29. Dalam Naungan Kesakralan

1183 Words

Rasanya aku sampai tak dapat mengenali sosok bayangan dalam cermin hias di sana. Dengan kedua pipi bersemu serta senyum yang tak lepas barang sedetik pun membuatku terlihat berbeda. Kalau Amira bilang, sangat cantik. Ulil pun mengatakan demikian. Kugosok kedua pipiku yang terasa panas. Seorang diri di depan cermin, senyumku merekah semakin lebar. Seolah ada jutaan bunga-bunga yang bermekaran di sekitarku, aku panas dingin dan seperti orang tidak waras hanya karena mendapat pujian dari suamiku. Ya Tuhan, bahkan masih terasa aneh ketika aku menyebutnya sebagai suamiku. Perasaanku benar-benar tak bertepuk sebelah tangan. Bukan mimpi, Ulil benar-benar sudah sah menjadi suamiku. Pria itu telah mengikat cinta kami dalam ikatan sakral bernama pernikahan. Jadi, seperti ini rasanya menikah? Mes

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD