Bab 11

1338 Words
Nick tiba di kantor tepat waktu. Hari ini dia akan mengadakan rapat khusus dengan beberapa kliennya yang datang dari luar negeri. Segala persiapan sudah dilakukan oleh karyawannya dan Allan sudah menunggu kedatangan Nick. Nick memulai pembukaan dalam rapatnya lalu mempresentasikan materi yang ada di Mackbooknya. Seluruh klien tampak mendengarkan penjelasan Nick. Sementara Allan izin untuk keluar sebentar dari ruang rapat karena harus menerima panggilan dari seseorang. Nick merasa penasaran, namun ia tetap melanjutkan presentasenya hingga selesai. Beberapa klien mulai mengajukan pertanyaan seputar materi yang disampaikan dan dijelaskan kembali oleh Nick. Tak lupa ia juga memberikan beberapa contoh yang berkaitan dengan project mereka. Allan sendiri tampak berdiri menjauh dari depan ruang rapat. Ia sedang berbicara dengan seseorang via telepon, namun raut wajah Allan terlihat sangat kesal. Pasalnya, si penelepon mengganggu acara rapatnya, padahal ini rapat yang sangat penting. Untung saja Nick bukan Bos yang tukang komplain. Kalau tidak, mungkin Allan akan mendapat omelan sepanjang waktu. "Kenapa kau menggangguku?! Kau kan tahu, hari ini sedang ada rapat khusus dan penting!" gerutu Allan kesal. "Kau kan bisa meneleponku saat jam makan siang!" "Aku sedang bosan. Jadi kau saja yang aku telepon." Allan mengusap wajahnya. "Bagaimana kasusmu itu? Sudah selesai?" "Ya, begitulah. Aku sudah memberinya uang, tapi tetap saja tidak mau berhenti meminta tanggung jawab padaku." "Astaga!" Allan mulai frustrasi menghadapi temannya satu ini. Siapa lagi kalau bukan Michael yang selalu membuat kericuhan dan akan menyusahkan Allan. "Kau ini! Ya ampun! Harus berapa kali kukatakan, jangan menyelesaikan dengan cara seperti itu! Uang tidak bisa menyelesaikan segalanya!" Tingkat emosi Allan sudah diambang batas. Ia tak tahan lagi jika Michael terus saja membuat hal-hal aneh seperti ini. Memang, uang Michael itu banyak dan segalanya bisa ia beli. Tapi jika urusannya menyangkut harga diri seseorang, Michael tidak bisa menggunakan uangnya sepeserpun. Otak Michael memang sudah kacau dan sangat susah untuk diberitahu. "Hei, santai saja. Lagipula, dia itu hanya wanita munafik. Kau tidak perlu semarah itu, Allan. Kau tahu kan, dia hanya seorang kupu-kupu malam." Allan menggeram kesal. "Kau pikir, kupu-kupu malam itu tidak punya harga diri? Dasar gila! Dia juga manusia biasa! Aku rasa, dia terpaksa melakukan pekerjaan itu karena kesulitan ekonomi. Tapi bukan berarti kau bisa merendahkannya dengan cara memberinya sejumlah uang! Dimana otakmu, hah?!" "Kau tidak tahu apapun tentang dia!" "Aku memang tidak tahu apapun tentangnya, tapi aku punya pemikiran yang waras dibanding kau, Michael! Kau sama sekali tidak mengerti tentang perasaan seseorang. Kau selalu mempermainkan wanita. Apa kau tidak takut pada karmamu sendiri, hah?!" teriak Allan. "Ada apa?" Allan tersentak saat Nick menepuk bahunya. Ia menoleh ke belakang dan langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Disimpannya ponsel itu kedalam saku celananya lalu mengajak Nick untuk ke ruang pribadi. Allan benar-benar harus mendiskusikan masalah ini dengan Nick. Allan yakin, Nick pasti bisa memberikan penjelasan pada Michael yang keras kepala itu nantinya. Mereka berdua pun sudah berada di ruang pribadi yang biasa mereka gunakan untuk bersantai saat jam makan siang. Kebetulan, rapat sudah selesai dan Allan menjadi absen dalam rapat tersebut. Untung saja asistennya sudah membuatkan note untuknya. "Ada apa?" tanya Nick setelah duduk di salah satu sofa single di sebelah Allan. "Siapa yang menelepon? Kenapa kau sampai berteriak seperti itu?" Allan menghela napas berat sejenak. "Ini masalah Michael, Nick." "Apakah dia yang menelepon tadi?" "Iya. Aku sudah lelah melihat tingkahnya itu, Nick. Dia tidak bisa berpikir dewasa sedikitpun. Padahal aku sudah berusaha menasehatinya, tapi ... dia tetap saja egois," ujar Allan, mengeluarkan segala keluh-kesahnya pada Nick. "Memangnya, apa yang dia perbuat sampai kau frustrasi seperti ini?" tanya Nick. "Dia, wanita yang ada di masa lalunya datang untuk meminta pertanggung-jawaban karena sedang mengandung anak Michael. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak menggunakan uangnya dalam menyelesaikan masalah ini. Tapi dia tidak mau dengar," Allan menjelaskan dengan emosi yang masih meledak-ledak. "Memang, wanita ini seorang kupu-kupu malam dan Michael selalu menyewanya saat sedang ingin melampiaskan nafsunya. Michael tidak pernah menggunakan pengaman apapun, sampai akhirnya hal ini terjadi." "Ya Tuhan," gumam Nick terkejut. Allan melihat ekspresi terkejut Nick. Ia tahu, Bosnya itu akan terkejut mendengar kebejatan seorang Michael. "Aku tahu, kau pasti terkejut mendengar ini. Tapi, begitulah Michael." "Apakah ini salah satu kebiasaan buruk yang sering kau ucapkan padanya?" tanya Nick. "Iya. Aku tahu semua tentang kehidupannya." Nick bersandar di sofa karena tubuhnya mendadak lemas setelah mendengar berita mengejutkan ini. Nick tidak menyangka jika Michael bisa melakukan tindakan seperti itu, sampai wanitanya hamil dan Michael hanya menyodorkan sejumlah uang. Atau mungkin, bisa saja Michael meminta wanita itu untuk menggugurkan kandungannya. Sungguh tidak bisa Nick bayangkan jika hal itu sampai terjadi. "Michael memang tidak suka berhubungan hanya dengan satu wanita saja. Dia juga tidak ingin terikat dengan wanita manapun. Aku sampai heran, kenapa dia bisa hidup dengan cara seperti itu?" ujar Allan yang begitu pusing memikirkan sifat Michael. "Entahlah. Aku juga masih syok saat tahu sifat aslinya," sahut Nick. "Yang aku pikirkan saat ini kondisi wanita itu. Dia pasti sangat marah dan malu pastinya." "Kau benar. Jangan sampai Michael memaksa wanita itu untuk menggugurkan kandungannya. Kalau sampai terjadi, aku yang akan menghajar Michael." Nick menatap Allan. Dia tahu, Allan sangat peduli padanya dan juga Michael. Allan satu-satunya orang yang selalu mengerti Nick maupun Michael. Bedanya, Nick sangat baik dan mudah untuk dinasehati, sedangkan Michael lebih mengutamakan keegoisannya. "Tapi, bagaimana bisa wanita itu hamil anak Michael? Bukankah kau bilang wanita itu adalah masa lalu Michael? Harusnya mereka sudah lama tidak berhubungan, kan?" Nick bertanya lebih detail pada Allan. "Dulu, Michael dan wanita ini berada di satu fakultas yang sama dan mereka menjalin hubungan yang cukup lama juga. Tapi setelah lulus, Michael memutuskan wanita itu secara sepihak tanpa memberi alasan yang jelas. Aku dengar, wanita itu hanya berasal dari kalangan biasa dan orang tua Michael menentang hubungan mereka. Mungkin karena itu juga Michael memutuskan secara sepihak. Setelah bertahun-tahun tidak berjumpa, akhirnya mereka dipertemukan lagi di salah satu klub malam yang biasa dikunjungi Michael. Saat itu, Michael mengatakan bahwa dirinya ingin menyewa wanita itu sebagai pemuas nafsunya saja, karena dia tahu wanita itu seorang kupu-kupu malam," Allan menjelaskan panjang lebar agar Nick memahami segala kejadiannya. Nick menganggukkan kepala. "Apakah hubungan itu masih berlanjut sampai sekarang?" "Mereka masih menjalin hubungan, sampai pada akhirnya wanita itu hamil. Aku juga tidak bisa memastikan, apakah benar itu anak Michael atau bukan. Tapi yang jelas, wanita itu mendatangi Michael dan meminta pertanggung-jawaban," ujar Allan. "Ah, jadi begitu." "Menurutmu, jika kau ada di posisi Michael, apa yang akan kau lakukan?" Allan balik bertanya pada Nick. Ia hanya ingin mendengar pendapat Nick saja. "Jika aku jadi Michael, mungkin aku akan mencari tahu, apakah setelah wanita itu kusewa, dia berhubungan lagi dengan pria lain. Jika memang tidak, itu artinya anak yang dikandung wanita itu adalah anakku. Tapi jika di belakangku dia bermain dengan pria lain, kemungkinan itu anak pria lain atau anakku. Dan pastinya akan kulakukan uji DNA untuk memastikannya," jawab Nick. "Berarti kita sepemikiran, Nick," kata Allan. "Aku juga sudah mengatakan hal itu pada Michael. Harusnya dia mencari-tahu lebih dulu. Jika memang itu anak dari pria lain dan pria itu tidak ingin bertanggung-jawab, aku rasa tidak masalah untuk membantu biayanya." Nick tersenyum. "Lebih baik, Michael menikahi wanita itu. Kasihan wanita itu jika harus menanggung semuanya sendiri. Kalau pun anak itu bukan anak Michael, setidaknya wanita itu tidak malu untuk berhadapan dengan orang-orang." "Ya Tuhan! Pemikiranmu benar-benar dewasa, Nick," Allan memuji. "Aku tidak tega melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu, Allan. Apapun pekerjaannya, dia tetaplah seorang wanita. Kita harusnya sebagai seorang pria, menghormati mereka dan menjaga mereka dengan baik. Kita terlahir juga dari rahim seorang wanita. Itu sebabnya, aku tidak pernah menyakiti istriku, apalagi berkata kasar padanya." "Kau pria yang hebat, Nick." Allan merasa bangga memiliki seorang sahabat yang baik hati seperti Nick. Bukan hanya pada wanita, Nick juga baik ke semua orang. Tidak pernah membeda-bedakan statusnya yang merupakan seorang bos besar dengan harta yang tidak habis tujuh turunan. "Beruntung sekali istrimu mendapatkan seorang suami sepertimu, Nick," lanjutnya. Nick terkekeh. "Aku tidak sehebat yang kau kira, Allan. Aku hanya mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Lagipula, usia kita tidak lagi muda." "Ya, kau benar." To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD