6. Not an Ordinary Women

1359 Words
Aku tidak mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini, tetapi aku paham akan satu hal bahwa aku telah terperangkap.... *** "Maaf, Romeo. Hari ini tidak bisa," ucap Silla lirih. Silla menatap kedua pria yang ada di hadapannya itu. Keduanya terlihat sangat kecewa dengan jawaban Silla. Sebenarnya gadis itu juga sangat menyesal mengecewakan mereka. Akan tetapi, hatinya belum bisa menerima perlakuan baik dan istimewa dari mereka. Ia merasa tidaklah pantas jika hubungan profesional antara guru dan wali murid terlalu dekat seperti ini. Silla menghela napas panjang dan membuangnya asal. Masih belum ada reaksi dari kedua pria di hadapannya itu. "Miss Silla janji, lain kali tidak akan menolak niat baik kalian." Adrian dan Romeo pun langsung tersenyum mendengar janji Silla. "Baiklah, tapi janji, ya," ucap Romeo meyakinkan. Silla menyesal telah mengucapkan janji itu. Wanita bersurai panjang itu tidak ingin membuat dua lelaki di hadapannya ini kecewa dan janji pun telah terucap. "Baik, Miss Silla janji," ucap Silla mantap sembari tersenyum lembut sangat meyakinkan. Silla melirik Adrian. Ia sangat penasaran dengan pria itu. Adrian yang pendiam dan penuh misteri, selalu memenuhi pikirannya sejak pertemuan pertama mereka. Kini Adrian terlihat sedikit rileks setelah Silla mengucapkan janji. Entah kenapa ia sangat lega melihatnya. Silla segera menepis pikiran itu dan meruntuki dirinya sendiri karena telah berani memikirkannya. Silla berusaha meredam debaran jantungnya yang sedari tadi memburu ketika melihat Adrian. Ia harus bisa menguasai diri jika berhadapan dengan Adrian. Pria maskulin bersurai hitam itu mempunyai daya tarik dan pesona berlebih yang bisa membuat wanita mana pun tergila-gila. Silla tidak mau menjadi salah satu di antaranya. "Oke, Miss. Romeo pulang dulu ya. Bye ...." Romeo mengayunkan tangannya dengan semangat. Bocah itu tampaknya puas dengan jawaban guru kesayangannya. Ia pun berlari menuju mobil yang langsung disambut sopirnya. Setelah melihat Romeo memasuki mobil, Silla hendak meninggalkan tempat itu. Akan tetapi, suara deheman berat menghentikan langkahnya. "Eh, maaf, saya kira Bapak sudah masuk ke mobil," ucap Silla sedikit malu karena tingkahnya barusan. "Yah, sayangnya aku masih ada di sini," jawab Adrian yang membuat Silla semakin malu. "Sebenarnya, aku kecewa kau menolak tawaran Romeo, tetapi apa boleh buat." Silla terkejut mendengar pengakuan Adrian. Seorang Adrian yang luar biasa tampan dan berpengaruh, merasakan kekecewaan dari Silla yang hanya seorang wanita biasa-biasa saja. "Maaf, Pak," ucap Silla lirih yang kembali merasakan penyesalan mendalam karena telah mengecewakan pria setampan Adrian. Adrian tersenyum lembut. "Sudahlah, lupakan yang tadi. Akan tetapi, lain kali aku tidak menerima penolakan." Meskipun diucapkan dengan lembut, kata-kata Adrian mengandung daya magis tersendiri yang membuat orang yang mendengarnya reflek menganggukkan kepalanya, seperti yang dilakukan Silla sekarang. Tak khayal, jika Adrian selalu menang dalam tender-tender bisnisnya. Adrian terlihat sangat puas melihat anggukan Silla. "Kalau begitu aku pamit dahulu. Sampai jumpa lagi." Entah kenapa, penyakit salah tingkah Silla kumat lagi. Dia hanya mengangguk sembari memasang wajah anehnya ketika menatap Adrian. Adrian yang memperhatikan tingkah Silla itu hanya tersenyum kemudian berlalu meninggalkan Silla yang masih diam terpaku di tempatnya. Setelah melihat mobil Adrian meninggalkan pelataran sekolah, Silla langsung menggelengkan kepalanya kuat berusaha menepis semua bayang dan pesona magis Adrian. "Ya Tuhan, aku bisa gila jika harus bertatapan dengannya dalam waktu lama," gumam Silla. "Aku harus lebih berhati-hati dengan pesona Adrian dan Romeo. Mereka adalah makhluk paling berbahaya di muka bumi ini." *** Silla mulai melangkahkan kaki menuju tempat favoritnya, Florista, sebuah toko bunga kecil yang merupakan langganan mendiang orang tuanya. Setiap dua hari sekali, Silla datang ke Florista untuk sekadar menyapa sang pemilik toko, tetapi terkadang juga ia membeli beberapa tangkai lili kuning, bunga kesukaannya. "Siang, Om," sapa Silla lembut kepada sang pemilik toko yang sedang sibuk menata bunga. Pemilik toko itu pun langsung menghentikan kesibukannya setelah mendengar suara lembut yang sangat familiar di telinganya itu. "Silla. Kebetulan sekali kau datang." Silla menautkan alisnya penasaran. "Memangnya ada apa?" Yama, pria paruh baya pemilik Florista, pun segera mengambil beberapa tangkai bunga lili kemudian menyerahkan kepada Silla. "Baru datang pagi ini. Om tidak tahu kau akan menyukainya atau tidak." Mata Silla langsung berbinar menatap bunga lili segar yang diberikan Paman Yama. "Om bercanda? Aku sangat menyukainya." Dihirupnya wangi bunga lili yang khas itu sembari memejamkan matanya, menikmati setiap harum bunga di setiap helaan napasnya. "Aku rasa bunga itu kalah cantik darimu." Silla langsung membuka matanya. Ditatapnya dengan waspada, seorang pria yang kini telah berdiri di hadapannya. Silla memperhatikan pria lancang di depannya ini. Tampan. Oke, itu kesan pertama yang terlintas di otak Silla. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, tak ada satu pun cela yang mampu mengurangi pesona pria ini. Rambut ikal sempurna hingga menyentuh kerah dengan wajah mulus dan tampan bak malaikat yang memang sengaja turun ke bumi, membuat siapa pun yang melihat pria ini akan terpesona. Mata biru yang terkesan menentramkam, membuat siapa pun rela untuk menatapnya berlama-lama. Sedangkan bibirnya ... sangat sempurna dan memabukkan jika tersenyum, menambah pesona pria itu. Entah kesialan atau keberuntungan yang Silla sedang alami saat ini. Di dunia yang luas dengan penduduk yang berjumlah milyaran, kenapa harus dia yang bertemu dengan dua, bukan tiga pria yang menurutnya sangat berbahaya bagi wanita lajang sepertinya. Pria itu menarik bibirnya hingga membentuk senyuman menawan melihat tingkah Silla yang masih bingung dan terkejut dengan sapaannya yang tiba-tiba itu. "Oh, maaf. Seharusnya aku memperkenalkan diri terlebih dahulu," ucap pria itu lembut tanpa menghapus senyum dari bibirnya. Pria itu mengulurkan tangannya. "Sean." Uluran tangan Sean tak serta merta membuat Silla membalas uluran tangan. Wanita berusia 25 tahun itu justru menambah kewaspadaannya terhadap pria asing sok kenal sok dekat di hadapannya ini. Merasa tak mendapatkan respon yang diharapkan, Sean melirik Paman Yama untuk memohon bantuan. "Ekhm ... Silla, ini Nak Sean. Dia juga sering mampir ke sini," ucap Yama yang akhirnya memecah kecanggungan di antara mereka. Masih belum ada respon dari Silla hingga membuat Yama menyerah. "Oh, Silla. Nama yang cantik," puji Sean tak lupa dengan senyuman mautnya. "Secantik orangnya." Oh Tuhan, Silla hampir mati lemas melihat senyuman pria itu. Senyum paling menawan yang belum pernah Silla lihat sebelumnya. Bukan berarti senyuman Adrian tidak menawan, tetapi tingkat kemenawanan senyum pria ini lebih berbahaya dan menggoyahkan iman setiap wanita. "Terima kasih," gumam Silla akhirnya membalas pujian Sean. Sean pun tersenyum penuh kepuasaan mendengar ucapan terima kasih Silla. "So, suka lili?" ucap Sean berusaha memulai obrolan karena merasa telah mendapat lampu hijau dari Silla. Silla mengangguk membenarkan ucapan Sean. "Biasanya para gadis suka mawar. Mawar merah, iya kan, Pak?" lanjut Sean dengan gaya sok tahunya. "Iya," ucap Yama membenarkan ucapan Sean. "Nak Sean ini suka sekali membeli seikat mawar merah yang cantik." Silla mengerutkan keningnya kemudian tersenyum tipis. "Jadi, sang Cassanova, nih?" sindir Silla. "Penakluk wanita." "Bukan," bantah Sean yang terkesan sedikit membentak menyanggah ucapan Silla. "Aku tidak seperti yang kau pikirkan." "Memangnya kau tahu apa yang sedang kupikirkan?" ucap Silla santai yang sudah mulai dapat menguasai keadaan sembari tangannya sibuk memilih bunga. Pembawaan Silla yang santai ini justru membuat Sean salah tingkah. "Damn!" umpat Sean tanpa sepengetahuan Silla. "Aku rasa ini sudah cukup, Om," ucap Silla sembari menyerahkan beberapa tangkai lili kepada Yama untuk dibungkus. Sean masih bingung mau bicara apa. Mulutnya seakan berkhianat. Tak satu pun ucapan-ucapan manis yang biasanya mengalir keluar begitu saja ketika berhadapan dengan wanita. Kini, Silla malah mau pergi. "So, Aku rasa kau akan membutuhkan waktu lama untuk memilih bunga," ucap Silla santai yang membuat Sean kebingungan setengah mati. "Kalau begitu, aku duluan. Bye, Om," ucap Silla sembari melambai kepada Yama. Silla ganti beralih menatap Sean yang masih dengan kebingungannya sembari menahan senyum. "Bye, Sean. Semoga harimu menyenangkan." Tanpa menunggu jawaban dari Sean, Silla mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Florista. Sean hanya bisa menatap kepergian Silla tanpa bisa berkata sedikitpun. "Damn!!" umpat Sean kesal setelah Silla hilang dari pandangannya. Pak Yama hanya menggeleng sembari tersenyum melihat tingkah Sean ini. "Silla bukan wanita sembarangan, Nak," ucap Yama lembut. "Tidak cukup dengan cara yang biasa-biasa saja untuk mendapatkan hatinya." Sean masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pemilik Florista itu. Akan tetapi, satu yang sangat dia tahu saat ini bahwa dia sedang terperangkap. *** Yuhu... Sean sudah muncul nih. Kalian tim mana nih? Adrian, sang duda keren yang dingin dan berwibawa atau Sean, sang seniman jenius dengan senyum menawan dan dikenal sebagai penakluk wanita? #timAdrian atau #timSean. Manakah pilihanmu? See you next part Love you XOXO
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD