Castellia berjalan terburu-buru untuk menghindari kejaran Vincent. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah pria itu. Kenapa dirinya harus berhubungan dengan Vincent? Apa yang dilihat dari Vincent? Ketampanan? Atau karena gelarnya sebagai dokter? Entahlah. Hanya Castellia yang tahu kenapa dirinya bisa memiliki hubungan khusus dengan Vincent.
Kini Castellia sudah berada di halaman rumah sakit. Ia harus segera menghentikan sebuah taksi untuk menjauh dari Vincent. Pikiran Castellia benar-benar kacau dibuat pria itu. Bahkan dirinya sampai menggigiti kukunya karena ketakutan. Vincent masih mencoba mengejarnya sampai akhirnya Castellia meminta bantuan pada pihak keamanan rumah sakit untuk melindunginya.
"Pak, tolong saya!" pinta Castellia.
"Ada apa, Dok?" tanya petugas keamanan tersebut dengan wajah panik. "Ada masalah?"
"Orang itu." Castellia menunjuk ke arah Vincent, "Dia mengganggu saya. Saya merasa tidak nyaman. Tolong saya."
Petugas keamanan tersebut menoleh ke arah Vincent yang hendak mendekati Castellia. Petugas tersebut seakan mengerti maksud Castellia. Ia pun segera menghadang Vincent, sementara Castellia menghentikan sebuah taksi yang lewat. Setelah Castellia pergi, Vincent menggeram kesal dan marah pada petugas tersebut.
"Kenapa kau menghalangiku?!" teriak Vincent sambil mendorong petugas tersebut.
"Maaf, Dok. Dokter Castellia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Anda. Dia meminta tolong pada saya," jawab si petugas.
"Ini urusan pribadiku! Jangan ikut campur!"
"Tapi saya juga berhak melindunginya. Ini sudah menjadi tugas saya sebagai pihak keamanan di sini. Dan maaf sekali lagi, dia sudah bersuami. Permisi."
Petugas tersebut lantas meninggalkan Vincent sambil memasang wajah tidak sukanya pada dokter tersebut. Semua staf juga tahu bagaimana arogannya Vincent sebagai dokter. Vincent memang terkenal suka mencari keributan dan tidak mau kalah dengan yang lainnya. Beberapa staf, khususnya petugas keamanan juga tidak menyukainya. Kenapa? Karena Vincent selalu menganggap rendah pekerjaan mereka.
Bahkan pernah suatu ketika Vincent meludahi salah satu petugas keamanan yang terdahulu dan usianya lebih tua dari Vincent. Petugas tersebut merasa direndahkan dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Saat itu, tidak ada yang memberitahu sikap Vincent pada Castellia, karena mereka tahu, Castellia akan membela pria itu. Beberapa staf hanya mengadu pada ayah Castellia. Rumah sakit tersebut memang didirikan oleh Karl Busch untuk Castellia. Itu sebabnya, Karl sangat menentang hubungan putrinya dengan Vincent dan menjodohkan Castellia dengan Nick kala itu. Tapi Castellia yang sangat mencintai Vincent pun menolak perjodohan tersebut dan memaksa Karl untuk merestui hubungannya.
Sekarang, Castellia baru menyadari bahwa dirinya memang salah memilih Vincent. Entahlah. Ia hanya ingin tenang dan menjauh dari pria itu. Pikirnya saat berada di dalam taksi. Castellia menghela napas berat berulang kali dan tidak menyadari jika sedari tadi ponselnya berdering.
"Mau kemana, Nona?" tanya sang sopir taksi.
Castellia tersentak. "Oh, saya berhenti di depan situ ya."
"Baik, Nona."
Sopir tersebut sedikit menepi ke kiri jalan lalu berhenti. Castellia pun membayar biaya taksi sesuai argo yang tertera, kemudian ia turun dari taksi tersebut.
***
Sore ini, Nick berencana untuk menjemput istrinya untuk pulang bersama. Ini juga permintaan dari Castellia saat jam makan siang tadi. Nick pun bergegas membereskan dokumen-dokumen pentingnya ke dalam tas sambil menghubungi Castellia. Tapi istrinya tak kunjung menjawab panggilan teleponnya. Ada sedikit rasa cemas dalam hati Nick. Entah kenapa ia merasa gelisah saat Castellia tak menerima panggilannya.
"Ada apa ya?" gumam Nick pelan.
"Kau sudah mau pulang?"
Pertanyaan Allan membuat Nick sedikit tersentak, kemudian mengangguk sambil tersenyum pada rekannya itu. "Iya. Aku sudah berjanji pada istriku untuk menjemputnya di rumah sakit."
"Ah, aku baru ingat kalau istrimu seorang dokter," ujar Allan sambil duduk di kursi seberang meja Nick. "Apa kau sudah tahu soal Michael?"
Nick menggeleng. "Ada apa? Ah, aku baru sadar kalau dia tidak masuk hari ini."
"Dia mengacau lagi," jawab Allan sembari menghela napas berat. "Aku tidak mengerti dengan jalan hidupnya."
"Memangnya ada apa? Apa dia membuat masalah?" tanya Nick.
Allan mengangguk. "Masalah di masa lalunya."
"Maksudmu?"
"Besok saja aku jelaskan padamu," ujar Allan lalu berdiri dari duduknya. "Cepat ke rumah sakit. Nanti istrimu menunggu terlalu lama. Bisa-bisa dia marah besar, karena aku menahanmu di sini terlalu lama."
Nick terkekeh sambil mengangguk. "Baiklah. Aku pergi dulu ya."
"Hati-hati."
Nick hanya mengangguk lantas bergegas menuju parkiran kantor. Ia membuka kunci pintu mobilnya lalu masuk ke dalam. Mobil sedan hitam itu melaju pelan meninggalkan halaman parkir perusahaan tersebut. Sembari mengemudi, Nick kembali mencoba menghubungi Castellia. Ia sedikit khawatir karena Castellia juga tidak menghubunginya balik. Nick takut, istrinya itu diganggu oleh Vincent.
Nick menambah kecepatan mobilnya dan sampailah ia di pintu depan rumah sakit tersebut. Ia mencoba menanyakan pada petugas keamanan, apakah mereka melihat istrinya keluar dari rumah sakit atau tidak.
"Permisi. Apa kalian melihat Dokter Castellia keluar dari rumah sakit?" tanya Nick pada salah satu petugas keamanan.
"Ah, Dokter Castellia tadi sudah pergi, Tuan."
Nick mengernyit. "Sudah pergi? Naik apa?"
"Dia pergi menaiki taksi, Tuan," jawab petugas tersebut. "Tadi beliau dikejar Dokter Vincent dan meminta bantuan pada saya."
"Dokter Vincent?"
Petugas itu mengangguk. "Dia mantan kekasih Dokter Castellia, Tuan. Anda pasti tahu, kan?"
"Iya, saya tahu," ujar Nick sambil tersenyum ramah. "Kalau begitu, saya permisi ya. Mungkin istri saya sudah di rumah. Permisi."
"Baik, Tuan."
Nick pun melajukan mobilnya menuju rumah. Dalam perjalanan, Nick masih mencoba menghubungi Castellia dan hasilnya nihil. Nick mencoba menghubungi nomor telepon rumahnya, barangkali istrinya itu memang sudah ada di rumah. Tetapi hasilnya, Nick tidak mendapatkan jawaban apapun. Padahal sudah berulang kali Nick menelepon.
"Ya Tuhan, dimana istriku?" gumamnya panik.
Mobil Nick terus melaju pelan, berharap ia bisa menemukan istrinya di beberapa tempat. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah, sebelum istrinya ia temukan. Nick mencoba sekali lagi menghubungi Castellia dan kali ini nomornya tidak aktif. Kepanikan Nick semakin menjadi dan ia memutuskan untuk menghubungi salah satu temannya yang bekerja sebagai Detektif di Kepolisian Berlin.
"Halo, Nick."
"Jasson, apa kau sedang sibuk?" tanya Nick.
"Hari ini tidak terlalu. Memangnya ada apa?"
Nick menepikan sejenak mobilnya, karena bahaya jika menyetir sambil menelepon. Apalagi saat ini Nick sedang cemas memikirkan istrinya. "Bisakah kau membantuku hari ini?"
"Tentu saja bisa. Ada apa? Suaramu terdengar panik."
"Aku panik karena istriku tidak bisa dihubungi. Aku tadi menjemputnya di rumah sakit, tapi petugas keamanan di sana bilang kalau istriku sudah pergi. Dia dikejar-kejar mantan kekasihnya dan sejak tadi aku sudah berusaha untuk menghubunginya. Sekarang nomornya tidak aktif," ujar Nick menjelaskan kronologinya.
"Apa kau sudah mengeceknya di rumah?"
"Aku juga sudah berulang kali menghubungi nomor rumah, tapi tidak ada jawaban. Aku khawatir padanya," kata Nick sambil melihat ke sekitarnya.
"Baiklah. Aku akan membantumu. Sebaiknya kau pulang dan tenangkan dirimu. Aku yakin, istrimu akan baik-baik saja."
Nick menghela napas berat. "Terima kasih, Jasson. Tolong temukan dia dan segera hubungi aku ya. Aku yang akan menjemputnya untuk pulang."
"Oke."
Nick memutus sambungan teleponnya lalu bergegas pulang ke rumah. Kepalanya juga mendadak pusing karena terlalu memikirkan keadaan istrinya. Ia juga berusaha menanyakan keberadaan Castellia pada mertuanya, namun Castellia tidak berada di sana. Alhasil, Nick harus sabar menunggu informasi dari Jasson.
"Semoga saja, kau bisa menemukan istriku, Jasson," gumam Nick.
To be continue~