9. Sebuah Bingkisan

1395 Words
Bu Rofi ternyata ada tamu di rumahnya, makanya berpamitan pulang. "Bu, maaf saya tinggal ya. Ada tamu dari luar kota yang datang," Ibunya mengangguk dan Emi juga dimintanya istirahat, Ibu mertuanya tampak tergesa saat berjalan keluar dari rumah. Emi minta Ibunya melanjutkan lagi obrolan mereka tadi tentang Vino. "Bu, Vino waktu itu ngapain?" tanyanya. "Dia datang ke rumah waktu itu mau tanya tentang kamu," "Tentang aku?" tanya Emi kaget. Ibunya mengangguk dan menceritakan semuanya. "Waktu itu kamu lagi pergi sama Nak Adam, sesudah menginap disini dan pulang ke rumah kalian ini," "Terus, Bu," Ibunya tersenyum dan mengusap rambut putrinya yang sudah mulai dewasa ini. "Kamu kok kaya masih penasaran, sih. Jangan sampai gara-gara Ibu cerita ini, kamu keinget dia terus, Em!" Emi menggeleng dan meyakinkan ibunya kalau dia tidak akan terpengaruh apa-apa jika ada kabar tentang mantan kekasihnya itu. "Udah ah, Ibu nggak mau banyak mengobrol tentang dia. Takut kamu terganggu nantinya," Emi langsung kecewa dan Intan menertawakannya dengan sangat kencang. "Mbak, jangan nakal kan udah nikah juga," ujarnya sambil meledeknya. Iva juga ikut tertawa padahal ia tak tahu apa yang telah terjadi. "Ma, Iva mau makan jajan yang tadi Mama Emi beli," ujar Iva. "Ya, sebentar Mama ambilkan," Ibunya tersenyum, di saat anaknya masih belia, ia sudah dipanggil Mama oleh seorang anak kecil yang memang butuh kasih sayang seorang Ibu. "Em, Nak Adam kayanya perhatian sama kamu, ya?" Emi tersipu saat Ibunya mengatakan itu, "Kok Ibu bisa tahu Ayahnya Iva perhatian?" Ibunya menyentuh kalung, gelang dan cincin yang dipakainya. Emi langsung bersemu merah dan memberitahu dari mana asalnya semua barang itu berada di tubuhnya. "Ini pemberian Bu Rofi, katanya turun temurun dari Ibunya Iva," "Oh, ya? Kamu nggak takut?" "Takut kenapa, Bu?" Rupanya karena ibunya Iva meninggal mungkin takut kalau itu bekasnya, tapi ibunya tak mengatakan apapun pada Emi agar anaknya tak ketakutan. "Ehm, nggak apa-apa. Ya, Alhamdulillah kalau ibu mertuamu juga baik. Ibu senang dan ikut bahagia kalau hidupmu nyaman," ucap Ibunya. Emi merasa terharu, ia senang mendengar kata bahagia terucap di bibir ibunya, tapi Emi belum bisa melupakan satu hal kalau ia belum memberikan kebahagiaan untuk keluarga Iva karena ia masih suci dan belum disentuh sama sekali oleh Ayahnya Iva. Seandainya Ibu tahu, pasti ia akan dimarahi dan ... "Ma, Iva mau makan," ucap Iva. "Ya, Va. Mama ambilkan, ya," ucap Emi. Tapi ibunya langsung meminta piring dan menyarankan Emi untuk tetap rebahan di atas tempat tidur. "Ibu saja yang akan mengambilkan, Iva makan sama Nenek, ya?" Iva mengangguk dan bersorak, Emi yang masih terlihat lemah hanya memandangi wajah polos Iva dengan datar. Ibunya tahu kalau ia masih pusing. "Em, tidurlah dulu. Biar Iva Ibu yang jaga," "Bu, kalian mau pulang sore?" "Iya, mau menemani kamu sebentar," Emi tersenyum dan langsung memejamkan matanya. Rupanya Emi memang mengantuk dan langsung tidur. "Bu, kita duduk di ruang tengah, yuk! Intan mau lihat TV, layarnya besar banget," ucapnya takjub pada barang mewah di rumah suami kakaknya. ~~~ Sorenya, mereka tampak duduk dan Iva tertidur di sofa ruang tengah. Intan melihat Emi bangun dan membantunya berdiri agar tak pusing saat bangun. "Mbak, hati-hati takutnya jatuh!" "Ehm, sudah agak mendingan ini, Ibu mana?" Intan memanggil ibunya dan menuntun Emi keluar untuk duduk di sofa ruang tengah. "Lho, Iva ketiduran ya? Duh, maaf, Bu malah merepotkan ibu sama Intan," Ia hampir akan menggendong anak itu untuk dipindah ke kamar tapi Ibunya melarang. "Em, makan dulu, yuk! Mumpung tadi Ibu masak sedikit sayur kesukaan kamu," "Ibu masak? Ya ampun, Bu. Emi kan sudah bilang jangan kecapean di sini!" Ibunya hanya tersenyum, "Ya udah, kita makan bareng aja. Tuh liat masakan di meja, Ibu yang bikin semuanya," Emi langsung duduk dan mengambil piringnya. Ia sangat antusias dan ingin segera mencicipi masakan ibunya. Intan dan ibunya merasa senang karena melihat Emi juga terlihat bersemangat saat akan makan, dan ketika ibunya menyodorkan piring agar minta diambilkan nasi malah Emi terlihat melamun. "Em, ambilkan Ibu nasinya. Malah melamun," "Eh, iya Bu. Maaf, Emi kaya dengar suara Iva nangis," ucapnya. Ternyata benar, Iva memang terbangun dan menangis tapi hanya lirih saja suaranya. "Cup ... cup ... Sayang, yuk makan sama Mama, ya?" Iva mengangguk dan mengucek matanya. "Ini, Em piringnya!" Emi langsung mengambil piring yang di sodorkan Ibunya dan mereka makan bersama sambil Emi menyuapi Iva yang sangat doyan makan. Intan juga tampak senang saat mereka duduk bersama dan makan bersama-sama. "Mbak, Ibu kadang kalau makan selalu ingat Mbak Emi. Kata ibu, rumah kurang rame kalau nggak ada Mbak Emi," selorohnya sambil terus mengunyah. Ibunya tersenyum sambil menyikut lengan putri keduanya. "Adikmu ini meski sudah jelas empat juga kadang minta disuapi kaya Iva," ucap Ibunya sambil melirik Iva. "Tante Intan manja, ya Nek?" tanya Iva. Emi hampir tidak percaya kalau Iva menyebutkan kata Nenek pada ibunya. Mereka saling berpandangan dan Ibunya mengangguk untuk membiarkan anak itu menyebut dirinya Nenek. "Ibu memang Neneknya Iva, nantinya kamu juga kan punya anak, Em. Jadi, semacam latihan, ya kan Tan?" "Iya, makanya cepetan punya anak, Mbak. Biar Ibu nanti bisa dipanggil Nenek juga sama anaknya Mbak Emi," ujarnya. Dicubitnya pipi adiknya yang tembem dan selalu menggodanya sampai ia marah. Agak rindu juga ia dengan segala kekonyolannya. Intan hanya meringis saat pipinya dicubit kakaknya. "Mbak, jangan keseringan cubit pipi ntar ngembang ini, makanya kalau ingin mainan sama bayi, cepat-punya bayi, Mbak. Biar bisa cubit dengan puas," Emi langsung mengerucutkan bibirnya dan bersikap seolah ia marah padahal ia ingin mereka tak membahas masalah anak karena Emi masih belum siap. "Em, Ibu pamit pulang, ya?" Ibunya mengusap rambutnya dan mengecek suhu di keningnya. Terlihat Emi langsung murung begitu ibunya berpamitan. "Besok kan Ibu bisa kesini lagi. Kamu jangan manja, lihat tuh si Iva, butuh kamu juga, kan," Emi memandang Iva dan hanya diam, pikirannya masih ingin bersama ibunya, diurus dan disuapi. Ia bergelayut manja dan memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Bu ..." "Em, kamu mau pulang?" Dipandanginya wajah anaknya yang seolah tak mau ia pergi. Meskipun dia juga ingin membawa Emi pulang dan mengurusnya karena sedang sakit. "Tapi, Bu ... kalau Emi pulang, apa kata Ibu mertuaku. Emi bingung, Bu," Diusapnya rambutnya dengan perlahan, Intan sampai menitikkan air mata karena tak tega melihat Kakaknya sakit dan tampak pucat. "Mbak, besok Intan kesini bantuin Mbak nyuci piring," Emi langsung mencibir, dan menghela napas. Intan langsung tertawa dan berucap kalau ia serius mengatakan itu. "Tuh, katanya serius," ucap ibunya. Intan tertawa lagi dan ketiganya mendengar ada suara obrolan dari rumah sebelah. Rupanya ada tetangga yang sedang berkumpul tengah mengadakan arisan. Saat ibunya lewat, beberapa orang berbisik-bisik. Emi mendengarkannya karena suara yang ia pahami berasal dari tetangganya yang merupakan ibu dari kekasihnya Vino. ~~~ Sore yang cukup cerah saat Emi baru saja memandikan Iva. Ia tak mempedulikan ada orang yang berkumpul dan suara tetangga yang bergosip diketuai oleh tetangga sampingnya. Ia pasrah kalaupun mereka semua percaya dengan yang dikatakan wanita itu. Karena meskipun telah mendapat musibah, tak serta merta membuat orang itu berubah menjadi lebih baik malah kebalikannya. Terdengar suara mobil Ayahnya Iva pulang. Iva mendengarnya dan langsung minta keluar. "Mama, Ayah pulang!" teriaknya. "Iya, Va. Selesaikan dulu pakai bajunya, nanti baru nyusul Ayah!" Iva mengangguk, "Cepat, ya Ma?" "Iya, Sayang," Emi yang baru saja memakaikan baju untuk Iva menurunkannya untuk menyambut kedatangan Ayahnya. Ia berteriak dan minta digendong Ayahnya. "Tadi Nenek kesini," kata Iva. Emi keluar dari kamar dan membereskan mainan Iva yang berserakan di lantai. Adam memandangnya dari arah pintu. "Sudah lebih baikan, Em?" "Alhamdulillah sudah, Mas," jawab Emi. Adam terlihat manggut-manggut dan beralih pada Iva yang minta ia mendengar ceritanya. Iva yang cerewet terus menceritakan sesuatu yang menurutnya menarik pada Ayahnya termasuk saat ibunya datang. Emi menggelengkan kepalanya karena tingkah anak itu yang teramat menggemaskan dan sangat pintar hingga ia dan Adam saling berpandangan. "Yah, aku mau juga main sama Tante Intan," Emi tersenyum, di lihatnya Iva menceritakan kalau ia juga tadi disuapi dan diajak bermain. "Oh, ya? Seneng dong, Va?" "Seneng, Yah," Adam menoleh pada Emi dan mereka saling berpandangan. Tangannya memegang sesuatu. "Em, ini untuk kamu," Diletakkannya sebuah bingkisan untuk Emi dan ia duduk sambil meminta Emi melihatnya. "Apa ini, Mas?" "Dibuka aja, Em. Nanti kalau sudah siap dipakai, ya?" ucapnya sambil berdiri dan langsung masuk ke kamar. Emi pun membuka bingkisan dengan pita dan juga hiasan menarik di atasnya. Ia keluarkan satu persatu isi di dalamnya. Ia merasa terkejut dengan yang dilihatnya. Glek ... Diremasnya pemberian Ayahnya Iva yang terlihat cukup unik itu. Ia hanya tersenyum tipis menanggapinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD