.Terus menundukkan kepala, aku tak ingin melihat tatapan kasihan di mata para tetangga yang kutemui. Pagi ini aku kembali mendatangi makam Bapak, mengadukan pertengkaran dengan Fatiha semalam sambil menyentuh nisan, seolah ialah Bapak. Setiap habis bertengkar dengan Fatiha, Bapak pasti mendatangiku, mengelus bahuku dan menasehatinya untuk bersabar, tidak perlu meladeninya. Hal yang membuat Fatiha semakin murka dan menganggap Bapak selalu memihakku. Kini setelah kepergiannya, aku yang mendatangi beliau. Tak lupa membacakan yasin untuknya, setelah itu menabur bunga sambil curhat. Di sini aku merasa dekat dengan Bapak, meski keberadaannya tidak nyata, tapi aku tahu Bapak pasti melihatku. Beliau tersenyum dari tempatnya. Hal yang tidak kusukai setiap keluar dari rumah adalah tatapan kasihan

