligus takut, semua menjadi satu dan pria itu pun akhirnya berdiri sedikit menjauhinya. “Aku hanya memindahkan mu ke tempat tidur supaya tidak kedinginan, cuaca sedang dingin malam ini,” ujarnya. Ia berjalan menuju ke sofa dan merebahkan tubuhnya disana, sesaat setelah itu dia menatap Emi sebentar. "Kamu takut sekali kalau aku sentuh, Em." "Ehm, bukan begitu, Pak. Tapi, tolong jangan buat aku nggak nyaman disini, Ibu juga yang menyuruhku masuk kesini," ujar Emi. "Terserah kamu, yang penting aku tak akan menyentuhmu sebelum kamu benar-benar mau," tuturnya lirih lalu matanya pun terpejam. Emi merasa bersalah tapi sekaligus lega, karena ia melihat tubuhnya masih terbalut pakaian dengan lengkap. Pria itu sudah tertidur lagi tapi tidak dengan Emi, ia terlihat berjaga-jaga dan mencegah pria itu datang lagi ke arahnya. Sebuah peniti ia pegang dan masukkan ke dalam saku bajunya. Kemudian Emi berbaring lagi dan tetap mengawasi pria yang sedang tidur dengan lelap itu. Meski lega karena ia baik-baik saja, tapi ia tetap merasa takut jika tubuhnya disentuh secara tiba-tiba oleh pria itu. Meski dia berhak atas dirinya, tapi ia belum mengijinkan sama sekali Ayahnya Iva untuk mencoba menyentuhnya. Biarpun dibilang dosa sekalipun ia belum bisa siap. Ia hanya menerima status pernikahan ini karena Iva saja. Emi tetap membuka matanya dan menekan matanya sewaktu-waktu agar tidak merasakan kantuk. “Hoamm ...” Hawa dingin mulai merasuk ia berselimut dan mulai mengantuk, akhirnya ia tak sadar kembali tidur hingga pagi menjelang. *** Bug ... Sebuah suara mengagetkannya, Emi melonjak kaget dan ia langsung duduk. Dilihatnya, buku-buku berjatuhan sendiri di atas meja pria itu. Banyaknya buku yang bertumpukan membuat kamar ini menjadi sesak dan tak rapi. Rupanya, ada satu tumpukan yang tak kuat menumpu bagian bawahnya dan karena miring membuat buku-buku itu terjatuh. Ia terbangun dan melihat ke arah sofa dan tak ada pria itu. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi, itu tandanya dia tak bangun untuk shalat subuh. Emi menyadari jika bangun kesiangan. Ayahnya Iva rupanya sudah keluar dari kamar ini. "Fyuh, leganya ..." gumamnya lirih sambil menggeliat. Ia menguap merasakan kantuknya hampir menyerang lagi tapi dengan cepat ia berdiri dan mencipratkan wajahnya dengan air. Dibukanya jendela, ia merapikan semua buku yang terjatuh tadi, meletakkan pada tempat semestinya. Meski kamar ini dihiasi banyak bunga tapi kenapa buku ini semuanya ada disini, ia heran dengan Ayahnya Iva yang selalu mengoleksi buku tapi tak merapikan tempatnya agar nyaman ditinggali. Kamar ini baru saja ia lihat begitu penuh barang-barang dan tidak menyangka jika ini adalah kamar seorang duda yang benar-benar berantakan menurutnya. Krek ... Pintu lemari ia buka dan melihat isinya, baju-bajunya juga tampak tak beraturan. Ia memutuskan akan merapikan semuanya nanti setelah ia memasak. Bug ... Sebuah buku terjatuh lagi dan terselip sebuah foto dalam lembaran yang tersembul di buku itu. Seorang wanita yang cantik dengan kulit sawo matang dan juga manis tersenyum saat berpose dengan baju berwarna merah. Wanita ini mirip sekali dengan Iva, Emi yakin ini pasti ibunya Iva. Selama ia bekerja disini, tak ada foto yang terpajang. Ia baru tahu kalau ternyata foto ibunya sangat cantik dan juga memiliki senyum menarik. “Ehem ...” Emi kaget bukan main saat ia berjongkok tadi dan melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Pria itu lagi, ia pun mundur perlahan dan memberikan buku itu padanya. “Tadi berjatuhan disini, dan ini ada foto yang terjatuh disini, dibalik buku ini,” ucap Emi pada Ayahnya Iva. Pria itu terlihat gugup dan menerima buku itu beserta fotonya dan memasukkannya dengan cepat. “I-iya, bukunya belum sempat aku rapikan, karena ...” “Sibuk,” sambung Emi dengan cepat. Pria itu tertawa dan Emi pun berjalan keluar, meski buku itu telah ia rapikan sebagian, namun masih butuh waktu banyak juga untuk merapikan barang yang lain. Dilihatnya Bu Rofi tengah sibuk di dapur dan dia datang mendekatinya. “Maaf, Bu. Emi bangunnya kesiangan,” ucap Emi. Bu Rofi tersenyum, ia malah menyuruh Emi untuk mencicipi makanan yang baru ia goreng dan sudah ditiriskan. “Ini sudah dingin, coba cicipi, Em!” “Nanti saja, Emi belum mandi, Bu,” Bu Rofi menatap menantunya dan tersenyum lagi, seperti senyum yang penuh arti. Entah apa itu, tapi yang jelas Emi menjadi sedikit malas tinggal disini. Tidurnya tak nyenyak, selalu ketakutan, takut kalau-kalau tiba-tiba Ayahnya Iva akan berbuat sesuatu padanya. “Mama Emi ... sudah bangun, yaaa ... Iva mau salapan, Ma,” ucapnya dengan bahasa anak-anak. “Oh, Iva mau sarapan, nanti ya. Mama mau mandi dulu, sebentar saja, kok,” ucap Emi sambil mencium pipi anak itu. Iva sangat senang hingga ia berkali-kali memeluk kaki Emi. Bu Rofi tertawa dan menyuruh Iva untuk duduk dan menunggu Mamanya selesai mandi. Emi pun bergegas mandi, ada tugas yang menunggunya. Mengurus Iva dan suaminya, serta semua yang ada di rumah ini. Ia menjalaninya sesuai peran sebelumnya, seperti baby sitter layaknya sebelum menikah. Dari luar ia tidak tahu jika Bu Rofi menanyakan pada anaknya mengenai Emi yang sudah mau tidur dengannya. Adam hanya menjawab dengan pelan sambil tersenyum malu. Ia bilang semuanya tidak akan ia katakan pada ibunya karena ini rahasia. "Dam, gimana semalam?" "Apanya, Bu?" Bu Rofi sangat kesal karena Adam tak juga mengerti. ia mengatakan lebih jelas lagi dan rasa penasarannya sangat besar sehingga menanyakan sendiri pada Adam. “Maksud Ibu, Emi nggak menolak, kan?” tanya Bu Rofi penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD