1. Runtuhnya Dunia Sang Bintang
“Artis gak tau diri!”
“Muka polos ternyata tukang selingkuh!”
“Cantik sih, tapi kayak iblis. Teganya khianati Kevin sama sahabat sendiri!”
Ujaran kebencian membanjiri akun media sosial Aletta. Dia yang baru saja mendapatkan ketenaran dengan memiliki banyak pengikut di akunnya, mendadak jadi santapan kemarahan orang banyak.
Aletta membanting ponselnya. Benda pipih itu hancur menghantam lemari, seperti hidupnya yang kini telah hancur berantakan.
Aletta kembali menjatuhkan badannya ke kasur. Dia menangis lagi, meratapi kehidupannya yang tiba-tiba jatuh di lembah paling dalam.
Semalam, dia harus dijemput paksa oleh manajernya saat sedang menemui temannya di sebuah klub malam. Para awak media sudah menunggunya di luar dan kilatan lampu flash kamera serta berondongan pertanyaan mengejarnya.
Surya masih di dalam kamar putrinya. Dia duduk di sofa sambil menatap putrinya yang sedang meratapi hidupnya yang hancur karena kekasihnya sendiri.
Sebuah video perselingkuhannya beredar di media masa. Dia yang menjadi tokoh utama, mendapat banyak hujatan, sedangkan Kevin, kekasihnya, malah mendapat dukungan dari banyak pihak.
“Pa, Letta gak lakukan itu, Pa. Letta dijebak,” ucap Aletta pelan, di antara suara tangisnya.
“Sudah Papa bilang berkali-kali, jangan percaya sama orang itu. Tapi kamu masih aja bela dia,” ucap Surya menahan rasa kesalnya.
“Kevin jahat, Pa.” Suara Aletta semakin serak dan hampir menghilang.
“Sudahlah, nasi udah jadi bubur. Kita hanya bisa mencari bukti kalo kabar itu tidak benar.”
“Tapi Pa, kita bisa minta tolong Kevin bu—“
“Kevin udah buat video klarifikasi dan dia malah sudutkan kamu,” potong Surya.
Bibir Aletta bergetar mendengar fakta baru kalau kekasihnya itu benar-benar meninggalkannya.
“Sudahlah! Kariermu sudah tamat, Letta,” potong Surya, mengingatkan putrinya.
Tangis Aletta pecah. Keheningan di kamarnya itu kini diisi dengan suara isak tangis Aletta.
Aletta tidak percaya kalau pria yang baru dia kencani selama 6 bulan ini telah memberinya bom waktu. Dan bom itu meledak dengan sangat dahsyat, sampai membuat kegaduhan besar.
“Istirahatlah dulu. Tenangkan pikiranmu,” lanjut Surya.
**
Tiga hari sudah Aletta mengurung diri di kamar. Dia bahkan tidak nafsu makan dan dia juga tidak melakukan apa-apa.
Wanita cantik itu hanya menangis dan menyesali semuanya. Bahkan sampai hari ini dia tidak juga berani membuka ponselnya.
Surya mengetuk kamar putrinya. Tak ada jawaban, Surya pun masuk ke dalam kamar sang putri.
Aletta duduk di atas kursi di depan jendela balkon yang ditutup tirai tipis sambil memeluk kedua lututnya. Pandangan kosong, jauh ke depan, tak peduli siapa yang datang ke kamarnya.
Surya melihat ke piring makan yang ada di atas meja. Masih utuh, tak tersentuh sedikit pun.
Surya duduk di samping putrinya. Dia menarik napas dalam, seolah bisa merasakan penderitaan sang putri.
“Tempat ini sudah terendus media,” ucap Surya pelan.
Aletta langsung menoleh ke papanya. “Pa,” panggil Aletta pelan, sarat dengan ketakutan.
Surya menatap putrinya. “Kamu gak boleh di sini. Kamu harus pindah.”
Mata Aletta kembali berkaca-kaca. “Pin-pindah?”
Surya kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela. “Kamu gak boleh di Jakarta. Ato media akan memakanmu hidup-hidup.”
“Tapi mau ke mana lagi, Pa. Letta takut.” Suara Aletta serak, tangisnya siap keluar lagi.
Surya menatap putri tunggal kesayangannya. Dia melingkarkan tangannya di pundak putrinya, menyalurkan sedikit sisa kekuatannya.
“Bersiaplah. 15 menit lagi kita berangkat,” ucap Surya pelan tapi tegas.
“Be-berangkat? Kita mau ke mana, Pa?” tanya Aletta ingin tahu.
“Nanti kamu juga bakal tau. Yang pasti, di sana aman. Bersiaplah, Papa tunggu di bawah.” Surya memberikan kecupan kecil di kepala putrinya, sebelum dia pergi meninggalkan kamar Aletta.
Aletta yang masih tidak mengerti rencana papanya, hanya berharap apa yang dikatakan papanya benar adanya.
Aletta masih terlalu takut untuk berhadapan dengan dunia. Bahkan untuk berjalan keluar vila saja dia tidak berani.
Kejadian itu sangat memukul mental Aletta. Bahkan sampai saat ini, Kevin tidak muncul, sekedar meminta penjelasannya.
Sepertinya pria itu sedang menikmati popularitas yang dia buat dengan mengorbankan Aletta. Bahkan Siska juga sudah mengabarkan, kalau semua kerja sama iklan yang pernah mengontraknya, sudah menarik diri. Mereka tidak mau berurusan dengan Aletta lagi, yang sedang menjadi sorotan.
Hidup Aletta sudah tamat!
Aletta masuk ke dalam mobil bersama papanya. Koper besar miliknya juga sudah ada di bagasi.
Entah sudah berapa lama Aletta berdiam diri di mobil. Pemandangan gedung bertingakat dan jalanan beraspal itu kini sudah berganti dengan barisan pohon tinggi dan tanah merah yang sudah padat.
Aletta sedikit menyibak gorden penutup kaca mobil di sampingnya. Pemandangan yang tidak pernah dia lihat, terasa sangat asing.
“Pa, kita di mana?” tanya Aletta, tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.
“Ntar juga kamu tau sendiri,” jawab Surya.
Aletta menoleh ke papanya. “Kita di kampung, Pa? Ini kampung siapa?”
Tak ada jawaban dari Surya. Pria itu tetap melihat ke depan, sambil bersandar di dalam mobil mewahnya.
Tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah gerbang kayu yang jauh dari kata mewah. Aletta yang penasaran, melihat ke arah depan.
Setelah gerbang dibuka, mobil pun masuk. Kini mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana, bahkan jauh berbeda dengan rumah Aletta di Jakarta.
“Ayo turun,” ucap Surya bernada perintah.
Melihat papanya turun, Aletta pun ikut turun. Dia melihat ke sekitar, berusaha mengenali tempat baru yang katanya akan menjadi tempat persembunyiannya sampai keadaan membaik.
“Pondok Pesantren Nurul Huda,” ucap Aletta pelan, saat dia membaca tulisan besar di gedung bertingkat yang letaknya tak jauh dari tempatnya berdiri.
Aletta segera berjalan cepat ke arah papanya. “Pa, apa-apaan ini. Emang gak ada tempat lain apa?! Letta gak mau mondok, Pa! Letta mau pulang!” protes Aletta saat tahu dia dibawa ke pesantren.
“Diam dulu!” tegas Surya sambil memegang tangan putrinya.
“Pak Surya,” sapa seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah.
Surya memberi senyum tipis. “Iya, Bu,” sapa Surya dengan nada sopan.
“Bentar ya, Hamzah masih di pondok. Biar saya panggilkan.”
Tapi baru saja melangkah, langkah wanita paruh baya itu kembali terhenti. Dia melihat Aletta dan tersenyum pada wanita cantik yang kemarin diceritakan Surya, teman mendiang suaminya.
“Ini pastk Aletta ya, Pak?” tanya Umi Salamah, sambil terus menatap Aletta.
“Iya, ini Aletta,” ucap Surya memperkenalkan putrinya.
“Udah besar ya, Pak. Dulu masih kecil banget. Tunggu bentar ya Letta, Umi panggilkan Hamzah dulu. Silakan masuk dulu, Pak.”
“Iya, Bu.”
Umi Salamah segera mengayuh sepeda ontelnya ke arah gedung bertingkat yang bertuliskan nama pondok pesantren itu.
Aletta semakin mencium aroma tidak benar. Sepertinya dia harus menjadi santri di pesantren ini.
“Pa, Aletta gak mau di sini. Aletta mau pulang aja!” Aletta kembali protes.
“Tunggu dulu bentar,” ucap Surya berusaha mengalah.
“Tapi Letta gak mau mondok, Pa. Gak mau pokoknya!”
Surya menoleh ke putrinya. “Yang nyuruh kamu mondok itu siapa?”
“Trus kalo gak mondok, emangnya mau ngapain di sini?”
Surya batal menjawab, setelah dia mendengar suara sepeda motor datang mendekat. Seorang pria muda datang mengendarai motor itu, membonceng Umi Salamah.
Motor itu berhenti dan si pemuda langsung datang menemui Surya dan Aletta.
“Pak Surya,” sama Hamzah sambil bersalaman dan mencium punggung tangan Surya.
Aletta yang berdiri di samping papanya, terpaku pada sosok pria tampan di depannya. Wajahnya sangat bercahaya, tampak damai dan terlihat sangat tampan.
“Buset! Ganteng banget. Di kampung ada ternyata orang seganteng ini,” puji Aletta dalam hati tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari Hamzah.
Aletta terpesona akan ketampanan alami Hamzah.
Surya menoleh ke putrinya. “Letta, kenalkan ... ini Hamzah. Dia pimpinan pondok ini dan dia suami kamu sekarang,” ucap Surya memperkenalkan Hamzah.
“Ooh ... pimpinan pondok,” gumam Aletta pelan sambil menganggukkan kepalanya, masih terhipnotis ketampanan Hamzah.
Namun sedetik kemudian, dia langsung menoleh ke papanya. Matanya terbuka lebar dan tatapannya sangat serius. “Apa Pa, suami?!”