Bab 7

1211 Words
Drama di antara Vincent dan Katharina masih berlangsung, hingga akhirnya seorang perawat mengejutkan Castellia dari arah belakang. Perawat itu menyadari situasi yang dilihat oleh Castellia dan memutuskan untuk sedikit berbisik saat memanggil dokter muda tersebut. Castellia pun menoleh ke belakang. "Ada apa?" "Ada pasien yang ingin melakukan kontrol, Dok," jawab perawat tersebut. Castellia mengangguk. "Kita ke sana sekarang." Castellia dan perawat tersebut bergegas pergi dari lorong tersebut menuju ruangan fisioterapis. Sembari memeriksa pasien, pikiran Castellia masih tertuju pada kejadian yang dilihatnya tadi. Semua pertanyaannya tentang Vincent yang kabur di acara pernikahannya pun terjawab sudah. Ternyata Katharina-lah penyebabnya. Sekarang, Castellia mulai bertanya, sejak kapan mereka memiliki hubungan sampai Katharina hamil? Apakah Nick mengetahui hal ini? Tapi Castellia tidak bisa mendapatkan jawabannya sekarang, karena dirinya juga mempunyai kewajiban sebagai dokter. Dia harus bekerja secara profesional dan mengesampingkan sejenak masalah percintaannya. "Besok datang lagi ya, Nyonya," ujar Castellia pada sang pasien. "Kemungkinan seminggu lagi akan sembuh total. Tapi harus tetap rajin bergerak dan minum vitamin ya." "Baik, Dok. Terima kasih." Castellia mengangguk sambil mengantarkan pasiennya hingga ke depan pintu ruangan tersebut. Selanjutnya, Castellia duduk di salah satu kursi dan menulis hasil pemeriksaannya tadi di catatannya. Beberapa pasien sudah mengalami kemajuan dan hal itu membuat Castellia sedikit menghela napas lega, karena pekerjaannya tidak sia-sia. Setelah selesai mencatat, Castellia kembali termenung sambil menatap ke arah luar jendela ruangan. Pikirannya masih seputar kejadian tadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Katharina dan Vincent menyembunyikan hal sebesar ini darinya? Kalau saja mereka berdua mengatakan yang sejujurnya, mungkin Castellia masih bisa memaafkan dan memilih untuk merelakan Vincent menikah dengan Katharina. Tapi sayangnya, mereka tidak melakukan itu dan malah bersekongkol untuk membuatnya malu di depan publik. Bagaimana bisa mereka berpikiran licik seperti itu? Castellia menghela napas lelah. Haruskah ia menanyakan hal ini pada suaminya? Tapi, ia terlalu takut. Takut jika pertanyaannya justru menyinggung perasaan Nick. Bisa saja Nick tidak tahu apapun soal kelakuan adiknya. "Atau aku tanya langsung saja pada Ibu Mertua?" gumam Castellia. Sedetik kemudian ia menggeleng keras. "Tidak. Itu sama saja memperkeruh suasana. Aku tidak mau membuat keluarga Nick menjadi ribut karena pertanyaanku itu." Castellia pun bangkir berdiri dan meninggalkan ruangan fisioterapis menuju ruangan pribadinya. Saat melewati lorong itu, Castellia sudah tidak melihat lagi keberadaan Vincent dan Katharina di sana. Ia pun menghela napas lelah lalu bergegas masuk ke ruangan. Rasanya hari ini waktu bergerak begitu lambat. Entah kenapa, ia ingin cepat pulang dan bertemu dengan suaminya. Tak berapa lama, ponsel Castellia berdering yang kebetulan ia letakkan di atas meja. Castellia meraih ponsel itu dan melihat nomor asing yang ia yakini adalah nomor suaminya. Saat itu Castellia belum menyimpan nomornya. "Halo," sapa Castellia. "Halo. Ini aku, Nick." Castellia tersenyum mendengar nada gugup suaminya. "Iya, aku tahu. Ada apa?" "Ehm... siang ini, bisa keluar sebentar?" tanya Nick. "Bisa. Kenapa?" Castellia bertanya balik. "Mau mengajakku makan siang di luar ya?" Nick tertawa ringan. "Iya." "Baiklah. Aku tunggu di lobi rumah sakit ya," ujar Castellia. "Oke. Sampai ketemu nanti siang, Istriku," ucap Nick. "Iya." Castellia pun mengakhiri panggilan teleponnya lalu menyimpan nomor ponsel suaminya. Senyumnya mendadak mengembang setelah mendengar suara lembut Nick. Mungkinkah Castellia sudah merasa candu dengan suara Nick? Castellia merasa nyaman setelah berbicara dengan Nick pagi tadi. Ia merasa, aura positif Nick membawa kenyamanan padanya. "Manusia boleh berencana, tapi Tuhan-lah yang menentukannya. Menikah dengan Nick adalah jalan terbaik yang dipilihkan Tuhan untukku. Dengan begitu, aku jadi tahu bagaimana sifat asli Vincent," batin Castellia. *** Siang ini, Castellia sudah menunggu Nick di lobi rumah sakit, karena ia akan makan siang bersama hari ini. Bukan tanpa alasan Castellia menerima ajakan suaminya. Ia hanya ingin berusaha menerima kehadiran Nick dalam hidupnya, meskipun perasaannya masih mencintai orang lain. Castellia sendiri berharap dirinya bisa lebih cepat mencintai suaminya dan melupakan pria yang jelas-jelas sudah menyakiti perasaannya. Ia sudah menyadari bahwa Nick memanglah pria yang terbaik untuknya. Setelah beberapa menit menunggu, Castellia menoleh ke arah pintu lobi dan melihat Nick setengah berlari sambil mencari keberadaan dirinya. Wanita cantik itu tersenyum manis saat mengetahui suaminya itu panik karena sedikit terlambat menjemputnya. Ia pun bergegas menghampiri Nick. "Ayo, berangkat!" ajak Castellia. Nick menatap Castellia dengan napas yang masih tersengal-sengal. "Maaf ya, aku terlambat." "Iya, aku maafkan. Ayo!" Castellia merangkul lengan Nick dan Nick sedikit terkejut dengan hal itu. Apa aku sedang bermimpi? Pikir Nick. Mereka berdua pun bergegas masuk ke mobil lalu Nick melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka berencana untuk makan siang di sebuah restoran yang jaraknya tidak jauh dari rumah sakit. Hanya berselang sepuluh menit, Nick dan Castellia sudah tiba di depan restoran seafood yang kebetulan adalah tempat favorit Castellia selama bekerja di rumah sakit. Ia sering menghabiskan waktu makan siang di sana bersama staf rumah sakit. Mereka berdua pun masuk kedalam dan memesan beberapa makanan serta minuman. Sembari menunggu, Castellia pun mulai membuka pembicaraan terlebih dulu. Ia tahu suaminya itu masih terlalu canggung untuk memulainya. Ini semua juga salah Castellia yang sejak awal bersikap dingin pada Nick, sehingga membuat Nick merasa canggung. "Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?" tanya Castellia. Nick langsung mengangguk. "Lancar. Tadi sedikit sibuk, karena klien dari Rusia tiba-tiba datang berkunjung untuk membahas kerjasama dengan perusahaanku. Maaf ya." "Tidak apa-apa. Lagipula, aku juga belum lama menunggu," ujar Castellia berbohong. Ia hanya ingin Nick tidak merasa bersalah seperti itu. "Lalu, bagaimana dengan kerjasamanya? Mereka setuju?" "Mereka setuju dengan kerjasamanya. Karyawanku sudah bekerja keras membuat sebuah perancangan dari proyek ini. Aku benar-benar bangga pada mereka," jawab Nick. "Bagus kalau begitu. Ehm... bagaimana kalau kita buat perayaan untuk keberhasilan ini? Setuju?" tanya Castellia mengusulkan idenya. Nick terdiam, kemudian mengangguk. "Aku setuju. Tapi, apa kau tidak kerepotan nantinya?" "Tentu saja tidak. Aku akan membantu menyiapkan semuanya," ujar Castellia penuh semangat. Ia hanya berusaha untuk membuat Nick merasa nyaman berhadapan dengannya. "Terima kasih," ucap Nick tulus. Castellia pun mengernyit. "Kenapa berterima kasih? Aku tidak berbuat apapun." "Terima kasih, karena kau sudah menganggapku ada di dalam kehidupanmu. Itu lebih dari cukup untukku. Aku janji, tidak akan meminta lebih padamu," kata Nick. Pernyataan Nick membuat Castellia tertegun. Ia merasa menjadi orang terbodoh sedunia karena sempat mengabaikan pria sebaik Nick. Kenapa tidak sejak dulu saja ia menerima perjodohan yang dilakukan orang tuanya dengan orang tua Nick? Kalau sejak awal ia bertunangan dengan Nick, mungkin dirinya tidak akan menanggung malu seperti saat ini. Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah pelayan pergi, Nick dan Castellia menyantap hidangan tersebut dan sesekali berbincang-bincang mengenai topik ringan. Padahal sebenarnya Castellia ingin menanyakan perihal hubungan Katharina dengan Vincent pada Nick. Tapi Castellia terlalu takut untuk menanyakannya. Alhasil, ia menyingkirkan pertanyaan itu dari pikirannya. Setelah selesai makan siang, Nick pun mengantarkan Castellia kembali ke rumah sakit. Castellia turun dari mobil lalu mengucapkan terima kasih pada suaminya. "Terima kasih untuk siang ini," ucap Castellia. Nick mengangguk sambil tersenyum. "Nanti mau aku jemput?" "Mau. Aku tunggu ya." "Oke. Aku pergi dulu. Semangat, Istriku!" Nick menyemangati istrinya hingga membuat Castellia tertawa sambil mengangguk. "Kau juga, Suamiku," ucap Castellia dan langsung berlari meninggalkan Nick yang masih tertegun di dalam mobil karena ucapan istrinya. Nick mencoba untuk menepuk pipi kanannya sendiri, kemudian sedikit meringis kesakitan. Lantas ia tersenyum dan bergumam, "Ternyata ini bukan mimpi." Dengan perasaan senang, Nick pun meninggalkan parkiran rumah sakit dan bergegas kembali ke kantornya. Karena setelah selesai makan siang, ia harus mengadakan rapat dengan para stafnya untuk membahas proyek baru yang akan berjalan mulai bulan ini. To be continue~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD