EPS 4

1088 Words
"Aku David llyod ingatlah namaku sayang," ucap david sambil menurunkan celana dalam Clara yang terlihat sudah basah. "Waw! Kamu sudah tak sabar sayang," goda David lalu melumatkan bibirnya pada milik Clara menjilat nya hingga tak tersisa membuat Clara terus saja mendesah indah. Dengan cepat David sudah menancapkan miliknya pada milik Clara suara desahan indah pun terdengar. Tak disangka David tidak mencicipi tubuh Clara terlebih dahulu namun tak sabar untuk memainkan miliknya dengan milik Clara. David mulai memajukan mundurkan miliknya memainkannya dengan irama pelan namun membuat Clara sangat menikmati permainan itu. Clara menggenggam erat seprai pada kasur yang ia tiduri, tubuhnya mulai berkeringat dan matanya terpejam menikmati permainan David. "Ahhhhh Daaahhhhvidahhh," Clara menyebut ulang nama David dengan sisipan desahan indah. "Sebut nama ku sayang," David semakin mempercepat irama nya membuat Clara mendesah hebat. "Daahhhhhhhhhviahhhhhid," Clara menurut untuk menyebut namanya, semakin membuat David gemash mendengar desahannya. Semakin cepat dan semakin cepat David memainkannya membuat Clara sedikit kewalahan. Tangan David pun tak diam saja, tangannya meremas gundukan pada d**a Clara bahkan bibirnya dilumatkan pada bibir Clara. Bibirnya dengan mudah mendapat akses masuk ketika Clara mendesah hebat. "Suuuahhhdahhhhhhhhhhh,aaaaahhhkuuu lelahhhhhhhhhh," keluh Clara yang sudah lelah dalam permainan David. David hanya tersenyum menanggapi keluhan Clara dan malah makin menjadi jadi memainkan nya. "Sayang, ini bahkan baru pembukaan nikmati saja," David dengan ganas memainkannya dengan irama cepat sambil mencicipi leher Clara. "Ini ahhhhhdikanahhhtorrr," Clara mengingatkan David agar dirinya lepas dari permainan kotor David. "Kamu mau kita main di rumah?" Tanya David dengan senyum liciknya kemudian mendadak berhenti dari permainan kasarnya. "Bukan begitu, kita belum menikah kalau saja aku hamil sebelum menikah akan merusak reputasi ku sebagai seorang selebriti!" jelas Clara membela dirinya dengan napas yang berenggal - enggal. David di buat percaya oleh alasan Clara yang memang masuk di akal karena reputasi Clara sebagai selebriti sedang naik daun jikalau ia merusaknya akan membawa dampak buruk baginya dan Clara. "Okay, aku akan segera menikahi mu sayang," David menciumi leher Clara dengan nakalnya memasuk mundurkan miliknya di sela sela ciumannya lalu melepaskan miliknya. Clara dengan sigap memakai celana dalamnya yang di buang asal oleh David tadi lalu merapikan bajunya yg berantakan begitupun David tak kalah cepat sigapnya. "Pulanglah! Sekertaris mu sudah menunggu lama di ruang tunggu dari 2 jam yang lalu," David mempersilahkan Clara pulang sambil berjalan keluar meninggalkan Clara yang masih terduduk di ujung kasur. "David," panggil Clara ketika David hampir hilang dari balik pintu. "Ada apa?" Tanya David lalu menghentikan langkahnya dan menatap si pemanggil namanya itu. "Bisakah kita berbicara mengenai pernikahan ini besok?" tanya Clara yang bangkit lalu menghampiri David yang terdiam di depan pintu. "Besok aku ada jadwal meeting sayang," jawab David, Clara hanya terdiam menanggapinya sungguh sangat sibuk CEO ini. "Lalu kamu bisa kapan? Huh," Tanya Clara lagi. David tersenyum menanggapi Clara yang tak mau berpisah dengannya. "Jadi calon istri ku ini tak ingin pisah yaa dengan ku," goda David dengan mencubit pipi Clara manja. Clara sedikit risih dengan David yang begitu percaya diri, jelas jelas ia sepenuhnya memang ingin membicarakan pernikahan kontrak ini tetapi David malah mengiranya tak ingin pisah. "Ohh ayolah aku bercanda sayang, nanti aku akan minta sekertaris ku untuk mengatur pertemuan kita bagaimana?" David mulai meyakinkan Clara yang sudah tampak wajah kesalnya. "Kapan?" Tanya Clara dingin. "Aku akan memberitahu mu nanti tunggu saja telpon dari ku," David mengedipkan sebelah matanya lalu melanjutkan langkahnya menuju kursi kerjanya. "Memang kamu tau nomor ku?" Selidik Clara. "Tentu saja! Bagaimana aku tidak tahu nomor calon istri ku?" Jawab David dengan senyum menggodanya membuat Clara kesal lalu melangkah pergi beranjak pulang. "Bagaimana nona?" tanya Suzan khawatir ketika Clara baru sampai di ruang tunggu menghampiri Suzan lalu mengajaknya pulang. Namun, pertanyaan Suzan malah menambah kekesalannya. "Ayo pulang!" Perintah Clara dengan kekesalannya yang menggebu gebu. Tanpa banyak bicara Clara melangkahkan kaki pulang menuju mobilnya yang sudah menunggu di area parkir. Suzan yang bingung dengan sikap boss nya itu hanya menurut mengikuti langkah Clara. ????? 17:05 Rumah Clara "Sebenarnya apa yang terjadi nona?" Tanya Suzan sedari tadi hanya mendapatkan diam kekesalan Clara tanpa penjelasan sedikitpun. Boss nya itu enggan menjawab pertanyaan. "Apakah anda mendapatkan tawarannya?" tanya Suzan lagi yang sudah tidak sabar mendengar jawabannya sedari tadi. Tetapi bosnya itu hanya diam melamun sambil menyisipkan teriakan kekesalan yang ntah apa yang membuat boss nya itu se kesal ini. "Nona, ada apa? Apa yang membuatmu kesal?" Suzan kembali dengan antrian pertanyaan pertanyaan yang semakin membuat Clara pening, yang Clara butuhkan sekarang hanyalah lelucon agar menetralkan pikiran bukan malah rentetan pertanyaan yang membuatnya pening sedari tadi. Suzan bangkit lalu berjalan meninggalkan Clara sendiri pada ruang kerjanya, membuatkan minuman yang akan menenangkan kekesalan boss nya itu. Tak lama, Suzan kembali sambil membawa segelas teh kesukaan Clara. "Nona, ini minuman untuk anda agar dirimu tenang dengan kekesalan yang sedari tadi tak kunjung hilang," Suzan memberikan segelas teh pada Clara. Tanpa banyak bicara Clara menghabiskan satu teguk penuh teh itu tanpa jeda sedikitpun. "Pelan pelan Nona atau tidak anda akan tersedak," Suzan sangat khawatir dengan boss nya itu. "Biarkan tersedak lalu mati sebelum aku mati ditangannya," Clara akhirnya mengeluarkan suara setelah sedari tadi ia diam seribu kata. Suzan senang akhirnya Clara berbicara walau ucapannya sedikit membuat Suzan semakin bertanya tanya tetapi setidaknya Clara berbicara dan menanggapi ucapannya yang sedari tadi di abaikan. "Tidak akan ada yang berani membunuh anda, Nona! Wanita cantik seperti nona tidak akan ada yang tega membunuh anda," kali ini Suzan tidak kembali bertanya tetapi mencoba membuat Clara tenang. "Yaaa aku tidak akan di bunuh namun aku akan di siksa ARGHHHH KEJAM SEKALI PRIA ITUU!" "Pria itu berani menyiksa, Nona? Apa dia buta dengan kecantikan bidadari seperti, Nona?" Suzan lagi lagi kembali memancing boss nya agar semua pertanyaan akan terjawab dengan semua keluh resah boss nya itu. "Kau tau Suzan? Dia menyuruhku menandatangani kontrak dan bodohnya aku menandatangani kontrak itu!" keluh Clara dengan kekesalannya. sedangkan Suzan bingung harusnya boss nya itu senang mendapatkan kontrak agar perusahaan ayahnya cepat tertolong. mengapa ini tidak? "Kontrak itu isinya adalah pernikahan 3 tahun dan aku hanya sebagai b***k s*x nya dia ARGHHHHH!" keluh Clara lagi dan lagi. Suzan hanya diam menanggapinya, kaget mendapati tindakan bossnya yang sangat ceroboh. "Bahkan bodohnya aku menandatangani tanpa membaca isi kontrak terlebih dahulu ARGHHHHHHHHHH BODOH BODOH BODOH!" Clara mulai meruntuki dirinya yang begitu ceroboh. Suzan lagi lagi hanya terdiam. "Apa yang akan ku katakan pada ayah, Suzan? Aku hanyalah anak yang tidak berguna!" Clara menjatuhkan tetes air mata yang kemudian semakin deras membasahi wajah nan cantik Clara. "Tuan besar jangan sampai mengetahui ini nona," Suzan menenangkan boss nya yg menangis meratapi kecerobohan nya. "Apa yang tak aku tahu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD