" Apa yang tidak aku tahu?" tanya seorang pria tua yang sudah berdiri di depan pintu terbuka ruangan Clara.
"Tuan," Suzan menundukkan kepalanya sedangkan Clara dengan cepat menghapus air matanya lalu menampakan wajah senyum palsunya. Duduk pada sofa empuk yang juga Clara duduki sedari tadi.
"Ayahh! Kenapa ayah kesini?," Ucap Clara Dengan senyum palsunya. Suzan dengan sigap melangkah keluar memberi waktu berdua antara ayah dan anak itu.
Louis melangkahkan kakinya mendekati putrinya yang terduduk lemah tetapi masih dengan senyum yang ia ketahui itu senyum palsu.
"Salahkan seorang ayah mengunjungi rumah putrinya?" tanya Louis tajam pada Clara dengan mata Clara yang memerah.
"Tentu tidak ayah, ayah dapat kapan saja mengunjungi putri ayah yang manis ini," senyum palsu Clara terukir. Kata demi kata pun Clara keluarkan untuk mencairkan suasana yang mendadak menegang.
"Katakan pada ayah, apa yang kau tangiskan," tanya Louis tanpa basa basi yang sudah tak sabar mengintrogasi anaknya itu yang sedari ia datang mengeluarkan isak tangis yang disembunyikannya.
Clara bernafas lega sedari tadi. Ia khawatir ayahnya mendengar percakapan antara dirinya dengan Suzan mengenai kontrak pernikahan. Jelas jelas ayahnya malah menanyai mengenai apa yang membuatnya sedih.
"Bukan masalah yang besar ayah tidak usah khawatir," Clara mencoba menenangkan kekhawatiran ayahnya.
"Apa ada masalah di dunia hiburan? Siapa yang membuat mu sesedih ini, nak?" tanya Louis dengan khawatir. Anaknya itu terlalu fokus pada karirnya sebagai selebriti, ia khawatir Clara tidak dapat menanggung komentar komentar jahat dari para pengguna jaringan internet.
Dari awal memang Clara tidak pernah mengatakan akan membantu ayahnya itu. Hanya saja Louis tidak ingin Clara ikut serta dengan masalah ini karena akan berdampak buruk dengan karirnya di dunia hiburan.
"Tidak ada, hanya saja aku sedih tidak bisa membantu banyak dalam perusahaan ayah yang kian menyusut," keluh Clara dengan wajah sedihnya.
"Tidak apa nak, ini hanya sebuah perusahaan bukan masalah yang begitu besar kita kan bisa memulainya lagi dari nol," Louis menenangkan anaknya dengan sangat sabar walau hatinya juga teriris iris karena kebangkrutannya sudah menunggu di depan mata hanya tinggal selangkah mundur.
"Ayolah, aku ingin membantu ayah!" bujuk Clara. Kali ini bakat akting nya yang ia biasa pakai di dunia hiburan terpakai untuk membohongi ayahnya, menutupi bahwa dirinya telah membatunya dengan kontrak pernikahan 3 tahunnya itu.
"Tidak perlu,Nak. Ini pasti akan berakhir, ayah sudah pasrah dengan itu," keluh ayahnya tampak sedih dengan hal itu.
Yang benar saja perusahaan yang ayahnya bangun dulu mati matian akan berakhir begitu saja. Perusahaan ini adalah bukti cinta ayah dengan ibu, Clara tidak akan membiarkan perusahaan ini bangkrut begitu saja.
Walau Clara tak pernah melihat secara langsung bagaimana mendiang ibunya dan seperti apa beliau. Namun, Clara tau ibunya pasti seseorang yang begitu baik dan cantik hingga membuat ayahnya begitu mencintainya bahkan sampai saat ini ayahnya tidak ada pikiran untuk menggantikan posisi ibu di hatinya. Itu alasan mengapa Clara tanpa pikir panjang menandatangani kontrak itu demi menyelamatkan perusahaan ayahnya.
"Tidak akan berakhir ayah, aku yakin pasti ada celah! Semangat ayah!!!" Clara memeluk lembut ayahnya itu, justru ucapan semangatnya berbalik untuk dirinya sendiri yang akan mengalami penyiksaan oleh David. Namun, dengan segala bakatnya ia menutupinya agar terlihat ayah lah yang telah berusaha keras.
Louis tersenyum mendapati anaknya yang begitu mendukungnya. Hanya Clara lah yang tersisa dalam hidupnya. Clara lah yang menjadi penyemangat hidupnya setelah kematian istrinya yang begitu tragis ketika hendak melahirkan Clara.
"Ayah," panggil Clara lemah dengan tatapan kosong.
"Iya nak?" Louis menjawab panggilan anaknya itu dengan senyum tulus yang mengembang.
"Ibu itu seperti apa?" Pertanyaan yang sedari dulu ia tanyakan kembali ia keluarkan. Pertanyaan pertanyaan mengenai mendiang ibunya yang tak pernah ia temui atau ajak bicara sejak ia lahir pun kembali tersirat.
Louis hanya terdiam menanggapinya, sudah tak tau apa yang akan ia katakan. Jawaban maupun pertanyaan kembali berulang ulang dari dulu hingga sekarang.
"Apa kamu tak bosan dan lelah dengan pertanyaan yang dari dulu kamu tanyakan dan jawaban yang dari dulu tetap sama," Jawab Louis dengan nada menggodanya, anaknya ini tak pernah bosan bosannya mendengarkan ceritanya cinta dengan ibunya.
"Oh ayolah ayah! Aku tak akan pernah bosan mendengar ayah bercerita tentang ibu," bujuk Clara dengan senyum yang begitu manis.
Louis senang betapa beruntungnya ia memiliki anak seperti Clara, begitu menyayangi ibunya walau ia tak pernah melihatnya secara langsung.
"Tapi perut ayah sudah lapar, nak," keluh Louis sambil mengelus elus lembut perutnya yang terasa kosong.
Benar saja waktu begitu cepat, tak terasa kini jam menunjukan pukul 19:34 jadwal makan malamnya telah lewat 4 menit yang lalu.
"Baiklah, ayo kita makan malam ayah!" balas Clara pasrah padahal dirinya sama sekali belum merasakan lapar pada perutnya. Namun, karena menghargai ayahnya, ia menurut untuk makan malam bersama.
Clara dan Louis bangkit dari duduknya di sofa empuk ruang kantor rumah Clara. Melangkah maju menyelusuri lorong lorong hingga sampai pada ruang makan yang sudah tersedia aneka makanan malam di atas meja.
Louis duduk pada ujung meja makan sedangkan Clara duduk disisi meja makan bersebelahan dengan ayahnya itu. Tanpa banyak bicara Clara dan Louis menyantap makanannya.
"Ayah," panggil Clara ketika acara makan malamnya telah usai. Namun dirinya dan ayahnya masih saja berada di ruang makan.
"Ada apa, Nak?" jawab Louis menatap hangat putri tunggal nya itu.
"Bagaimana rasanya menikah?" tanya Clara yang membuat Louis sangat terkejut. Tak biasanya Clara menanyai mengenai upacara sakrar itu.
"Mengapa kamu menanyai perihal ini, Nak?" Bukannya menjawab Louis malah menanya balik Clara. Clara menghela napas panjang mungkin ini bukan waktu yang baik untuk membicarakan sebuah pernikahan.
"Tidak apa yah, sudahlah lupakan anggap saja aku tak pernah berbicara perihal itu," jawab Clara dengan raut wajah sedihnya, bingung bagaimana ia akan mengenalkan David sebagai calon suaminya pada ayahnya. Sedangkan tidak ada isu kedekatan dirinya dengan David sebelumnya.
"Apakah maksud mu pernikahan ayah dan ibu?" tanya Louis tanpa pikir panjang ia mengira putrinya sangat penasaran dengan pernikahan dirinya dan ibunya.
Lagi lagi Clara bingung harus menjawab apa, disisi lain ia ingin mengatakan ia akan menikah tetapi disisi lainnya lagi, ia takut ayahnya akan mengintrogasi akan hal itu. Karena sekali lagi David dan dirinya tidak terlihat dekat pada sebelumnya akan terasa aneh jika tiba tiba ia dan David memutuskan akan menikah.
"Pernikahan dijalankan atas hati yang saling mencintai begitupun ibu dan ayah kami saling mencintai dari suka maupun duka tetap bersama, kesetiaan paling utama dalam sebuah hubungan," jelas Louis panjang lebar.
"Apakah kamu penasaran dengan pernikahan ayah dan ibu?" tanya Louis dengan tebakan yang salah. Justru sebenarnya Clara yang akan menikah.
"Emmm, ayah," panggil Clara dengan memberanikan diri.
"Iya, Nak?"
Dengan seluruh keberanian ia akan mengatakan pada ayahnya, Clara tidak lagi peduli dengan tanggapan ayahnya. Kalau pun ayahnya tidak setuju Clara mau tak mau harus menikah dengan David karena kontak itu. Tetapi Clara harus pintar pintar dalam menyembunyikan bahwa itu adalah pernikahan kontrak. Clara tak mau membuat ayahnya sedih akan hal itu.
"Aku akan—"