Farraz meraih tengkuk Adiva, dia mencium wanita itu dengan menggebu. Ditinggal pergi selam dua jam, dia dibuat gelisah, tak bisa menyelesaikan pekerjaan. Pikirannya selalu tertuju pada sekertarisnya. Ingin terus bertanya di mana keberadaan wanita itu, dia sudah mengatakan jika percaya dengan semua hal yang wanita itu jalani. Adiva menepuk keras d**a Farraz agar ciuman itu terhenti. Namun lelaki itu tidak peduli dengan keinginannya. Setelah hampir habis nafasnya, Adiva mengigit pelan bibir Farraz. Keduanya saling tatap dengan nafas tak beraturan. Lelaki berwajah tampan itu mengusap bibirnya yang terasa sedikit perih. "Maaf, aku tidak bisa bernafas!" Adiva berucap masih dengan mengatur nafas. "Aku baru tahu jika kau ternyata pintar mengigit," celetuk Farraz dengan tatapan mengejek. A

