“Ma-maksud kam—“
Suara Aletta tercekat. Keberanian yang tadi dia pamerkan saat membentak soal kasur dan AC mendadak menguap entah ke mana.
Aletta kini bahkan bisa merasakan embusan napas Hamzah di keningnya. Jantungnya berdentum begitu keras sampai ia takut Hamzah bisa mendengarnya.
“Dia kenapa sih. Udah gila kali dia ya!” umpat Aletta dalam hati terjepit kepanikan.
“Hamzah! Mau ngapain kamu! Mana ada Ustad yang berani memojokkan perempuan sampai seperti ini!” Aletta meluapkan kemarahannya tapi kini tanpa berani menatap suaminya.
Ada senyum tipis di bibir Hamzah, melihat istri galaknya ini panik. Ternyata nyali Aletta tak sekuat bentakannya.
“Perempuan mana? Kamu istriku sekarang. Aku bebas mau ngapain aja,” jawab Hamzah enteng.
“Tap-tapi, kam ... kamu ....” Tiba-tiba Aletta jadi gagap, tak bisa menyelesaikan ucapannya sendiri.
“Istriku,” panggil Hamzah pelan sambil merendahkan wajahnya lagi, mengunci mata Aletta dengan tatapan tajam yang tak terbaca.
“Kalau kamu bisa bicara sesuka hati tanpa adab, maka aku juga punya hak untuk bertindak sesuka hatiku sebagai suami. Kamu mau aku pakai hak itu sekarang?” lanjut Hamzah sedikit mengintimidasi.
Aletta menahan napas. Ia memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Hamzah yang begitu mengintimidasinya.
“Kam ... kamu jangan macem-macem ya! Kita punya perjanjian!”
“Perjanjian itu tidak membebaskanmu dari kewajiban menghargaiku, Letta,” bisik Hamzah tepat di samping telinga sang istri, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Aroma sabun mandi yang segar dan sisa wangi air wudhu dari kulit Hamzah justru terasa lebih berbahaya daripada hujatan netizen yang datang menyerbunya.
Tangan Hamzah bergerak, bukan untuk menyentuh Aletta, melainkan menumpu di tembok tepat di samping kepala Aletta, mengunci penuh ruang geraknya.
“Panggil aku ‘Mas’. Aku tidak akan melepasmu sebelum kata itu keluar dari mulutmu dengan benar.” Suara Hamzah terdengar sangat tegas, bagai sambaran petir di telinga Aletta.
Aletta menggigit bibir bawahnya. Gengsinya setinggi langit, tapi tatapan Hamzah kali ini benar-benar membuatnya jatuh tersungkur.
Hamzah tidak sedang bercanda. Dia sedang menguasai istrinya yang sejak tadi sangat merepotkannya.
“Mas....” cicit Aletta lirih.
“Apa? Aku gak dengar.”
Aletta memejamkan mata rapat-rapat, wajahnya memanas. “Iya! Mas Hamzah! Puas?!” Mata Aletta terbuka dan tatapannya sangat tajam dipenuhi dengan kemarahan.
Hamzah terdiam sejenak, menatap wajah Aletta yang merah padam karena kesal sekaligus malu.
Perlahan, Hamzah menarik tubuhnya kembali tegak, memberi ruang bagi Aletta untuk bernapas lega. Kehangatan yang tadi mengimpit Aletta mendadak hilang, digantikan suhu ruangan yang terasa semakin dingin.
Hamzah kembali menatap Aletta, tapi kali ini tatapannya lebih santai. “Bagus. Biasakan itu,” ucap Hamzah datar, seolah kejadian barusan hanyalah cara dia memberikan pelajaran tata krama pada istrinya.
Hamzah berbalik dengan tenang, meninggalkan istrinya begitu saja.
“Simpan mukenamu. Ayo kita beli makan. Aku gak yakin kamu bisa masak,” perintah Hamzah yang sudah kembali duduk di tempat tidurnya.
Aletta masih terpaku di tembok, tangannya memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Mulutnya mengerucut dan tanpa ingin membantah lagi, Aletta memilih keluar dari kamar mengerikan itu.
“Sialan!” umpat Aletta pelan.
“Tukang doa ini bener-bener nyebelin. Ngapain coba dia kayak gitu tadi, hah?!” Aletta memegang dadanya yang sedang tidak baik-baik saja. “Kamu juga ngapain pake deg-degan segala sih! Tapi sumpah, galak banget dia tadi. Ck! Pasti karena galak ini dia gak laku. Biasanya anak pondok demen nikah muda. Tapi yang ini ...." Aletta malah kembali menghujat Hamzah.
Aletta memukul guling di atas tempat tidurnya. Dia melampiaskan kekesalannya pada suaminya pada guling yang tidak terlalu empuk itu.
“Hamzah, sialaan!!!” pekik Aletta dalam hati sambil mencekik gulingnya.
“Hamzah. Aletta. Assalamu’alaikum,” panggil Umi Salamah dari depan rumah.
“Wa’alaikumussalam. Bentar, Umi,” jawab Hamzah yang segera keluar dari kamarnya untuk membuka pintu depan.
Sebelum ke ruang tamu, Hamzah tidak lupa menutup pintu kamar yang dia tempati, agar uminya tidak tahu kalau dia diusir Aletta dari kamarnya.
Hamzah tidak mau istrinya mendapat masalah di hari pertama pernikahan mereka.
“Umi,” sapa Hamzah hangat, saat dia melihat uminya datang dengan membawa rantang di tangannya.
“Ham, Letta mana?” tanya Umi Salamah yang tidak melihat menantunya.
“Masih di kamar. Lagi lipet mukena. Umi bawa apa?” tanya Hamzah.
Umi Salamah mengangkat rantangnya. “Umi tadi masak. Kalian pasti belum makan malam kan?”
“Belum, Umi,” sahut Aletta saat dia keluar dari kamar setelah mendengar mertuanya mengirim makanan.
“Kebetulan. Ayo kalian makan dulu.” Umi Salamah menoleh ke menantunya. “Kamu makan yang banyak ya, Letta. Nasinya abisin,” pesan Umi Salamah sambil tersenyum lebar.
“Iya, Umi. Kebetulan Letta juga udah laper banget.”
Aletta menoleh ke Hamzah. “Tadinya Ham ... Mas Hamzah mau ngajak pergi makan di luar. Iya kan Ham ... eh Mas. Iya ... Mas Hamzah,” sambung Aletta yang lidahny masih belum terbiasa dengan panggilan baru untuk suaminya.
Umi Salamah tersenyum. “Gak usah keluar. Di luar agak mendung, ntar malah keujanan. Ya udah kalian makan aja ya. Umi mau liat pondok dulu.”
“Gak makan bareng aja di sini, Mi?” tanya Hamzah.
“Gak usah. Umi udah makan. Mau liat anak-anak dulu bentar.” Umi Salamah melihat menantunya dengan senyum mengembang. “Letta, makan yang banyak ya, Sayang?”
Aletta balas tersenyum. “Iya.”
“Mau Hamzah anter, Mi?” tawar Hamzah.
“Gak usah. Udah, temenin istrimu makan aja.”
Umi Salamah pun akhirnya berpamitan. Dia akan mengecek makan malam di pondok seperti biasanya.
Hamzah mengantar uminya sampai ke depan rumah. Sedang Aletta yang sudah lapar, segera membawa rantang bawaan mertuanya ke ruang makan.
Hamzah melihat istrinya berdiri di meja makan tanpa bergerak. Tatapannya tertuju pada rantang yang sudah dibongkar.
“Ngapain diliatin aja. Ayo makan,” ucap Hamzah saat melewati istrinya untuk mengambil piring.
“Apanya yang bisa di makan? Gak ada apa-apanya ini,” gerutu Aletta dengan wajah murung.
Mendengar keluhan istrinya lagi, Hamzah yang sudah membawa peralatan makan, mendatangi istrinya. Dia melihat isi rantang kiriman uminya.
“Itu ada telor sama tempe. Ada sambel juga. Ini cukup kok,” ucap Hamzah.
Aletta menoleh ke suaminya. “Apanya yang cukup?! Gak ada ayamnya, daging ato ikan. Mana bisa makan pake tempe aja!” protes Aletta yang tidak biasa makan makanan terlalu sederhana seperti itu.
Hamzah menatap istrinya dengan tatapan lembut. “Malam ini kita makan ini dulu ya,” bujuk Hamzah.
“Gak mau! Aku mau makan yang lain!”
“Tadi kan kamu mau ajak aku makan di luar. Ayo kita makan di restoran aja. Aku gak mau makan ini!” rengek Aletta dengan mata sedikit berkaca-kaca.
Melihat istrinya hampir menangis, rasa kasihan Hamzah tersentil. Akan sangat tidak adil bagi istrinya kalau dia memaksa istrinya berubah total tanpa proses.
Hamzah mengangguk pelan. “Ya udah, kita beli lauk di luar ya.” Hamzah mengalah.
Aletta mengusap air matanya yang terlanjur jatuh. Ternyata Hamzah bisa luluh juga dengan air matanya.
Tanpa menjawab, Aletta langsung pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Dia meninggalkan suaminya yang sedang menata rantang itu lagi, karena makan mereka harus ditunda.
“Letta, ayo buruan. Ntar keburu ujan loh,” panggil Hamzah saat dia menunggu istrinya keluar dari kamar.
“Iya, ini udah siap. Bawel banget sih!” gerutu Aletta sambil menutup pintu kamarnya.
Hamzah terperangah melihat ke arah istrinya. Dia sampai hampir tertawa melihat penampilan sang istri.
Topi, syal, jaket kulit, bahkan kaca mata hitam dan masker semua menempel di badan sang istri. Melihat Hamzah menertawakannya, Aletta kembali kesal.
“Ngapain kamu ketawa. Ini itu fashion tau! Aku tetep harus jaga privasiku biar gak dikenali orang,” ujar Aletta memamerkan style orang kota.
“Tapi di sini gak ada yang ngenalin kamu. Apa ini gak terlalu berlebihan?” tegur Hamzah.
“Gak lah! Lagian emang kamu tau dari mana kalo di sini gak ada yang ngenalin aku? Pengikutku itu jutaan tau!”
Hamzah mengangguk, mengakhiri perdebatan mereka yang tidak akan pernah ada akhirnya. “Ya udah, ayo jalan. Ntar keb—“ belum selesai Hamzah bicara, suara hujan deras turun langsung terdengar.
Aletta yang tidak terima dengan keadaan ini langsung berlari ke kaca depan. Dia menyibak gorden untuk melihat ke luar rumah.
“Yah, kok ujan sih?” Aletta menoleh ke suaminya. “Ini gara-gara kamu! Coba tadi kamu gak nanya mulu, pasti kita udah bisa beli ayam goreng!” sungut Aletta memarahi suaminya.
“Loh kok aku. Kan tadi kamu dandannya juga lama.” Hamzah tidak terima disalahkan.
“Ya, ya kan aku har—“
“Ah udahlah, pokoknya ini salah kamu!” Aletta tidak bisa mendebat, tapi dia juga tidak mau di salahkan.
“Pokoknya sekarang kamu harus beliin aku ayam goreng!” perintah Aletta keluar lagi.
“Di luar ujan deres. Udah, makan yang ada aja dulu.”
“Gak mau! Itu bukan makanan. Lagian kamu kan suami aku, Mas. Harusnya kamu berkorban buat aku. Biasanya kan suami kayak gitu,” bujuk Aletta tanpa berani menatap Hamzah.
“Emang harus gitu ya? Tapi kita masih pu—“
“Harus! Gimana ntar kalo aku hamil? Aku pengen ini itu kan harus dituruti. Anggep aja sekarang latian dulu,” tegas Aletta.
Hamzah tertarik dengan ucapan Aletta. Dia kembali menatap istrinya dengan tatapan dalam dan lembut.
“Hamil? Kamu mau hamil anak aku?” ucap Hamzah dengan nada rendah.
Hamzah melihat ke plafon rumahnya. “Kayaknya suasana mendukung,” lanjutnya lagi tanpa rasa bersalah.
“Hamzaaah!!!” teriak Aletta panik dan langsung kabur ke kamarnya.