Adam sedang termangu sambil memandangi Emi yang sedang menyiapkan sarapan.
"Mas, sarapan dulu!" ucapnya seraya menggendong Iva.
Dilihatnya wajah Emi berkeringat dan mereka tampak terdiam saat duduk berhadapan untuk sarapan pagi. Wajah Emi tertunduk lesu seperti kelelahan.
"Masih mengantuk, Em?"
"Nggak, Pak,"
"Biar nanti Iva sama aku dulu, kamu istirahat aja dulu,"
Emi diam saja, mereka melanjutkan makannya sampai habis tak bersisa.
***
Siang yang cukup terik membuat kulit menjadi sedikit gatal, tapi saat ia melihat ke arah jendela dilihatnya langit berubah mendung dan angin kencang membuat tirai tersibak dengan keras.
Emi tetap saja sibuk dengan pekerjaannya. Ia tak bisa melihat kamar berantakan yang kini mau tak mau ia harus membereskan semuanya.
Siang hari begini, saat semuanya sedang tidur siang, Emi berkutat dengan pekerjaannya merapikan kamar milik Ayahnya Iva. Ia sibuk membereskan semuanya dan tidak sempat berisitirahat.
Meski keinginan tidur siang di cuaca yang terasa mendung ini, memang mengundang niatnya untuk tidur karena kantuk yang tak tertahan. Tapi, pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus menahannya sebentar.
Saat sedang asyik melihat hasil pekerjaannya, pria yang menikahinya masuk dan memuji kerapian kamarnya.
“Wah, rapinya. Emi pintar sekali mengurus semuanya,”ujarnya.
“Ehm, iya, Pak.”
Ia menumpuk lagi buku yang ada di bawah meja dan memasukkannya ke dalam dus.
“Kok dimasukkan ke dus? Ini masih aku baca-baca, lho,” sahutnya sambil mengambil sebuah buku.
“Ambil saja, Pak ... yang lainnya biar aku masukkan kesini agar terlihat lebih rapi lagi,” kata Emi.
Pria itu menatapnya, sekilas setelah ia memanggilnya dengan sebutan Pak. Lalu ia ikut berjongkok di depan Emi dan mengambil sebuah buku lagi.
“Kok, diambil lagi, Pak? Masih dibaca juga?”
Pria itu mengangguk, “Iya,” ujarnya lagi.
"Ya, udah ambil lagi aja,"
Emi menjadi tersenyum sekaligus mendesah pelan. Adam menatapnya dengan hangat. Ia tahu wanita itu mengurus rumahnya agar terlihat rapi. Tapi, ia malah mengganggunya.
Emi berdiri dan akan melangkah keluar, tapi tangan Adam menahannya.
“Eh, Pak ada apa?”
“Sini dulu, Em! Aku mau bicara,” ucapnya.
Emi tetap berdiri dan menepis tangan Adam secara perlahan dari tangannya. Tapi, Adam rupanya kini ingin bersikap tegas pada wanita itu. Tangan itu tetap di pegangnya dan minta Emi mendengarkannya.
“Kita sudah suami istri, panggilnya jangan Pak lagi,” ucapnya.
Emi tertegun, ia menahan napasnya sebentar, agak berdebar jantungnya saat mereka duduk berhadapan.
“Panggil apa dong, Pak?”
“Kaya yang lain, Em,”
"Ma-maksudnya, Pak?"
Emi jadi gugup dan dia tak tahu harus menjawab apa lagi, karena pria itu juga mulai berdiri dan mendekatinya.
Emi menjadi panas dingin karenanya, dari kemarin mereka tak pernah berbicara sedekat ini.
“Ehm, maaf Pak. Iva menangis,”
Emi mendengar Iva menangis dan ia dengan cepat pergi ke kamarnya yang ternyata sudah di gendong oleh Neneknya.
“Biar, ibu saja yang akan menenangkannya, kamu ke kamar saja temani Adam!”
Dibawanya Iva menjauh dari Emi yang sedang bengong dan kebingungan.
“Tapi, Bu, Iva sudah melihat Emi. Biar Emi menggendongnya, biar aku bawa ke kamar,” ucap Emi.
Iva memang sudah melihatnya dan tangannya diulurkan minta digendong. Emi dengan cepat meraihnya dalam gendongan dan ia membawanya ke kamar Ayahnya.
'Huft, dasar! Nggak tahu apa kalau kalian itu musti ...'
Bu Rofi terdengar menghela napas dan menyayangkan sikap menantunya itu yang tidak memahami maksudnya.
Di kamar, ternyata pria itu tengah memilah buku dan juga barang lain. Ia memasukkan sendiri semua buku yang tak terpakai dalam dus.
“Iva, kamu sudah bangun, Sayang?”
“Iya, Yah, kan ada Mama Emi,” ucap Iva sambil menunjuk Emi.
Ia tertawa dengan riang dan tampak senang saat di gendong Emi. Mereka berkumpul menjadi satu dalam satu kamar.
Bu Rofi mengintip dari balik pintu dan tersenyum melihat ketiga orang yang ia sayangi itu.
Meski ia tahu menantu barunya itu belum bisa menerima seutuhnya anaknya yang duda itu, tapi ia yakin seiring berjalannya waktu Emi akan mulai mencintai Adam.
Ia pun menutup pintu dan membiarkan mereka berkumpul dan membereskan kamar Adam.
Terlihat kalau Adam selalu melirik ke arah Emi, tapi Emi selalu cuek dan hanya bercanda dengan Iva saja. Wajah Emi yang kulitnya sawo matang namun manis dipandang itu memiliki lesung pipi di kedua pipinya. Meski hidungnya tak begitu mancung tapi Emi tak terlihat jelek kalau di rias.
Adam sedikit mulai tertarik padanya, tapi karena ia juga mulai harus belajar mencintai Emi yang notabene menerima pernikahan ini hanya karena putrinya. Adam juga tampak sabar meski Emi selalu cuek kalau diajaknya mengobrol berdua.
Iva begitu dekat dengan Emi, dan keduanya kini sedang bercanda hingga kamar ini terdengar ramai oleh keduanya.
“Yah, Iva mau es klim,” ucap Iva sambil menarik tangan Ayahnya agar mendekat pada Emi.
Emi sedang membereskan lemari pakaiannya dan menata dengan baik semuanya dan juga rapi.
“Yah, beli es klim, sekalang, Yah!” serunya.
Wajahnya hampir akan bersedih karena Ayahnya tak menjawabnya. Emi pun menenangkan Iva dan menjanjikan akan membeli es krim.
“Pak, belikan saja, daripada Iva menangis. Sebentar lagi dia akan tidur siang juga, kok,” ucap Emi.
“Sama Mama, ayo!’
“Tapi, Va. Mama di rumah saja sama Iva, biar Ayah yang beli,”
Adam menggendong Iva dan mengajak Emi pergi keluar, katanya daripada Iva makin rewel sebaiknya dituruti saja.
“Tapi, Pak ...”
“Tapi, apa? Iva minta kita yang beli kesana, ayo siap-siap. Aku keluar dulu sama Iva, kamu nyusul, ya?”
Emi diam saja, tapi ia kemudian menyusulnya dan mereka pergi keluar bertiga dengan mobil.
“Sekalian kita ke supermarket saja, ya?” tanya Adam pada Emi.
“Ehm, mau ngapain, Pak?”
“Sekalian belanja bulanan, persediaan makanan sudah hampir habis.”
Emi diam, ia masih ingin diam di rumah, tapi melihat Iva berteriak kegirangan. Ia pun tersenyum dan mencium pipi anak itu.
“Baik, Pak. Kayanya memang Iva ingin kita jalan-jalan,” ucap Emi akhirnya.
Adam pun tersenyum dan membelokkan mobilnya ke arah supermarket.
Mereka bertiga turun begitu sampai di supermarket yang terkenal dengan banyak wahana permainan dan juga stand untuk berbelanja.
“Ma, mau itu!” tunjuk Iva pada sebuah stand es krim yang terkenal enak.
“Ya, boleh. Bilang Ayah kalau Iva mau dibeliin es krim,”
Iva pun menurut dan langsung memanggil Ayahnya yang sedang melihat buku di stand buku.
“Yah, es, mau es ...”
Adam menoleh pada stand yang ditunjuk Iva dan dia pun mengangguk.
“Ini, belikan yang Iva mau, aku tunggu di sana, ya?”
“Ya, Pak,”
“Ehm, Em ...”
Emi menoleh sebelum ia pergi.
“Ya, Pak. Ada apa?”
“Sekalian nanti kita belanja setelah Iva menghabiskan es krim nya,”
Emi mengangguk dan tersenyum pada Iva karena ia diberikan beberapa lembar uang untuk membeli es krim kesukaannya.
