3. Membuka Gerbang

1277 Words
“Penuhi semua syaratku, maka aku mau nikah sama kamu!” tegas Aletta berusaha membuat kesepakatan dengan Hamzah. Hamzah sedikit mendengus kesal. Tapi semuanya tetap terbungkus rapi dengan sikap datarnya, tak menggoyahkan ketenangannya. “Kamu mau apa dari aku? Jangan minta hal yang berlebihan,” jawab Hamzah. Aletta memutar bola matanya mendengar ucapan Hamzah. “Tentu saja kamu gak akan bisa menuhin kebutuhanku. Tenang aja, aku gak akan minta materi. Cukup jangan sentuh aku, jangan ikut campur urusanku dan saat semuanya kembali normal, ayo kita cerai. Mudahkan?” ucap Alette tegas sambil menatap rendah Hamzah. Hamzah menatap Aletta. Tak ada jawaban keluar dari mulutnya, kecuali istigfar di dalam hatinya. “Kita sudah ditunggu. Ayo masuk,” ajak Hamzah yang kemudian segera pergi lebih dulu menuju ke rumahnya. Melihat Hamzah pergi, Aletta segera keluar dari mobil. “Heh, tunggu dulu. Hamzah! Kamu setuju kan?” Hamzah tak merespons. Langkah kakinya tetap menuju ke rumah sederhana yang ditinggali ibunya. Aletta terpaksa mengikuti langkah kaki Hamzah. Dia merasa pria itu menyetujui syaratnya, meski tanpa menjawabnya. “Assalamu’alaikum,” ucap Hamzah saat dia hendak masuk rumah. “Wa’alaikumussalam. Aletta mana, Ham?” tanya Umi Salamah. Hamzah menoleh ke belakang sebentar lalu melangkah masuk. “Itu di belakang.” Umi Salamah tersenyum pada Surya. “Alhamdulillah, Pak.” “Iya, Bu. Trus ini gimana, Bu?” tanya Surya. “Bentar Pak, biar saya hubungi Pak Kiai dulu. Kemarin beliau yang mengurus semuanya.” Umi Salamah segera beranjak ke dalam rumah. Dia hendak menemui putranya, yang sedang bersiap melakukan akad nikah. Aletta masuk ke dalam rumah. Wajahnya masih kusut dan cemberut. Apa lagi rumah calon suaminya ini jauh dari kata layak bagi Aletta. Rumahnya sangat sederhana, yang sangat jauh berbeda dengan rumahnya di Jakarta. Aroma kayu dan juga suara cicitan ayam, menambah kenyataan kalau ini rumah pedesaan yang menurut Aletta kumuh. Belum lagi lantai keramik murah yang terlalu dingin di kakinya, seolah akan membekukan dirinya. “Letta, kamu ke kamar itu dulu. Bersiap dulu sana. Dan jangan lupa, belajar senyum,” ucap Surya yang senang karena akhirnya Hamzah berhasil membujuk putrinya. “Mau siap-siap apanya lagi sih, Pa. Letta udah cantik dari dulu, gak perlu di rias. Lagian ini cuma di kampung, gak perlu berlebihan!” tolak Aletta. “Ya paling gak ganti bajumu lebih sopan. Mana ada penganten pake celana jeans sama hoodie. Sana ganti baju! Bajumu udah ada di kamar.” Aletta mendengus mendengar perintah papanya. Dia berjalan sambil mengentak-entakkan kakinya, melampiaskan kemarahannya pada keramik murah di lantai rumah Hamzah. Hamzah bersiap di kamarnya. Sebuah gamis panjang putih sudah di siapkan sejak kemarin. Acara hari ini memang sudah dirancang, bahkan para saksi dan penghulu sudah siap dipanggil. Pintu kamar Hamzah diketuk. Umi Salamah muncul di depan pintu, dengan senyumnya. “Umi, ada apa?” tanya Hamzah sambil mengancingkan lengan bajunya. “Pak Kiai sedang menuju ke sini. Kamu udah siap?” tanya Umi Salamah. Hamzah tersenyum. “In syaa Alloh, Umi. Oh ya, Letta udah di kamarnya?” Umi Salamah mengangguk pelan. “Udah. Jangan lama-lama ya. Ntar Pak Kiai nungguin.” “Iya, Umi. Bentar lagi Hamzah keluar.” Umi Salamah menepuk pelan pundak putranya. Dia tahu, pasti putranya keberatan dengan pernikahan ini. Dia melempar senyum yang sedikit dipaksakan dan tatapan sedih, melihat putranya berusaha menerima garis takdir yang berubah. Umi Salamah mendengar kalau putranya menaruh hati pada putri Kiai kampung sebelah yang juga merupakan guru Hamzah di pondok dulu. Tapi ternyata takdir membawa Hamzah pada Aletta yang sama sekali tidak pernah dia kenal sebelumnya. Hamzah keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke ruang tamu, menemui para tamu yang sudah menunggunya. “Pak Kiai,” sapa Hamzah menyapa Kiai Husin sepuh pengajar di pesantrennya. “Ham, penghulunya masih di jalan. Tunggu bentar ya,” ucap Husin. “Iya, Pak.” “Umi, mana pengantin perempuannya?” tanya Husin. “Bentar Pak, saya panggilkan dulu.” Tapi belum sempat Umi Salamah beranjak dari duduknya, pintu kamar Aletta terbuka. Wanita calon istri Hamzah keluar. Aletta berjalan cepat ke arah papanya. Wajahnya masih ditekuk lalu duduk menyembunyikan wajahnya di lengan sang papa. “Ini kenapa masih dipake aja sih hoodie busukmu,” geram Surya pelan. “Bajunya sempit, Pa. Gak liat apa tadi bajunya juga cingkrang. Tau gitu tadi Aletta pake baju sendiri. Banyak baju pesta Letta di rum—“ “Mau konser kamu pake baju kayak gitu di sini, hah?” potong Surya. “Tapi itu mahal tau, Pa. Gak ada apa-apanya sama baju ini.” Surya tidak ingin menjawab lagi. Nanti keadaan makin panas kalau dia mendebat putrinya lagi. Aletta sedikit melirik ke arah Hamzah yang sedang duduk bersila di dekat pria yang bari dia lihat. Pria itu tampak sangat rapi dan wajahnya kian bersinar. Ada senyum tipis mengembang di bibir Aletta, saat melihat ketampanan Hamzah yang tidak kalah dengan artis ibu kota. Tapi senyum itu buru-buru dia tepis. Aletta tidak mau larut dalam skenario pernikahan kontrak yang sudah mereka sepakati tadi. Akhirnya penghulu datang. Tak ingin membuang waktu terlalu lama, akhirnya pernikahan sederhana di atas karpet biru itu pun di gelar. “Saya terima nikah dan kawinnya, Aletta Florensia Atmaja binti Surya Atmaja dengan mas kawin uang 500 ribu dan surat Ar-Rohman di bayar tunai!” Suara Hamzah tegas mengucapkan ikrar nikahnya dalam satu tarikan napas. Aletta menoleh ke Hamzah yang duduk berhadapan dengan papanya. “Buset! 500 ribu doang? Gak salah itu?!” geram Aletta yang kesal karena mas kawinnya hanya seharga uang jajannya satu hari. Kini status pernikahan Aletta dan Hamzah sudah resmi. Penghulu memanggil Aletta, agar Hamzah bisa menyerahkan maharnya. Hamzah menatap istrinya bukan dengan cinta, tapi dengan tanggung jawab besar yang menantinya. Sedangkan Aletta menatap Hamzah dengan penuh kebencian. Aletta menerima uang receh itu dengan setengah hati. Wajahnya masih ditekuk dan tak ada senyum bahagia di sana. Tapi hal berbeda terjadi saat Hamzah mulai mengalunkan surat Ar-Rohman, mahar nikahnya yang kedua. Meski mendengarkan sambil menundukkan kepalanya, tapi ada perasaan nyaman di hati Aletta. Ayat demi ayat yang keluar dari bibir Hamzah, seolah sedang mendobrak benteng pertahanan yang dia buat. Suara Hamzah sangat merdu dan membuat Aletta betah berlama-lama berada di dekat pria itu. Suara Hamzah yang berat namun lembut, mengalun indah memenuhi ruang tamu yang sempit itu. Aletta yang tadinya sibuk merutuki nasibnya, tiba-tiba merasa dadanya semakin sesak. Bukan karena bajunya yang kekecilan atau desakan amarahnya, tapi karena setiap alunan ayat itu seperti memiliki nyawa yang menenangkan badai di kepalanya. “Wah, bagus banget bacaan kamu, Ham,” puji Surya yang tadi juga mendengarkan lantunan ayat suci dari menantunya. “Hamzah itu andalan Pak kalo soal mengaji. Suaranya bagus dan dulu sering menang lomba,” sahut Kiai Husin. “Bisa aja Pak Kiai. Biasa aja kok, Pak,” ucap Hamzah yang tidak suka jika dia terlalu di puji. “Tapi suara kamu emang enak kok, Ham. Yuk sini, tanda tangan berkas surat nikahnya dulu. Saya masih ada kerjaan,” celetuk penghulu sambil menyerahkan semua berkas administrasi pernikahan. Hamzah menanda tangani lebih dulu. Setelah itu dia menyerahkan pada Aletta. Alih-alih menyambutnya dengan baik, Aletta malah melengos saat Hamzah memberikan berkas itu ke Aletta. Sudah persis seperti pernikahan dengan perjodohan paksaan. Akhirnya pernikahan sederhana itu selesai. Penghulu dan Kiai Husin berpamitan, karena masih ada pekerjaan yang harus mereka lakukan. Aletta masih duduk di dekat papanya. Dia tidak sudi duduk dekat suaminya, meski hubungan mereka telah resmi. “Pak Surya nginep di sini?” tanya Umi Salamah. “Enggak, Bu. Saya harus kembali karena saya udah 3 hari gak kerja,” jawab Surya. “Pa,” rengek Aletta yang tidak ingin di tinggal. Surya melihat ke putrinya. “Sekarang inilah rumahmu. Jangan berani pergi dari sini, kalo kamu masih ingin hidup!” tegas Surya, mewanti-wanti putrinya agar tidak gegabah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD