Hari sudah beranjak malam, Emi tidak bisa tidur. Ia masih membuka matanya, sedang anak tirinya sudah lelap dari satu jam yang lalu. Mereka sudah tidur dalam satu kamar dengan Ayahnya Iva juga dalam beberapa minggu terakhir ini. Keduanya juga sudah satu tempat tidur meski Iva selalu berada di tengah-tengah di antara keduanya. Ia sudah lumayan mendingan, agak baikan dan tidak merasa pusing lagi. Kondisinya sudah stabil dan kini saat jam telah menunjukkan pukul dua belas malam ia mengantuk merasakan lelah yang amat sangat. "Hoam ..." Setelah menguap, ia pun akhirnya bisa memejamkan mata dengan cepat tanpa beban, tanpa takut terjadi sesuatu yang akan dilakukan Ayahnya Iva padanya. Sedikit tenang karena ada Iva di tengah-tengah mereka. Pernikahan keduanya sudah berlangsung selama dua bu

