Bab 12

1479 Words
Castellia duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Ia merebahkan dirinya sembari menghela napas. Kelihatannya ia sedang bosan siang ini. Nyonya Green hanya menemaninya sebentar karena wanita tua itu harus menjemput cucu dan menantunya di bandara. Tinggalah Castellia sendiri di rumah. Ia benar-benar butuh teman untuk menghilangkan rasa bosannya ini. Wanita muda ini mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya. Dia yakin, suaminya pasti sedang istirahat makan siang di kantor. Entah kenapa, Castellia membutuhkan Nick hari ini. Mungkin karena ia sedang merasa bosan saja. Pikirnya. "Halo, Istriku," sapa Nick di seberang telepon. "Halo," balas Castellia. "Nick, apa kau sibuk hari ini?" "Tidak terlalu. Kau butuh sesuatu?" Castellia tersenyum. Hatinya merasa senang saat suaminya tahu jika dirinya memang membutuhkan sesuatu. "Aku bosan, Nick." "Bosan?" "Iya. Nyonya Green sedang sibuk dan dia hanya menemaniku sebentar saja," ujar Castellia menjelaskan. "Ah, begitu. Jadi, kau sendirian di rumah?" Castellia mengangguk sendiri. "Memangnya ada siapa lagi di rumah ini, selain kau dan aku?" "Makhluk halus, mungkin." Seketika Castellia merinding lalu mendecak kesal. Suaminya itu ternyata bisa jahil juga. Ia tidak memperkirakan hal itu sebelumnya. "Jangan bercanda," rengeknya. Terdengar suara Nick sedang tertawa di sana. "Iya, maaf ya. Atau mau aku teleponkan Katharina untuk menemanimu di sana?" Mendengar nama itu membuat Castellia merasa mual, apalagi jika mengingat kenyataan bahwa Katharina sedang mengandung anak dari mantan kekasihnya. Itu benar-benar menjijikkan bagi Castellia. Baginya, Katharina adalah seorang sahabat yang munafik, baik di depan namun menusuk di belakang. Ia tidak menyangka wanita itu akan menikungnya dengan cara yang murahan. "Istriku, apa kau masih di sana?" Castellia tersadar dari lamunannya. "Masih." "Bagaimana dengan tawaranku tadi? Apa kau mau?" "Tidak, Nick. Aku tidak butuh siapapun kecuali ... kau," jawab Castellia. "Aku?" "Iya, Nick. Apa kau bisa membawaku jalan-jalan sebentar?" tanya Castellia. "Tapi jika tidak bisa, aku tidak akan memaksamu." "Apapun akan kulakukan untukmu, Istriku. Tunggu aku ya. Sebentar lagi aku akan pulang ke rumah dan membawamu jalan-jalan." Castellia melompat kesenangan tanpa bersuara agar Nick tidak mendengarnya. "Baiklah. Aku menunggumu." Panggilan telepon diakhiri dan Castellia mulai menjerit kesenangan sambil melompat seperti anak kecil. Jika Nick melihat ini, mungkin ia akan tertawa dan merasa gemas. Bersama Nick, Castellia merasa dihargai dan dihormati. Pria seperti Nick ini sangatlah langka dan hanya wanita beruntung yang bisa memilikinya. Setelah lelah melompat-lompat, Castellia menatap foto pernikahannya dengan Nick yang dipajang di dinding ruang tamu. Castellia sedikit kesal karena saat itu wajahnya benar-benar sangat jelek. Ia sedang cemberut dan itu sangat buruk. Astaga! Castellia menyesali hal itu. Harusnya saat itu dia tersenyum bangga, karena dirinya bisa menikah dengan pria tampan yang mandiri dan kaya raya, tidak seperti Vincent. Drrtt! Ponsel Castellia bergetar sebentar dan ia langsung melihat pesan singkat yang dikirimkan oleh suaminya. Ia tersenyum karena suaminya sedang berada di jalan menuju rumah dan meminta dirinya untuk bersiap-siap. Castellia bergegas ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan pakaian dress tanpa tangan yang panjangnya sedikit di atas lutut. Dress itu berwarna merah muda dan itu sangat cocok digunakan Castellia. Setelah selesai dengan pakaiannya, Castellia mulai merias wajahnya agar terlihat lebih fresh dan tidak membuat Nick malu. Hatinya merasa senang hari ini karena sikap manis suaminya. Sepertinya, pilihan Castellia untuk membuka hati sudah benar. Jika tidak sekarang, dia akan menyesal nantinya. Beberapa saat setelah selesai merias wajahnya, Castellia pun keluar dari kamar dan melihat suaminya baru saja masuk ke rumah. Castellia tersenyum lantas bergegas turun untuk menemui pria tampan itu. "Hai," sapa Castellia. Nick terpesona akan kecantikan istrinya. "Cantik sekali." "Benarkah?" tanya Castellia. Nick mengangguk. "Ayo, kita berangkat." "Tunggu." Castellia menahan langkah suaminya lalu mendekat dan membenarkan dasi yang digunakan suaminya. "Dasinya miring, Suamiku. Kau harus tampil rapi," lanjutnya. Nick tersenyum lalu mencium kening istrinya. "Terima kasih." Castellia seketika mematung karena ciuman di keningnya. Nick pun menggandeng tangan Castellia dan mengajaknya untuk segera pergi. "Dia manis sekali!" batin Castellia menjerit kegirangan. Tiergarten merupakan taman dalam kota yang paling terkenal di Berlin. Taman Tiergarten memiliki ukuran 210 hektar dan menjadi salah satu taman kota terbesar di Jerman. Di taman indah ini, wisatawan bisa menikmati piknik dengan tenang sembari melihat sejuknya pemandangan. Selain itu, pengunjung bisa melakukan kegiatan jogging, bersepeda, bermain sepak bola, dan lainnya. Dan beberapa saat yang lalu, Nick dan Castellia sudah tiba di taman tersebut. Mereka berdua menikmati pemandangan yang sejuk sambil bersepeda. Kebetulan Nick membawa 2 sepeda lipatnya di dalam mobil. Castellia terlihat begitu bahagia karena rasa bosannya hilang dalam sekejap. Ia terus mengucapkan terima kasih kepada suaminya, karena hal ini. Nick memandang istrinya sambil tetap mengayuh pedal sepedanya. Nick merasa senang bisa membuat istrinya tersenyum. "Apa kau bahagia?" tanyanya kemudian. "Tentu saja," jawab Castellia begitu antusias. "Terima kasih, Suamiku." "Ya, Istriku." Castellia mendadak mengayuh sepedanya dengan kencang dan membuat Nick terkejut. Setelah jauh, Castellia menoleh ke belakang dan berteriak pada suaminya, "Ayo, kejar aku, Suamiku!" "Astaga." Nick tertawa lalu mengayuh sepedanya untuk mengejar sang istri. "Tunggu aku, Istriku! Aku akan mengejarmu!" teriaknya agar Castellia mendengarnya. "Coba saja!" Keduanya tampak menikmati keseruan di taman tersebut. Bahkan beberapa pasangan yang juga berkunjung ke sana merasa iri dengan kemesraan mereka. Nick dan Castellia memang merupakan pasangan yang serasi. Tak heran jika mereka mampu menarik perhatian pengunjung lain di sana. *** Setelah puas bermain di taman, Nick kembali mengajak Castellia menuju sebuah museum terkenal di Berlin. Museum Island atau biasa disebut dengan Museumsinsel merupakan museum untuk tempat mengoleksi berbagai macam kreasi seni dan arkeologi. Castellia sangat menyukai hal tersebut dan sudah beberapa kali ia mengambil foto bersama suaminya. Bahkan ia mengupload foto-foto kemesraannya di sosial media. Beberapa orang mengomentari foto-foto tersebut dan merasa senang dengan kemesraan mereka. Tak lupa juga Castellia menandai akun sosial media suaminya di foto tersebut. Sontak hal itu membuat teman-teman Nick turut berkomentar, termasuk Allan. Castellia menunjukkan seluruh komentar itu pada suaminya. "Mereka mendoakan hubungan kita," ujar Castellia. "Iya, Istriku. Aku juga berdoa demikian untuk keluarga kita," ucap Nick sembari tersenyum hangat pada istrinya. "Aku harap, kau tidak akan bosan lagi dan melupakan kejadian yang membuatmu sedih." Castellia menatap suaminya lalu memeluknya. "Terima kasih. Kau selalu mengerti aku, Nick. Aku benar-benar beruntung bisa mengenalmu dan menikah denganmu. Maafkan aku jika awal pernikahan, aku bersikap tidak baik padamu. Aku hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri." "Tidak apa-apa." Nick membalas pelukan Castellia sambil mengelus rambutnya. "Aku tidak pernah marah padamu. Aku paham, tidak mudah bagimu untuk menerima keberadaanku dalam waktu yang singkat," lanjutnya. Castellia melepas pelukannya dan sedikit mendongak untuk bisa menatap wajah tampan suaminya yang berhati baik itu. "Ayo, kita mulai semuanya dari awal. Aku akan berusaha untuk menerima perasaanmu." "Iya, kita mulai semuanya dari awal. Aku akan menunggu saat dimana kau mengatakan cinta padaku," ujar Nick sambil mencubit pelan hidung mancung Castellia. "Sampai waktunya tiba, kita akan melakukan malam pertama di pulau yang kau inginkan." Castellia tertawa lalu memukul d**a bidang suaminya. "Dasar m***m!" "Aku hanya bercanda," ujar Nick turut tertawa. "Serius juga tidak masalah." Nick memicing. "Benarkah?" "Tatapanmu sangat mengerikan," gerutu Castellia. Nick kembali tertawa lalu membawa Castellia untuk kembali mengelilingi museum tersebut. Mereka tidak menyadari jika sedari tadi, ada seseorang yang sedang mengintai kegiatan mereka. Seseorang tersebut mengepalkan kedua tangannya sambil menatap tajam ke arah Nick dan Castellia secara bergantian. *** Setelah lelah berjalan mengunjungi tempat terindah di Berlin, Nick mengajak Castellia untuk makan malam di salah satu restoran mewah. Nick menarik kursi untuk istrinya. Selanjutnya, Nick duduk di kursi satunya lagi. Restoran yang mereka kunjungi bernama Nobelhart & Schmutzig yang terletak di Friedrichstraße 218, 10969 Berlin, Jerman. Nick dan Castellia memilih beberapa menu populer di restoran tersebut yaitu kale, apple potato, ice cream sundae, steak dan chardonnay. Setelah pesanan mereka datang, mereka pun menikmatinya. Sesekali mereka berbincang tentang banyak hal dan tertawa bersama. Saat Castellia menikmati es krimnya, tiba-tiba ia mengingat soal Katharina. Ingin sekali rasanya ia bertanya pada Nick. Ia hanya ingin tahu, apakah suaminya ikut terlibat atau tidak? Pertanyaan itu masih terus menghantuinya. "Ada apa?" tanya Nick seolah tahu istrinya tengah memikirkan sesuatu. "Ada yang ingin kau sampaikan padaku? Jika ada, katakan saja. Aku akan mendengarnya." Castellia berdeham. "Nick, boleh aku tanya sesuatu?" "Tentu saja." "Ehm... apakah kau tahu kalau Katharina sudah punya pasangan?" tanya Castellia sedikit ragu. "Aku tidak bermaksud ingin mengulik kehidupan pribadinya. Aku hanya...." "Tidak apa-apa. Aku tahu, kau penasaran karena dia sama sekali tidak pernah terlihat membawa seorang pria ke rumah. Benar, kan?" Castellia mengangguk. "Apa dia pernah bercerita padamu?" "Aku pernah bertanya padanya tentang hal itu. Dia menjawab, ada seorang pria yang sudah sangat dia cintai sejak lama dan dia bilang kalau pria itu juga mencintainya," jawab Nick sambil meminum chardonnay yang ia pesan tadi. "Ah, begitu. Sejak kapan dia bercerita seperti itu?" tanya Castellia lagi. Nick berusaha mengingatnya sejenak. "Aku rasa sekitar delapan bulan yang lalu." Castellia terkejut setengah mati. Delapan bulan lalu, dia dan Vincent masih berhubungan. Jadi, mereka sudah berhubungan di belakangnya selama itu? Astaga! Kenapa Castellia tidak menyadarinya? "Memangnya kenapa, Istriku?" Nick balik bertanya. "Nick," panggil Castellia dengan nada bergetar. "Ya, ada apa?" "Pria yang dicintai adikmu adalah Vincent." To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD