2. Terjebak

1173 Words
Sehari sebelum Ramadhan pernikhan Amira digelar, begitu yang dikatakannya padaku. Tidak ada pesta, hanya akad nikah dan syukuran kecil-kecilan. Amira memintaku untuk pulang beberapa hari sebelumnya, tetapi aku menolaknya. Tak ingin terjebak lebih lama di rumah, kuputuskan pulang mepet hari H. Keberadaan Fatiha dan suaminya yang masih tinggal bersama orang tuaku memberatkan hatiku untuk menetap lama. Selain Lukaku yang belum sepenuhnya sembuh, aku menghindari ketidaknyamanan yang pasti akan kami ciptakan. Akad nikah Amira akan dilaksanakan setelah zuhur. Pagi itu aku langsung berkemas, tepat pukul 8 aku langsung berangkat ke terminal untuk mencari angkutan umum. Rumah orang tuaku berada di daerah di pegunungan yang lumayan pelosok meski akses jalan ke sana tidak begitu sulit. Butuh tiga jam perjalanan dengan menaiki dua angkot yang berbeda, kemudian dilanjutkan naik ojek yang mengantarkanku hingga di depan rumah. Kurogoh pecahan puluh ribuan yang sudah lecek dari saku gamisku, kemudian menyerahkannya kepada tukang ojek. Meraih tas berisi pakaian dan keperluan pribadi, aku melangkah memasuki halaman rumah yang dipagar bambu setinggi semeter. Lengkingan suara yanga sangat kukenal terdengar meneriakkan namaku. Amira memang selalu begitu. Ia sangat antusias menyambut kepulanganku. Kedua sudut bibirku tertarik semakin lebar melihatnya berlari-lari ke arahku sambil merentangkan kedua tangan. “Mbak Salma! Masya Allah, aku kangen sekali!” pekiknya sembari memelukku erat. “Apa kabar, Calon manten?” tanyaku, mengacak kepalanya. Kebiasaan yang sering kulakukan sejak Amira kecil. “Bahagia sekali rasanya. Aku udah khawatir banget Mbak Salma tidak jadi datang. Dari kemarin aku menunggu, jahatnya baru datang sekarang!” Mengerucutkan bibirnya, Amira memasang ekspresi merajuk. Aku hanya menertawakannya. “Yang penting tidak telat, kan?” “Iya, sih,” ringisnya. Kulihat seperti sebuah ringisan tidak enak. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku dan seketika mengernyit heran. “Mir, ini sudah lewat jam sebelas. Kok, kamu belum juga didandani?” tanyaku. Amira kembali meringis, tetapi tidak menjawab. Ia menyeret lenganku untuk masuk ke dalam rumah. Kernyitan di keningku semakin dalam hingga kedua alisku hampir bertemu. Rumah dalam keadaan sepi, tidak ada tamu atau tetangga rewang. Di desaku masih kental suasana kekeluargaan. Setiap ada keluarga yang menggelar hajatan, di situ para tetangga akan rewang dengan sukarela. Namun, aku tidak menemukan satu pun orang di sana. Hanya ada aku dan Amira di dalam rumah yang lengang. “Kamu berutang sebuah penjelasan, Mir,” tuntutku. “Duduk dulu, Mbak. Mbak Salma pasti capek duduk tiga jam di angkot,” ujarnya tenang. Namun, aku menangkap sorot rasa bersalah dalam netra beningnya. “Mana Ibu sama Bapak?” “Aku buatkan minum dulu. Ibu belum pulang, masih di ladang. Kalau Bapak sedang beristirahat di kamar.” Semakin mengherankan. Tidak mungkin Ibu pergi ke ladang sementara hanya dalam waktu beberapa jam ke depan rumahnya akan ada hajatan. “Kamu tidak sedang mempermainkanku, kan, Mir?” tanyaku. Amira tak menjawab, ia telah menghilang ke dapur. Kuhela napas panjang dan mengembuskannya beberapa kali. Pengalaman dikhianati oleh Fatiha sukses membangkitkan kecurigaanku pada Amira. Entah apa yang sedang direncanakannya, yang jelas sebuah kebohongan besar ketika ia mengaku akan menikah selepas zuhur. Amira muncul beberapa saat kemudian sambil membawa secangkir minuman, lalu memberikannya padaku. “Maafkan aku, Mbak.” “Kamu membuatku takut. Terakhir Fatiha meminta maaf, dia mempermainkanku habis-habisan.” “Aku bukan Mbak Tiha. Aku tidak akan sejahat itu pada orang yang kusayangi.” “Baiklah, aku percaya. Sekarang jelaskan apa maksudmu mengatakan akan menikah dan memintaku pulang?” “Mas Arham ingin menikahiku,” mulainya. “Tapi Mbak Salma tahu sendiri kalau Bapak tidak akan menikahkanku sebelum Mbak Salma menikah.” “Dan kamu memintaku pulang untuk membujuk Bapak agar berubah pikiran?” “Sama sekali tidak! Bapak dan Ibu ingin Mbak Salma menikah. Mas Arham meminta ijin untuk menjodohkan Mbak Salma dengan kawannya, karena itu aku meminta Mbak Salma pulang.” Aku menghela napas. Merasa sedih menjadi penghalang adik-adikku untuk menikah dengan pria yang dicintainya. “Kamu dan Arham tidak perlu melakukannya. Aku akan mencoba bicara dengan Bapak agar berubah pikiran. Tidak baik menghalangi anak-anaknya menikah padahal sudah dipertemukan dengan jodoh mereka. “Maafkan aku kalau membuat Mbak Salma tersinggung, tapi aku dan Mas Arham melakukannya bukan semata-mata agar kami dapat segera menikah. Kami melakukannya demi Bapak, Mbak. Beliau sudah semakin tua dan sering sakit-sakitan. Bapak selalu mewanti-wanti agar tidak mendahului Mbak Salma karena Bapak ingin menjaga perasaan Mbak Salma. Apa lagi setelah kelakuan buruk Mbah Tiha. Bapak sangat memedulikan Mbak Salma.” “Kamu dan Arham tidak perlu repot-repot melakukannya untukku, Mir. Sudahlah, sepertinya aku butuh merebahkan diri sebentar.” Mengangkat bokongku dari lincak bambu, kulangkahkan kaki beranjak ke kamarku yang telah lama tak kutempati. Aku tidak ingin membicarakan perjodohan tersebut lebih lama lagi. “Mbak,” panggil Amira. Namun, aku sudah keburu masuk ke dalam kamar dan menutup pitu. *** Esok sudah mulai puasa, harusnya aku menjalani hari dengan tenang di pesantren Al Mubarak ikut ngaji pasaran selama Ramadhan. Namun, kebohongan Amira sukses memusnahkan ketenanganku. Di sini aku merasa dijebak. Entah berapa lama aku tertidur. Rasa lelah membuat kelopak mataku langsung tertutup begitu punggungku menyentuh tempat tidur. Amira datang membangunkanku untuk salat zuhur dan makan siang bersama. Sungguh aku terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan ketika seluruh keluarga berkumpul di meja makan, termasuk Fatiha dan suaminya. Apa lagi sikap Arman yang sedikit kurang ajar padaku. “Salma, kamu pulang?” tanyanya basa-basi. Ia bahkan tidak memanggilku dengan sebutan mbak. Matanya berkali-kali melirikku. Aku hanya mengangkat kedua bahu tak acuh, tidak mau membuat keributan di meja makan. Apa lagi melihat ekspresi cemburu Fatiha yang ditampakkan terang-terangan. “Lima bulan tidak kelihatan, kulitmu makin bersinar,” komentar Arman. Pria itu mengamatiku tanpa merasa risih. Aku melengos menahan geram. Ibu, Bapak, dan Amira kompak menghembuskan napas. Sungguh tidak pantas kalimat seperti itu diucapkannya pada perempuan lain sementara ada istri yang tengah bersamanya. Aku diam, memutuskan untuk pura-pura tak mendengar. “Kamu juga semakin cantik, aku menyesal—” “Sudah, cukup!” bentak Fatiha memotong perkataan suaminya. Perempuan itu membanting sendoknya ke atas piring hingga bunyi dentingan nyaring terdengar. Aku menahan napas, bersiap menerima amukannya. Kalimat-kalimat kasar akan terlontar, menjadi kebiasaannya ketika marah. “Kenapa Mbak Salma mesti balik, sih!” Ia berseru marah. Telunjuknya menuding. Jangan tanya apakah perempuan ini pernah diajarkan sopan-santun cara menghormati sosok yang lebih tua. Fatiha memang berperangai buruk. Ia tidak akan mau mendengarkan nasehat orang di sekitarnya. Baginya ialah yang paling benar. “Udah bagus pergi jauh-jauh, malah balik lagi! Dasar perawan tua tidak laku, bisanya cuma menggoda suami orang!” Aku terhenyak. Sakit sekali hati ini mendengarnya. Ucapannya begitu tajam mengalahkan sembilu, dan gunakan untuk menikam orang lain untuk menyakitinya. Bapak memegangi dadanya sambil memejamkan mata. Ibu mengusap lengannya sambil membisikkan kata ‘sabar’ berkali-kali. Semetara Amira meraih tanganku dan menggenggamnya. Ingin memberiku kekuatan. “Jaga ucapanmu, Ti,” tegur Bapak. “Ucapanmu bisa menyakiti hati mbakmu!” “Ucapanku adalah fakta! Lihatlah, dia datang dengan dandanan seperti itu untuk menggoda Mas Arman. Mau balas dendam dengan merebut Mas Arman kembali, heh?” Berkali-kali aku menggumamkan kalimat istigfar. Luka di hatiku seperti disiram air garam. Sakitnya seperti meresap ke dalam setiap pori-pori tubuhku. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD