6. Tolong Aku

1525 Words
Kruuug. Genderang perut Aletta sudah berbunyi beberapa kali. Suara yang membuat perutnya melilit itu sampai mengganggu kenyamanan tidurnya. Aletta tidur meringkuk di atas kasur sambil memegangi perutnya. Semalam dia tidak mau ikut makan malam bersama suaminya. Untungnya dia masih menyimpan beberapa roti di dalam tasnya. Tapi ternyata kekuatan roti itu tidak bisa menahan pemberontakan perutnya. “Aduhh laper,” keluh Aletta pelan sambil mengusap perutnya dengan matanya yang masih terpejam. Ketenangan tidur Aletta mulai hilang. Dia berbolak-balik di atas tempat tidur, berharap akan mendapatkan rasa nyenyak lagi. Tapi sayangnya, hal itu sudah menghilang, pergi meninggalkan Aletta. “Aaack!” pekik frustrasi Aletta sambil menendang-nendang selimut yang menutupi kakinya. Aletta mendengus kesal sambil menunduk lemas. Rambutnya masih acak-acakan, menandakan dia baru saja kehilangan kenyamanan tidurnya. Aletta melihat jam dinding di kamar sempit itu. “Jam 1. Kenapa juga lapernya kok dateng sekarang. Bisa gak sih nunggu pagi,” gumam Aletta pelan sambil mengusap perut ratanya yang masih meraung meminta belas kasihan. Aletta mengambil tas perbekalan miliknya. Kosong, hanya ada bungkus makanan yang tadi sudah dia habiskan. Aletta menoleh ke pintu yang ada di belakangnya. Tatapannya redup, menahan lapar bercampur kantuk. “Kiriman umi semalam masih ada gak ya?” gumam Aletta pelan. Tiba-tiba bayangan telur goreng dan tempe semalam, menggoda akal sehatnya. Meski awalnya dia tidak mau, tapi sepertinya makanan itu akan menjadi penyelamatnya malam ini. “Awas aja kalo sampai dia abisin ya!” ucap Aletta sambil menyibak selimutnya. Aletta mengambil karet rambutnya dan menggelung rambut panjangnya. Dia berjalan perlahan, berharap suara langkahnya tidak akan didengar oleh Hamzah yang tidur di kamar depan. Akan sangat memalukan kalau dia ketahuan makan makanan yang semalam dia tolak. Harga dirinya akan kembali hancur di mata ustad kampung yang merusak kenyamanan hidupnya. Aletta memejamkan matanya erat sambil menggigit bibir bawahnya, saat dia membuka pintu kamar. Dia membuka pintu itu sangat pelan, lalu mengendap-endap berjalan menuju ke dapur. Lampu ruang tengah sudah dimatikan, menyisakan keremangan yang hanya dibantu oleh lampu kuning redup dari arah dapur. Suasana rumah sederhana itu terasa jauh lebih dingin dan sunyi di tengah malam. Aletta melihat ke kamar Hamzah, tenang dan tak ada pergerakan dari dalam. Aman! Aletta melanjutkan langkahnya ke dapur. Dia sampai berjinjit, agar beban tubuhnya tidak menghantam penuh di atas keramik murah, yang mungkin saja akan terdengar oleh telinga super Hamzah. ​Langkah Aletta berhenti di depan meja makan. Dia menatap tudung saji plastik di depannya, berharap akan ada sesuatu yang dia cari di dalam sana. Dengan perlahan, seolah sedang menjinakkan bom, Aletta mengangkat tudung saji itu. “Ah, masih ada. Akhirnya aku bisa makan,” ucap Aletta pelan penuh kelegaan, dengan tatapan berbinar dan bibir full senyum. ​Di atas piring, potongan telur dadar dingin yang tidak estetik dan beberapa potong tempe kiriman Umi tadi sore tampak bersinar di mata Aletta. Aroma sambal terasi yang tadi ia hina habis-habisan, kini tercium begitu menggoda, seperti parfum paling mahal di dunia. ​Aletta tidak sanggup lagi menahan godaan besar itu. Dia menyambar sepotong telur dadar dengan tangannya. “Emm, enaknya,” ucap Aletta sambil memejamkan matanya menikmati gejolak rasa telur dadar di dalam mulutnya. Tak cukup satu, kini Aletta mencoba mengambil tempe dan dia cocol ke dalam sambal terasi. Matanya kembali terpejam dengan senyum puas mengiringi pesta kembang api di perutnya. Rasanya seperti menemukan oasis yang melenyapkan semua dahaganya. ​"Kalau makan itu duduk. Jangan berdiri. Setan makan sambil berdiri." ​Deg! ​Aletta tersentak hebat, sampai telur di tangannya nyaris melompat. Dia memutar tubuhnya dengan kaku, seperti robot yang kekurangan oli. Di sana, di ambang pintu kamar, Hamzah berdiri dengan sarung tersampir di bahunya. ​Tatapan Hamzah datar, tapi entah kenapa Aletta merasa seperti sedang disinari lampu sorot polisi saat sedang merampok bank. ​“Ha-Hamzah! Eh, Mas ... Mas Hamzah.” Aletta syok melihat kemunculan suaminya yang selalu tiba-tiba. Aletta segera menyembunyikan tangannya yang memegang telur di belakang punggung, tapi noda minyak di sudut bibirnya tidak bisa berbohong. ​Hamzah mendekat ke istrinya. “Lapar?” tanya Hamzah singkat, sambil melihat ke arah istrinya yang baru saja tertangkap. ​Aletta menelan paksa makanan di mulutnya. Wajahnya memanas sampai ke telinga, menahan malu yang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Aletta menggeleng pelan. “La-lapar? Siapa yang lapar?! Ak-aku cuma mau ngecek! Iya, ngecek aja makanan ini udah basi apa belum. Kan kalau basi nanti kamu keracunan, terus aku jadi janda sebelum malam pertama. Ribet kan?!” ​Hamzah terdiam sejenak sambil menyembunyikan senyum. Dia melihat piring berisi tempe yang sudah berantakan karena ulah Aletta. Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Tanpa berkata-kata, Hamzah berjalan ke dapur meraih piring bersih di rak, mengisinya dengan nasi dari magic com, lalu meletakkannya tepat di depan Aletta. ​“Makanlah. Gak usah cari alasan soal basi. Aku udah masak nasi sebelum tidur tadi.” ​Aletta terpaku. Dia menatap piring nasi hangat itu, lalu menatap Hamzah yang masih berdiri di sampingnya. ​“Aku mau sholat malam dulu. Habiskan nasinya, jangan cuma makan telurnya,” ucap Hamzah lembut sebelum melangkah pergi menuju kamar mandi. “Tap-tapi aku beneran gak laper loh. Aku cuma ngecek aja.” Pembelaan bodoh demi gengsi itu keluar begitu saja dari mulut Aletta. “Iya, anggep aja aku gak liat. Udah buruan makan,” jawab Hamzah tanpa melihat istrinya dan segera menghilang di kamar mandi. ​Aletta menggigit bibir bawahnya. Rasa malu dan lapar bertarung hebat di dadanya. Dia mengembuskan napasnya kasar. Ingin rasanya dia balik ke kamarnya, tapi perutnya masih meronta. “Bodo ah! Aku laper,” geram Aletta yang kemudian segera duduk untuk makan. Aletta mulai makan. Dia tidak peduli Hamzah akan menertawakannya, yang pasti dia harus menyelamatkan perutnya dulu. Sampai Hamzah keluar dari kamar mandi pun, Aletta tetap saja makan. Dia menunduk semakin dalam saat suaminya itu lewat di sampingnya. Hamzah hanya sedikit melirik ke Aletta, memastikan istrinya makan dengan benar. Dia kemudian berjalan ke arah tempat sholat dan mulai sholat malam. ​Alette menoleh ke belakang. Dia melihat suaminya sudah larut dalam keintiman dengan Tuhannya di tengah malam. Aletta meminum minumannya untuk membantunya menelan makanan di mulutnya. “Orang aneh. Dia ini punya ilmu apa sih, bisa-bisanya dia tau aja aku lagi ngapain. Tiba-tiba muncul tengah malam,” gumam Aletta pelan sambil terus memperhatikan suaminya. Aletta menyuap nasinya lagi. Tiba-tiba matanya terbuka lebar dan kembali menoleh ke belakang. “Wait! Dia gak ngintip ke kamarku kan? Ato ada CCTV-nya di sana? Awas aja ya kalo dia lakuin itu, bakalan aku buat dia nyesel seumur hidup!” gerutu Aletta sambil mendengus kesal. ** ​Braakk! Braakk! Braakk! ​“Aletta! Keluar! Berikan klarifikasi soal skandal itu!” “Aletta, apa benar karirmu sudah hancur?!” ​Suara gedoran di pintu kamar Aletta terdengar sangat nyata. Aletta sampai meringkuk di sudut tempat tidurnya, menutup telinganya rapat-rapat dengan badan bergetar. “Pergi! Pergi kalian semua! Jangan ganggu aku!” teriaknya dalam mimpi. ​Braakk! Braakk! ​“Letta! Bangun!” panggil Hamzah di depan kamar istrinya ​“Pergi! Pergi!” teriak Aletta dari dalam kamar. Napas Aletta memburu. keringat dingin membasahi keningnya. Dia masih bisa merasakan jantungnya berdegup kencang karena ketakutan didatangi wartawan. Aletta berada di ambang mimpi dan kenyataan. “Letta, bangun dulu. Ini udah subuh. Ayo sholat dulu.” Hamzah masih berusaha membangunkan istrinya ​“Pergi! Pergi kalian!” racau Aletta sambil menarik selimutnya ke atas kepala, menutupi suaranya yang mulai terisak. Hamzah terdiam mendengar jawaban istrinya. Dia kini bahkan mendengar suara tangisan dari dalam kamar. ​Hamzah kembali mengetuk kamar Aletta “Aletta? Kamu gak apa-apa? Bangun, sudah subuh.” Tak ada jawaban, Hamzah semakin khawatir. “Letta, aku masuk ya.” Hamzah meminta izin masuk ke kamar istrinya. Untungnya setelah makan tadi Aletta lupa mengunci kamarnya. Hamzah langsung masuk ke dalam dan melihat istrinya tidur meringkuk dengan selimut menutupi semua badan mungilnya. Napas Aletta memburu dan terdengar isak tangis di sana. Hamzah duduk di tepi ranjang sambil menggoyang pelan lengan Aletta, berharap istrinya akan sadar. “Letta, bangun, Letta,” ucap Hamzah pelan. “Pergi kamu! Aku gak salah! Aku gak salah!” pekik Aletta di balik selimutnya. Hamzah menatap istrinya dengan perasaan kasihan. Ego tinggi yang dipasang istrinya seharian, hanya untuk menutupi kerapuhan hati yang sedang luka parah. “Letta, bangun. Ini aku, Hamzah.” Suara Hamzah kian lembut, bersamaan dengan usapan lembut di punggung istrinya. Mendengar nama Hamzah, kesadaran Aletta mulai datang. Dia membuka sedikit selimutnya, ingin memastikan yang ada di dekatnya benar suaminya. Melihat wajah teduh itu ada di depannya, Aletta langsung menyibakkan selimutnya. Dia langsung berhambur masuk ke pelukan Hamzah dan menangis di sana. Aletta melingkarkan tangannya di badan Hamzah dengan erat. Dia seperti anak kecil yang sedang meminta perlindungan. Hamzah yang baru pertama kali merasakan pelukan seorang wanita selain uminya, mendadak tegang. Dia bingung harus melakukan apa, karena tangannya mendadak kaku. “Tolong aku. Tolong aku. Aku gak salah,” rancau Aletta pelan, dalam isak tangisnya. Mendengar rintihan kesakitan istrinya, kesadaran Hamzah kembali. Meski kaku, tapi dia ingin menunjukkan perlindungannya pada sang istri. Hamzah memeluk Aletta. Meski sedikit ragu, dia kini memberanikan diri membelai rambut panjang Aletta yang tergerai berantakan. “Kamu aman. Kamu aman di sini. Aku akan terus lindungi kamu, Aletta,” bisik Hamzah pelan di telinga istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD