PENCURI CIUMAN PERTAMA

1063 Words
"Kenapa Kau selalu membantah ucapanku? Apa Kau mencintai Galih?" Tanya Raka yang sudah menekan kedua pundak Tika hingga menempel dinding. "Saya tidak membantah. Saya mengatakan yang sebenarnya. Karna memang Saya juga mengenal Mas Galih dari kecil." "Mas Galih? Kenapa Kau memanggil Dia dengan sebutan Mas?" Raka seperti tak suka dengan panggilan mas yang di sematkan untuk teman nya. "Mas Galih lebih tua dari saya, tidak sopan kalau saya panggil namanya." "Kenapa kamu tidak memanggil ku mas juga? Apa bedanya Aku dan Galih?." "Tuan adalah Majikan saya. Dan saya sempat memanggil mas galih dengan sebutan tuan juga karna memang dia temannya Tuan. Tapi Mas Galih bilang dia bukan majikan saya jadi tidak perlu di panggil Tuan." Jelas tika panjang lebar yang sedikit heran dengan sikap majikannya. Akhir akhir ini tika merasa majikan mudanya ini lebih sensitiv saat bicara denganya. "Kau belum menjawab pertanyaanku." ujar Raka lagi. "Pertanyaan yang mana Tuan?." Tika tidak mengerti. "Apa kau mencintai Galih?" "Tidak Tuan. Kenapa Anda bertanya seperti itu?" "Karna Kau terlihat bahagia dan mudah tertawa saat berbicara dengannya." "Saya juga mudah tertawa saat berbicara dengan mang yadi. Tapi bukan berarti saya mencintai mang yadi Tuan." Raka nampak menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar. "Kenapa kau hampir tidak pernah tertawa saat berbicara denganku? Jangankan tertawa, tersenyum padaku pun jarang." "Di antara kita tidak pernah berbicara hal hal yang lucu Tuan, bagaimana bisa saya tertawa?" Raka tampak kesal dengan jawaban tika meskipun jawaban yang tika ucapkan benar adanya. Dan memang benar di antara raka dan tika hampir tidak pernah berbicara hal hal lucu. Bukan tanpa alasan kenapa di antara mereka seperti sangat berjarak meskipun mereka tinggal di dalam rumah yang sama sejak kecil. Tika yang sedari kecil selalu di ingatkan siapa dia dan posisi dia di rumah itu oleh ratih ibunya. Ratih selalu menyadarkan tika tentang jarak antara tika dan raka sang majikan. Karna bagi Ratih, Nyonya Ambar sudah terlalu baik untuk Ratih dan juga tika. Ratih tidak mau jika teman teman Raka akan merasa risih jika Tika terlalu dekat dengan Raka. Dan ratih juga takut, jika raka pun akan merasa risih jika tika terlalu dekat dengan raka. Mengingat mereka hanya pembantu di rumah tersebut. Meskipun sering kali nyonya ambar mengingatkan ratih untuk menganggap raka seperti anak kandung nya sendiri namun bagi ratih dia dan tika harus tetap sadar diri akan siapa dan dari mana mereka berasal. "Kau yang selalu membuatt jarak di antara kita terlalu jauh Tika." ujar raka menatap tajam pada tika. "Maaf tuan, Saya harus sadar diri posisi saya siapa Tuan. Saya tidak mau Anda merasa risih jika saya terlalu dekat dengan Anda Tuan." "Aku tidak pernah merasa risih saat dekat dengan kamu. Justru sebaliknya kamu lah yang terlihat risih saat saya mendekat." "Bukan begitu Tuan. Saya Pembantu dan Anda adalah Majikan saya. Saya takut orang orang di sekitar anda membicarakan anda yang tidak tidak jika anda terlalu dekat dengan pembantu." "Itu bukan urusanku. Aku tidak pernah perduli dengan apapun yang orang lain bicara kan tentang saya." "Tapi sya perduli Tuan. Saya juga tidak mau di cap pembantu genit, ganjen, gatel dan lain lain Tuan." Tika berkata seperti itu dengan wajah merah padam seperti memendam sesuatu. Dan raka melihat sesuatu yang aneh dengan ucapan tika. Raka curiga ada seseorang yang mengatakan hal yang tidak tidak pada tika. Dan itu membuat tika semakin hari semakin membuat jarak di antara mereka. "Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui tika?" cecar raka yang mulai ingin menelisik sesuatu yang di sembunyikan tika. "Maksud anda apa?" Jawab tika gugup. Sepertinya tika sudah salah dalam berucap. Dan itu membuat raka curiga. "Katakan padaku tika, apa yang kau sembunyikan dariku?" "Ti tiiii dak aaa ada." Gugup. Yah tika merutuki diri nya sendiri yang tidak bisa mengendali kan ucapan nya. "Apa kau mau aku melakukan sesuatu agar kau mau jujur pada ku tika?" Raka kembali mencekal kuat kedua lengan tika dan semakin mendorong tika ke dinding. "A apa apa yang Anda lakukan?" Tika sedikit merasa takut. Karna raka semakin menekan tubuhnya. Dan itu membuat tubuh mereka semakin menempel satu sama lain. Tika sulit untuk bernafas apa lagi bergerak. Karna tubuh raka tidak sepadan dengan tubuhnya meski tika tidak tergolong perempuan mungil. Nafas tika memburu, keringat dingin bercucuran dan gemuruh detak jantung yang sulit terkendali saat Raka menyentuh dagu nya menggunakan jari dan memaksa tika untuk mendongak menatap manik mata tajam milik raka. "Katakan." suara raka berbisik tepat saat tika mendongak menatap wajah nya. "Sa sa saya ti tidak menyembunyi kan apappp hhhhmmmmpppphhh." Tika terkejut, saat tiba tiba Raka mencium bibirnya. Tika mematung saat merasakan bibir mereka saling menempel. Namun sedetik kemudian tika sadar dan mencoba mendorong raka dan memukul mukul lengan raka. Namun raka tak bergeming sedikit pun. Raka tersenyum miring saat setelah ia menjauhkan wajah dan tubuhnya dari tubuh dan bibir tika. Tika mendelik dan terlihat sangat marah. Dengan nafas yang ngos ngosan seperti tengah melakukan maraton tika kembali memukul d**a bidang raka. "ANDA MENCURI CIUMAN PERTAMA KU!!!!" Ucap tika dengan sangat marah sambil terus memukuli raka. Namun sang pencuri ciuman justru terkejut dengan ucapan tika. "Benarkah ini ciuman pertamanya?" batin raka tak percaya. Mengingat saat ini tika sudah dewasa. Bagaimana mungkin di umur tika yang sudah 24 tahun belum pernah berciuman. Raka masih mematung di tempat. Saat ini tika sudah lari ke halaman belakang saking syok nya dengan perlakuan majikan nya. Tika duduk di pojokan gazebo dengan kaki yang gemetar. Dia tidak mungkin masuk ke dalam paviliun dengan keadaan gemetar seperti itu. Itu akan membuat ibunya bertanya macam macam. "Kenapa dia menciumku? Kenapa dia mencuri ciuman pertama ku?" gumam Tika yang masih jengkel dengan tingkah raka. "Aku berniat memberikan ciuman dan tubuhku pada siapa yang menjadi suamiku kelak. Aku ingin memberikan yang pertama untuk suamiku." sesal tika yang merasa gagal menjaga tubuhnya untuk suaminya kelak. Tika menunduk dan memeluk lututnya. Tika tidak menangis. Hanya saja tika merasa jengkel dengan kelakuan raka yang tiba tiba menciumnya. "Apa kau menganggap aku sama seperti perempuan yang kau tiduri?." Tanya tika pada angin lalu. Tanpa tika sadari raka mendengar semua yang tika ucap kan. Raka merasa sedikit menyesal sudah mencium tika. Namun di sisi lain raka merasa bangga karna menjadi yang pertama yang mencium tika. Raka melihat tika yang belum juga beranjak dari pojokan gazebo. "Apa dia sangat menyesal karna ciuman tadi? Tapi itu hanya ciuman. Tidak mengubah apa pun." batin raka heran melihat tika yang seperti kehilangan keperawanan padahal hanya ciuman sekilas saja yang raka lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD