6. Membebat Luka

1004 Words
“Makan dulu, Nduk,” pinta Ibu lembut sembari meletakkan nampan berisi sepiring makanan dan segelar teh hangat. “Jangan dimasukkan ke hati omongan adikmu. Kamu sudah sangat paham sifatnya.” Rasa lapar setelah seharian penuh berpuasa kini tak lagi terasa. Napsu makanku lenyap setelah pertengkaran hebat yang terjadi antara aku dan Fatiha. Aku hanya mengurung diri di kamar, tidak ikut buka bersama. “Bu, apa tidak sebaiknya aku kembali saja ke pesantren?” ucapku sendu. Tidak hanya ketenanganku yang musnah, ketenteramanku tinggal di rumah yang nyaman ini pun tak lagi kurasakan. Hanya kesakitan yang selalu kudapatkan. Ucapan kejam Fatiha menjadi s*****a yang mampu meremukkan. Ibu benar, aku memang sudah sangat hapal sifat Fatiha. Dia tidak hanya minim sopan-satun, tapi juga egois dan tidak berperasaan. Sejak dulu Fatiha akan mengata-ngatai saudaranya ketika sedang marah, dan lebih sering akulah yang menjadi sasarannya. Namun, kali ini tidak hanya antara aku dan Fatiha, melainkan ada Arman di dalamnya. “Kasihan bapakmu, Nduk. Jangan menambah bebannya,” ujar Ibu menghela napas sedih seraya duduk di sisiku. Usai pertengkaran hebat, Bapak berusaha menasehati Fatiha, tetapi ia justru menganggap nasehat Bapak sebagai bentuk pembelaan terhadapku. “Justru karena tidak mau menambah beban Bapak, lebih baik salah satu mengalah dan pergi, Bu. Aku tidak mau menjadi penyebab keributan rumah tangga Fatiha.” Sangat menyakitkan ketika seorang perempuan baik-baik dituduh menggoda suami orang. Entah bagaimana pemikiran seperti itu hadir menguasainya. Fatiha pikir aku datang untuk merebut Arman, membalas dendam atas kelakuannya dulu. Mungkin karena pernikahan mereka yang diawali dengan hal kurang baik, akhirnya tidak ada ketenangan di dalamnya. Mereka menipu dan mempermainkanku untuk meluluskan keinginannya, karena itu hatinya dipenuhi kecurigaan. Aku telah sepenuhnya merelakan mereka menikah, tetapi Fatiha masih saja mencurigaiku. Belakangan ia terang-terangan ingin mengusirku dari rumah. Andai saja tidak memikirkan perasaan Bapak yang semakin tua dan sakit-sakitan, aku benar-benar ingin sekali kabur angkat kaki selamanya dari kehidupannya. Namun, setiap kali Fatiha mengajak bersitegang, aku hanya mengikuti nasehat Bapak untuk tidak melayaninya. Selain untuk menjaga perasaan Bapak, biar bagaimana pun Fatiha adalah adikku. Tidak baik bermusuhan dengan saudara kandung. “Maafkan Ibu sama Bapak, ya, Nduk. Kami menempatkanmu dalam situasi yang sulit. Seharusnya Fatiha yang pergi dari rumah ini, tapi kamu tahu sendiri kondisi keluarga Arman. Kakak-kakaknya masih numpang di rumah orang tuanya. Rumah sekecil itu dihuni banyak keluarga tidak ada tempat untuk Fatiha.” “Karena itulah, biar aku saja yang pergi, Bu. Demi kebaikan kita semua. Ibu tolong bujuk Bapak, ya.” Ibu menghela napas dalam-dalam. Mengulurkan tangan, Ibu membelai kepalaku. Mata tuanya menatapku sendu. “Kamu anak yang sangat baik, Nduk. Ibu berharap kamu segera mendapat kebahagiaanmu.” Kutarik sudut bibirku. Meraih tangan Ibu, aku menciumnya. “Doakan aku, ya, Bu.” “Pasti, Nduk. Doa Ibu tidak pernah berhenti mengalir untuk anak-anak Ibu.” Ibu menarik tangannya dan bangkit berdiri. “Sekarang makanlah, setelah itu temui Bapak di kamar. Ada yang mau dibicarakan.” “Inggih, Bu.” *** Jika dengan menikah mampu mengembalikan kerukunan dan ketenteraman dalam keluargaku, maka aku akan melakukannya. Kurekam dalam ingatan, senyum dan kelegaan yang menghiasi wajah Bapak guna menepis segala keraguan. Asal Bapak bahagia dan Fatiha berhenti mencurigaiku, aku siap untuk dipertemukan dengan kawan Arham. “Insya Allah dia adalah pria yang saleh. Ibadahnya sangat taat, baktinya kepada orang tua sungguh luar biasa,” kata Ibu. Beliau mengerti, masih ada keraguan dalam hatiku. “Aku akan segera memberitahu Mas Arham.” Adikku, Amira begitu gembira mendengar persetujuanku. Ia sampai menitikkan air mata kala memelukku. “Mbak Salma tidak akan menyesal. Dia pria yang sangat baik.” Kuhela napas dalam-dalam. Setidaknya aku lega mengetahui ia adalah pria yang saleh. Dadaku penuh oleh rasa haru melihat mata Bapak berkaca-kaca. Keraguanku semakin menipis. Kuyakini, pernikahan dapat membasuh luka dari segala cemooh dan hinaan, membebat, dan mengobatinya hingga sembuh. Perlahan, gelombang harapan itu mulai datang. *** Menghabiskan waktu lebih lama di masjid, usai salat tarawih aku meminta Ibu dan Amira untuk pulang terlebih dahulu. Aku ingin lebih lama di luar rumah, menghindari pertemuan dengan Fatiha guna meminimalisir pertengkaran. Jam segini Fatiha dan suaminya sedang bersantai menonton televisi. Mereka mamang tidak pernah mau diajak ke masjid untuk salat tarawih. Banyak sekali alasannya. Kuputuskan untuk pulang agat telat, setidaknya sampai Fatiha masuk ke dalam kamarnya. Masjid sudah lengang. Hanya ada beberapa orang yang sedang tadarus. Seorang simbah-simbah membuka mushafnya turut menyimak. Bersandar pada pilar, kupejamkan mata, meresapi bacaan kalam suci yang mengalun melalui pengeras suara. Cukup mampu memberi ketenteraman batinku. Andai aku masih di pesantren, ikut mondok posonan di sana, mungkin suasana seperti ini akan selalu kurasakan. Ayat demi ayat mengalir dibacakan. Aku diam mendengarkan. Entah berapa lama berada di sana, hingga sebuah suara menegurku. “Kok, tidur?” Aku membuka mata dan tersenyum mendapati simbah penyimak datang menghampiriku. “Sudah mau pulang, Mbah?” “Sudah malam, besok lagi. Tidak kuat sama hawa dingin.” “Inggih, Mbah. Monggo.” Kulirik jam dinding besar di dekat pintu masuk. Sudah hampir pukul sepuluh. Aku pun bangkit menyusul simbah tadi. Mungkin Fatiha dan suaminya sudah masuk kamar. Kuedarkan pandangan ke sekitar, mencari sandal jepit buluk yang kupinjam dari Bapak. Aku mencarinya ke beberapa sudut, kali saja berpindah seperti kemarin. Namun, hingga lelah mondar-mandir, sandal itu tak kudapati di mana pun. Aku hanya melihat beberapa sandal laki-laki. “Hilang sandalnya? Atau tertukar?” Menoleh segera, tiba-tiba jantungngku berdebar mendapati sosok rupawan berdiri tak jauh dariku. Pemilik suara berat dan dalam itu menatapku dengan tatapan datarnya. Aku meringis, antara malu dan grogi. Kejadian sandal tertukar jelas menjadi penyebabnya. “Tidak tahu, Kang. Tidak ada di mana-mana.” Ulil tak menjawab, pria itu bergerak menuruni undakan teras. Mengambil sandalnya dan kembali ke arahku, kemudian meletakkan sandal miliknya tepat di hadapanku. “Pakai saja ini,” katanya. Sangat datar. Air mukanya tak beriak. Aku terpaku di tempat. Bingung dan takjub. Belum sempat aku mengucap apa pun, Ulil sudah turun dari lantai teras masjid dan berjalan menuju parkiran tanpa menoleh. Tentunya dengan bertelanjang kaki. Aku masih belum bergerak dari tempatku berdiri ketika mendengar deru motornya bergerak keluar dari pintu gerbang masjid. Bersambung ….
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD