Semua orang memiliki satu kelemahan
Akan tetapi, aku memiliki dua
Pertama, apa pun yang kau katakan
Kedua, apa pun yang kau lakukan
***
Sepanjang perjalanan, Silla lebih banyak bercengkerama dengan Romeo. Sedangkan Adrian lebih memilih menenggelamkan diri dengan membaca berkas-berkas kantornya.
Silla melirik Adrian, diam-diam mengagumi ketampanan paras pria bersurai hitam itu. Ia suka wajah serius Adrian ketika sedang membaca berkas-berkas itu. Tanpa sadar, senyum kecil mengembang dari bibirnya.
"Ada apa?" ucap Adrian santai sembari masih berkutat dengan kesibukannya.
Silla langsung salah tingkah. Dia tahu pertanyaan Adrian itu ditujukan untuknya.
"Sebegitu penting kah, berkas-berkas di tangan Anda itu?" sarkas Silla berusaha menutupi kegugupannya.
Merasa tersindir, Adrian langsung mengalihkan perhatiannya dari dokumen-dokumen di tangannya. Pria itu tersenyum kepada Silla yang justru membuat gadis itu merona.
Silla gugup. Dia memutus pandangannya, beralih kepada Romeo. "Di sini kan ada Romeo. Seharusnya Anda lebih perhatian kepadanya daripada kertas itu."
Adrian menatap Silla hingga membuat gadis itu salah tingkah. Tatapan penuh arti itu, sungguh membuat Silla terintimidasi dengan telapak tangan yang mulai berkeringat.
Adrian menyunggingkan senyum tipis, puas dengan reaksi Silla. "Yah, kau benar," ujar Adrian lantas mengalihkan pandangannya kepada Romeo. "Well, Romeo, maafkan Ayah, ya."
Romeo tersenyum jahil. "Romeo akan memaafkan ayah, tapi dengan satu syarat."
"Apa itu, Sayang?" ucap Adrian pasrah yang membuat Silla menggelengkan kepalanya. Sekali lagi Adrian Adams kalah dari anak berusia 5 tahun yang berwajah polos.
"Hari ini Romeo ingin makan pizza yang buesarrr ...," ucap Romeo sembari mengibaskan tangannya seperti membentuk bulatan besar.
Adrian mengerutkan keningnya. "Yakin?"
Romeo mengangguk mantap. "Yakin. Sekarang kita kan bertiga, jadi harus pesan yang besar, Yah."
Silla menaikkan sebelah alisnya. "Miss Silla tidak makan sebanyak itu. Itu sih ayahnya Romeo."
"Weits, enak saja," ujar Adrian tak terima. "Di sini yang makannya paling banyak, ya, Romeo. Biasanya dia habis satu loyang pizza sendiri."
Romeo hanya tertawa cekikian mendengar Silla dan Adrian berdebat.
"Ada yang lucu?" tanya Silla dan Adrian bersamaan yang langsung membuat mereka saling pandang.
Romeo tersenyum penuh kepuasan. "Romeo senang bisa jalan-jalan sama Ayah dan Bunda," ucap Romeo polos yang langsung membuat Silla dan Adrian terkejut.
"Sayang, Miss Silla—"
"Romeo tahu apa yang ingin ayah katakan," potong Romeo cepat. "Pokoknya Miss Silla adalah milik Romeo." Romeo memeluk erat Silla seakan tak mau sedetik pun kehilangannya.
Silla masih terdiam, bingung dengan semua ini. Ia pun hanya pasrah ketika murid kesayangannya itu memeluknya posesif. Jujur saja, hatinya sedikit tercubit ketika anak itu berbicara tentang bunda yang tidak pernah ditemuinya.
Romeo melepaskan pelukannya dari Silla, tersenyum penuh arti kepadanya lantas berbalik menghadap sang ayah. "Romeo mau Miss Silla jadi bunda Romeo."
"APA?" teriak Silla dan Adrian hampir bersamaan.
Silla syok dengan permintaan Romeo yang satu itu. Ia menggigiti bibir bawahnya, kemudian memandang Adrian penuh harap agar dia tidak begitu saja menyetujui usul anak lima tahun ini dengan mudah. Tatapan mata Adrian sulit diartikan. Silla yakin, Adrian juga sama terkejutnya dengan permintaan Romeo.
Adrian mencoba bersikap tenang dan mulai berpikir jernih. "Menjadikan Miss Silla bunda Romeo bukanlah suatu hal yang mudah. Ayah harap Romeo mengerti," ucap Adrian lembut, berusaha menjelaskan kepada putranya.
Romeo mengangguk mantap sembari menyunggingkan senyumnya. "Oke, Ayah. Romeo mengerti, kok."
Silla terbelalak dengan jawaban Romeo. Apa yang anak ini pahami? Sebenarnya, apa yang ada di dalam kepala Romeo yang mungil itu? Silla benar-benar kehabisan kata-kata dengan kelakukan ayah dan anak itu.
***
Setelah perjalan yang melelahkan dan menguras emosi, bagi Silla, akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka langsung menuju restoran Italia langganan Adrian.
Silla yang berjalan di samping Adrian yang menggendong Romeo, membuat mereka seperti keluarga kecil bahagia. Setiap orang yang berpapasan dengan mereka, tak segan-segan menoleh untuk kedua kalinya sekadar untuk tersenyum atau berbisik-bisik.
Silla merasa tak nyaman dengan perhatian orang-orang. Tanpa disadarinya, posisinya mulai beringsut ke belakang Adrian. Adrian yang menyadari sikap Silla itu pun langsung menarik pergelangan tangan Silla untuk menyejajarkan kembali posisi mereka.
"Jangan jauh-jauh dari kami," bisik Adrian lembut yang langsung membuat Silla merasakan sengatan listrik mulai menjalari tubuhnya.
***
Sesampainya di restoran, Adrian langsung memesan private room untuk mereka bertiga. Sang pelayan pun menunjukkan ruangannya dan Adrian dengan patuh mengikuti sang pelayan dengan tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Silla.
Sepeti kerbau yang dicocok hidungnya, Silla hanya menurut saja, mengikuti langkah Adrian. Tangan Adrian sangat kekar namun lembut memberikan denyar hangat bagi Silla.
Setelah mereka sampai di ruangan yang dipesan, Romeo langsung melompat turun dari gendongan Adrian dan langsung berlari kegirangan menuju sofa yang memang telah disediakan.
Private room restoran ini memang sangat mewah. Interiornya memang sengaja didesain seminimalis mungkin, tetapi nyaman untuk acara pribadi atau acara keluarga. Selain disediakan sofa untuk bersantai, di tengah ruangan-sebagai pusatnya-ada sebuah meja makan eksklusif yang dikelilingi empat kursi. Silla terkagum-kagum melihat ruangan ini. Dalam mimpi pun, dia tidak akan berani memikirkannya. Namun, sekarang dia benar-benar ada di sini.
Adrian tersenyum melihat wajah Silla. Dia tahu kalau dia telah berhasil membuat Silla terpesona olehnya. Adrian kembali menarik tangan Silla, menuntunnya ke meja makan yang telah disediakan, menarikkan kursi untuknya. Silla menaikkan sebelah alisnya karena tidak mengerti isyarat pria itu. Adrian yang paham akan kebingungan Silla pun mengutarakan maksudnya.
"Please, My Lady," ucap Adrian lembut.
Wajah Silla merona. Sungguh perlakuan Adrian hari ini telah membuatnya salah tingkah. Silla menduduki kursinya lalu menggumamkan terima kasih kepada Adrian. Tak lama setelah itu, pelayan datang membawakan daftar menu. Romeo langsung melompat dari sofanya lalu duduk manis di sebelah Silla.
Adrian paham dengan isyarat Romeo itu. "Pizza extra large."
Adrian melirik Romeo sekali lagi dan Romeo pun kembali memberikan isyaratnya. Adrian mendesah pelan karena tidak sanggup menolak permintaan putranya itu. "Dengan ekstra keju."
Sang pelayan pun mengangguk lalu menulis pesanan Adrian itu.
Pandangan Adrian beralih kepada Silla yang terlihat sibuk membaca menunya sembari mengerutkan kening. Adrian tersenyum lembut.
"Ada yang kau suka?" tanya Adrian lembut.
Silla mendongakkan kepalanya. Tersenyum kepada Adrian. "Sebenarnya saya tidak mengerti. Semuanya dalam bahasa Italia," jawab Silla polos.
Adrian tersenyum maklum. "Tidak apa-apa."
Adrian membalikkan daftar menunya kemudian menyebutkan beberapa pesanan dalam bahasa Italia yang fasih. Silla terperangah melihat kecakapan pria di hadapannya itu berbahasa Italia. Hampir saja dia bertepuk tangan setelah Adrian mengakhiri pesanannya.
Setelah mendengar pesanan Adrian, sang pelayan pun undur diri. Silla menatap Adrian antusias.
"Wow, saya tidak tahu kalau Anda—"
"Bukankah kita sudah sepakat sebelumnya," potong Adrian cepat, mengingatkan kesepakatan mereka.
Silla tampak ragu. "Maaf," ucap Silla lirih. "Saya tidak tahu kalau Pak Adrian bisa berbahasa Italia dengan fasih."
Lidah Silla masih terasa kaku jika berbicara informal kepada Adrian yang berstatus sebagai wali murid. Jadi, dia mengambil jalan amannya saja dengan memanggilnya sopan.
"Ya, begitulah," jawab Adrian santai. "Dulu aku pernah di Italia selama 2 tahun."
Silla mengangguk antusias. Matanya masih memancarkan kekaguman luar biasa kepada Adrian. Pria itu hanya tersenyum samar melihat tingkah polos Silla.
Adrian suka dengan ekspresi Silla yang polos dan natural. Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Raut sedih dan ketakutan yang dipancarkan oleh Silla tadi, masih teringat jelas di pikirannya.
"Miss Silla cantik, deh," ucap Romeo polos.
Mendengar ucapan Romeo, Adrian langsung mengalihkan pikirannya. Silla memang cantik. Bukan, lebih tepatnya memesona. Tanpa Adrian sadari, dia telah bertekuk lutut oleh pesona wanita itu.
"Benar kan, Yah?" tanya Romeo tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Adrian.
"Eh, iya," jawab Adrian gugup. "Sangat cantik."
Pernyataan Adrian itu langsung membuat pipi Silla merona.
"Kalian terlalu tinggi menilai saya," ucap Silla lirih. Tiba-tiba kata-kata Kepala Sekolah kembali terngiang. Wajahnya berubah sendu, tetapi sedetik kemudian menyunggingkan senyum manis meski matanya berkata lain. "Tapi, terima kasih atas pujiannya. Saya sangat menghargainya."
"Kau yang menilai dirimu terlalu rendah" ucap Adrian menolak pernyataan Silla. "Kau cantik. Kau bisa mendapatkan pria mana pun yang kau inginkan."
Silla tersentak dengan ucapan Adrian. Kenangan masa lalu tiba-tiba menyeruak di hati Silla. Wajah Silla kembali sendu. Adrian menyadari perubahan ekspresi wanita cantik itu.
Silla mencoba untuk tersenyum. Pikirannya melayang, tatapannya kosong. "Jika cinta semudah itu, mungkin saat ini saya tidak bersama kalian. Menikmati kehidupan saya yang lama dan mewujudkan semua mimpi saya. Akan tetapi, mimpi tinggallah mimpi. Dan sekarang saya bersama kalian di sini."
Hening. Romeo sibuk dengan gadget-nya setelah melemparkan pujian kepada Silla tanpa bertanggung jawab. Sedangkan Adrian sibuk dengan pikirannya, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Silla. Duda beranak satu itu baru menyadari bahwa banyak sekali hal-hal yang tidak diketahui tentang Silla.
"Sudahlah," ucap Silla berusaha kembali tersenyum. "Toh, sudah berlalu. Sekarang saya sangat bahagia dengan Romeo yang manis ini."
Silla mengucapkannya sembari mencubit gemas kedua pipi Romeo. Romeo mendengkus kesal, mengusap pipinya, kemudian tertawa bersama Silla.
Adrian hanya memperhatikan kedua orang yang disayanginya ini. Dia rela menukar apa pun yang dimilikinya demi melihat tawa keduanya. Sekarang Adrian sudah yakin akan jalan yang harus ditempuhnya nanti. Mungkin tidak akan mudah, tetapi dia telah bertekad. Jika seorang Adrian Adams telah bertekad, semuanya harus berjalan sesuai keinginannya.
***