Bab 13

1729 Words
"Pria yang dicintai adikmu adalah Vincent." Nick tersedak minumannya setelah mendengar pernyataan Castellia. Ia menatap istrinya dan berusaha mencari sebuah kebohongan di sana, namun ia tidak menemukannya. Dilihatnya kedua mata Castellia tampak berkaca-kaca, menahan airmatanya agar tidak keluar. Nick merasa terkejut mendengar hal tersebut. Selama ini, ia tidak mengetahui dengan siapa adiknya berhubungan, karena memang Katharina sangat pintar menyembunyikan sesuatu, sekalipun itu hal yang penting. Castellia dengan segenap kekuatannya, mulai menceritakan banyak hal mengenai hubungan gelap Vincent dan Katharina kala itu. Nada suaranya juga bergetar, hingga memaksa Nick untuk menggenggam tangan istrinya. "Menangislah. Aku tidak akan melarangmu," ucap Nick lembut. "Keluarkan semua hal yang masih mengganjal, baik di hati maupun pikiranmu. Aku siap mendengarkannya, meski ini juga terlalu sakit untukku." Castellia menatap sendu suaminya. "Kau masih bisa begitu tegar, Nick. Aku iri padamu. Aku bahkan tidak mampu setegar itu." "Jika kau tidak sanggup, akulah yang akan menopang segala kesedihanmu. Itu sebabnya aku harus tegar. Jika aku ikut terpuruk, lalu siapa yang akan menguatkanmu, hm?" ujar Nick sambil mengusap-usap punggung tangan istrinya. "Sejujurnya, aku mengira kau ... mengetahui rencana Katharina dan kau sengaja menjebakku dengan pernikahan ... agar Katharina bisa menikah dengan Vincent." Bukan sakit hati atau marah, Nick justru tersenyum. "Aku sudah mengira hal itu. Jujur, aku sama sekali tidak tahu hubungan Katharina dengan Vincent. Yang aku tahu, dia sedang mencintai seseorang, tapi aku tidak mengira jika orang tersebut adalah mantan kekasihmu." "Lalu, kenapa kau mau menikahiku? Apakah ini permintaan Katharina juga?" tanya Castellia penasaran. "Padahal kita berdua belum mengenal lebih dekat." "Aku menikahimu karena cinta." Castellia mengernyit tak mengerti. "Cinta? Bukankah kita baru bertemu di gereja untuk pertama kalinya?" "Sebenarnya, aku sudah sering kali melihatmu. Aku sering mengantarkan adikku ke rumah sakit dan selalu melihatmu berjalan bersama adikku saat memasuki rumah sakit. Aku sempat bertanya pada adikku tentang dirimu. Ayahmu juga pernah memberikan fotomu padaku saat mereka ingin menjodohkan kita," ujar Nick jujur. "Astaga. Jadi kau sudah sering melihatku dan sudah tahu segalanya tentangku?" Nick menggeleng. "Tidak semuanya. Hanya sebagian saja." "Pantas saja kau tahu camilan kesukaanku," ujar Castellia sambil menghapus airmatanya. "Aku bahkan sempat berpikir, kau adalah seorang cenayang." Nick tertawa mendengar hal tersebut. "Aku tidak seperti yang kau pikirkan." "Ehm... soal adikmu bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Castellia. "Aku tidak tahu, Istriku. Saat ini, aku merasa kecewa padanya. Kenapa dia setega itu padamu? Aku jadi malu padamu karena kelakuan adikku. Aku minta maaf atas nama adikku ya," ujar Nick menyesal. "Tidak, Nick. Ini bukan salahmu." "Ini juga salahku. Harusnya aku lebih mengontrol pergaulannya, karena aku kakaknya. Aku terlalu menaruh kepercayaan padanya. Sampai aku tidak mengetahui kalau adikku hamil," ujar Nick. Castellia merasa bersalah telah membuat suaminya sedih seperti itu. Tapi jika tidak diceritakan, perasaan Castellia tidak tenang. Lambat-laun, perut Katharina juga akan semakin membesar. Tidak mungkin rahasia ini disimpan rapat-rapat lagi. Setidaknya, Nick bisa mendesak Vincent untuk segera menikahi Katharina dan Castellia bisa bebas dari kejaran mantan kekasihnya itu. "Nick, aku boleh memohon sesuatu?" tanya Castellia. "Boleh. Apa itu?" "Tolong jangan memarahi Katharina. Yang salah dalam hal ini adalah Vincent. Kau harus mendesak pria itu untuk menikahi adikmu. Aku takut, Vincent akan kabur. Perut Katharina juga akan semakin membesar dan akan menjadi bahan cibiran di masyarakat nantinya," pinta Castellia. Nick menatap Castellia dengan hangat. "Kenapa kau tidak memarahi Katharina? Kenapa kau masih baik padanya?" "Aku bukan baik padanya, Nick. Aku hanya kasihan pada status anaknya nanti. Bagaimana bisa bayi yang tidak berdosa harus menanggung cemoohan dari orang lain, karena kelakuan orang tuanya di masa lalu? Aku tidak tega jika hal itu sampai terjadi," jawab Castellia. "Baiklah. Aku akan bicara baik-baik dengan Katharina, dan mendesak Vincent untuk menikahinya." Castellia tersenyum lalu kembali menghabiskan es krimnya yang sudah sedikit meleleh. Sementara Nick, masih memikirkan cara untuk memberitahukan masalah besar ini pada orang tuanya. Nick tidak yakin orang tuanya akan memaafkan Katharina begitu saja. Mereka pasti menghukum adiknya, karena sudah mencoreng nama baik keluarganya. *** Setelah makan malam, Nick dan Castellia pun kembali ke rumah. Nick meminta Castellia untuk istirahat lebih dulu, karena ia harus pergi ke rumah orang tuanya untuk menyelesaikan masalah adiknya. Semula, Castellia melarang suaminya karena sudah malam dan pasti akan mengganggu mertuanya beristirahat. Tapi tampaknya, Nick tidak bisa tenang jika masalahnya belum selesai. "Apa kau yakin akan membahasnya malam ini?" tanya Castellia. "Iya. Aku harus menyelesaikannya. Ini menyangkut nama baik keluarga, Istriku," jawab Nick yang sedang berganti pakaian. "Aku ingin mengajakmu, tapi aku khawatir adikku itu akan memarahimu. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Siapapun tidak boleh memarahi istriku." "Kau begitu perhatian padaku, Nick." "Jika bukan aku yang melindungimu, siapa lagi? Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Tidak ada yang boleh menyakitimu, sekalipun itu adikku sendiri," ujar Nick yang sudah selesai dengan setelan casualnya malam ini. Terlihat begitu tampan dan memukau. "Aku pergi dulu ya. Hati-hati di rumah." Castellia mengangguk. "Kau juga hati-hati ya. Jangan lupa kabari aku." "Pasti." Nick mencium kembali kening Castellia untuk kedua kalinya. Setelahnya ia tersenyum dan bergegas pergi menuju rumah orang tuanya. Castellia masih diam mematung sambil menyentuh keningnya. Lagi-lagi, batinnya berteriak kegirangan karena sikap manis Nick. Setelah sadar dari lamunannya, Castellia pun berniat untuk masuk ke kamar dan membersihkan diri sebelum merebahkan diri di atas kasur. Namun tiba-tiba saja tangan kirinya ditarik dengan paksa oleh seseorang. Semula, ia mengira itu adalah Nick. Sampai akhirnya ia sadar kalau orang tersebut adalah Vincent. Mata Castellia membelalak karena terkejut sekaligus takut. Castellia mencoba melepaskan tangannya dari Vincent, namun tidak bisa. Cengkeraman pria itu sangat kuat dan tidak sesuai dengan tenaga Castellia. "Lepaskan tanganku!" teriaknya. "Tidak akan kulepaskan. Malam ini, kau milikku, Castellia," ujar Vincent sambil mendorong tubuh Castellia ke atas sofa ruang tamu. Tatapan matanya sangat mengerikan. "Sepertinya, aku harus menanam benihku di rahimmu malam ini. Agar kau dan aku bisa bersama lagi." "Apa katamu?" Castellia mencoba untuk membenarkan posisinya yang semula tidur menjadi duduk. "Kau pikir, aku mau berhubungan dengan pria gila sepertimu, hah?! Aku sudah punya suami! Jadi, jangan ganggu aku lagi!" teriaknya lagi. Vincent justru tertawa lalu dengan cepat menindih tubuh mungil Castellia di atas sofa. Kedua tangan Castellia ditahan ke atas dan pria gila itu tersenyum mengerikan. Seolah ia tidak peduli dengan teriakan ataupun ucapan kasar Castellia padanya. Ia harus segera meniduri Castellia malam ini agar Nick menceraikan wanita itu dan Vincent bisa menikahinya. "Aku tidak peduli dengan ocehanmu, Sayang. Malam ini, kau harus melayaniku sebanyak mungkin agar kau bisa cepat hamil anakku." Vincent langsung mencium bibir Castellia dengan ganas, sementara Castellia terus berusaha memberontak bahkan mencoba untuk memukul kepala Vincent. Tapi tenaga Castellia tidak mampu untuk melawan pria psycho itu. Castellia berusaha berteriak meminta pertolongan, barangkali penjaga keamanan di rumahnya bisa mendengar teriakannya. Tapi itu hanya sia-sia, karena Vincent sudah lebih dulu membius si penjaga keamanan dan tidak ada yang bisa menolong Castellia saat ini. "Lepaskan aku!" "Sudahlah, Sayang. Nikmati saja permainanku nanti. Kau pasti juga menginginkannya," ujar Vincent yang mulai melucuti satu per satu pakaiannya, kemudian merobek paksa pakaian Castellia. "Aku akan bermain pelan, Sayang." Castellia justru meludahi wajah Vincent. Pria itu benar-benar menjijikkan dan membuat Castellia muak. Bisa-bisa dia ingin m*****i Castellia yang sampai saat ini masih menjaga kehormatannya, bahkan suaminya sendiri pun belum pernah menyentuh tubuhnya. "Berani sekali kau meludahiku!" Vincent menampar pipi kiri Castellia, kemudian pipi kanannya. Ia pun mulai merajai tubuh atas Castellia dan tidak peduli dengan teriakan yang memekakan telinga itu. "Suamiku!" teriak Castellia. "Nick, tolong aku!" "Dasar bodoh! Dia itu sedang pergi! Kenapa kau meneriaki namanya?! Harusnya kau menyebut namaku bodoh!" bentak Vincent. "Apa? Aku tidak sudi menyebut nama pria gila sepertimu! b******n!" balas Castellia. Vincent menggeram marah lalu mengambil sebuah tali untuk mengikat kedua tangan Castellia. Diputarnya tubuh Castellia hingga membelakanginya, lalu mengikatkan tali tersebut di tangan Castellia. Kemudian Vincent membalikkan kembali tubuh Castellia agar berhadapan dengannya. Kedua tangan pria itu dengan cepat membuka kedua kaki Castellia, namun Castellia kembali berhasil menutupnya. Biar bagaimanapun, Castellia harus menjaga kesuciannya sampai Nick yang menyentuhnya. Dalam hati, Castellia terus berdoa agar Tuhan mengirim Nick kembali ke rumah dan menghajar pria psycho ini. Castellia juga tidak berhenti menyebut nama Nick dalam hati, berharap Nick bisa merasakan ketakutannya. "Buka kakimu!" bentak Vincent. "Tidak akan!" tolak Castellia. Vincent semakin marah dan kembali menampar pipi kiri Castellia. Ia pun berusaha membuka kaki Castellia hingga akhirnya berhasil. Saat melihat kemaluan Castellia yang bersih, Vincent semakin tergoda mencoba untuk memasukinya. Namun sebelum ia benar-benar melakukannya, tubuhnya sudah ditarik dari belakang oleh seseorang dan rahangnya mendapat pukulan keras. Nick. Pria itu datang tepat waktu dan Castellia menghela napas lega karena Tuhan mengabulkan doanya. Nick pun kembali menarik Vincent dan menghajarnya untuk kedua kalinya. Baru kali ini, Castellia melihat kemarahan besar di wajah suaminya. Ia tidak menyangka jika Nick bisa sekuat itu melawan Vincent. Padahal ukuran tubuh suaminya tidak terlalu besar dibanding Vincent. Tapi kekuatannya sungguh luar biasa. Vincent terlihat tak berdaya di lantai rumah Nick. Darah terus mengalir di hidung, sudut bibir serta pelipis Vincent. Kedua pipinya juga sudah memar karena pukulan Nick yang begitu kuat. "Berani sekali kau menyentuh istriku!" Vincent menyeringai. "Memangnya kau siapa? Yang berhak menyentuhnya hanya aku." "Apa? Hanya kau?" Nick mendecih. "Harusnya kau sadar diri. Kau sudah menghamili adikku, dan sekarang kau ingin m*****i istriku? Dasar b******n!" Nick kembali memukul Vincent sampai akhirnya Castellia menghentikan Nick. Nick pun lantas menyeret Vincent untuk keluar dari rumahnya. Setelah Nick memastikan Vincent pergi, ia langsung kembali ke dalam rumah dan membuka ikatan tali di tangan istrinya. Castellia yang masih ketakutan pun langsung memeluk suaminya dengan erat sambil menangis. "Nick, aku takut." "Tenang ya. Aku sudah ada di sini," ucap Nick sambil mengelus punggung istrinya yang gemetar. "Maafkan aku karena membiarkanmu sendiri di rumah." "Kau tidak salah. Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengikuti kita. Aku benar-benar benci padanya, Nick." Nick langsung menggendong istrinya untuk masuk ke kamar. Sebelum itu, Nick mengunci pintu rumahnya agar pria gila itu tidak masuk kembali. Setelah di kamar, Nick merebahkan tubuh istrinya di atas kasur lalu membantu istrinya untuk berganti pakaian. Kemudian Nick mengobati luka memar di pipi istrinya karena tamparan Vincent. "Sekarang, kau tidur ya," kata Nick. "Aku masih takut. Temani aku di sini," pinta Castellia merengek. Nick tersenyum lalu mengangguk. "Aku akan di sini. Sekarang, tidurlah." Castellia pun menutup kedua matanya, sementara Nick mengelus kepala istrinya. Ia memang harus tetap berada di samping istrinya. Nick merasa bersalah karena membiarkan orang lain melukai tubuh istrinya. Nick masih menatap Castellia yang ternyata sudah tertidur pulas. Nick mencium kening Castellia. "Selamat malam, Istriku," ucap Nick lalu tertidur di samping Castellia sambil memeluknya. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD