8. Ngapain

1615 Words
Kabar yang ia dengar, Vino mengalami pendarahan di otaknya dan harus dirawat secara intensif di sebuah rumah sakit yang cukup terkenal di kotanya. Emi mendapat kabar itu dari ibu mertuanya yang baru saja menjenguk keadaan putri tetangga mereka yang sombong dan suka memfitnah itu. Terakhir memang Emi yang di katakan menjadi simpanan Adam dan mendapatkan bayaran yang lumayan untuk kerja menjadi baby sitter plus-plusnya. "Yang lebih parahnya lagi, putrinya ternyata sedang hamil," "Oh, ya Bu?" "Iya, ngeri banget ceritanya. Mungkin efek selalu ngomongin yang nggak-nggak tentang orang lain," gumam mertuanya. Emi tak kaget mendengarnya, mana mungkin tidak sampai hamil kalau pacarannya saja di kamar pria, batinnya. Dulu boleh ia menangisi dan meratapi perpisahan dengan pria playboy itu tapi sekarang saat ia sudah menikah, sudah lain lagi ceritanya. Ia hanya menyimak saja perjalanan hidup tetangganya yang selalu mengatainya setiap saat. Emi sudah tak mau lagi mendengar apapun tentang mereka. ~~~ Cuaca malam ini begitu dingin, udaranya yang menggelayut menimpa kulit menjadi terasa dingin hingga selimut tebal pun harus dipakai. Emi merasakan Iva memeluk dirinya begitu kuat. Perlahan ia lepaskan agar bisa turun dari tempat tidur. Ia merasa ingin buang air kecil namun tangan Iva masih merangkul dirinya dengan erat. Anak itu selalu takut kehilangan dan seolah tak mau ditinggal pergi. Selang beberapa menit ia berusaha, akhirnya lepas juga pelukannya. Emi ingin kencing sekaligus juga merasa haus. Selama sepuluh menit ia berada di bagian dapur dan hujan pun turun dengan derasnya. Petir mulai menyambar, suaranya yang keras menggelegar membuat keadaan menjadi sangat menyeramkan. Emi bergegas masuk ke kamar dan PET ... Lampunya mati seketika seiring suara petir yang menyambar di atas langit kota ini. Ia hendak melangkah masuk ke kamar dan terdengar suara jeritan. “Mamaaaa ...” Iva menjerit ketakutan, tampak tangan kecilnya gelagapan mencari keberadaan nya di atas tempat tidur. Emi merasa kasihan, ia segera mendekat pada anak tirinya. Balita itu tampak menjerit ketakutan dan juga panik. Lampunya mati dan dia tadinya tengah berdiri di depan pintu. Mendengar Iva menjerit-jerit memanggil namanya. Suara petir yang cukup keras tadi membuat lampu mati dan akhirnya keadaan berubah gelap gulita. Iva menangis keras memanggil dirinya. Bahkan Ayahnya malah diam dan masih tidur, Emi segera memeluknya dan tak sadar ia tidur di posisi tengah berbalik dengan yang biasanya. “Mama ... takut ...” jeritnya. “Ssstt, Iva jangan takut. Ada Mama, nanti kalau takut petirnya malah mengejar kesini,” Iva pun mengangguk dan memeluk dengan sangat eratnya. Tangan anak itu sampai berkeringat karena saking takutnya. Emi benar-benar melindungi Iva sehingga anak itu kembali tidur. Ia pun ikut memejamkan mata setelah agak berat dari tadi menahan kantuk yang membuatnya cukup lelah. Kamar masih dalam keadaan gelap gulita dan Emi pun kembali tidur dengan tetap merangkul Iva. Posisi Emi sekarang berada di dekat suaminya dan Emi tidak sadar jika ia sudah tidur dalam dekapan Adam yang mengira Emi adalah sebuah bantal guling. Mereka bertiga tidur bersama dalam satu ranjang dan paginya Emi merasa kaget dan terkejut. Ia bangun tidur dan mendapati tangan seorang pria berada di atas pinggangnya. Emi, hampir akan menjerit tapi dia tahan dan demi melihat yang telah ia alami. Emi terpaksa menjerit sekuat tenaga. Adam bangun dan terkejut karena ternyata tangannya tengah memeluk erat tubuh Emi. “Ehm, a-aku tak tahu kalau kita ...” Emi menangis, ia menangis sejadi-jadinya. Adam tampak kebingungan, ia pria yang jarang menyakiti hati wanita. “Tu-tunggu Em, aku tidak melakukan apa-apa, tenanglah! Nanti Iva terbangun.” Adam memilih berdiri dan mengambil sebuah bantal, ia pun berbaring di sofa. Asal Emi diam ia akan cepat menyingkir darinya. Adam masih mengantuk dan tak berapa lama setelah ia pindah ia pun tidur lagi. Emi yang tengah duduk karena benar-benar kaget dengan kejadian tadi merasa bersalah karena ia tidak seharusnya bersikap seperti itu. Adam adalah suaminya, pria itu berhak atas dirinya. Ia bisa saja melakukan apapun terhadapnya termasuk menyentuh tubuhnya. Emi menangis lagi, kali ini tanpa suara. Mengatakan dalam hati kalau dia wanita yang pastinya dilaknat oleh Allah atas apa yang ia lakukan pada seorang suami. ‘Maafkan aku, Mas Adam. Aku belum siap,’ batin Emi dengan sedih. Air matanya menetes dengan deras, tanpa bersuara ia meratapi kehidupannya yang aneh dan sangat tak nyaman saat ini. Ia seperti orang yang tak memiliki tujuan hidup, menikah hanya untuk Iva saja, tidak yang lainnya. ~~~ Paginya, Emi terbangun karena udara dingin yang ia rasakan. Emi menggigil dan ia merasakan pusing di kepalanya. Tubuhnya demam, lumayan tinggi, karena saat melihat lampu yang menyala matanya tak kuat dan berair. Tubuh Emi ambruk saat ia akan mencoba berdiri. “Ayah, Mama ... Yah ...” Iva berteriak memanggil Ayahnya yang sedang berada di dalam kamar mandi. Adam memang baru saja masuk dan ia sedang menyabuni tubuhnya. Dengan cepat ia pun mengguyur tubuhnya dengan air dan mengeringkan dengan handuk. Didapatinya tubuh istrinya tengah tidur di lantai. Rupanya Emi pingsan dan juga tampak demam tinggi. “Mama ...” rintih Iva memanggil Emi. Adam menghubungi ibunya untuk datang dan membantu dirinya mengatasi keadaan Emi. Digendongnya Iva yang mulai menangis manggil Emi karena masih pingsan. Adam pun berpakaian dan membuka pintu rumah. “Emi kenapa, Dam?” “Emi sakit, Bu. Adam sedang mandi dan Iva menjerit, tahu-tahu Adam keluar kamar mandi sudah ada di lantai. “Ya Allah, Emi.” Ibunya mengurus Emi dengan mengolesi hidungnya dengan minyak angin dan juga membaluri tubuh wanita itu dengan minyak angin juga. Adam membantu ibunya, dan tiba-tiba ia disuruh melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada Emi. “Dam, buka kancing d**a istrimu!” ucap Ibunya dengan nada santai. Adam langsung terkesiap, ia belum pernah melakukan sesuatu pada Emi. Apalagi kejadian semalam membuatnya berhati-hati jika akan menyentuh wanita itu. Adam memilih diam dan berpura-pura tidak mendengar, ia mengambil teh hangat dan akan diberikan pada ibunya. “Ibu minta kamu membuka kancing baju Emi, bukan mengambilkan teh, Dan!” keluh ibunya. “Tapi, Bu ...” “Cepat buka! Ibu kesusahan ini,” Adam dengan gerakan lambat akan membukanya tapi sebelum ia melakukannya, Emi sudah bangun terlebih dahulu. “Mama ... Mama bangun ...” teriak Iva bersorak kegirangan. “Alhamdulillah, kamu sadar juga, Em ...” ucap Bu Rofi pada menantunya. Adam bernapas lega, ia belum sempat melakukan sesuatu yang akan membuat Emi menangis lagi seperti semalam. “Em, istirahat dulu. Mungkin kamu kelelahan, nanti kita cari orang untuk bantu mengurus rumah ini. Adam yang akan membawa orangnya, siang ini juga,” Emi masih diam, kepalanya sangat pusing dan ia juga masih demam. Adam meliriknya dan memberikan teh hangat pada istrinya, lebih tepatnya wanita yang hanya menjadi Mama Iva. “Dam, minumkan! Emi kan kesulitan, bantu dia untuk duduk!” Bu Rofi agak gemas juga melihat anaknya hanya memberikan gelas berisi teh hangat tanpa memikirkan harus memberinya dengan membantu Emi duduk agar bisa minum. “I-iya, Bu ...” Adam tampak sangat gugup, ia membantu Emi dan memposisikan duduk agar bisa minum. Emi juga pasrah, ia benar-benar pusing sehingga tak bisa berbuat apa-apa selain menerima sentuhan pria itu. Tangan Ayahnya Iva begitu dingin dan tampak gemetar. Ia meminum teh hangat yang di berikan oleh Ayahnya Iva. Awalnya ia kesusahan karena tubuhnya belum begitu membungkuk. “Pelan-pelan saja!” ucap Bu Rofi pada anak laki-lakinya. Adam tampak sabar dan tetap menuruti ucapan ibunya. Emi agak malu sebenarnya karena dia sakit dan diurus orang lain. Saat Bu Rofi sedang keluar dari kamar, Emi minta tolong pada Ayahnya Iva agar bisa menghubungi ibunya dan menyuruh ibunya datang kemari. “Tubuhmu demam, Em. Kita periksa ke dokter saja, ya?” "Tapi, Mas. Maaf, ini merepotkan," Emi mengangguk dan minta ditemani ibunya pergi ke dokter. Dengan cepat, Adam langsung menghubungi Ibu mertuanya dan memintanya datang ke rumah atas keinginan Emi. Bu Rofi masuk ke kamar lagi dan menyentuh kening menantunya. “Demam nya cukup tinggi, Em. Sebaiknya kalian pergi sekarang agar segera diobati.” Ucap Bu Rofi pada Emi. “Ya, Bu,” Setelah ditunggu selama sepuluh menit, Ibunya tidak datang juga dan mengirim pesan akan datang terlambat karena ada tamu. “Sebaiknya kalian pergi sekarang, Dam. Jangan sampai kelamaan, kasihan Emi,” Adam pun bergegas berdiri, ia menyiapkan mobilnya untuk mengantar Emi. Iva langsung merengek minta ikut dan menangis saat melihat Emi masuk ke mobil dan Ayahnya juga ikut pergi tanpa mengajaknya. “Mamaaa ... ikut, Maaa ...” jerit Iva. Bu Rofi menggendongnya dan minta Iva tak menangis karena Mamanya sedang sakit. Iva masih saja menangis dan belum mau diam, Bu Rofi tak kehilangan akal, ia pun memberikan cucunya permen. “Nenek punya permen, Iva mau?” Iva perlahan mulai diam, dan menerima permen yang diberikan oleh Neneknya. Ibunya datang setelah Emi pulang dari dokter. Ia menerima banyak obat berupa vitamin dan juga beberapa obat penambah daya tahan tubuh dan juga penurun demam. “Makan ya Em, Ibu yang menyuapi,” ucap ibunya. “Iya, Bu.” Ibunya menyuapi sambil bercerita tentang mantan pacarnya yang ketahuan warga membawa masuk anak gadis orang. “Mereka kedapatan tidur bersama dalam kamar kos Vino,” ucap Ibunya. “Oh, ya Bu,” ucap Emi dengan lirih. “Kok, kamu nggak kaget?” “Gimana mau kaget, Emi putus sama Vino gara-gara dia sama perempuan itu.” Ibunya menatap dirinya, “Vino selingkuh?” “Iya, Bu. Sudah dari dulu itu, makanya Emi nggak kaget,” Emi sudah menduga itu akan terjadi, dan kini benar-benar sudah diketahui warga sekitarnya. “Pacarnya Vino juga tetangga sini, Bu.” “Wah, yang mana rumahnya?” “Tuh! Sebelah rumah ini,” “Oh, itu yang kata kamu melabraknya karena nggosipin kamu sama Nak Adam, ya?” Emi mengingat kenangan itu dan yang ia dengar pacar Vino keguguran saat kecelakaan waktu itu. "Tapi, Em. Vino sempat datang ke rumah ucap Ibunya. "Apa, Bu? Ngapain?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD