23.Sebuah Pengakuan

1532 Words

Kelu lidahku. Tubuhku diam terpaku. Nanar, mataku mengikuti gerakan sosok yang baru saja dipapah turun dari mobil dan berjalan terpincang-pincang ke arahku. Ada perasaan haru menyusup ke dalam kalbu. Mataku memanas, air mata merebak di pelupuk. Namun, ia hanya bertahan di sana. Tidak ada yang meleleh turun. Tanggul air mataku sudah semakin kokoh, tidak mudah jebol. Senyum cerahnya tak berubah. Dua hari menghuni sel tahanan sepertinya tak menyisakan trauma untuknya. Berbeda sekali dengan raut Ulil yang tampak datar dan serius. Mungkin memang sudah cetakannya seperti itu. Rahmat dan Ulil bagaikan dua pribadi yang bertolak belakang. Yang satu ceria dan murah senyum, satunya lagi datar dan dingin. “Segitunya didatangi calon suami, sampai tidak berkedip,” selorohnya sambil tertawa ceria. Men

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD