7. Ditanya Terus

1521 Words
Hampir dua minggu ia sudah tinggal di rumah ini. Iva mulai sering memintanya tidur bertiga. "Ma, bobo di kamal sama Ayahnya Iva, ya?" "Apa?" sahut Emi tak percaya. Padahal tadinya tidak pernah seperti itu. Emi selalu menurutinya dan dia kerap kali membujuk Iva untuk tidak meminta mereka tidur bertiga. “Ma, Iva mau Mama tidul sama Ayah,” ucapnya dalam bahasa bayi. Anak itu menarik bajunya, sekarang mereka tinggal hanya bertiga saja. Bu Rofi sudah pulang ke rumahnya dan Emi kini lebih leluasa untuk tidur dimana saja. "Va, tunggu! Mama Emi tidur disini aja sama Iva, ya? Nggak apa-apa, kan?" Iva menggeleng, lalu ia menarik tangannya untuk masuk ke dalam kamar Ayahnya. Meski ia selalu beralasan, tapi Iva selalu memaksanya untuk tetap berkumpul bertiga di atas tempat tidur. Emi dengan terpaksa menurutinya dan kadang akhirnya mereka akan tidur bertiga hingga pagi. Iva berada di tengah-tengah, di antara Emi dan juga Adam. Hingga saat ini keduanya belum melakukan hubungan suami istri. Adam masih menghormati Emi yang masih belum bisa menerima dirinya. Meski begitu, ia tetap saling menyapa di dalam rumah. Mereka juga kerap pergi bertiga jika ada keperluan yang mengharuskan mereka pergi. “Pak, gas di rumah hampir habis, ada juga bahan lainnya yang juga mulai habis, ini rinciannya,” ucap Emi sebelum Ayahnya Iva pergi kerja. Adam menerima secarik kertas dan mengeluarkan beberapa lembar uang kemudian dia menaruhnya di atas meja sambil memakai sepatunya dan berpamitan pergi. “Iva, Ayah pergi dulu. Jangan nakal kalau Mama melarang, Iva harus nurut, ya!” Iva mengangguk dan Emi tersenyum, ia memanggil Adam dan mengucapkan terima kasih atas uang yang ia berikan padanya. Sepeninggal Adam, Emi memesan dua gas dan dia galon yang sudah kosong. Semua sudah ia siapkan dan datang di setengah jam setelah ia pesan tadi. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya saat ia akan menidurkan Iva yang mulai mengantuk. “Ma, tamu ...” ucapnya. “Iya, ada tamu. Yuk, lihat yuk!” Iva bergegas menarik tangannya dan Emi berjalan dengan cepat mengikuti langkah kecil Iva yang berlari tapi dia kemudian terjatuh. “Ma ... sakit, hiks ... Mamaaa ...” jerit Iva sambil menangis. "Pelan-pelan, Va!" sahutnya. Emi menggendongnya dan membuka pintu. Ternyata Ibunya dan Intan yang datang, ia mengira itu adalah Ibu mertuanya yang datang untuk menjenguk Iva. Sudah beberapa hari ini ibu mertuanya tidak datang. Mungkin sengaja membiarkan ia dan anaknya saling mengenal satu sama lain. “Bu, Intan, ya ampun aku kangen kalian!” Emi memeluk ibunya dan juga adiknya, ia begitu merindukan keduanya. Kini. Ibunya dan juga Intan hanya tinggal berdua saja dan Emi belum sempat pulang dan menengok ke rumah. “Bu, aku masak agak banyak. Kita makan, yuk! Ayo, Ra makan yuk, kita makan!” Intan agak malu dengannya, Iva juga sedikit bingung karena jarang melihatnya. “Ma, ini siapa?” “Ini Tante Intan sama Nenek, Va,” ucap Emi sambil tersenyum agar Iva paham. Intan merasa bingung melihat Iva ketakutan, ia berdiri sambil tersenyum dan memegang pipi Iva. Tapi Iva ternyata takut dan akan menangis. “Mbak, Iva nangis, biarin aja nggak usah ke dalam,” ujar Intan. “Iya, Tan. Kayanya Iva takut, kan nggak pernah liat ibu sama Intan.” Ucap Ibunya. Emi merayu Iva dan menggendongnya. Akhirnya anak itu mau juga digendong dan menerima Intan ikut masuk ke ruang makan. Mereka makan bersama-sama, rupanya ibu dan juga adiknya datang ke rumahnya karena merasa kangen dengannya. “Ibu tiap malam nggak bisa tidur, Mbak.” ucap Intan. Emi merasa khawatir dan mendekat pada ibunya yang tubuhnya mulai kurus. “Lho, kenapa Bu. Apa mikirin listrik yang belum dibayar?” Ibunya menggelengkan kepalanya, Emi mengelus punggung tangan ibunya agar merasa tentram dan tidak gelisah. “Ibu kangen kamu, Em,” ucap ibunya sambil menitikkan air mata. Emi mendekat lebih erat dan duduk di samping ibunya, lalu memeluknya. “Maafin Emi, Bu. Emi nggak pulang ke rumah, Emi mengurusi Iva, trus cape jadinya sering di rumah terus,” Ibunya mengangguk dan mengusap pipi anak perempuannya yang sangat ia sayangi. Emi baginya adalah seorang anak yang menjadi tumpuan hidupnya. “Ibu bersyukur kamu bisa hidup dengan nyaman disini, rumah suamimu bagus dan kerja nya juga mapan, Ibu merasa bahagia melihatnya, Em,” ucap ibunya. “Bu, jangan begitu, Emi begini juga karena doa ibu,” tutur Emi dengan haru. Iva datang mendekat dan memeluk Emi, ia berbuat seperti itu seolah tak ingin Emi berdekatan dengan Ibunya. "Mama kok menangis?" Emi tersenyum dan menggendong anak tirinya yang selalu ingin dekat dengannya. "Nggak, kok Va. Mama lagi mengobrol sama Nenek," Ibunya tersenyum dan mengelus rambut Iva, mereka melepas rasa rindu, dan Iva lama kelamaan bisa berdekatan dengan Intan kemudian mereka kini akur dan bermain bersama. Emi merasa senang melihatnya, ia dan ibunya sedang berada di dapur membuat makanan untuk cemilan sore sebagai teman mereka mengobrol. "Adam sepertinya orang yang baik, ya Em? Kamu juga disayang Bu Rofi." ucap ibunya. "Alhamdulillah, Bu. Doakan Emi bisa menjadi istri yang baik untuk Ayahnya Iva," pintanya. "Pasti ibu doakan," Sore hari mereka akhirnya berpamitan pulang, Emi melepas kepergian ibunya yang rumahnya memang hanya berjarak beberapa ratus meter saja dari rumah ini. “Em, ibu pulang dulu, ya. Titip salam buat suamimu,” “Iya, Bu. Makasih, sudah datang kesini, Intan kalian hati-hati, ya!” “Iya, Mbak,” Mereka pun pulang dan Emi berjanji akan datang ke rumah jika sudah tak sibuk dengan pekerjaan rumahnya. *** Ibu mertuanya datang ke rumah dan memberikan dia beberapa bingkisan. “Em, Ibu bawa ini dari Yogya, Iva tawarin mau apa nggak, biasanya dia paling susah makan beginian!” “Iya, Bu. Tapi. Iva sedang makan nasi. Dia juga sedang lahap. Paling makan ini menunggu selesai makan.” “Oh, iya. Mama Emi pintar ya Va, pantas kamu seneng dan betah,” puji ibu mertuanya. Emi hanya tersenyum saja mendengar Bu Rofi mengatakan itu. Ia kini hanya ingin merawat Iva dulu, masalah hati untuk anak Bu Rofi itu belakangan. “Bu, kemarin Pak Adam nanyain Ibu, kok jarang kesini,” kata Emi. Dari sini, Ibu mertuanya kaget dan bertanya padanya. “Kok, panggilnya Pak, sih. Kamu tahu kan dia itu suamimu sekarang. Jangan panggil dia begitu, apa kemauan Adam, ya?” Emi merasa gugup, ia pun menunduk sambil memangku Iva, anak tirinya. Bu Rofi pun berdecak menatap Emi dan ia duduk sambil menceritakan tentang perjuangan Adam saat akan menikahi dirinya. “Adam itu juga tidak asal setuju menikah sama kamu, dia ada hati dan juga memiliki perasaan terhadap kamu, Em,” Emi masih diam, dia tak sekalipun bisa menerima langsung dan memiliki perasaan terhadap Adam sekarang ini. “Kalian sudah melakukan malam pertama, kan?” Deg ... Emi merasa jantungnya hampir copot, dia takut Ibu mertuanya memarahinya lantaran sampai dua minggu ini tak juga ia disentuh pria itu. Bu Rofi menatap dan menanyakan lagi padanya, Emi terlihat gugup dan ia tidak konsentrasi dalam menyuapi Iva. Prang ... Sebuah gelas terjatuh dan Iva kaget, ia hampir melompat tapi Emi dengan sigap merangkulnya. “Aduh, gelasnya sampai pecah lagi, Emi kamu bawa dan gendong Iva dan jangan biarkan dia turun!” “Iya, Bu,” Emi segera menggendong Iva dan mengajaknya duduk di ruang tengah agar ia bisa duduk dan membersihkan pecahan gelas tadi. “Iva, tunggu di sini sebentar ya Mama mau membersihkan pecahan tadi,” Iva mengangguk dan Iva pun duduk dengan tenang sambil menonton TV. Tapi saat ia sampai di ruang makan, Ibu mertuanya tampak sedang membersihkan pecahan gelas dan menyuruhnya untuk menjaga Iva saja. “Sudah, kamu tungguin Iva saja di sana biar Ibu saja yang akan mengurusnya!” “Tapi, Bu ...” Ibu mertuanya tetap menyuruh dia untuk tetap menjaga Iva dan tidak mengurusi pecahan gelas tadi. Setelah semuanya bersih seperti sedia kala, Bu Rofi kemudian duduk dan berhadapan dengan menantunya. Ternyata Bu Rofi masih begitu penasaran dengan apa yang terjadi selama mereka menikah. “Kamu sama Adam baik-baik saja, kan?” Emi agak bingung menjawabnya karena pertanyaannya seolah menjebak dirinya untuk menjawab semua yang telah terjadi. Manakala ia harus banyak mencari kata-kata agar bisa membuat ibu mertuanya ini tidak lagi bertanya mengenai hal yang sangat privasi baginya. Kepalanya mendadak pusing tapi tak diperlihatkannya. “Ehm, kami baik-baik saja kok, Bu,” ucap Emi. Saat sore hari waktunya Adam pulang, Emi menyambutnya dengan mencium tangannya. Awalnya, Adam merasa sangat heran karena tidak biasanya Emi melakukan itu pada dirinya dan ia pun memilih diam saat melihat ibunya ada di dalam rumahnya. ‘Pantas istriku berubah menjadi manis seperti tadi, rupanya ada Ibu’ batin Adam. Tapi, Adam tampak biasa saja saat Emi melakukan itu. Ia juga beranggapan bahwa tidak ada salahnya jika istrinya melakukan hal tadi agar membuat ibunya percaya bahwa mereka benar-benar telah menjalin hubungan yang baik. “Dam, ibu mau tanya sama kamu,” “Ya, Bu. Ada apa?” “Emi dan kamu belum melakukan hubungan suami istri, ya?” Adam sangat kaget saat Ibunya menanyakan seperti itu. Ia pikir jika ibunya tidak akan tahu kalau mereka memang hingga saat ini belum pernah melakukannya. Adam masih terdiam sedangkan ibunya masih terus berusaha untuk membuatnya menjawab pertanyaan yang diucapkannya tadi. "Dam, Emi sudah mau kamu sentuh belum?" tanya ibunya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD