Malam semakin larut, namun Castellia tak kunjung memejamkan matanya. Padahal besok ia sudah harus masuk kerja dan pasti akan menyelesaikan beberapa tugas selama dirinya cuti. Entah mengapa Castellia masih belum bisa menghilangkan tentang kejadian tadi saat Nick memberi perhatian yang lebih padanya. Selama menikah, Castellia berpikir, Nick adalah orang yang super sibuk dan pasti akan bersikap cuek padanya. Tapi ternyata tidak seperti itu. Justru sebaliknya, Castellia yang sangat cuek dan dingin pada Nick.
Castellia menghela napas panjang. Kedua matanya menatap keluar balkon yang masih terbuka. Angin malam berhembus sedikit kencang dan meniup kain gorden di pintu balkon tersebut. Sepintas ia teringat akan perkataan Katharina tentang Nick.
"Aku khawatir pada Kak Nick," ujar Katharina memulai perbincangannya saat jam makan siang berlangsung. Castellia yang mendengarkan pun hanya mengernyit heran. "Bagaimana nasib dia nanti ya?"
"Memangnya kenapa?" tanya Castellia penasaran.
Katharina menghela napas lelah. "Kak Nick itu belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Padahal aku sudah menawarkan perjodohan dengan beberapa teman wanitaku. Tapi tetap saja dia menolak."
"Apa dia normal?" tanya Castellia sedikit curiga.
Katharina mendengus kesal lalu mencubit pelan lengan Castellia yang duduk berhadapan dengannya. "Tentu saja dia normal."
"Lalu, kenapa dia menolak?"
"Sebab, dia mencari yang serius," jawab Katharina sambil mengaduk jus jeruk pesanannya.
Castellia mengernyit. "Itu prinsip yang bagus. Jaman sekarang, sangat susah mencari pria yang seperti itu."
"Justru itu, wanita yang kukenalkan padanya hanya ingin main-main saja. Mereka belum bersedia menikah saat Kak Nick menanyakannya. Itu yang membuat Kak Nick enggan berkencan lagi," ujar Katharina.
Castellia mengambil sepotong kentang goreng yang ada di hadapannya lalu memakannya sambil menatap Katharina. "Berarti, kau harus mencari wanita yang benar-benar dewasa dalam berpikir. Sama halnya seperti Nick. Wanita itu harus berprinsip sama dengannya."
"Aku tahu. Wanita yang tepat itu, kau."
Castellia tersentak dari lamunannya saat mendengar ketukan pintu dari luar. Ia hanya menoleh kearah pintu tanpa berniat membukanya. Dari luar, suara Nick terdengar.
"Istriku, apa kau sudah tidur?"
Dengan rasa malas, Castellia berjalan mendekati pintu lalu membukanya. Ia menatap Nick datar. "Kenapa?"
"Ehm... Besok kau sudah mulai bekerja?" tanya Nick.
Castellia hanya mengangguk sebagai jawabannya. Nick pun seakan kehabisan kata untuk memulai topik pembicaraan. Tatapan datar Castellia seolah memintanya untuk segera pergi karena istrinya itu merasa terusik.
"Boleh aku antar?" tanya Nick hati-hati.
Castellia menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri."
"Oh, oke."
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Castellia.
Nick menatap Castellia dengan sambil menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya bingung mau memulai pembicaraan apa lagi. Castellia masih belum bersikap santai padanya. Haruskah Nick kembali ke kamar saja? Jika tetap bertahan di sana pun, percuma saja.
Castellia mengernyit keheranan lalu melambaikan tangannya di depan wajah Nick. "Halo! Masih hidupkah?"
Nick pun tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil mengusap tengkuk lehernya. Nick benar-benar tidak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan Castellia. Entah karena hatinya yang berdebar kencang, atau karena tatapan Castellia yang tak bersahabat sama sekali padanya.
"Masih ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Castellia sekali lagi. "Kalau tidak ada, aku masuk ke kamar sekarang."
"Oh, tidak ada. Masuklah. Selamat malam."
Nick bergegas meninggalkan Castellia dan menuju kamarnya. Sementara Castellia masih menatap punggung suaminya. Sejujurnya, hati Castellia tidak tega melihat Nick kebingungan seperti itu karena sikap acuhnya. Tapi itu semua terjadi karena Castellia masih belum siap untuk kembali membuka hati. Ia takut kejadian sebelumnya akan terulang dan akhirnya ia yang menderita karena cinta.
Meskipun Katharina pernah mengatakan bahwa Nick bukanlah tipe pria yang suka menyakiti hati wanita, tetap saja Castellia masih belum bisa percaya seratus persen. Bisa saja Nick berubah setelah Castellia sudah mulai mencintainya.Castellia tidak ingin hal itu terjadi lagi. Cukup sekali ia merasakan patah hati yang teramat dalam akibat ulah Vincent. Bukan hanya sakit yang ia dapat, tapi rasa malu yang berkepanjangan.
"Maaf, Nick. Untuk saat ini, aku belum bisa mencintaimu," gumam Castellia. "Tapi mungkin, suatu hari nanti, perasaan ini akan berubah."
Castellia masuk ke kamar dan mulai memejamkan mata di atas kasurnya.
***
Pagi ini, Castellia sudah bangun dan terlihat menyiapkan seluruh peralatannya ke dalam tas. Hari ini, ia akan kembali memulai aktifitasnya sebagai Dokter Fisioterapis di rumah sakit dan harus bersiap menghadapi cibiran beberapa orang di sana karena masalah pernikahannya yang gagal dengan Vincent. Secara hubungan mereka terbilang cukup terkenal dan hampir seluruh pihak rumah sakit mengetahuinya. Tak heran jika kejadian waktu itu akan menjadi gosip yang panjang.
Castellia menghela napas berat sejenak. Jujur, dirinya masih belum siap bertemu dengan orang-orang di rumah sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi kewajiban dia sebagai dokter dan mau tidak mau ia harus menghadapinya.
Wanita berparas cantik itupun bergegas keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga satu per satu dengan wajah yang teramat murung. Hati dan pikirannya masih campur aduk. Ada satu hal lagi yang ia takutkan yaitu bertemu dengan Vincent di rumah sakit. Itu benar-benar akan menambah bebannya saja. Nick yang ternyata sedari tadi sudah memerhatikan Castellia pun langsung mendekatinya.
"Istriku," Nick memanggil dengan nada lembutnya.
Castellia pun menatap Nick yang ada di depannya. "Hhm?"
"Apa kau baik-baik saja? Ada masalah?" tanya Nick khawatir.
Castellia tersenyum tipis. "Kelihatan ya?"
"Iya," balas Nick.
"Aku cuma khawatir saja."
Nick mengernyit. "Khawatir karena apa?"
Castellia menghela napas sejenak sambil berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Ia masih diam, menatap Nick yang ikut duduk di sampingnya. "Karena pria itu. Dia bekerja di rumah sakit yang sama denganku. Aku takut... dia akan muncul di hadapanku," ujarnya kemudian.
"Ah, begitu." Nick mengangguk paham. Dia sudah menduga hal ini akan menjadi beban pikiran istrinya saat kembali bekerja. "Mau aku temani?" Nick menawarkan.
"Tidak perlu. Aku hanya tidak ingin kau mendengar cibiran dari staf di sana tentang diriku yang batal menikah karena Vincent," Castellia menolak.
"Apakah harus sampai separah itu?" tanya Nick yang merasa tidak tega melihat istrinya menjadi bahan cibiran orang-orang. "Bukankah mereka juga tahu kalau kau sudah menikah denganku? Kenapa harus membahasnya lagi?"
Castellia kembali tersenyum tipis. Untuk kedua kalinya Nick melihat senyuman itu. Apalagi Castellia juga menatapnya lebih lembut dibanding hari-hari sebelumnya. "Begitulah hidup. Ada saja orang yang mencibir hanya karena satu kesalahan."
"Tapi ini bukan kesalahanmu," bantah Nick.
"Nick, wanita memang akan selalu disalahkan oleh orang lain karena kesalahan si pria. Percaya atau tidak, itulah faktanya. Pria yang berbuat kesalahan, wanita yang menanggung rasa malunya," ujar Castellia menjelaskan. "Hanya sebagian orang yang berpikiran rasional sepertimu."
Nick termenung. "Tega sekali mereka," gumamnya.
"Sudahlah." Castellia bangkit berdiri sambil menyandang tasnya ke bahu. "Tidak perlu dipikirkan. Aku akan baik-baik saja," lanjutnya.
Nick ikut berdiri dan melangkah bersama menuju pintu depan. "Mau aku antar?"
"Tidak perlu. Kau pergi saja ke kantor. Nanti terlambat," ujar Castellia lalu berjalan keluar rumah meninggalkan Nick yang masih menatap punggung Castellia.
***
Setibanya di rumah sakit, Castellia langsung disambut oleh cibiran orang-orang di sana. Mereka menatap Castellia dengan sebelah mata sambil berbincang bersama staf yang lain. Castellia berusaha mengabaikannya dan tetap fokus berjalan menuju ruangan pribadinya. Saat berada di depan ruangan, seseorang memanggilnya. Castellia pun langsung menoleh ke sumber suara.
"Dok, sudah ada lima pasien yang menunggu," ujar salah seorang asisten Castellia.
"Oh, baiklah. Saya akan segera ke sana."
Asisten tersebut pun mengangguk lalu meninggalkan Castellia. Castellia bergegas masuk ke ruangan untuk menyiapkan alat-alat medis serta buku catatan dokter yang terletak di atas meja kerjanya. Setelah itu, Castellia langsung bergegas menuju ruang khusus fisioterapis dan memulai kewajibannya di sana. Beberapa pasien sangat merindukan kehadiran Castellia. Mereka bahkan mengaku tidak suka dengan Dokter Fisioterapis yang lain, karena tidak seramah Castellia.
"Dok, kenapa lama sekali cutinya? Kami semua rindu," ujar salah satu pasien wanita yang kira-kira berusia 55 tahun. "Dokter yang lain tidak se-ramah Dokter Castellia."
"Iya, Dok. Kami tidak suka," sahut yang lainnya.
Castellia yang mendengar keluhan pasiennya pun hanya tertawa ringan sambil tetap memeriksa pasien-pasiennya. Entah kenapa, melihat pasien-pasiennya senang akan kehadirannya kembali, membuat Castellia menjadi semangat dan melupakan sejenak masalahnya.
"Mungkin mereka sedang kelelahan. Jadi wajar saja mereka tidak ramah," kata Castellia sambil menyalin sesuatu di catatan kedokterannya. "Dokter di sini semuanya baik dan ramah."
"Tapi tidak sebaik dan se-ramah Dokter. Mereka lebih sering marah-marah pada kami," ujar wanita tadi.
"Setiap orang punya sifat yang berbeda, Nyonya. Tidak bisa disamakan seperti saya," ujar Castellia. "Saya juga manusia biasa yang punya kekurangan. Mereka juga sama. Bahkan Nyonya juga punya kekurangan, kan?"
Wanita itu mengangguk. "Dokter benar."
"Makanya itu, kita tidak boleh mengatai keburukan orang."
Wanita tersebut menunduk malu karena ucapannya tadi sangatlah salah. Harusnya ia tidak protes seperti itu. Pasien yang lain juga menunduk malu karena berargumen yang salah.
***
Setelah selesai memeriksa semua pasien, Castellia memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruangannya. Ia berjalan menelusuri koridor rumah sakit sambil mengecek catatannya tadi. Tapi di tengah perjalanan, mendadak telinga Castellia mendengar suara gaduh dari sudut lorong yang memang sangat sepi. Castellia mencoba berjalan mendekati sumber suara tersebut dan menemukan dua orang tengah bertengkar hebat.
Castellia semakin mendekati kedua orang tersebut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di antara mereka. Tapi apa yang Castellia lihat sekarang ini justru menusuk hatinya. Perih. Sangat perih. Bahkan airmata Castellia langsung menetes.
"Aku hamil anakmu, Vincent! Sampai kapan kau menunda pernikahan kita?!"
Suara itu jelas sekali terdengar di telinga Castellia. Pemilik suara itu adalah adik iparnya sendiri yaitu Katharina. Castellia tak menyangka jika Katharina memiliki hubungan dengan mantan tunangannya. Sudah berapa lama hubungan itu berlangsung? Kenapa Castellia tidak mengetahuinya? Pikir Castellia.
"Tolong bersabar! Aku juga butuh waktu untuk menenangkan pikiranku!" bentak Vincent lalu memukul tembok yang ada di belakang Katharina. "Kau tahu, aku masih sangat mencintai Castellia! Aku menyesal telah meninggalkannya di acara pernikahan itu, hanya demi kau!"
Sebuah fakta yang benar-benar menohok hati Castellia. Seketika dadanya terasa sesak, seperti dihimpit oleh dua batu besar. Ia tak menyangka, sahabatnya sendiri tega mengkhianatinya dan bersandiwara di depannya. Seolah dia adalah orang yang paling peduli pada kondisi Castellia saat itu. Padahal sebenarnya tidak.
"Sudah kukatakan untuk berhenti mencintainya!" teriak Katharina histeris. Seolah tidak terima dengan pengakuan Vincent. "Jangan sampai aku melenyapkannya, karena kau masih mencintainya!"
"Kau mengancamku, hah?!" Vincent mencengkeram rahang Katharina dan menatapnya dengan penuh kebencian. "Apa kau tidak sadar kalau wanita yang kucintai itu adalah sahabatmu, hah?! Karena kau jugalah aku batal menikah dengannya! Kau sudah merusak kebahagiaan kami! Kau dengar itu!" teriaknya lalu mendorong Katharina dengan kasar.
Castellia tampak mengepalkan kedua tangannya saat melihat drama perselingkuhan di depannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika mereka berdua merencanakan kejahatan seperti ini. Castellia juga sempat berpikir, Nick ikut terlibat dengan kejahatan mereka. Tapi itu hanya dugaannya saja. Ia tidak ingin langsung berburuk sangka pada suaminya, sebelum ia mengetahuinya dari pihak bersangkutan.
Emosi Castellia semakin meledak ketika Vincent menampar Katharina hingga tersungkur ke lantai. Meskipun ia sangat marah pada Katharina, Castellia juga tidak setuju dengan sikap Vincent yang kasar. Dalam hatinya ia bersyukur karena batal menikahi pria seperti itu.
To be continue~