Mencintaimu merupakan hal yang selalu kusyukuri
Apapun akan kulakukan demi mempertahankan cintaku ini
Meskipun harus menentang seluruh dunia, akan kulakukan
Karena cintamu pantas untuk kuperjuangkan...
***
"Pagi, Princess ...."
Silla terkejut dengan sapaan yang tiba-tiba ditujukan kepadanya. Ia pun menatap pria itu sembari mengerutkan keningnya.
"Aku yakin kau pasti terkejut," ucap pria itu percaya diri. "I'm sorry, Princess. Aku hanya tidak dapat menahan diri untuk bertemu denganmu."
Silla memutar bola matanya, bosan dengan rayuan pria sok kenal sok dekat ini. Gadis yang sudah rapi dengan blazer dengan rok hitam panjangnya itu pun hanya menatapnya malas.
"Kau tahu, Princess? Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Wajahmu selalu terbayang di dalam pikiranku." Pria itu berusaha merayu lagi sembari mengulas senyum menawannya.
"Sudah selesai?" ucap Silla akhirnya yang membuat kening pria itu berkerut karena tak mengerti. Gadis itu menunjukkan arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Kalau sudah, aku berangkat ke sekolah dulu. Sudah siang, nih."
"Oh, pardon me, Princess," ucap Sean sembari mengulaskan senyum menawan di bibirnya. "Aku akan mengantarkan kemanapun kau pergi. Kuda putih sang pangeran, siap mengantarkan tuan putri cantik ini." Sean merayu sembari menunjukkan motor sport putihnya.
Mau tak mau Silla pun tertawa melihat tingkah konyol Sean itu. "Kuda putih? Kuda besi. Itu baru tepat."
Sean hanya meringis mendengar ucapan Silla. "Jadi, bagaimana? Mau menerima tawaranku?" tanya Sean seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
Silla berpikir sejenak. Ia memang sudah kesiangan dan bakal terlambat jika tidak bergegas. Silla memandang Sean sekali lagi. Menurutnya, Sean adalah pria baik. Yah, mungkin cuma agak kelewatan percaya diri. Dengan terpaksa karena kasihan melihat wajah memelas pria di hadapannya itu, akhirnya Silla mengangguk menerima tawaran Sean.
Sean sangat gembira melihat anggukan kepala Silla. Rasanya mau melayang. Ia pun tersenyum penuh kepuasan.
"Baiklah, Princess. Silakan," ucap Sean sembari membungkuk layaknya seorang pangeran yang ada di dongeng.
Silla tersenyum geli melihat tingkah Sean. Ia hanya menggelengkan kepala karena tingkah aneh pria itu. Meski begitu, gadis bersurai panjang itu lumayan terhibur dengan tingkah konyol Sean. Buktinya, pagi ini sudah beberapa kali ia tersenyum dan terkekeh geli.
"Pegangan yang kuat!" perintah Sean setelah Silla naik di jok belakang Ducati putih itu.
Silla terlihat bingung mencari pegangan. Ia tidak melihat ada besi panjang di belakang yang biasa ia gunakan sebagai pegangan saat naik ojek. Otak Silla berpikir keras. Ia pun membelalakkan matanya ketika sadar apa maksud Sean.
"Pegangan apa? Jangan bilang, kau menyuruhku berpegangan padamu?" tanya Silla sengit dengan mata penuh curiga.
Sean tersenyum jahil. Belum juga siap, ditariknya tangan Silla hingga melingkar di pinggangnya. Jantung Silla serasa mau copot. Sebelum gadis itu meneriakinya yang telah lancang, Sean telah menggeber motornya kencang. Alhasil, mau tak mau Silla berpegangan erat kepada Sean.
Silla hanya memejamkan mata seraya menggumamkan doa-doa. Jujur dia sangat takut naik sepeda motor. Sean justru sangat puas bisa merasakan pelukan gadis pujaannya. Yah, meskipun Silla melakukannya karena terpaksa, pria itu sudah cukup senang.
"Kau bisa membuka matamu, Princess. Kita sudah sampai," ucap Sean lembut setelah menepikan dan mematikan motornya tepat di depan gerbang sekolah Silla.
Silla pun perlahan membuka matanya. Wajahnya menunjukkan kelegaan yang luar biasa setelah melihat gerbang sekolah ada di depannya. Saking leganya, Silla hampir melompat turun dari motor terkutuk itu.
Silla menatap tajam dan penuh selidik. "Kau pasti sengaja, kan?"
"Sengaja?" Sean membeo pertanyaan Silla sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Iya. Sengaja membuatku melakukannya."
"Melakukan apa, Princess? Perjelas ucapanmu."
Pipi Silla merona. Ia sadar dengan kesalahan yang diucapkannya. Seharusnya ia tidak sevulgar itu bertanya hal yang memalukan. Silla menatap Sean tajam kemudian menghela napas panjangnya. "Sudahlah," ujarnya pasrah.
Sean tersenyum melihat kejengkelan Silla. Ia tahu, gadis itu pasti kesal setengah mati. Jika mengumpat itu diperbolehkan, Sean yakin gadis itu akan menyumpahinya habis-habisan. "Kau tahu, kau semakin cantik jika sedang marah."
Silla berani bertaruh kalau sekarang pipinya semerah tomat. Pujian Sean malah membuatnya semakin salah tingkah. Sebelum bertambah malu, gadis itu membalikkan tubuhnya bergegas memasuki sekolah.
"Princess." teriak Sean memanggil Silla dan beruntung karena gadis itu menghentikan langkanya kemudian berbalik lagi. "Apa tidak ada yang ingin kau katakan lagi? Terima kasih misalnya."
Silla meruntuki dirinya sendiri. Yah, walaupun pria itu menyebalkan, tetapi dia telah mengantarkannya ke sekolah dengan selamat. Silla kembali kembali membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya dengan enggan mendekati Sean.
"Terima kasih," ucap Silla yang lebih seperti sebuah gumaman.
"Apa?"
Silla menggigit bibirnya karena menahan emosi. "TERIMA KASIH," ulang Silla yang kali ini penuh penekanan di setiap hurufnya.
Sean tersenyum puas. "Sama-sama, Princess."
"PUAS?" ucap Silla jengkel.
"Suaramu bagaikan nyanyian merdu di telingaku. Aku sangat menyukainya," jawab Sean dengan tanpa menghapus senyuman mautnya itu.
"Dangdut amat, sih," ucap Silla kesal kemudian berbalik memasuki sekolah tanpa menengok kembali.
Sean tersenyum geli melihat tingkah Silla yang menurutnya unik itu. Setelah Silla hilang dari pandangan, Sean pun menghidupkan mesin motornya lantas pergi dengan dengan hati yang puas.
***
"Selamat pagi," sapa Silla kepada Desi—teman mengajarnya—yang memang sudah hadir dan duduk di tempatnya.
Melihat Silla datang, Desi sedikit beringsut hingga berjarak hanya sejengkal. "Untung kau tidak terlambat," bisik Desi di telinga Silla yang langsung membuat gadis itu mengerutkan dahi. "Si bos mau memberi pengumuman penting."
"Pengumuman apa?" tanya Silla penasaran.
Desi mengangkat bahunya. "Entah."
Sepertinya rasa penasaran Silla akan segera terjawab karena sang bos—Kepala Sekolah—sudah berada di depan bersiap memberikan pengumuman.
Kepala sekolah membuka pertemuan mendadak ini tanpa basa-basi. "Saya rasa tidak perlu berpanjang lebar," ucap Kepala Sekolah dengan suara tajam dan tegas. Sontak semua guru dan staf pun memperhatikannya dengan seksama.
"Beberapa hari ini saya mendengar omongan yang kurang enak tentang kelakuan salah seorang guru di sini," ucap Kepala Sekolah sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
Silla sudah merasa tidak enak dengan omongan awal sang kepala sekolah itu. Ia merasa, pandangan atasannya itu lurus dan tajam kepadanya. Tenggorokannya tiba-tina kering karena memang benar, Kepala Sekolah itu membicarakan dirinya meski ia tidak tahu telah melakukan kesalahan apa.
"Saya mendengar bahwa salah satu guru di sini telah melanggar kode etik seorang guru. Hubungan seorang guru dengan wali murid hanya sebatas profesionalitas, tidak boleh lebih. Kita semua tentu paham dengan hal itu."
Semua yang hadir di ruangan itu berkasak-kusuk sendiri, mencoba mencari tahu siapa tersangkanya. Silla cemas dengan telapak tangan yang sudah terasa dingin.
"Saya tidak akan menyebutkan namanya di sini. Akan tetapi, saya hanya mengingatkan. Jika sampai hal ini terulang lagi, saya tidak akan segan-segan memrosesnya. Paham semua?"
Semua yang hadir di ruangan itu pun hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sedangkan Silla menggigit bibirnya. Perasaannya kini campur aduk. Kepala sekolah terang-terangan memberikan ultimatum yang jelas memang ditujukan kepadanya.
"Tidak usah diambil pusing," ujar Desi ringan sembari menepuk pundak Silla hingga menyadarkannya dari lamunan. "Aku rasa, Kepala Sekolah hanya menerima kabar burung yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ah, sudahlah. Kita ke kelas saja."
"Eh, iya."
***
Gimana dengan rayuan mautnya, Sean? #timSean pasti senyum-senyum sendiri, nih.
See you next part
Love you
XOXO