4.Pertemuan

1081 Words
“Nduk Salma, kalau sudah selesai Ibu minta tolong antarkan kolak pisang untuk Mbah Haji, ya,” pinta Ibu sambil meletakkan sebuah rantang susun kosong di atas meja. "Inggih, Bu," jawabku tanpa menoleh. Kuangkat bahan-bahan sambal dari penggorengan, lalu meletakkannya di atas cobek kayu dan menguleknya. Sebentar lagi tiba waktu buka. Pekerjaan masak-memasak sore ini sebenarnya sudah kuselesaikan sejak tadi bersama Amira, tetapi tiba-tiba Fatiha minta dibuatkan sambal goreng. Sementara ia sendiri sama sekali tidak membantu. Fatiha memang paling pemalas di antara aku dan Amira. Sejak remaja ia tidak pernah turun ke dapur membantu Ibu. Setelah menikah pun tak pernah mau melakukannya. Kerjaannya hanya tiduran malas-malasan di dalam kamar. Terakhir, kuberi perasan jeruk limau pada sambal buatanku, kemudian membawanya ke meja makan bersama menu buka puasa lain yang sudah matang sejak tadi. Setelah mencuci tangan, kuambil rantang di atas meja dan mengisinya dengan kolak pisang, hasil panen di ladang milik sendiri. Lalu melangkah keluar untuk mengantarkannya ke rumah Mbah Haji. Mbah Nyai Sa’diyah atau lebih sering dipanggil Mbah Haji tinggal di seberang rumahku. Terpisah oleh jalan. Boleh dibilang rumah Mbah Haji merupakan rumah paling bagus di desaku. Mbah Haji tinggal sendirian setelah suaminya, Kyai Kholil berpulang dua tahun yang lalu. Mbah Haji memiliki dua orang putri, semuanya sudah menikah dan masing-masing ikut dengan suaminya. Cucu-cucunya sesekali menyambanginya, tapi tidak ada yang menginap lama. Kulangkahkan kaki memasuki pintu gerbang dari baja ringan yang terbuka lebar. Di sini masih jarang rumah memiliki pintu gerbang seperti ini. Tidak seperti halaman rumahku yang teduh oleh pohon-pohon buah seperti mangga dan rambutan, sebagai tamannya, di sini mataku justru disuguhi taman modern yang sangat indah dengan rumput gajah mini yang tertata apik. Menaiki undakan teras berlantaikan marmer, aku mengetuk pintu sembari mengucap salam begitu sampai di depan pintu. Dulu aku sering datang kemari mengantarkan sayur pesanan Bu Haji. Ibu memang memiliki ladang yang ditanami berbagai macam sayur. Setiap panen, biasanya aku yang membawanya ke pasar untuk dijual. Tak heran dulu aku begitu buluk dan hitam. Pekerjaan sehari-hariku adalah mengurus ladang bersama Ibu. Terdengar balasan salam dari dalam. Tak lama kemudian pintu terbuka dan aku langsung disambut senyum hangat Mbah Haji. “Lho, Salma? Masya Allah, semakin cantik sekarang, sampai pangling Simbah! Kapan pulang, Nduk?” tanyanya. Kuraih tangan Mbah Haji dan menciumnya. “Sehari sebelum puasa, Mbah.” “Oh, pantesan simbah tidak melihat. Ayo, masuk dulu!” Mbah Haji melebarkan pintu mempersilakan aku masuk. “Aku hanya sebentar, Mbah, anter kolak dari Ibu. Lagi pula sebentar lagi magrib.” Kuulurkan rantang susun yang kubawa. Mbah Haji menerimanya, tetapi satu tangan lainnya meraih lenganku dan memaksanya untuk masuk. “Justru karena sudah mau magrib, kamu harus buka di sini.” “Eh, lha Bapak sama Ibu bagaimana?” “Bapak sama ibumu sudah banyak teman. Ada si Mira dan Fatiha. Simbah di sini tidak ada temannya, cucu Simbah bilang mau datang tapi sampai sekarang belum juga kelihatan batang hidungnya. Puasa pertama buka sendirian itu rasanya ngenes, Nduk, pasti keingat terus sama mendiang Romo.” Aku tidak kuasa menolak. Apa lagi melihat wajah sedihnya. Pada akhirnya aku menurut saja. Ibu pasti paham sendiri kalau aku tidak kembali. Sudah sering Mbah Haji menahanku untuk mengajak makan bersamanya dulu setiap pagi-pagi aku datang mengantar sayur. Sejak dulu Mbah Haji sudah menganggapku seperti cucunya sendiri. “Baiklah, Mbah.” Mbah Haji mengajakku ke dapurnya, kemudian meletakkan rantang kolak pemberianku dan mulai menata hidangan di atas meja besar. Aku ikut membantu. “Simbah dengar dari ibumu, katanya kamu ngajar di pesantren, Nduk?” tanya beliau. Tangannya sibuk memindahkan sayur bening dari panci ke dalam mangkuk besar. “Di sekolah asramanya, Mbah.” “Ibumu tidak kesepian meski kamu jauh darinya. Masih ada dua adikmu. Lha, Simbah, anak-anak sudah ikut suami semua. Cucu-cucu main hanya sebentar. Tidak ada yang kerasan nginap. Kesepian sekali rasanya,” cerita Mbah Haji. “Tahun ini Ulil pulang kampung. Simbah sudah mewanti-wanti untuk tinggal di sini, tapi sampai sekarang belum juga datang. Padahal Simbah sudah masak banyak.” Mbah Haji mempersilakanku untuk duduk, sementara beliau menuang kolak pisang ke dalam beberapa gelas, lalu memberikannya satu padaku. “Ulil itu siapa, Mbah?” tanyaku. “Cucu simbah yang paling tua. Mungkin kamu tidak mengenalnya, wong sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Jakarta. Kerja sekalian dapat orang sana, semakin susah untuk pulang. Biasanya setahun sekali mudik pas lebaran, tapi tahun ini dia pulang sebelum puasa. Istrinya meninggal setahun yang lalu.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. Terdengar suara bedug dipukul dari masjid, disusul azan tak lama kemudian. Aku dan Mbah Haji mengucap hamdalah. Kubaca doa berbuka puasa, lalu mengangkat gelas berisi kolak pisang dan meneguk pelan kuahnya. Kupejamkan mata merasakan kesegaran yang mengaliri tenggorokanku. Sungguh nikmat tiada tara. Tak henti-henti hatiku mengucap syukur diberi kelancaran puasa pada hari pertama. “Alhamdulillaah,” desahku usai menandaskan isi gelas. Usai menghabiskan isi gelas masing-masing, Mbah Haji mengajakku untuk salat magrib berjamaah terlebih dahulu. Kami salat di rumah dengan Mbah Haji sebagai imamnya. Setelah itu barulah kami mulai makan berat. Mbah Haji masak banyak macam makanan. Semuanya tampak sangat menggugah. Penghuni perutku langsung memberontak hanya dengan mencium aromanya. Mbah Haji memaksa melayaniku, mengambilkan nasi berikut lauknya ke atas piringku meski aku telah menolaknya secara halus. Beliau terlihat amat bahagia. Hidup sendirian memang tidak menyenangkan. Kedatanganku menemani berbuka rupanya sangat berarti bagi sosok sepuh tersebut. Kami mulai makan sambil mengobrol ringan. Mbah Haji banyak bertanya mengenai kegiatanku di pesantren Al Mubarak. Sesekali beliau menyinggung-nyinggung cucunya yang bernama Ulil. Pembicaraan di sela-sela makan itu tiba-tiba diinterupsi oleh suara berat nan dalam mengucap salam. Kompak, aku dan Mbah Haji menjawab salam tersebut. Dari ekor mataku, aku menangkap sosok tegap berjalan mendekat ke meja makan. “Lil, akhirnya datang juga!” Mbah Haji meletakkan sendok makannya, beliau mengulurkan tangan. Sosok berbalut sarung palekat dan koko putih tersebut menjabat dan menciumnya. “Habis dari masjid, Mbah.” “Simbah kira malah tidak akan datang. Ayo, duduk! Kebetulan ada Salma di sini menemani Simbah. Senang sekali kalau banyak teman seperti ini.” Aku mengangkat kepala dan mengulas seuntai senyuman. Namun, senyumku langsung lenyap begitu melihat sosok tersebut. Ulil Abshar, cucu Mbah Haji tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah pria yang sandalnya tertukar olehku. Mendadak wajahku memanas, aku merasa malu sekali mengingat kejadian tersebut. Apa lagi ketika pandangan kami bertabrakan, pria itu menaikkan sebelah alisnya dan memberinya tatapan—gadis tukang menukar sandal—melalui sorot dalam netra kelamnya yang sepekat malam. Andai punya pintu ke mana saja milik Doraemon, ingin sekali rasanya aku menghilang saat itu juga. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD