8. Tekanan

1145 Words
Aku telah terhipnotis oleh pesonanya Tuhan... Aku rela jika dialah penyebab kehancuranku *** Silla membuang napas beratnya, berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Kini, ia telah berdiri di depan kelas Romeo. Ya, Romeo ada di dalam sana. Peringatan kepala sekolah kembali terngiang di kepalanya ketika melihat anak laki-laki lucu itu. "Aku harus profesional," gumam Silla memantapkan hati karena dia merasa, apa yang dikatakan Kepala Sekolah tadi adalah tentangnya dan Romeo. Namun, ada sedikit keraguan di hatinya bahwa dia tidak akan bisa semudah itu mengabaikan Romeo. Secara tak sadar, dia sudah mulai tertarik dengan Romeo. Anak itu telah memberikan kesan mendalam bagi Silla. Silla membuka pintu kelas kemudian mengembangkan senyum kepada semua siswanya. Silla melirik sekilas ke arah Romeo yang masih mengulas senyum manisnya. Mau tak mau, Silla pun membalas senyuman itu. Ya Tuhan ... bagaimana mungkin aku bisa mengabaikan Romeo, ucap Silla dalam hati. Silla berusaha mengabaikan peringatan yang diberikan kepala sekolah. Toh, dia tidak dilarang untuk memberikan perhatian lebih kepada siswanya. Ini adalah kelasnya, wilayah kekuasaannya. Setelah berhasil menguasai emosi yang bergolak di hatinya, Silla melanjutkan pelajarannya seperti biasa, tanpa beban. *** Waktu terasa begitu cepat berjalan. Silla mengakhiri kelasnya dengan bernyanyi bersama. Hari ini sangat seru seperti biasa, tetapi ucapan Kepala Sekolah kembali melintas ketika ia melihat beberapa wali murid yang sudah menunggu di depan. Silla meyakinkan diri bahwa apa yang dilakukan ini tidak salah. Mengakrabkan diri dengan wali murid, bukan sesuatu yang terlarang. Karena itulah, Silla melangkahkan kaki dengan percaya diri, mengantarkan siswanya kembali kepada wali murid, berbasa-basi sebentar, kemudian kembali ke kelas untuk membereskan kelas. Silla terkejut ketika mendapati Romeo masih ada di dalam kelas. Murid kesayangannya itu melemparkan senyum manisnya. Melihat sesuatu yang menenangkan itu, mau tak mau Silla membalas senyum polos Romeo. Romeo memperhatikan Silla, seperti menimbang-nimbang. "Hari ini Miss Silla sibuk?" Silla balas menatap Romeo dan mengulas senyum terpaksanya. "Kebetulan hari ini Miss Silla ada janji." Silla bingung mau menjawab apa. Pada akhirnya, gadis itu berbohong, kebohongan pertamanya kepada seorang anak Ekspresi itu. Silla benci ekspresi itu. Raut kecewa jelas terpancar di wajah Romeo. "Romeo ingin sekali mengajak Miss Silla makan siang bersama," ucap Romeo lesu. Silla berjongkok di depan Romeo. Ditatapnya Romeo lekat-lekat, kemudian dibelainya rambut Romeo. "Maaf ya sayang. Miss Silla benar-benar tidak bisa," ucap Silla lembut yang kali ini tanpa menyebutkan 'lain kali'. Dia tidak ingin terjebak untuk kedua kalinya dengan kata itu. Romeo langsung tertunduk lesu. Silla merasa bersalah. Sangat bersalah. Wanita bersurai panjang itu memeluk Romeo sembari membelai punggungnya. "Sudahlah. Romeo kan bisa makan bersama ayah, iya, kan?" Romeo menggelengkan kepalanya. "Sudah beberapa hari ini ayah sibuk. Romeo sendirian di rumah." Hati Silla terasa sakit mendengar pengakuan Romeo. Setegar dan sekuat apa pun Romeo, dia tetaplah seorang anak yang butuh kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua. Yah, untuk kasus Romeo dari ayahnya. Silla melepaskan pelukannya. "Ayo Miss antar ke depan. Siapa tahu ayah sudah menjemput." Silla menarik lembut tangan Romeo dan Romeo pun hanya pasrah mengikuti gurunya itu. *** Adrian berdiri sembari menyandarkan tubuh di mobil mewahnya. Adrian terlihat terlalu mencolok di antara para wali murid yang datang menjemput ke sekolah. Penampilan yang super tampan, membuat orang yang melewatinya terang-terangan menengoknya untuk kali kedua. Bahkan, ada ibu-ibu yang terang-terangan menggodanya. "Sendirian saja, Pak Adrian?" tanya seorang ibu-ibu yang juga menunggu putranya. Adrian memperhatikan ibu-ibu di sampingnya yang sok akrab dengannya ini. Cantik. Oke, Adrian mengaku jika ibu-ibu cantik, tetapi jelas karena perawatan yang pastinya tidak murah. Adrian mengulas senyum menawannya yang langsung membuat membuat ibu-ibu menor itu salah tingkah. "Kebetulan putra saya sedang menuju ke sini." "Ayah!" teriak Romeo sembari berlari. Adrian pun berjongkok sembari merentangkan tangannya untuk menyambut Romeo. Romeo datang ke pelukan Adrian. "Halo, Sayang." "Nah, sekarang saya tidak sendiri," ucap Adrian kepada ibu-ibu tadi sembari mengulas senyum sempurnanya kepada ibu-ibu yang tadi mengajaknya bicara. Ibu-ibu socialita tadi dibuat mati kutu oleh Adrian. Pria itu tersenyum puas bisa memberi pelajaran kepada ibu-ibu lebay itu. Senyum Adrian bertambah lebar ketika melihat Silla berjalan mendekati mereka dengan senyuman yang selalu memabukkannya. "Selamat siang," sapa Silla ramah kepada Adrian dan ibu-ibu tadi. "Siang," jawab Adrian dengan senyuman lebarnya. Sedangkan ibu-ibu lebay tadi hanya mendengkus kesal lalu pergi meninggalkan mereka. Adrian tertawa geli. Silla dan Romeo pun hanya saling pandang, tidak mengerti sebab Adrian tertawa seperti itu. "Maaf maaf," ucap Adrian setelah berhasil mengatasi kegeliannya. "Apa yang lucu, Yah?" "Ah, tidak. Tadi ayah cuma lihat badut yang dandanannya menor," jawab Adrian asal yang langsung disambut tawa geli Silla. Silla mengerti maksud Adrian. Sedangkan Romeo masih bingung dengan apa yang terjadi kepada ayah dan ibu gurunya itu. "Romeo tidak melihat badut, Yah," ucap Romeo polos. "Ayah bohong, ya?" "Sudah sudah. Kau masih terlalu kecil untuk mengerti," ucap Adrian dan Romeo pun langsung melipat lengannya di d**a sembari mengerucutkan bibirnya, kesal. "Jangan ngambek dong, Sayang," bujuk Adrian. "Lagian ayah gitu, sih." "Oke oke, ayah mengaku salah," ucap Adrian lembut. Romeo masih merasa kesal dengan Adrian. Akhirnya Adrian pun mengeluarkan jurus terakhirnya. "Ayah akan kabulkan apa pun permintaan Romeo saat ini juga. Tapi dengan satu syarat, jangan ngambek lagi, ya ...." Silla memutar bola matanya, heran dengan sikap Adrian. Seorang pebisnis handal seperti Adrian kalah melakukan negosiasi dengan seorang anak kecil berumur 5 tahun, sungguh di luar dugaan. Nama baik Adrian bakal tercoreng di depan rekan bisnisnya. "Janji ya, Yah," ucap Romeo meyakinkan penuh semangat. "Janji." Romeo meringis—menampilkan deretan gigi tak utuhnya—sebelum mengucapkan permintaannya. "Siang ini kita makan bersama, ya. Romeo, ayah, dan Miss Silla." Adrian terkejut dengan permintaan Romeo. Silla pun tak kalah terkejutnya. Adrian dan Silla saling pandang, tidak tahu harus bagaimana menyikapi permintaan Romeo ini. "Bisa, kan, Yah?" rengek Romeo. "Ayah kan sudah janji." "Eh itu, tanya Miss Silla dulu," jawab Adrian gugup. Romeo menoleh kepada Silla. "Bisa kan, Miss?" Silla kelagapan menanggapi permintaan Romeo itu. Sekarang bola panas ada di tangannya. Silla menatap muka memelas Romeo. Tak sanggup rasanya menolak permintaan anak itu. Akan tetapi, peringatan kepala sekolah juga masih melekat jelas di ingatannya. Silla menghembuskan napas beratnya. "Oke," jawab Silla lesu yang langsung disambut pelukan bahagia Romeo. "Tapi ada satu syarat," ucap Silla menginterupsi kebahagiaan Romeo. "Miss Silla tidak naik mobil dengan kalian." "Kok gitu, Miss?" ucap Romeo kecewa. "Memang harus seperti itu Romeo," jawab Silla lembut sembari melirik Adrian untuk meminta pertolongan. "Miss Silla pasti punya alasan, Romeo," ucap Adrian yang malah menatap Silla penuh intimidasi untuk meminta penjelasan. "Miss Silla akan menunggu kita di halte dekat sekolah. Iya kan, Miss?" Pertanyaan, eh bukan, perintah Adrian sudah jelas bahwa Silla memang harus semobil dengan mereka. Adrian tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh Silla dan dia harus mengetahuinya. Seperti kerbau dicocok hidungnya, Silla hanya mengangguk pasrah. Adrian menangkap ada raut ketakutan di wajah Silla. Entah kenapa Adrian sangat marah melihat wajah ketakutan Silla itu. Dia sudah bertekad, akan membuat perhitungan kepada siapapun yang telah membuat wanita kesayangannya ketakutan seperti itu. *** See you next part Love you XOXO
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD