Di dapur Ratih baru saja pulang membeli bahan pokok di temani mang yadi.
Dia segera membereskan dan memasukan sayur dan barang barang lainya ke tempat semestinya.
"Ini Anak kemana kok gak ada d rumah. Apa dia di paviliun? Tumben sekali itu anak masih siang sudah ke paviliun." gumah Ratih yang tak menemukan anaknya di dapur saat dia baru saja kembali dari supermarket.
"Waahh Bibi habis belanja?." tanya Raka yang baru saja turun dari kamar nya karna merasa haus dan berniat mengambil air dingin.
"Lho kok Aden sudah pulang?." heran Ratih yang melihat Raka di rumah saat siang hari.
Karna se ingatnya tadi pagi Raka pergi ke kantor.
"Iya Bi pengen pulang cepet. Ada yang harus di urus di rumah." jawab Raka.
"Kayaknya tadi nyonya nyuruh Tika buat nganter berkas ke kantor Aden. Apa nggak ketemu sama Tika Den?."
"Sudah ketemu bi, dan berkas nya juga sudah saya terima."
"Oh syukurlah kalo gitu. Aden mau apa ke dapur? Apa Den Raka lapar?." tanya Ratih pada sang majikan muda yang sebenarnya sudah seperti anak sendiri.
Mengingat sudah mengurusnya sejak kecil.
"Enggak bi, cuma haus mau ambil air dingin."
"Gimana pembangunan rumah bibi di desa? Apa sudah selesai?." lanjut Raka bertanya saat dia telah mengambil air dingin dari lemari pendingin.
"Kalo rumah si sudah jadi den, cuma memang tidak sesuai dengan harapan bibi. Jadi sekarang masih perlu di rapihkan bangunanya sedikit lagi."
Mendengar dan melihat Bi ratih berkata dengan wajah yang tak bahagia membuat Raka ingat ucapan Tika yang ingin membahagiakan ibunya di masa tua nya.
Raka tidak pernah merasa kekurangan selama dia hidup. Karna memang dia lahir di tengah tengah keluarga berada.
Meski tika dan bi ratih tinggal bersama nya untuk waktu yang cukup lama tetap saja keadaan tidak membuat mereka hidup berkecukupan seperti Raka.
Mengingat perintah ibu nya yang menyuruh nya untuk menikahi Tika, membuat Raka tersenyum miring.
Karna mungkin tanpa bi ratih tau bahwa Tika akan menjadi ahli waris dari sebagian harta ibunya dengan ataupun tanpa menikah dengan Raka.
Mengingat semua itu, membuat Raka berfikir apa yang membuat Tika terlihat begitu special untuk ibunya.
Malam hari saat waktunya makan malam Raka turun dan bersiap memakan makanan nya.
Saat sampai di meja makan semua makan sudah tersedia.
Namun tidak ada seorang pun di meja makan.
Ya setiap hari hanya ada Raka yang duduk di deretan kursi meja makan tersebut.
Dan itu sukses membuat rasa merasa sedikit ngilu di dadanya.
Saat Raka baru saja ingin menyuapkan nasi ke dalam mulutnya ia sayup sayup mendengar Tika tengah berbincang dengan seseorang.
Apa Tika membawa masuk laki laki ke rumah nya tanpa ijin darinya? Pikir Raka curiga.
Lalu Raka segera meletakan kembali sendok nta dan segera berjalan untuk menghampiri tika yang ia pikir tengah bersama laki laki di taman belakang.
Setelah sampai di taman belakang Raka menemukan sosok Tika yang tengah tertawa bahagia dengan seirang laki laki di dalam ponselnya.
Ya ternyata pikiran raka tentang Tika salah.
Nyatanya tika hanya sedang video call dengan seseorang.
Namun raka masih penasaran dengan siapa tika video call sampai dia tertawa seperti itu.
Bahkan saat dengan raka tika bahkan lebih sering bersikap acuh dan judes padanya.
Raka mendekat dan mencoba melihat apa yang membuat tika tertawa lepas.
Dan raka terkejut saat melihat wajah laki laki yang terpampang jelas di handphone tika.
Bagaimana bisa laki laki itu? Ada hubungan apa di antara mereka berdua?
"Tikaaas Sepertinya ada penguntit." ucap laki laki di handphone tika sambil terkekeh.
"Hah? Di mana?" tika tak mengerti maksud ucapan galih.
"Di belakangmu.. Apa mungkin itu jin penunggu taman belakang rumah majikan mu?." ucap galih lagi dengan nada mengejek.
"Ada apa Tuan kemari? Ada yang bisa saya bantu?" ucap tika saat menoleh ke belakang.
Ucapan galih membuat tika sedikit merinding.
Namun tika tetap menengok ke belakang punggung nya untuk melihat siaoa yang galih maksud.
Dan tanpa di sangka sangka ternyata Raka yang di sebut galih sebagai penguntit dan jin penunggu taman belakang.
"Tidak ada. Aku hanya ingin jalan jalan malam. Ini rumahku jadi aku berhak mau jalan ke arah manapun." ucap Raka datar sambil memicing menatap wajah galih di di layar ponsel milik Tika.
Tika tidak menjawab lagi.
Dia melanjutkan mengobrol dengan galih tanpa menghiraukan keberadaan raka yang masih menatap galih di layar ponsel nya.
"Ya sudah mas, aku tutup telfonya ya. Aku mau membereskan meja makan dulu. Ibuku susah tidur jadi aku harus membereskan pekerjaan ku dulu." pamit tika pada galih.
"Baik lah. Selamat malam cantik. Besok Aku telfon lagi yah." ucap galih sangat manis.
Setelah panggilan itu usai, tika langsung berjalan menuju rumah utama untuk segera membereskan meja makan.
Namun tika melihat makanan itu masih utuh dan melihat nasi yang di sendok dan belum sempat di makan.
"Apa anda belum makan malam tuan?" tanya tika pada raka yang saat itu raka sudah masuk rumah.
"Belum. tadi aku sedang makan. Tapi aku pikir ada hantu kunti di taman belakang yang sedang tertawa, jadi aku berniat untuk mengusir kunti itu tadi tapi tidak jadi, karna kuntinya sedang berduaan dengan guderuwo." ucap raka sambil melenggang ke meja makan berniat melanjutkan makan malam nya yang tertunda.
"Ada hubungan apa kamu sama Galih?" tanya raka pada tika yang dari tadi tak menanggapi ucapan nya meski raka menyebut nya kunti.
"Hanya teman." singkat jawaban tika.
Raka melirik tak suka dengan jawaban tika yang terkesan tidak suka bicara padanya.
"Apa galih itu pacarmu?"
"Bukan."
"Lalu kenapa kalian terlihat sangat dekat."
"Kita tidak dekat, mas galih di luar negri dan aku di jakarta."
"Jangan terlalu percaya dengan mulut manis galih, dia bukan laki laki baik. Dia sama sepertiku." terang raka pada Tika.
Raka merasa harus memberi tahu Tika sifat Galih yang sebelas dua belas dengannya.
Raka tau meski tika sudah dewasa namun gadis itu masih polos.
"Mas Galih juga tidak meminta saya berbuat yang aneh aneh. Dan saya hanya menganggap mas Galih teman biasa. Jadi mau sifat dia seperti apa dan bagaimana itu bukan urusanku."
"Aku hanya mengingatkan mu. Aku kenal Galih dari kecil. Jadi aku tau seperti apa Galih."
"Daya juga mengenal Mas Galih dari kecil Tuan." jawab Tika yang menanggapi omongan Raka dengan santai.
Raka menghembuskan nafasnya lalu berdiri berjalan menghampiri tika yang menyender di dinding dekat dengan lemari.