"Raka, mau kemana?." tanya alan saat melihat Raka buru buru keluar dari ruangannya.
"Nanti sore ada meeting. Apa kau lupa?." ucap Alan.
"Kau handle urusan kantor untuk hari ini. Aku harus menyelesaikan sesuatu."
"Apa itu urusan ranjang lagi? Apa masih kurang kau sarapan dua wanita sekaligus pagi ini?." tanya Alan menahan emosi.
Karna berfikir bahwa Raka akan lergi untuk menemui perempuan lagi.
"Aku ada urusan lain dan bukan urusan ranjang." dengus Raka tak terima di tuduh alan seperti itu.
Lalu tanpa mendengarkan alan yang bendak protes lagi, Raka segera pergi dari hadapan alan.
"Dasar gila" ucap Alan emosi. Saat melihat Raka buru buru pergi.
"Aku bisa mendengar umpatanmu Alan." teriak Raka tanpa menengok Alan.
"Aku memang sengaja. Dan kau memang gila." umpat Alan lagi.
Namun Raka sudah tak mau menanggapi dan segera masuk lift saat pintu lift terbuka.
Di rumah Tika sedang berada di halaman belakang bersantai menikmati semilirnya angin.
Tika dan ibunya tinggal di paviliun belakang rumah Raka.
Jarak dari rumah utama Raka dengan Paviliun yang di tempati Tika hanya terhalang taman belakang.
Ratih saat itu tengah pergi ke supermarket membeli kebutuhan pokok di temani mang yadi tukang kebun Raka.
Saat ini hanya Tika yang ada di rumah tersebut.
Tika tengah bersantai karna memang pekerjaan di rumah utama sudah selesai.
Hanya tinggal menunggu ibunya pulang setelah itu bersiap menyiapkan makan malam untuk Raka.
Tika yang berfikir hanya sendirian di rumah, jadi dia hanya memakai tank top berwarna putih dan celana pendek di atas lutut untuk sekedar duduk di gazebo taman belakang menikmati udara siang yang sedikit mendung.
Tika membaringkan tubuhnya di atas kursi panjang yang ada di gazebo.
Tanpa Tika sadari ada satu pasang mata yang tengah mengawasi setiap pergerakan nya.
"Ternyata seksi juga kalau pakai pakaian terbuka. Kenapa dia selalu menutupi bentuk sempurna itu dengan pakaian gombrong?." gumam Raka yang sejak tadi mengawasi Tika.
Raka tidak sengaja melihat Tika yang tengah bersantai, niatnya dia ingin menemui Tika untuk membahas perintah ibunya untuk menikahi nya.
Namun siapa sangka justru Raka di kejutkan dengan pemandangan indah tubu Tika yang seksi.
Raka sebenarnya tau bahwa body Tika tidak buruk. Namun setelah Raka melihat Tika sekarang Raka baru tau bahwa body Tika lebih indah dari yang di bayangkan.
"Tika." panggil Raka dengan suara serak.
"Ada apa?" ucap Tika kesal karna tiba tiba Raka ada di rumah.
Raka terlihat sedikit grogi karna baru kali ini melihat Tika memakai pakaian sedikit terbuka. Matanya selalu fokus ke arah buah melon milik Tika yang terlihat bagian atasnya karna tank top itu seperti kekecilan atau memang buah melon tika yang over size.
Tika yang sedari tadi tidak memandang pada Raka jadi tidak tau kemana arah pandang mata Raka.
Dia juga sedang malas berdebat dengan Raka.
"Apa kau sudah membaca berkas yang tadi kau kirim kepadaku?" Tanya Raka yang mencoba fokus pada tujuan awal.
"Untuk apa saya membaca berkas milik orang lain Tuan? Tenang saja saya tidak membaca apapun." jawab Tika dengan kesal karna merasa di tuduh sudah lancang membuka berkas milik orang lain.
"Tidak, bukan seperti itu maksudku." sergah Raka.
"Lalu?"
Raka menarik nafas panjang dan menghembuskan nya sebelum mulai membicarakan tentang permintaan ibunya untuk menikahinya.
"Berkas itu sebagian berisi tentang perusahaan dan sebagian tentang kita."
Alis Tika mengkerut. Tak mengerti maksud ucapan Raka.
"Tentang kita? Maksud tuan apa?" tanya Tika.
"Yaaa tentang kita. Seluruh perusahaan akan di atas namakan salah satu yayasan dan atas namamu. Jika, aku tidak menikahimu aku tidak akan mendapat apapun dan barus keluar dari rumah ini. Namun jika aku menikah denganmu sebagian perusahaan akan menjadi miliku, milikmu, dan salah satu yayasan pilihan mama."
Tika hanya melongo menjelaskan penjelasan Raka.
Tika tak habis fikir kenapa nyonya Ambar melibatkan dirinya dengan urusan Raka bahkan perusahaan yang sama sekali Tidak tau apapun.
"Tuan sedang bercanda kan?" tanya tika masih tak percaya.
"Kau bisa membacanya sendiri." Raka menyerahkan berkas tersebut dan segera berlalu dari hadapan Tika.
Raka bisa benar benar gila jika terus berada di dekat Tika dengan Tika yang berpakaian seperti itu.
Bahkan awalnya Raka yang berniat akan marah marah pada Tika pun tiba tiba hilang entah kemana rasa emosi yang sudah di persiapkan sejak dari kantor tadi.
Tika yang tengah membaca berkas yang di berikan Raka pun syok membaca inti pointvdari berkas tersebut.
"Kenapa nyonya melakukan ini? Kenapa harus aku yang menikah dengan tuan. Bukankah nyonya tau kalau selama ini tuan selalu berganti teman ranjang. Apa karna aku hanya pembantu di rumah ini?" gumam tika yang tak mengerti dengan keinginan sang majikan.
Baru tadi pagi Tika berkata bahwa akan sangat kasihan wanita yang akan menjadi istri Raka, karna hanya mendapat barang second, nyatanya hanya dalam hitungan jam semuanya berbalik.
Justru dia yang di paksa mendapatkan barang second tersebut.
Tika tidak tau harus menjawab apa.
Dia juga tidak tahu apa harus memberi tahu ini pada ibunya atau tidak.
Atau ibunya sudah tau tentang rencana ini? Mengingat nyonya ambar dan ibunya cukup dekat.
Selama nyonya ambar di luar negri ibunya lah yang sering berkomunikasi melaporkan segala sesuatu nya.
Bagaimana Tika harus menjawab? Dia kembali merebahkan tubuhnya di kursi panjang dan menutup muka nya dengan berkas berkas yang baru saja dia baca.