Emi merasa sangat bahagia entah mengapa setelah ia berbelanja, perasaan nya menjadi campur aduk dan juga tampak sangat senang.
Adam menatapnya ketika Emi sedang mengecek harga, saat memegang sebuah produk yang terlihat sedang di diskon.
“Beli aja kalau mau,” ucap Adam.
Emi langsung meletakkan pada rak nya lagi.
“Ehm, nggak Pak ... Cuma lihat aja, kok,” ucap Emi kikuk.
“Nggak apa-apa, ambil aja, Em! Beneran ini aku bukan asal basa basi,”ujarnya lagi.
Emi menggeleng dan terus berjalan melanjutkan pencarian barang yang lain. Adam menaruh produk yang dipegang Emi tadi ke dalam keranjang belanja.
“Pak, aku sudah bilang. Nggak usah, kok malah di ambil!”
“Nggak apa-apa, nanti sampai di rumah malah kepikiran, mending dibeli sekalian,”
Emi diam saja dan dia melanjutkan lagi mencari keperluan dapur untuk sebulan. Iva tampak tenang sambil makan jajan. Dia duduk di atas keranjang troli sambil makan coklat yang ia minta tadi.
“Ma, enak ...” ucapnya sambil meringis dan terlihat senang.
Emi tersenyum menanggapinya dengan mengusap rambutnya.
Setelah satu jam mereka berbelanja, Iva mengantuk dan ia minta digendong.
Emi minta pulang dan untungnya Ayahnya Iva mau dan langsung membawa mereka pulang.
Di tengah perjalanan, Emi melihat sosok yang ia kenal, Vino. Dilihatnya Vino sedang berboncengan dengan gadis SMA yang pernah ia pergoki berduaan dengan Vino di tempat kosnya.
Dia tidak merasa cemburu tapi, terlihat dari sini jika pacar Vino tampak terlihat pucat dan juga memegangi perutnya.
Hampir saja motor Vino akan menabrak kucing dan terpaksa mengerem mendadak. Kendaraan yang dibelakangnya juga terlihat ikut mengerem tapi sayangnya terlambat. Motor Vino di tubruk dari arah belakang.
Vino dan juga pacarnya menjerit sehingga suasana jalan menjadi panik. Keduanya terjungkal dan Vino jatuh tergeletak begitu juga dengan pacarnya.
“Pak, mereka tetangga kita!” pekik Emi.
Mobil pun berhenti dan Adam turun untuk melihat kondisi mereka.
“Pak, kami mengenal mereka, apakah keduanya baik-baik saja?” tanya Adam pada seorang bapak-bapak yang sedang menolong keduanya.
“Yang perempuan pingsan tak sadarkan diri, Pak, yang laki-laki malah kepalanya membentur aspal, pihak rumah sakit baru saja datang dan mereka akan di bawa,” ucap Bapak itu.
“Ya, Pak. Terima kasih info dan bantuan Bapak. Akan saya hubungi keluarganya,”
“Sama-sama, Pak,”
Adam segera pulang untuk menemui tetangganya dan memberitahukan tentang kecelakaan yang menimpa anaknya.
Tetangganya sedang mengobrol dengan warga lain penghuni komplek ini juga. Begitu melihat Emi yang turun dari mobil, mereka langsung berbisik-bisik seperti sedang membicarakan Emi.
Emi hanya melirik dan tersenyum pada tetangga yang lain, karena ia yakin mereka itu hanya di hasut tetangga sebelahnya agar membencinya.
Suaminya mendekati tetangganya dan mengira akan menegur, beberapa orang mulai ketakutan dan akan bubar.
Begitu Adam memberitahu yang terjadi, wanita itu langsung menjerit dan jatuh pingsan.
Bu Rofi, mertua Emi langsung keluar begitu suara lengkingan tetangga mereka membuat warga di sekitar rumah ini berhamburan keluar.
Awalnya sepi dan kini beberapa warga mendatangi rumah wanita sinis dan tukang gosip itu.
Emi yang memandangi keadaan wanita itu dari samping rumah, sebenarnya merasa kasihan tapi ia tak mau mendekati wanita itu meski sekedar mengucapkan rasa empatinya pada tetangganya. Suaranya bertambah histeris dan Emi mengintip keluar untuk melihat yang terjadi.