Laksana dipaku dalam ke bumi, kakiku gemetar tak mau diajak melangkah. Tubuhku tak bergerak sedikit pun. Nanar, pandanganku ke depan menatap kepala-kepala yang menatap ke arah kami. Kakiku lemas. Ulil sungguh tidak main-main. Pria itu mengumpulkan seluruh jamaah tarawih untuk menjadi saksi pernikahan mereka. Aku takut sekali jantungku akan meledak saat itu juga oleh detakannya yang semakin tak terkendali. Kedua tanganku terasa dingin, kakiku bagaikan jelly. Lemas dan susah sekali digerakkan. “Jangan pingsan, Mbak! Nggak lucu, masa pengantinnya pingsan.” Fatiha dan Amira menepuk-nepuk lenganku panik. Kedua adikku tersebut berusaha memapahku menuju masjid. “Kang Rahmat, bagaimana ini? Mbak Salma mau pingsan!” adu si bungsu pada Rahmat. Pria yan hampir menikahiku tersebut terkekeh kecil

