Nick yang sudah tiba di rumah pun mencoba untuk mencari keberadaan Castellia di kamar. Barangkali ia keliru soal telepon rumah yang tak kunjung di terima dan Nick berharap istrinya itu memang sedang tidur karena kelelahan. Akan tetapi, harapan itu sirna saat melihat kamar istrinya kosong dan kasur masih tertata sangat rapi. Nick harus bisa terima bahwa istrinya saat ini memang hilang entah kemana. Bahkan nomor ponselnya juga sedang tidak aktif.
Saat masih termenung di atas kasur Castellia, ponsel Nick tiba-tiba berdering hingga membuat si pemiliknya tersentak dan langsung menerima panggilan yang berasal dari Jasson. Nick sedikit senang saat Jasson menghubunginya.
"Bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Nick antusias.
"Belum. Aku butuh nomor ponselnya. Barangkali kami bisa melacak lokasinya melalui nomor ponsel istrimu."
"Ah, baiklah. Aku akan mengirimkannya lewat pesan teks," ujar Nick yang baru menyadari jika cara itu adalah cara yang tepat untuk mengetahui posisi istrinya.
"Baiklah, aku tunggu."
Panggilan pun diakhiri dan Nick langsung mengirim nomor ponsel Castellia kepada Jasson melalui pesan teks. Setelahnya, Nick memilih untuk merebahkan diri di kasur istrinya sambil menunggu informasi lanjutan dari Jasson. Sebenarnya ia sangat mengantuk, tapi pikirannya masih belum tenang.
Nick pun memutuskan untuk mengambil beberapa berkas di kamarnya beserta Macbook yang biasa ia gunakan, lalu mengerjakan segala pekerjaannya di kamar sang istri. Sementara itu, Jasson tampak bergerak cepat dan meminta salah satu rekannya untuk melacak nomor ponsel Castellia. Setelah beberapa saat dilacak, akhirnya Jasson menemukan lokasinya. Jasson bergegas menuju lokasi tersebut dengan membawa beberapa anak buahnya sebagai upaya perlindungan. Jasson tidak menghubungi Nick karena ingin mengeceknya terlebih dulu. Barangkali ada kekeliruan saat pelacakan tadi.
Setelah mengemudi sekitar 1 jam lebih, akhirnya Jasson beserta anggotanya pun tiba di lokasi yang sudah mereka lacak tadi. Di depan Jasson, terdapat sebuah bar elit yang cukup terkenal di daerah tersebut. Lokasi terakhir yang Jasson dapatkan adalah di bar tersebut. Jasson langsung memasuki bar sambil menunjukkan lencana kepolisiannya kepada dua orang petugas keamanan yang menghalangi langkahnya. Ia juga menjelaskan tengah mencari seseorang dan akhirnya ia diizinkan masuk ke dalam bar. Untung saja saat itu Jasson tidak berpakaian dinas.
"Kalian cari di sudut sana, aku di area sini."
Jasson memerintahkan anggotanya untuk berpencar. Jasson mengitari seluruh bar hanya untuk mencari Castellia. Ia merasa kasihan pada Nick yang sangat cemas dengan kondisi istrinya. Saat hendak menuju tempat lain, tiba-tiba Jasson dikejutkan dengan suara gaduh dari arah meja bartender. Ia melihat seorang wanita cantik bersetelan kemeja putih polos tampak diganggu oleh beberapa p****************g di sana. Jasson berjalan mendekati wanita yang sedang meronta itu sambil memerhatikan wajahnya yang tidak asing di matanya.
Jasson pun memeriksa ponselnya dan melihat sebuah foto. Ia terkejut melihat wanita di depannya adalah istri dari Nick. Jasson langsung meminta anggotanya untuk menjauhkan pria-pria itu dari Castellia. Castellia terlihat sudah sangat mabuk, bau alkohol pun sangat menyengat dari napasnya.
Setelah berhasil mengamankan Castellia, Jasson segera mengirimkan pesan singkat pada Nick untuk menjemput istrinya di lokasi yang telah ia share. Nick pun membalas dengan cepat dan Jasson diminta untuk tetap menjaga istrinya sampai Nick tiba.
Satu jam kemudian, Nick tiba di depan bar dan sudah melihat Castellia terduduk di salah satu kursi berukuran sedang sambil meracau tidak jelas. Nick segera menghampiri istrinya dan menggendongnya, kemudian mendudukkannya di kursi mobil bagian depan. Setelah itu, Nick berterima kasih pada Jasson karena telah membantunya mencari Castellia.
"Terima kasih atas bantuannya, Jasson," ucap Nick menjabat tangan Jasson.
Jasson mengangguk. "Jaga istrimu baik-baik. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi.
"Aku pastikan tidak akan terulang."
"Itu bagus. Cepat, bawa dia pulang," ujar Jasson.
"Baiklah. Aku duluan."
Nick bergegas pergi dari tempat tersebut. Di sepanjang jalan, Castellia masih meracau tidak jelas, bahkan sampai menarik rambut Nick. Nick hanya meringis kecil saat tarikan itu menyakiti kulit kepalanya. Nick juga mendengar nama Vincent disebutkan oleh istrinya. Seketika, timbul rasa cemburu di hati Nick, namun ia mencoba memaklumi kondisi Castellia. Mungkin saja, istrinya itu kesal pada Vincent karena masih mengganggu kehidupannya.
Setelah tiba di rumah, Nick bergegas menggendong Castellia dan menidurkannya di atas tempat tidur. Nick mengambil wadah sedang lalu mengisinya dengan air hangat, kemudian membasuh wajah istrinya agar menjadi lebih rileks. Untungnya Castellia tidak memberontak sedikitpun.
Saat membasuh wajah istrinya, Nick tak sengaja melihat airmata Castellia mengalir, meski kedua matanya terpejam. Ia tahu, Castellia sedang berada di fase yang sulit. Ditinggalkan kekasihnya saat pernikahan, menikah dengan pria yang tidak dicintainya, dan sekarang mantan kekasihnya kembali mengganggunya.
Nick menghapus airmata itu lalu mencium kening Castellia. "Tidurlah. Kau sudah melewati hal yang melelahkan hari ini. Aku janji, tidak akan membiarkan siapapun menyakiti atau mengganggumu lagi."
Setelah itu, Nick menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas leher, kemudian mematikan lampu kamar istrinya. Ia pun keluar dari sana dan turun ke bawah untuk melanjutkan pekerjaannya. Kali ini, ia bekerja di ruang tamu untuk berjaga-jaga, barangkali istrinya terbangun dan memerlukan sesuatu.
Suami siaga.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi dan Castellia sudah terbangun dari tidur lelapnya. Ia meringis saat kepalanya terasa berdenyut dan berat. Castellia meraih segelas air putih yang memang sudah disediakan Nick tadi malam, kemudian meminumnya hingga habis. Setelah itu, Castellia turun dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia sama sekali belum mengingat apa yang terjadi semalam.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Castellia bergegas keluar dari kamar untuk menemui suaminya. Ia mengira Nick masih tidur, namun kenyataannya tidak. Nick justru sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk istrinya.
"Kau sudah bangun?" tanya Castellia.
Nick menatap istrinya lalu mendekatinya "Sudah. Aku sudah siapkan sarapan untukmu."
"Terima kasih."
"Bagaimana kondisimu?" tanya Nick dengan wajah cemasnya.
"Aku baik," jawab Castellia sambil duduk di kursi meja makan. "Hanya saja, kepalaku masih sedikit pusing."
Nick turut duduk di samping kanan Castellia. "Itu mungkin efek alkohol yang kau minum semalam."
"Hah? Alkohol?"
Nick mengangguk. "Apa kau tidak ingat?"
Castellia terdiam. Ia berusaha mengingat kejadian apa yang terjadi semalam, sampai dirinya nekad minum alkohol dalam jumlah yang banyak. Setelah mengingat semuanya, wajah Castellia mendadak murung dan itu semakin membuat suaminya khawatir.
"Maafkan aku. Aku pasti sudah merepotkanmu," ucap Castellia.
"Ah, tidak. Aku justru mencemaskanmu, karena kau hilang dan tidak bisa dihubungi. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Di luar sana sangat berbahaya," kata Nick. "Temanku yang membantu mencari keberadaanmu. Dia bilang, kau sempat diganggu oleh p****************g saat di bar. Untung saja mereka melindungimu."
Castellia menatap Nick dengan tatapan hangat. "Terima kasih. Kau selalu mengerti aku."
"Aku hanya berusaha menjadi suami terbaik untukmu. Aku sudah berjanji pada Tuhan, tidak akan pernah menyakitimu dan tidak akan membuatmu menangis," ujar Nick sembari tersenyum.
Castellia membalas senyuman manis suaminya. "Apa aku meracau hal aneh semalam?"
"Iya. Bahkan kau juga menarik rambutku," jawab Nick sambil terkekeh saat mengingat hal itu. Meski sakit, Nick tidak marah pada istrinya.
"Benarkah?" Castellia merasa kasihan dan mengelus kepala Nick yang sakit karena ulahnya kemarin malam. Jika sudah mabuk, siapapun akan kehilangan kontrolnya. "Maafkan aku. Aku sungguh menyesal," lanjutnya.
Nick masih memasang senyumannya lalu menurunkan tangan Castellia yang masih mengelus kepalanya. Ia menggenggam tangan tersebut dengan erat. "Kau tidak salah apapun. Aku juga tidak marah padamu, Istriku. Aku yakin, pria itulah yang membuatmu menjadi kacau semalam."
"Kau benar. Dia menggangguku kemarin," ujar Castellia sambil menunduk.
"Jika kau mengalami kesulitan, segera hubungi aku. Aku akan melindungimu."
Castellia kembali menatap Nick. "Bisakah hari ini aku libur saja? Aku masih takut."
"Tentu saja. Aku akan meminta Nyonya Green untuk menemanimu di sini," kata Nick.
Castellia pun mengangguk lalu menghabiskan sarapan yang dibuatkan oleh suaminya. Tidak disangka, Nick adalah pria terhangat yang pernah ia jumpai.
To be continue~