Kupercaya, selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Lima bulan yang lalu mungkin aku menangis, merasa nasib begitu kejam mempermainkan. Namun, sekarang aku justru bersyukur. Andai waktu itu aku tersenyum bahagia bersanding dengan Arman di pelamina, aku tidak menjamin kebahagiaan rumah tanggaku saat ini.
Dari dalam kamarku, aku mendengar teriakan Fatiha. Adikku itu memaki-maki suaminya dengan kalimat yang sangat kasar. Bertengkar. Aku memutuskan untuk tidak keluar dari kamar, meski kudengar suara Ibu dan Bapak terdengar melerai mereka.
Fatiha marah lantaran Arman berani memboncengkan Reni—janda kembang yang belum lama cerai—dan mengajaknya ke pasar malam. Seseorang melihat dan mengadukannya pada Fatiha.
Berkali-kali kugumamkan takbir, dalam hati tiada henti mensyukuri rasa sakit yang pernah mereka torehkan padaku. Aku bersyukur tidak jadi menikah dengan Arman. Allah sungguh baik, Ia menyelamatkanku melalui luka dan air mata.
Kulirik pintu, memastikannya terkunci. Pengalaman kemarin membuatku lebih berhati-hati untuk selalu mengunci pintu agar Arman tidak main nyelonong masuk begitu saja. Setelah melihat pintu terkunci, aku lanjut mendaras. Aku ingin mengkhatamnya sebanyak lima kali selama bulan Ramadhan. Enam hari 30 Juz.
Namun, pertengkaran sengit itu sangat mengganggu. Sumpah serapah Fatiha disertai tangisnya semakin keras terdengar. Kuhentikan bacaanku dan mengucap istigfar.
Bagaimana mungkin seorang yang dididik sejak kecil dan dibekali ilmu agama, mampu mengeluarkan sumpah-serapah yang begitu kasar? Terucap pula dari mulut seorang istri yang ditujukan kepada suaminya.
Memutuskan tidak mau ikut campur, aku menutup mushaf dan beranjak dari sisi tempat tidur. Tanpa aku ikut campur saja sudah sering terjadi pertengkaran, aku tidak mau menambah keributan. Kubuka tirai jendela yang sengaja kututup untuk menahan sinar matahari menerobos masuk.
Hari masih siang, belum ada pukul tiga. Kunikmati hamparan perkebunan teh di bawah jendela kamarku. Aku berdiri di depan jendela berlama-lama, hingga ketukan pelan terdengar.
Suara pertengkaran di luar tak lagi terdengar. Aku beranjak membukakan pintu, berharap bukan Arman orangnya. Wajah Ibu yang dipenuhi gurat penuaan, muncul begitu aku membuka pintu.
“Nduk,” panggilnya.
“Inggih, Bu?”
“Minta tolong pergi belanja sebentar, ya. Nanti malam rumah kita akan kedatangan tamu.” Aku mengangguk. “Amira sudah menunggumu di depan.”
Membenarkan jilbabku, aku melangkah keluar rumah. Kulihat Amira sedang memanaskan kendaraan matik keluaran lima tahun yang lalu. Sebuah tas anyaman ditaruhnya di depan.
“Ayo, Mbak!” ajaknya seraya menepuk-nepuk jok belakang. Tanpa menunggu lama, aku naik memboncengnya. Perlahan, kendaraan berjalan meninggalkan halaman rumah.
“Kata Ibu, nanti malam kita akan kedatangan tamu, Mir?”
“Tamu yang sangat istimewa,” jawab Amira. Dari kaca spion kulihat ia mengulum sebuah senyuman.
“Memangnya siapa, sih?”
“Jangan kaget, ya. Mas Arham akan datang nanti malam.”
“Serius, Mir?” tanyaku gembira. “Akhirnya Bapak mengijinkanmu menikah dengan Arham tanpa harus menungguku.”
“Eh?”
“Arham pasti akan melamarmu, Mir.”
“Ngawur! Mas Arham memang mau datang, tapi yang mau dilamar bukan aku.”
“Lho, kok, bisa begitu?” tanyaku tak mengerti.
“Ih, Mbak Salma! Sayang banget sekolah sampai S-2, mikir gitu aja muternya lama,” gerutu Amira. Kerutan di keningku semakin dalam. “Yang mau dilamar itu, Mbak Salma.”
“Kok, aku, Mir?”
“Tuh, kan. Loading lagi! Maksudnya Mas Arham datang untuk membawa calonnya Mbak Salma. Kan kemarin Mbak Salma sudah bersedia menerima perjodohan ini.”
“A—apa?”
***
Jantungku berdetak kencang menatap suguhan yang sudah kutata di atas meja. Ada beberapa jenis kue, buah, dan toples berisi makanan ringan. Aku sudah berbuka, tetapi tanganku masih saja gemetar seperti kebiasaan ketika telat makan.
“Tangan Mbak Salma dingin, Bu,” celetuk Amira tiba-tiba memegang tanganku. “Maklum mau ketemu calon suami, pasti grogi." Amira menatapku sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Menyembunyikan rona wajah yang mendadak muncul, segera kutepis tangannya dan melengos. Amira sejak tadi gemar sekali menggodaku. Ia tak berhenti mengangguku sambil senyum-senyum menyebalkan. Aku yang akan dilamar, tetapi Amira jutru yang paling bahagia.
“Berhenti menggoda mbakmu, Nduk,” tegur Ibu. Beliau juga tampak sanga gembira. Wajah tuanya berseri-seri dengan senyum tak pernah lapas. Ah, aku pun sangat bahagia.
Sebentar lagi tidak hanya penantian panjangku yang akan segera berkhir, adik yang paling kukasihi pun akan menjemput bahagianya dengan pria yang dicintainya. Dan yang paling melegakan, aku akan segera terbebas dari kecurigaan Fatiha.
Sebelum isya, yang kutunggu-tunggu itu akhirnya hadir juga. Bapak dan Ibu yang menemui mereka, sementara aku di dalam menunggu harap-harap cemas. Kudengar percakapan mereka dari ruang tengah, sesekali diselingi tawa kecil.
“Aku khawatir Mbak Salma akan menjatuhkan nampan nanti saking groginya,” seloroh Amira. Tangannya sibuk menuang teh hangat dari dalam cerek ke gelas-gelas di atas nampan.
Sementara Fatiha lebih banyak diam. Ia tidak mengomentari apa pun. Hanya sesekali tangannya meraih potongan kue dan memasukkanya ke dalam mulut.
“Ngaco!” jawabku singkat. Kegugupan membuatku tidak berselera meladeni candaan Amira.
“Sudah selesai, langsung saja Mbak Salma bawa ke depan,” pinta Amira.
“Kenapa tidak kamu saja, sih, Mir?”
Amira tertawa kecil. “Grogi? Sepertinya beneran takut menjatuhkannya. Bawanya yang pelan, sambil tahan napas kalau perlu.”
Aku terpaksa mengambil nampan yang disodorkan Amira, kemudian ragu-ragu membawanya ke ruang tamu. Jantungku seperti mau melompat mendapati beberapa orang ada di sana, mereka serentak menoleh padaku begitu aku muncul.
Menundukkan kepala, kucengkeram pinggiran nampan untuk menyamarkan getaran yang disebabkan oleh tanganku. Lalu, kuletakkan nampan di atas meja, menata satu persatu gelas untuk para tamu.
Usai semua tamu kebagian minum, kurasakan sentuhan lembut tangan Ibu di bahuku. Menoleh dan aku mendapati senyum lembut tersungging di bibirnya.
“Duduk, Nduk,” pinta Ibu. Aku menurut. Sepelan mungkin kuletakkan b****g di atas kursi jati di sisi Ibu.
“Nah, ini Salma. Pasti Nak Rahmat sudah mengenalnya, kan?” Kudengar suara Bapak berujar. Jantungku berdetak kencang. Jadi, pria itu bernama Rahmat?
Aku masih belum berani mengangkat kepala. Di sisiku, Ibu mengusap punggungku lembut. “Nak Rahmat sudah mantap ingin melamarmu, Nduk. Namun biar bagaimana pun kamu yang akan menjalaninya, jadi Bapak ingin kamu yang memutuskannya.”
Perlahan, kuberanikan diri mengangkat kepala. Mula-mula mataku menangkap sosok Arham, calon suami adikku itu menyunggingkan seulas senyum sopan. Lalu, beralih pada sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi. Terakhir, aku menahan napas melihatnya sedang menatapku lekat.
Jantungku berdebar semakin menggila, detakannya seperti genderang yang ditabuh bertalu-talu. Sebentar lagi, agaknya akan melompat keluar dari dalam dadaku.
Jadi ialah orangnya.
Bersambung …