Acara makan siang bersama Wira akhirnya terealisasikan. Seperti rencana awal, jika Adiva berangkat bersama Kalvian. Sedangkan Wira menyetir sendiri. Lelaki paruh baya itu tidak bisa membiarkan putrinya dalam bahaya. Dua mobil mewah itu menuju ke sebuah restoran ternama di Jakarta. Kalvian sudah memesan tempat pagi tadi. Setelah sampai hanya tinggal reservasi dan memilih menu. "Nona, ke depannya, anda harus berhati-hati. Tuan Farraz sepertinya akan semakin waspada kepada anda. Jaga keselamatan anda, Nona!" "Amarah adalah emosi. Orang seperti Farraz tidak akan emosi dengan orang yang tidak dia anggap penting." "Itu masuk akal, Nona." "Begitu umpan terlihat, ikan akan mengigit umpan itu. Jadi, aku masih membutuhkan bantuanmu untuk menjalankan semua rencanaku, Kalvian." "Baiklah, Nona

