Aku masih meragukan rasa yang ada di hatiku
Namun,
Aku berani memastikan bahwa aku telah jatuh ke dalam pesonamu
***
Adrian membaca laporan yang disodorkan oleh Vino. Pria bersurai hitam itu mengerutkan dahi, sedikit gusar membaca setiap kata dalam laporan tersebut. Setelah selesai membacanya dengan kecepatan tinggi, Adrian meletakkan berkas itu, menegakkan posisi duduknya dengan menatap tajam asisten pribadinya.
Merasa ditatap seperti itu, Vino sedikit kikuk. Ia pun bersuara untuk memecah ketegangan.
"Apakah ada yang kurang jelas atau ada yang perlu saya tambahkan, Sir?" tanya Vino setenang mungkin.
Menjadi asisten pribadi seorang Adrian Alexander Adams memang harus bermental kuat, tak gentar dengan intimidasi apa pun. Vino sangat paham dengan hal ini, karena itulah, ia sudah bertahun-tahun dipercaya sebagai asisten pribadi CEO yang terkenal dengan sifat tegas, dingin, dan arogannya itu.
"Kau sudah memastikan semuanya?" ujar Adrian dingin seraya memalingkan pandangannya kepada berkas yang tadi dibacanya.
"Sudah, Sir," jawab Vino percaya diri. "Semua yang Anda minta sudah saya telusuri kebenarannya."
"Bagus," ucap Adrian puas kemudian menatap asistennya dingin. "Kau boleh keluar sekarang."
Setelah mendengar perintah atasannya, Vino membungkukkan badan sekilas untuk memberi hormat. Pria berambut cepak itu kemudian meninggalkan ruangan Adrian tanpa banyak bicara.
Adrian menatap punggung asisten pribadinya yang berjalan keluar. Setelah pintu ruangannya ditutup, Adrian menyandarkan punggung di kursi empuknya. Matanya terpejam, pikirannya melayang pada percakapan yang dilakukannya dengan Silla kemarin malam.
Hari sudah mulai malam ketika Adrian, Silla, dan Romeo memutuskan untuk pulang. Rencana makan siang mereka berubah menjadi semacam jalan-jalan keluarga. Romeo—anak berusia lima tahun itu—memanfaatkan kebersamaannya dengan ayah dan gurunya. Ia minta pergi ke taman bermain. Dengan wajah semringah, ayahnya jelas langsung mengabulkan permintaan Romeo. Sepasang ayah dan anak itu sama sekali tidak peduli raut keberatan Silla.
Hari sudah malam ketika mereka mutuskan untuk mengakhiri kesenangan itu. Romeo sudah terlelap karena kelelahan waktu itu. Sebenarnya, Silla sudah ingin mengajak Adrian pulang, tetapi ayah Romeo itu memaksanya untuk makan malam bersama dulu. Dengan berat hati, Silla menerima tawaran Adrian dan meninggalkan Romeo tertidur di mobil dengan pengawasan sang supir.
Dengan keramahan dan kesopanan luar biasa, Adrian memperlakukan Silla bak seorang putri dalam dongeng. Sebenarnya Adrian masih ragu dengan perasaannya, tetapi ia sangat yakin dengan satu hal bahwa pesona Silla memang telah mencuri perhatiannya.
Acara makan malam di restoran Jepang yang terkesan privat dan mewah itu, lebih seperti kencan bagi mereka berdua tanpa hadirnya Romeo. Adrian tahu bahwa Silla sangat tidak nyaman dengan suasana intim seperti itu. Sebenarnya Adrian sudah menyadari gelagat ketidak-nyaman wanita cantik itu semenjak di sekolah, tetapi dia berusaha menekan rasa penasarannya demi kelancaran acara mereka. Adrian menahan diri sampai dia punya kesempatan untuk mencari tahu.
Mereka berdua menikmati makan malam dalam keheningan. Adrian sesekali mencuri pandang kepada Silla, mengagumi setiap gerak gerik yang dilakukan wanita bersurai pajang itu.
Adrian berdehem untuk sekadar mendapat perhatian Silla setelah dia menyelesaikan makan malamnya. Silla mengangkat wajahnya, menatap pria yang duduk diseberangnya. Adrian tersenyum lembut kepada Silla dan berani bersumpah bahwa pipi guru putranya itu merona.
"Jadi, bagaimana hidangannya? Suka?" tanya Adrian basa-basi memulai percakapan.
Silla tersenyum. "Suka," jawab Silla lembut penuh terima kasih. "Saya sangat berterima kasih karena telah diajak ke tempat mewah seperti ini. Rasanya seperti mimpi bisa menginjakkan kaki ke beberapa tempat yang menurut saya sangat jauh dari jangkauan dan gaya hidup saya. Atas kesempatan dan kebaikan Pak Adrian dan Romeo, saya ucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya."
"Never mind," jawab Adrian santai. "Aku yang seharusnya berterima kasih karena kau telah mau menemaniku, menemani kami. Aku tidak pernah mengajak Romeo jalan-jalan seperti tadi karena kesibukanku. Berkat kehadiranmu, Romeo terlihat sangat bahagia dan menikmati jalan-jalannya kali ini. Sekali lagi, terima kasih."
Pipi Silla kembali merona mendengar ucapan Adrian. Namun, ia segera menepis perasaannya itu. Ini salah. Tidak seharusnya ia bertindak sejauh ini. Ia harus sadar diri akan posisinya yang hanya seorang guru biasa.
Adrian menyadari raut Silla yang berubah. Wanita di hadapannya itu sungguh mudah sekali ditebak. Menurut Adrian, Silla adalah satu di antara jutaan wanita yang selalu bisa bermain dengan ekspresinya. Selain wajah yang cantik, pribadi Silla juga sangat menarik.
"Kau sangat menarik," ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangannya kepada Silla. "Sekarang aku tahu kenapa Romeo sangat menyukaimu. Kau selalu tampil apa adanya, tanpa topeng yang dibuat-buat. Sangat natural dan jujur."
Silla kembali salah tingkah. Bingung harus memberikan respon apa kepada Adrian. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya, berusaha menetralkan debaran jantung yang tiba-tiba menggila.
"Kau seperti sebuah buku yang terbuka," lanjut Adrian yang langsung mendapat atensi Silla. Wanita itu menatapnya dengan dahi berkerut. "Sangat mudah menebak apa yang sedang kau pikirkan dan rasakan. Terlihat jelas dari wajah dan tingkahmu."
Silla tampak gusar, terlihat jelas dari wajahnya. Adrian tentu sudah berpengalaman menilai orang dalam bisnisnya. Ia bisa pastikan jika wanita di hadapannya itu mulai berkeringat dingin. Adrian tidak bicara lagi, memberi kesempatan agar Silla bisa menenangkan diri.
Setelah hening beberapa saat, akhirnya Silla berani mengangkat kepalanya kembali. Mata hitamnya bertemu dengan manik hijau Adrian yang terlalu mencolok. Silla mendesah pelan, kembali sadar diri dengan perbedaan status mereka.
"Seharusnya tidak seperti ini," ujar Silla sendu. "Saya adalah guru dari putra Anda. Tidak sepantasnya saya berbuat seperti ini. Semua ini adalah kesalahan saya. Mohon Anda berkenan memaafkan kelancangan saya hari ini karena melupakan status kita. Saya berjanji, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi."
Wajah Adrian berubah serius mendengar ucapan Silla. Pria itu menatap Silla datar, mencari tahu melalui tatapan mata wanita di hadapannya.
"Siapa yang telah melakukannya?"
"Maaf?" Silla mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Adrian.
Adrian menegakkan posisi duduknya, menatap Silla tajam. "Siapa yang membuatmu mengatakan hal-hal konyol seperti tadi? Kelancangan apa? Status apa? Semuanya terdengar seperti omong kosong."
Silla menundukkan wajahnya. Tangannya saling meremas dengan telapak tangan yang sudah dingin. Adrian yang seperti ini sungguh membuat Silla takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang membuatmu berkata seperti tadi? Bukankah kau tahu jika aku dan Romeo sama sekali tidak keberatan dengan kehadiranmu? Kami menikmatinya."
"Tidak terjadi apa-apa. Sungguh," ujar Silla meyakinkan. Namun, apa yang ia ucapkan terdengar kurang bisa meyakinkan karena ia tidak berani menatap Adrian secara langsung.
"Tetapi wajahmu berkata bahwa telah terjadi sesuatu." Adrian terlihat tidak puas dengan jawaban Silla.
Silla menelan ludahnya dengan susah payah, menghela napas panjang, lantas memberanikan diri menatap Adrian dengan mata yang telah memerah. "Jika memang telah terjadi sesuatu, saya akan mengatasinya sendiri. Urusan kita hanya sampai di sini. Hubungan kita hanya sebatas guru dan wali murid. Saya akan bersikap sewajarnya, begitu pula dengan Anda. Semua akan kembali pada perannya masing-masing."
Adrian mulai bersikap tenang. Tatapannya mulai melunak. "Kau akan melukai perasaan Romeo. Dia sangat menyukaimu dan menginginkan kau selalu di dekatnya."
Silla membuang napasnya asal. "Saya tahu," ujarnya lirih. "Untuk itulah, saya bermaksud memberikan kesan terakhir untuk Romeo hari ini. Karena itu, saya menerima ajakannya siang tadi."
"Romeo akan sangat kecewa mendengarnya," ucap Adrian datar tanpa mengalihkan pandangannya dari Silla.
Silla kembali menundukkan kepalanya lesu. "Saya tahu. Romeo pasti akan membenci saya. Akan tetapi, memang harus begitulah hubungan kami. Termasuk hubungan saya dengan Anda."
"Siapa yang telah membuat pengaturan konyol itu?" ucap Adrian berusaha menahan emosinya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
Nyali Silla langsung ciut melihat kegeraman Adrian. Tentu saja Silla tidak akan mengatakan bahwa kepala sekolahnya telah memberikan peringatan keras, meskipun tidak secara langsung. Silla masih butuh pekerjaan ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Meski gajinya tidak seberapa, setidaknya Silla bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Bungkamnya Silla telah menjelaskan segalanya. Adrian langsung berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan mondar mandir, berusaha menenangkan dirinya.
"Sudahlah," ucap Adrian yang akhirnya berhasil menguasai diri. "Nanti akan kita cari jalan keluarnya. Sebaiknya sekarang kita pulang. Kau terlihat sangat lelah hari ini."
Seperti sebelumnya, Silla hanya menurut patuh dengan ucapan Adrian. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi di dalam mobil selama perjalan pulang. Adrian dan Silla sibuk dengan pikiran masing-masing. Silla meminta untuk diturunkan di depan gang rumahnya karena mobil Adrian tidak akan muat masuk ke sana. Pada awalnya Adrian tidak setuju dengan permintaan Silla, tetapi akhirnya Adrian menyerah juga karena tidak mau berdebat lagi.
Dengan enggan, Adrian membiarkan Silla berjalan menyusuri gang rumahnya. Tatapan Adrian terus tertuju kepada Silla sampai wanita itu menghilang dari pandangannya.
***
Kepala Silla terasa sangat berat pagi ini. Sebenarnya dia sudah merasakan sakit dari semalam, tetapi dia tahan-tahan. Ia pikir, setelah tidur sakitnya akan hilang. Namun, apa mau dikata. Sakitnya malah tambah menjadi-jadi ketika ia bangun pagi ini.
Silla meraih ponselnya, kemudian menghubungi Desi—teman kerjanya. Tak butuh waktu lama, panggilannya langsung dijawab bahkan setelah dering pertama.
"Halo," sapa seseorang di seberang telepon.
"Tolong handle kelasku, ya. Hari ini aku tidak masuk," jawab Silla to the point.
"Kenapa?" tanya Desi terdengar cemas. "Kau sakit? Sudah periksa ke dokter?"
Silla tersenyum mendengar nada cemas temannya itu. "Tidak perlu ke dokter. Istirahat sebentar juga sembuh. Kau tidak perlu cemas. Besok aku pasti berangkat."
"Aku akan menggantikanmu di kelas. Tidak perlu memikirkan apa-apa. Istirahat saja."
Silla kembali tersenyum. Meski cerewetnya minta ampun, Desi adalah teman yang baik. Silla sangat bersyukur memiliki teman seperti Desi. "Thanks, Miss Desi."
Silla meletakkan kembali ponselnya setelah mengakhiri panggilan. Silla menatap langit-langit rendah rumahnya, mendesah pelan kemudian berusaha memejamkan matanya kembali. Tubuhnya terasa lelah. Ia memang butuh istirahat hari ini.
***
Hari sudah mulai beranjak siang ketika ponselnya berbunyi dan membangunkannya. Diliriknya nama yang tertera di layar, kemudian segera mengangkatnya.
"Halo, Om Yama."
"Hari ini ada lili yang bagus. Kau tidak datang? Masih di sekolah?" Seperti biasa, Om Yama akan memberitahu Silla jika ada bunga lili yang bagus. Pria paruh baya yang sudah Silla anggap sebagai ayahnya sendiri itu, sangat baik dan tahu kesukaannya.
"Maaf,Om. Sepertinya hari ini Silla tidak mampir. Sedang tidak enak badan."
"Om perlu ke sana? Mungkin Om akan meminta Tante ke sana saja."
Silla tersenyum mendengar kecemasan Om Yama. "Tidak apa-apa, Om. Hanya kelelahan saja. Ini sudah mendingan, kok," ucap Silla berusaha menenangkan Om Yama yang terdengar mulai panik. Karena tidak ingin menganggu istirahat Silla, Om Yama pun mengakhiri panggilannya.
Setelah meletakkan ponselnya, Silla menarik napas panjang kemudian berusaha bangun dari tempat tidur. Sakit kepalanya sudah mulai berkurang, jadi dia memutuskan untuk beranjak dari kamarnya menuju dapur.
Silla langsung meneguk segelas penuh air putih. Tenggorokannya sudah kering karena sejak tadi pagi tidak sanggup bangun dari tempat tidur. Saat Silla ingin minum untuk gelas kedua, terdengar suara ketukan pintu. Ia pun meletakkan gelasnya kembali, lalu berjalan menuju pintu depan untuk melihat siapa yang bertamu siang-siang begini.
"Kau?" ucap Silla terkejut setelah membuka pintu dan melihat siapa yang datang. "Sedang apa di sini?"
***