EPS 6

1065 Words
"Aku akan-" Suara nyaring dering handphone tiba tiba saja memenuhi ruangan membuat pengakuan Clara terhenti mendadak. Handphone ayahnya berbunyi tanda telpon masuk. Ayahnya menggeser tanda hijau lalu mendekatkan ponselnya ke telinganya melupakan Clara yang tadi hendak berbicara, dan mulai sibuk dengan telponnya itu. Clara hanya bisa menghela napas nya panjang melihat ayahnya begitu sibuk dengan telponnya, usaha pengakuan dia gagal untuk saat ini. Tak tau ada kah kesempatan lagi untuk berbicara empat mata oleh ayahnya itu. Louis memencet tanda merah pada layar handphone nya mendadak bersiap pergi dengan terburu buru. "Ayah akan pergi ke Italy untuk beberapa hari. Ada urusan perusahaan," Louis pamit lalu mencium kening putrinya dengan cepat tubuhnya telah hilang dari pandangan Clara. Clara hanya bisa memandangi tubuh Louis yang perlahan menghilang dibalik pintu melamun kan sebuah ungkapan bahwa dirinya akan menikah untuk saat saat ini. Ntah kapan David akan menikahinya, dirinya sangat misterius dan sulit di tebak membuat Clara sulit menebak kapan dirinya akan tersiksa lagi. "Nona," Suzan mengetuk pintu besar pada ruang makan menyadarkan lamunan Clara yang sudah tak tahu arah. "Masuk saja Suzan!" Suzan pun masuk ketika bosnya sudah memberi izin lalu berdiri satu meter dari tempat yang diduduki bosnya. "Bagaimana nona? Apakah Tuan Louis mengetahui kontrak pernikahan itu?" tanya Suzan yang sangat khawatir karena ketika ia keluar nada ayah dari bosnya itu menunjukan nada marah dan kesal. "Tidak," jawab Clara sesingkat mungkin dirinya lelah dengan beban pikirannya yang semakin rumit. "Lalu mengapa nona begitu lesu?" tanya Suzan khawatir dengan bosnya yang terlihat begitu lesu. Sedangkan Clara kesal sedari tadi Suzan hanya bertanya, apakah Suzan diciptakan hanya untuk sekedar bertanya? Huftt kesal. "Tak apa aku lelah ingin tidur," jawab Clara lalu bangkit meninggalkan Suzan dengan seribu pertanyaan nya. "Kamu pulang saja Suzan sudah malam," ucap Clara kemudian tubuhnya hilang dibalik pintu. Suzan cepat cepat melihat arloji miliknya, pukul 21:13. Mengapa bosnya itu menyuruhnya pulang? Padahal belum begitu larut malam. Tetapi ada baiknya ia bisa menikmati angin malam di rumah tanpa terburu buru pergi tidur karna kantuk. Suzan melangkahkan kaki membersihkan sisa sisa berkas di ruang kantor pada rumah boss nya itu. Lalu beranjak pergi untuk pulang menyapa rumahnya yang sudah menunggu pemilik nya tuk tinggal. ????? 05:55 Rumah Clara Ketukan pintu kamar dari sudut pintu ruangannya membuat Clara terbangun, sesekali mengumpat karena dirinya masih ingin tertidur di kasur empuknya. Huftt, rajin sekali sekertaris nya itu pagi pagi sudah dapat membangunkan nya. Sebenarnya pukul berapa sekertaris nya tertidur? Suzan pulang malam dan berangkat pun pagi seperti tak punya pekerjaan lain selain mengurus dirinya. "Nonaaaa! Bangunnn!" Panggil Suzan di balik pintu kamar Clara lebih tepatnya di luar kamar boss nya itu sambil membawa beberapa map kerja. Yaps! Ini adalah pekerjaan nya setiap hari,pulang ketika boss nya sudah tertidur lalu datang awal untuk membangunkan boss nya itu. Suzan selalu disiplin pada pekerjaan nya itu walau terkadang boss nya memintanya untuk datang telat agar boss nya dapat melanjutkan mimpi indahnya dengan tenang. Tetapi pekerjaan tetaplah pekerjaan. "Bangun nonaaa!!" Suzan mengetuk pintu kamar Clara dengan lebih bertenaga karna sedari tadi boss nya itu tidak menjawab panggilannya, ke khawatiran Suzan pun kembali datang. "Nonaaaa!!! Nona Claraa!" Panggil Suzan berulang kali, dirinya sudah penuh kekhawatiran pada boss nya itu. "Nonaaaaa!!!Nona Clara Hanh!!" Suzan mengetuk dengan segala kekuatan nya sedangkan Clara sibuk menutup telinganya di dalam. Rasa kantuk nya mendadak hilang karna suara nyaring sekertaris nya yang membuatnya tak bisa melanjutkan mimpi indahnya. Dengan sigap Clara turun dari kasurnya lalu membuka pintu kamarnya agar kicauan sekertaris nya terdiam. "Hampir saja membuat saya berpikir yang tidak tidak, Nona," ucap Suzan ketika Clara membukakan pintu. "Pagi Nona, bagaimana dengan mimpi anda semalam apakah terlihat baik?" Lanjut Suzan seperti biasa pada pagi hari ia akan menyapa lembut boss nya. "Hmm," jawab Clara dingin. Suzan sudah biasa mendapatkan perlakuan dingin dari bosnya ketika boss nya baru bangun dari tidurnya, ia mengakui dirinya sangat bawel dan pastinya membuat jengkel orang yang mendengar begitupun Clara. "Handphone anda tertinggal di meja ruang kantor tadi malam dan tadi pagi handphone anda berbunyi terus," Suzan menyodorkan handphone milik Clara yang terlihat menyala pada layar notifikasi terdapat 103 panggilan tak terjawab dengan nomor tak dikenal. Clara hanya menebak nebak siapa yang menelepon nya pagi pagi? Dengan panggilan sebanyak itu, apakah itu begitu penting? "Kamu jawab?" tanya Clara. "Tentu tidak nona. Saya tidak berani menjawab asal pada telpon nona terlebih itu nomor tak dikenal. kalau itu nomor pada kontak nona saya berani menjawabnya," jelas Suzan. Clara menganggukan kepala tanda mengerti, Suzan sekertaris yang sangat profesional menurutnya. "Apa mungkin itu fans? Sudah menemukan nomor nona," tebak Suzan. Clara mengiyakan tebakan Suzan karna tak mungkin teman atau kerabatnya dengan jahil menelponnya sebanyak ini. "Urus nomor ku untuk diganti," perintah Clara menyodorkan handphone nya kembali pada Suzan sekertaris nya lalu menutup pintu kamarnya rapat dan bersiap siap untuk melakukan aktivitas nya sehari hari. Tak butuh waktu lama Clara telah usai bersiap ia melanjutkan mengisi perutnya agar lebih bertenaga. Clara sudah duduk pada kursi makan 5 menit yang lalu dengan hidangan yang sudah siap di atas meja. Namun, dirinya tak memakannya atau pun menyentuhnya karena nafsu makannya mendadak hilang ketika ia menebak nebak lagi orang yang menelponnya adalah David. "Nona, sarapan anda sudah siap apa lagi yang anda tunggu?" tanya Suzan bingung melihat boss nya itu terdiam dengan wajah kesal. Clara masih dalam pikirannya sendiri, terlebih kemarin David mengatakan akan menghubungi mengenai pertemuan hari ini. Apakah itu benar dirinya? Kalaupun benar, bagaimana David mendapatkan nomornya? Huftt bersiap hidupnya akan suram mulai saat ini. "Berikan ponsel ku," perintah Clara dingin, Clara benar benar kesal ketika pikirannya terlintas dengan nama David. Suzan menatap Clara bingung sambil menyodorkan handphone boss nya itu, bertanya tanya dengan sikap boss nya itu yang mendadak dingin dan kesal. "Ada apa, Nona?" Suzan memberanikan diri untuk bertanya pada boss nya itu yang sedang terlihat marah. "Aku tau Suzan," jawab Clara singkat. Justru jawaban singkat Clara membuat Suzan semakin tak mengerti apa yang boss nya katakan. "Tau apa,Nona? Orang dengan nomor tak dikenal itu?" Suzan kembali dengan pertanyaan nya dan sisipan tebakannya. Clara menganggukan kepala mengiyakan tebakan sekertaris nya itu. "Siapa?" "David Llyod," Clara menjawab pertanyaan Suzan melafalkan nama orang itu dengan jelas. "Belum tentu,Nona," Clara terdiam, tidak peduli dengan ucapan Suzan karena tebakannya tak mungkin salah. Clara memencet tanda call pada sisi nomer tersebut lalu mengangkat handphone nya mendekatkannya pada telinga. "Halo," sapa Clara sopan. "Maaf Ini siapa ya? menelpon ku banyak sekali di pagi hari," lanjut Clara lagi dengan sopan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD