Amera terbangun di tengah malam. Tidak, ini pagi hari. Dini hari mungkin. Coret semuanya. Matanya berkunang-kunang dan sensasi yang menerbangkan dirinya masih terasa. Mengintip dari sudut matanya, Amera melihat Darren masih tertidur. Dengan lengan kokohnya sebagai bantalan dan dadanya yang bidang terekspos sempurna. Selimut polkadot milik Amera hanya sampai di pinggang pria itu. Menatap langit-langit kamar, Amera menarik napas panjang. Dia menghitung dalam hati kapan dia terakhir datang bulan dan Darren malam tadi mengeluarkannya di dalam. Pria itu selalu mengeluarkannya di dalam. "Arhh!" Amera menggigit guling polkadotnya. Dia melirik sekali lagi Darren yang masih pulas dan turun dari ranjang. Amera melihat pakaiannya terbuang ke sembarang arah dan tidak ada harapan untuk memakai pak

