“Su-suami?” tanya Aletta dengan mata terbelalak.
Aletta tertawa garing. “Pa, Papa gak usah becanda. Papa gak usah ikut-ikutan bikin skandal. Gak lucu, Pa.” Ucapan Aletta sedikit membentak papanya karena dia seperti dipermainkan.
“Letta, bicara yang sopan sama orang tua,” tegur Hamzah dengan suara lembut tapi penuh ketegasan.
Aletta menoleh ke Hamzah. Matanya tajam, penuh dengan rasa kesal pada pria yang baru beberapa menit lalu dia temui, tapi sudah berani mengaturnya.
“Diam kamu! Gak usah ikut campur! Dan satu lagi, aku gak mau nikah sama kamu!” tegas Aletta menolak rencana pernikahan yang tiba-tiba datang padanya.
“Papa udah sepakat akan nikahkan kalian hari ini. Dan kamu juga udah setuju,” ucap Surya.
Aletta kembali dibuat syok. Dia menatap papanya dengan pandangan terheran-heran.
“Setuju? Kapan? Kapan Letta setuju, Pa? Papa gak usah bikin-bikin deh.”
“Malam setelah kejadian kejatuhanmu. Kamu sendiri yang bilang minta dinikahkan. Katanya kamu lebih baik nikah dari dulu, dari pada kamu ketemu Kevin dan malah jadi begini.”
Aletta kembali diam. Dia mencoba mengingat kejadian malam itu.
Aletta yang sedang frustrasi karena kejatuhan bom dari Kevin, menangis meraung di kamar ditemani papanya semalaman. Dia ingat, kalau dia sempat mengatakan hal bodoh itu di pelukan papanya.
Aletta kembali melihat papanya. “Pa, itu kan cuma ... cuma basa-basi doang. Cuma pelampiasan kesel doang, Pa.” Aletta berusaha membela diri.
“Ya tapi Papa kira itu juga hal yang baik untuk saat ini. Oleh sebab itu, Papa akan nikahkan kamu sama Hamzah.” Surya tidak mau kalah.
Aletta kini ganti melihat ke arah Hamzah. Dia menatap ke arah pria yang kini di sebut papanya sebagai calon suaminya.
Wajahnya memang tampan. Kulitnya juga putih bersih dengan rambut hitam lebat yang disisir rapi.
Tapi sarung dan juga baju koko itu, benar-benar bukan gaya pria idaman Aletta. Benar-benar jauh dari pria yang sering dia puja di drama Korea yang lebih fashionable seperti dirinya.
Aletta menarik sudut bibir kanannya ke atas. “Gak mau! Aletta gak mau nikah sama dia! Gak mau!” tolak Aletta tegas.
“Letta, kamu har—“
“Gak mau, Pa! Apa Papa bermaksud mau buang Letta? Papa mau singkirkan Letta dan milih ustad desa ini buat jadi suami Letta, gitu?!” protes Letta dengan suara nyaring sampai menarik perhatian orang yang lewat.
“Letta, ini demi kebaikanmu!” Surya berusaha sabar dan membujuk putrinya.
“Kebaikan? Kebaikan apa, Pa?” Aletta melihat ke arah Hamzah dan juga Umi Salamah dengan tatapan miring. “Mereka gak sekelas ama Letta, Pa. Letta gak mau jadi istri tukang doa! Ini lebih memalukan dari gosip kemaren!”
“Letta! Papa gak pernah ajarin kamu kurang ajar ya!” bentak Surya kesal pada sikap putrinya.
“Letta mau pulang! Letta gak mau di sini!”
Aletta langsung berbalik badan. Dia kembali ke mobil, siap kembali ke Jakarta.
“Letta! Kamu mau ke mana? Ini rumahmu sekarang!” pekik Surya sambil melihat putrinya membuka pintu mobil.
“Gak mau! Ini kampung. Letta gak bisa tinggal di kampung!” Suara Aletta menghilang di balik pintu mobil yang sudah tertutup kembali.
“Dih! Siapa juga yang mau nikah sama orang kayak dia. Bisa diceramahi terus aku ntar. Bukannya sembuh, yang ada aku makin gila di sini!” gerutu geram Aletta, membayangkan kehidupannya kalau dia menerima ide gila papanya.
Surya makin kesal pada putrinya yang sedang kumat penyakit egoisnya. Dia berjalan menyusul ke mobil, ingin menasihati putri tunggalnya.
Tapi baru satu langkah, lengannya di tahan oleh Hamzah. Pria tampan yang sejak tadi memasanh wajah datar itu, menatap Surya dengan tatapan yang teduh.
“Pak Surya, biar saya yang bujuk Aletta. Dia sekarang sudah tanggung jawab saya. Maka biar saya yang menanganinya. Bapak istirahat aja dulu di rumah, pasti Bapak lelah setelah perjalanan jauh,” ucap Hamzah sopan pada calon mertuanya.
Surya menarik napas panjang dan dalam. Dia mengangguk pelan lalu menepuk lengan Hamzah pelan. “Bantu saya, Ham. Saya gak tau lagi gimana ngatasi Letta,” ucap Surya yang kerap naik darah setiap kali dia harus beradu mulut melawan putrinya.
“Pak Surya, mari istirahat di dalam, Pak,” sahut Umi Salamah, mempersilakan calon besannya masuk ke rumahnya.
Surya mengangguk. Dia kemudian berjalan ke rumah sederhana milik mendiang pimpinan pesantren ini.
Dulu ayah Hamzah, pernah menerima dana besar dari Surya saat akan membangun pesantren. Bahkan saat Hamzah ingin membangun ladang pertanian agar pesantrennya bisa mencukupi sebagian besar kebutuhan pondok, Surya juga dengan suka rela mengulurkan kedermawanannya.
Sampai akhirnya kemarin Surya mendatangi Hamzah. Dia meminta tolong pada Hamzah untuk menikahi Aletta, meski mereka belum pernah saling bertemu.
Hamzah yang menaruh banyak hutang budi pada Surya, akhirnya menyetujui permintaan Surya. Hamzah hanya mengajukan syarat, pernikahan akan terjadi kalau Aletta menyetujuinya.
Setelah pernikahan, maka semua akan menjadi tanggung jawab Hamzah.
Hamzah masih berdiri di tempatnya. Dia menatap mobil Aletta yang semua kacanya tampak sangat gelap.
Dia menarik napas dalam. “Bismillah,” ucap Hamzah pelan sebelum dia melangkah menuju ke mobil Aletta.
Hamzah mengetuk kaca di pintu mobil. Tak ada jawaban.
Hamzah memberi kode pada sopir agar membuka kunci sentral. Dia kemudian membuka pintu di sisi Aletta duduk.
Begitu pintu terbuka, Aletta menyambutnya dengan tatapan tajam. “Berapa papa bayar kamu? Aku akan bayar dua kali lipat!” sembur Aletta.
“Aku gak dibayat,” jawab Hamzah tetap tenang dan terus melihat ke Aletta.
“Turunlah, kita bicara baik-baik,” pinta Hamzah dengan nada sopan.
“Gak mau! Jangan berani sentuh aku!” bentak Aletta menolak mentah-mentah.
Aletta menyipitkan matanya saat menatap Hamzah yang berdiri di sampingnya. “Apa kamu mau manfaatkan ini dan jadi viral juga? Pengen jadi pahlawan kesiangan kamu, hah?!” Aletta masih terus saja mengumpati Hamzah.
Aletta melempar tas Hermes di pangkuannya ke d**a Hamzah. “Ambil itu! Pasti itu lebih mahal dari yang dikasih papa ke kamu!” Alette langsung melengos sambil mendengus kesal.
Hamzah melihat ke tas kecil dari kulit asli yang harganya ratusan juta itu. Tas itu jatuh ke tanah, seperti tak ada harganya sama sekali.
Hamzah mengambil tas itu. Dia mengelap sisi tas mahal itu yang kotor kena tanah dengan tangannya.
Hamzah mengulurkan tangannya yang memegang tas ke Aletta. “Aku gak butuh uangmu,” ucap Hamzah dengan suara rendah namun berwibawa.
Suara Hamzah membuat Aletta menoleh. Tapi tetap saja wajahnya mengeras, menunjukkan kemarahannya.
“Di kota, mungkin kamu adalah ratu. Tapi di sini, kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya seseorang yang kehilangan arah. Aku sama sekali gak tertarik dengan ketenaranmu yang sedang hancur itu,” lanjut Hamzah yang memukul diam Aletta.
Hamzah sedikit menunduk. Dia menatap mata Aletta yang memerah saat menatapnya.
“Sekarang pilihannya hanya dua. Kamu ikut turun dan selesaikan akad nikah kita dengan terhormat. Atau kamu akan tetap kembali ke Jakarta, bertemu dengan para wartawan yang siap menguliti hidupmu tanpa ampun. Pilihan ada di tanganmu, Aletta.”
Ucapan Hamzah membuat badan Aletta bergetar. Suaranya datar tapi sarat akan makna menakutkan, yang membuka lagi mimpi buruk Aletta.
Bayangan serangan kilatan flash kamera dan juga komentar jahat yang menyerang mentalnya, membuat napas Aletta memburu.
Aletta memejamkan matanya. Ketakutan kembali menyerangnya.
Melihat Aletta tidak bereaksi, Hamzah pun mengangguk pelan. Dia telah gagal membujuk Aletta.
Tapi, saat akan pergi, tiba-tiba tangan dingin Aletta meraih tangannya. Spontan Hamzah mengibaskan tangannya dan menoleh ke wanita yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu.
“Kita belum muhrim,” ucap Hamzah, berharap Aletta tidak salah paham lagi.
Aletta menatap Hamzah. Pria di depannya ini cukup tampan, tak terlalu memalukan jika berjalan bersamanya. Hanya saja dia terlalu miskin, yang membuat Aletta merasa Hamzah memanfaatkannya.
“Baiklah, kita nikah. Tapi aku punya syarat!” ucap Aletta, mencoba membuat kesepakatan.