“Tolong aku,” bisik Aletta pelan di dalam d**a Hamzah.
Tak ada jawaban dari pria tampan itu. Dia hanya mengusap lembut rambut dan punggung istrinya, memberikan jaminan keamanan di dalam pantauannya.
Aletta mulai bisa menguasai diri. Aroma harum parfum beraroma kayu dan sedikit manis itu menguar di hidungnya. Kehangatan juga perlahan memenuhi jiwa Aletta, membuatnya merasa sangat nyaman di dalam sana.
Namun, tiba-tiba Aletta tersentak. Kesadarannya yang tadi melayang di awan-awan trauma, kini mendarat paksa ke realita.
Mata Aletta terbuka lebar. Hal pertama yang ia lihat adalah kain koko hitam yang sedikit basah karena air matanya.
“Eh?” ucapnya pelan sambil melonggarkan pelukannya.
Aletta baru sadar tangannya melingkar erat di pinggang Hamzah. Kepalanya bahkan bersandar nyaman di d**a bidang pria itu.
Hangat. Sangat hangat sampai-sampai ia sempat terdiam selama beberapa detik untuk menikmati rasa aman yang jarang ia rasakan.
Namun, detik berikutnya, otaknya langsung berteriak “Letta! Dia ustad kampung!”
Brak!
Aletta spontan mendorong tubuh Hamzah hingga tubuh pria itu nyaris terjengkang dari tepi ranjang. Dengan cepat Aletta mundur, membuat jarak cukup lebar antara dia dan suaminya.
"Ngapain kamu?! Mau cari kesempatan ya?! Mau modusin aku pas lagi tidur, hah?!" teriak Aletta dengan suara melengking.
Wajah Aletta yang tadi pucat karena ketakutan, kini berubah merah padam karena malu yang luar biasa menyerangnya. Apa lagi yang bisa dia lakukan selain tantrum, untuk menutupi rasa malunya.
Hamzah menarik napas panjang, berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Tangannya berpegangan pada pinggir ranjang dengan wajah kaget karena tiba-tiba di dorong.
Hamzah menatap Aletta dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara lelah dan sabar. Dia memejamkan matanya sebentar, berusaha menerima sifat aneh istrinya yang mulai kumat lagi.
"Tadi aku mau bangunin kamu buat sholat subuh. Tapi kamu malah nangis minta tolong. Kamu juga yang duluan meluk aku. Kamu juga meluknya kenceng," jawab Hamzah tenang, suaranya sedikit serak khas bangun tidur.
"Bohong! Fitnah! Mana mungkin aku mau meluk kamu! Kamu pasti rayu-rayu aku kan biar aku khilaf?!" Aletta menarik selimutnya sampai ke d**a, menatap Hamzah seolah pria itu adalah predator yanh siap memangsanya. Padahal tadi dialah yang menempel seperti prangko.
“Enggak kok. Emang it—“
“Gak mungkin! Gak nyangka ya ternyata kamu pinter ngarang cerita!” Aletta memotong ucapan Hamzah yang tidak bisa dia sangkal kebenarannya.
Hamzah melepas napas berat. “Ya udah, terserah kamu lah. Ayo buruan wudhu!” tegas Hamzah.
Hamzah malas membantah. Dia tahu, akan sulit menang melawan Aletta kalau sudah bercampur malu begitu.
Dari pada mood-nya rusak sejak pagi, lebih baik dia pergi. Tanpa menoleh lagi, Hamzah keluar dari kamar.
Aletta mendengus kencang, memukul bantalnya dengan kesal.
“Sialan! Malu banget gue! Kenapa juga harus dia yang ada di situ tadi!”
“Ya ampun Letta, kenapa ceroboh sekali sih. Kenapa juga sampe meluk dia. Aaakhh, bodoh!!!”
Aletta merutuki dirinya sendiri. Dia menenggelamkan wajahnya di bantal, seolah dia tidak punya muka lagi di depan Hamzah.
Hamzah mengambil air wudhu. Tatapannya terpaku pada air dingin yang keluar dari mulut kran.
“Apa separah itu traumanya? Kasian banget, dia pasti terpukul banget sama keadaan ini,” gumam Hamzah pelan, sambil mengingat reaksi Aletta tadi.
Hamzah menarik napas dalam. Dia segera berwudhu dan memanggil istrinya sekali lagi, agar mereka tidak kesiangan.
Setelah sholat subuh bersama, seperti biasa Hamzah duduk di ruang tamu dan mengaji. Aletta hanya melihat ke Hamzah sebentar, lalu dia memilih kembali ke kamar.
Rasa kantuk masih datang menggodanya. Tentu saja, karena semalam dia tidur hampir pagi, setelah dia menderita kelaparan.
Aletta terbangun, saat sinar matahari mulai masuk ke dalam kamarnya. Ternyata setelah subuh tadi, dia ketiduran lagi.
Aletta keluar kamar. Sepi, tak ada orang sama sekali di rumahnya.
Aletta menoleh ke kanan dan kiri. Gorden sudah terbuka dan lampu depan juga sudah padam. Tapi sosok Hamzah tidak dia lihat.
“Hamzah ke mana ya? Sepi banget. Apa dia udah ke pondok?” tanya Aletta bermonolog sendiri.
Perut Aletta kembali berbunyi. Dia mengusap perutnya sendiri, mencegah perutnya berbunyi lagi.
“Ni perut bener-bener gak ada akhlak banget dah. Baru bangun sekarang langsung minta diisi,” geram Aletta yang kesal pada perutnya yang tidak bisa dia ajak kerja sama.
Aletta mendengar suara dari arah belakang rumah. Dia segera melangkah ke pintu belakang, yang ada di dekat dapur.
Aletta melihat Hamzah sedang menyeret karung berukuran besar ke tengah lantai semen. Pria itu akan menjemur gabah hasil panen kemarin.
Aletta menyandarkan tubuhnya di pintu belakang yang hanya setinggi dadanya. Dia melipat kedua tangannya dan dia tumpukan di atas pintu.
Bukannya membantu atau bertanya, Aletta justru hanya melihat ke arah Hamzah. Entah mengapa dia malah tertarik menatap suaminya itu dalam keheningan.
Badan Hamzah yang pagi ini dibalut dengan kaos tanpa lengan dan celana yang digulung sampai betis terlihat sangat jantan. Badannya yang mengkilap karena keringat, terlihat bercahaya di bawah sinar matahari pagi. Otot lengan Hamzah juga ukurannya masih sopan, tapi terasa sangat nyaman saat memeluk dirinya tadi.
“Uuu ... badannya keren juga ternyata,” gumam Aletta mengagumi fisik suaminya.
Hamzah melihat ke arah istrinya. Dia berdiri tegak, sedikit berpangku pada gagang garu yang membantunya sejak tadi.
“Nyari apa?” tanya Hamzah dengan napas sedikit tersengal.
Aletta gelagapan. “Eng-enggak. Gak nyari apa-apa.”
“Mana rotiku? Aku mau roti, perutku laper,” lanjut Aletta.
“Ada di meja. Makan aja.”
“Di meja? Tumben dia nurutin. Gak pake marah-marah lagi,” gumam Aletta yang kemudian segera berbalik menuju ke meja makan.
Tangan lentik Aletta membuka tudung saji di atas meja. Reaksi pertama yang dia lakukan adalah membuka matanya lebar-lebar karena hanya mendapati potongan singkong rebus di dalam sana.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, Aletta segera kembali ke pintu belakang.
“Hamzah! Eh, Mas Hamzah, mana rotiku?” tanya Aletta sedikit berteriak.
Hamzah kembali berhenti bekerja. “Gak ada roti, belum beli.”
“Tadi katanya ada.”
“Aku nyuruh kamu makan, bukan berarti ada roti. Udah, makan aja itu dulu.”
“Apaan itu? Aku gak pernah makan singkong. Itu makanan bibi di rumah!” Aletta terus saja protes.
Hamzah melepas napas berat. “Terserahlah,”
Hamzah tidak mau menuruti ego istrinya. Dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya, karena pagi ini dia juga harus mengajar.
Merasa diabaikan oleh Hamzah, Aletta kembali cemberut. Dia kembali ke meja makan, berusaha mencari makanan yang bisa dia makan.
Aletta makin kesal saat dia tidak menemukan makanan lain selain singkong. Saat dia membuka lemari es, dia juga tidak mendapatkan apa-apa di sana selain botol air minum.
Aletta kembali ke belakang. Tapi kali ini dia keluar rumah dan menemui Hamzah.
Hamzah berdiri lagi saat istrinya datang. Dia siap menerima semburan sang istri, yang sudah biasa dia dapatkan sejak awal mereka bertemu.
“Kenapa gak ada makanan sih? Perutku laper,” gerutu Aletta sambil cemberut.
“Kan ada singkong. Aku belum belanja, bel—“
“Ya udah kalo gitu ayo belanja sekarang!” potong Aletta.
“Sekarang? Tokonya belum buka. Apa kamu mau kita ke pasar?”
“Pasar? Iyuuh ... gak mau ah. Becek, bau! Jijik aku!” tolak Aletta mentah-mentah.
“Ya udah kalo gitu sabar. Kalo gak mah sabar, makan aja apa yang ada. Kalo gak mau ya puasa aja dulu sebentar.”
“Tapi aku ma—“
“Huust! Udah diem. Dari pada kamu marah-marah, mending bantuin aku aja. Kalo cepet selesai, kita cepet pergi.” Hamzah membungkam mulut istrinya dengan jari telunjuknya.
Aletta melihat ke arah hamparan gabah dan juga karung besar yang masih belum di bongkar. Badannya bergidik, membayangkan dia akan bekerja kasar.
“Gak mau! Kerjain aja sendiri!”
Aletta langsung melipir pergi, meninggalkan Hamzah sendirian. Hamzah hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan sang istri.
Aletta kembali ke ruang makan. Dia kini berhadapan dengan piring singkong rebus kuning yang terlihat seperti tumpukan emas.
Aletta mendekatkan wajahnya ke piring. Aroma singkong yang manis dan gurihnya kelapa parut mulai menggoda pertahanannya.
“Duh, laper benget lagi. Masa aku harus makan makanan kelas bawah gini sih?” gumam Aletta pelan.
Namun, tangannya justru bergerak mengambil sepotong yang paling kecil. “Cicip doang ya. Cuma buat bertahan hidup!”
Satu gigitan masuk ke mulutnya. Matanya membelalak. “Eh? Kok empuk? Kok manis ya.”
Dalam sekejap, potongan pertama hilang. Disusul potongan kedua yang masuk ke mulut Aletta dengan suka cita.
“Letta?”
“Uhuk! Uhukk!” Aletta tersedak hebat saat mendengar suara lembut dari arah pintu.
Umi Salamah berdiri di sana dengan senyum lebar, menatap menantunya yang sedang asyik menyantap sarapan murahnya.
“Eh, Umi. Ini ... ini Letta ma—“
“Kirain kamu gak suka sama singkong. Tapi singkongnya emang empuk sih. Kemarin dapat kiriman dari pondok,” potong Umi Salamah yang melihat menantunya gugup.
“Iya sih en ... eh, ini loh, maksudnya tadi singkongnya ....” Aletta bingung harus mengatakan apa.
Umi Salamah terkekeh, mendekat dan mengusap rambut Aletta. “Gak apa-apa, Sayang. Makan yang banyak. Umi seneng kalau kamu gak pilih-pilih makanan.”
“Gimana, semalam tidurmu nyaman gak?” tanya Umi Salamah ingin tahu keadaan menantunya.
Aletta mengusap ujung bibirnya dengan serbet. Dia kemudian memasang wajah sedih di depan ibu mertuanya.
“Umi, ada yang mau Letta ceritain ke Umi,” ucap Aletta manja.
“Ada apa, Sayang? Cerita aja ke Umi.”
“Umi, sebenernya—“