3. Senja dari Balik Jendela

1175 Words
Termangu seorang diri, mataku lurus menatap keluar jendela. Pemandangan yang sangat indah. Daerah pedesaan dengan suasananya yang sejuk. Dari ruang tamu akan disuguhi pemandangan perbukitan hijau, sedap dipandang mata. Sementara dari kamarku, hamparan perkebunan teh telihat bagaikan karpet yang membentang luas. Jika cuaca bagus, aku beruntung akan menyaksikan matahari tenggelam kala senja. Pendar keemasannya menyebar di atas hamparan perkebunan sebelum menghilang di peraduan. Aku betah berlama-lama di sana, menanti senja dan berharap menyaksikan keindahannya. Mengerjapkan mata, aku kembali terbang pada lamunan kala Bapak memohon sambil memegang tanganku. Wajah tuanya dipenuhi harapan sekaligus kesedihan. “Terima, ya, Sal. Bapak ingin kamu menikah bukan karena Bapak malu punya anak perempuan yang dijuluki perawan tua. Bapak melakukannya lataran Bapak tidak ingin banyak orang mengolokmu di belakang, terutama adikmu si Fatiha.” Aku tidak menjawab. Buka karena tidak mau, tapi memang tidak tahu harus menjawab bagaimana. Arham, calon suami Amira meminta ijin pada Bapak untuk mengenalkanku pada salah seorang temannya. Sama seperti Bapak, Ibu dan Amira pun begitu berharap aku bersedia. Di satu sisi aku memang ingin menikah. Aku ingin hidup berumah tangga bersama pria yang mau menerima satu kelebihan dan seribu kekuranganku. Cita-cita tertinggi seorang perempuan adalah menikah. Selain itu tentunya aku pun ingin agar tidak lagi menjadi penghalang bagi adikku. Amira sudah siap menikah, tetapi harus menunggu kakaknya terlebih dahulu. Kuhela napas kembali. Mencoba meyakinkan hatiku yang masih meragu. Mungkin dengan menerima perjodohan ini, tidak hanya sekedar mengakhiri masa penantian panjangku. Namun, juga untuk mengukir bahagia di wajah tua Bapak dan Ibu, dan tentunya tidak perlu menjadi penghalang untuk kebahagiaan Amira dan Arham. Perlahan, semburat keemasan itu muncul. Bagaikan bola api raksasa yang bergerak sangat pelan. Aku menatapnya tanpa kedip. Senja mengajarkanku akan arti sebuah keikhlasan. Ia hadir memberikan keindahan sebelum kemudian menghilang berlari menuju peraduan. Tentang senja yang hanya sebentar, aku sadar tak selamanya yang indah akan abadi. Ketika ia menghilang, hatiku harus selalu siap untuk mengikhlaskan. Kilau keemasan berganti kegelapan. Tak lama kemudian azan pun berkumandang. Malam ini sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Segera kututup jendela kamar. Melangkah keluar, aku bersiap untuk melaksanakan kewajiban. *** Memandang bayangan diri dalam cermin, kusadari aku jauh lebih cantik daripada lima bulan yang lalu. Kulitku yang dulu kecoklatan setiap hari beraktifitas di bawah terpaan matahari membantu Ibu di ladang, kini tampak cerah dan bersih. Ada rona kemerahan alami di kedua pipiku. Tak heran Fatiha menuduhku berdandan untuk menggoda suaminya. Menyambar sajadah, aku bergegas keluar dari kamar untuk salat tarawih perdana di masjid dengan Ibu Ibu. Beliau sudah siap bersama Amira. “Bapak mana?” tanyaku. “Bapak tidak enak badan, biar istirahat saja dulu.” “Terus Fatiha sama Arman?” Ibu dan Amira kompak menghembuskan napas kesal. “Tidak usah menunggu mereka. Ayo, kita berangkat!” ajak Amira. “Tunggu sebentar, aku tidak membawa sandal jepit.” “Pakai saja punya Bapak. Itu di depan pintu kamar.” Aku bergegas mengambil sandal jepit yang sudah agak buluk dan memakainya. Bertiga, kami berangkat ke masjid tak jauh dari rumah. *** Mansiawi, ada perasaan sedih dan marah ketika berpasang-pasang mata menatapku dengan sorot mencemooh. Peristiwa lima bulan yang lalu tentunya belum hilang dari ingatan para warga. Telingaku menangkap bisik-bisik lirih ketika Ibu dan Amira menggandengku memasuki gerbang masjid. Perawan tua yang malang. Hari pernikahannya berantakan, calon suaminya justru menikahi adiknya yang jauh lebih muda dan cantik. Ada pula yang terang-terangan meneriakiku. “Salma, itu Salma, kan?” Terpaksa kedua sudut bibirku kutarik memberinya seulah senyuman. “Kamu pulang, Sal? Kalau aku jadi kamu, lebih baik minggat selamanya dari rumah daripada harus melihat adikmu bersama bekas calon suamimu.” “Tidak usah ditanggapi,” bisik Ibu, buru-buru menggandengku berlalu. “Monggo, Mbak Iin, tarawih sebentar lagi mulai.” Menggigit bibir kuat-kuat saat mata terasa memanas, aku bersikeras tidak akan menunjukkan air mataku di depan orang lain. Di depan adik-adikku saja pantang bagiku menampakkan kelemahan, apa lagi di muka umum seperti ini. Kutelan segala rasa sakit yang mencabik. Batinku yang terluka bertanya-tanya, apa kesalahan yang pernah kulakukan hingga Allah menghukumku seperti ini? Namun, buru-buru kutepis perasaan tersebut. Aku tidak pernah meragukan rancana Allah. Mungkin saat ini Ia memberiku rasa sakit yang begitu dalam, tapi siapa yang dapat menyangka jika Ia telah menyiapkan kejutan indah di baliknya bila aku bersabar. Keajaiban selalu ada, dan aku memercayainya. Ini bukan hukuman, melainkan ujian kesabaran. Menuruti nasehat Bapak, apa pun perlakuan orang padaku, aku akan berusaha ikhlas. Kuyakini, keikhlasan pasti akan berbuah baik. Segala kemelut yang mengganggu pikiranku sejenak terangkat begitu aku meletakkan kening di atas sajadah, bersujud kepada penciptaku. Sejenak hatiku terasa begitu damai, tidak ada rasa sakit dari luka yang ditorehkan orang-orang padaku. Hatiku lapang. *** Digunjing karena menjadi perawan tua rupanya jauh lebih baik dibanding dituduh mencuri sebuah sandal. Meski cara menasehatinya sangat baik sesuai ajaran Rasulullah, tapi tetap saja aku merasa begitu terhina. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba aku dihadang salalh seorang pengurus masjid dan dimintanya untuk melepas sandal jepit milik Bapak yang kupinjam. Untung pria itu melakukannya setelah semua jamaah bubar meninggalkan masjid. “Ini bulan puasa, Mbak. Kebiasaan lama jangan dibawa-bawa di bulan suci,” katanya mulai menasehati. “Astaghfiurullaah, sampean menuduhku mencuri, Kang?” “Saya tidak menuduh Mbak Salma mencuri, tapi menukar sandal milik orang lain.” “Sama saja mencuri! Dosa menuduh orang mencuri, Kang. Apa lagi tanpa bukti.” “Tapi sandal yang dipakai Mbak Salma itu bukan milik Mbak.” “Memang benar. Aku meminjamnya dari Bapak.” “Sudahlah, Mbak. Lepas saja sandalnya dan berikan pada pemiliknya sambil minta maaf. Masalah selesai, asal Mbak Salma tidak mengulanginya lagi.” “Lho, mana bisa begitu, Kang! Aku tidak bersalah, kok disuruh meminta maaf sama memberikan sandalku,” kukuhku. “Mbak, orang yang sandalnya Mbak tukar itu bukan orang sembarangan lho. Itu, beliau masih mondar-mandir mencarinya.” Kuhembuskan napas dalam-dalam, lalu beranjak menghampiri pria yang berdiri di serambi sambil menoleh ke sana-kemari mencari sandalnya. “Sampean yang kehilangan sandal, Kang?” tanyaku. Namun, untuk sesaat terpaku melihat sosok tinggi tegap dalam balutan sarung dan baju koko tersebut. Tidak hanya perawakannya yang bagus, wajahnya pun rupawan. Aku merasa tidak asing. “Kamu melihatnya?” Berat dan dalam suaranya. “Kang jaga masjid itu tiba-tiba menghadangku dan menuduhku telah mencuri sandal milik sampean.” Tatapan pria itu turun ke kakiku dan mengerutkan kening. “Aku tidak diperbolehkan pergi sebelum menyerahkan sandal milikku pada sampean.” “Itu memang sandal saya,” katanya. “Ini milikku, Kang. Aku pinjam dari Bapak.” “Mungkin milikmu yang itu,” tunjuknya pada sepasang sandal yang sama persis seperti yang kukenakan, hanya saja lebih jelek. Seketika aku merasa malu sekali. Menyadari telah melakukan kesalahan. “Astaghfirullaah, tertukar, Kang! Maafkan aku.” Buru-buru kulepas sandalnya dan mengambil sandal buluk milik Bapak. “Aku tidak tahu bagaimana bisa berpindah ke sini. Seingatku tadi melepasnya di sana.” “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat. Lalu mengenakan sandal tersebut dan berlalu. Ia sama sekali tidak mengucapkan terima kasih. Mataku mengikuti gerakannya. Pria itu menaiki motor jumbonya, kemudian pergi begitu saja keluar dari gerbang. Aku melongo di tempat. Siapakah gerangan ia? Aku merasa seperti pernah melihatnya. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD